Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
affair?


__ADS_3

Maaf telat up-nya 😊


Happy reading...


Getaran ponsel yang diletakkan di atas nakas, mengganggu tidur Maliek. Dengan malas ia meraih ponselnya tepat saat ponsel itu berhenti bergetar. Maliek melihat sekilas pada layar ponselnya, nama Alya terlihat di sana.


Saat Maliek hendak meletakkan kembali ponsel itu, sebuah notif ia terima. Setelah membaca isi chat dari Alya, Maliek membuang kasar nafasnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Meydina yang baru saja mengerjap.


"Alya izin nggak masuk kantor," sahut Maliek malas. Ia lalu meletakkan ponselnya ditempat semula.


"Kak Alya sakit?"


"Nggak tahu," sahut Maliek singkat.


Meydina merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya. Ia melingkarkan tangannya dan meletakkan kepalanya di lengan Maliek.


Waktu menunjukkan masih pukul enam pagi. Anak-anak juga biasanya masih terlelap. Meydina menatap lekat wajah suaminya. Maliek yang sedang memejamkan mata itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Mey ikut ke kantor ya? Sedikit-sedikit Mey bisa membantu pekerjaan Kak Maliek," ujar Meydina.


Meydina tahu pekerjaan suaminya sangat banyak. Apalagi tidak ada Riky dan Alya pun hari ini tidak masuk kerja.


"Nggak usah, Sayang. Aku akan minta Dani menghandle sebagian pekerjaan Riky. Kalau kamu di kantor, siapa yang menemani anak-anak?"


"Kan ada babysitter. Mama juga katanya mau kesini," sahut Meydina.


Maliek menatap wajah istrinya itu sambil tersenyum. Diusapnya surai Meydina dengan lembut sambil berkata, "Kalau kamu ada di kantor bisa-bisa aku nggak kerja, Sayang."


"Cckk, kita kan bukan orang yang lagi pacaran. Masa iya kak Maliek nggak bisa kerja kalau Mey ada di sana."


"Justru karena kita udah nggak pacaran, kasmaranku nggak bisa ditahan." Sahutnya dengan tatapan menggoda.


"Profesional dong! Sekelas Maliek Bramasta masa nggak bisa membedakan mana rumah mana tempat kerja," gerutu Meydina.


"Beneran lho Mey, kalau lihat kamu bawaannya pengen nyosor aja. Aku juga kadang nggak ngerti." Kelakarnya.


Maliek mengeratkan dekapannya lalu mengecup gemas pucuk kepala Meydina.


"Tuh kan udah bangun lagi. Kamu sih ah mancing-mancing aja. Nggak mau tahu, kamu harus tanggung jawab lho." Ujarnya.


"Ish! Bilang aja pengen. Pake alasan tanggung jawab segala," dengus Meydina namun dengan wajah yang merona, membuat Maliek tidak sabar ingin segera memulai permainannya.


***


London


Entah sudah terbiasa atau memang tidak ingin merepotkan Daddynya, Zein kini tidak rewel lagi. Bangun tidur ia akan membangunkan Daddynya saat ingin dibuatkan susu.


Seperti kata Laura, Alvin memang paling bisa diandalkan dalam menjaga dan mengurus anaknya begitu juga terhadap Zein. Bapak satu anak ini terlihat sangat sabar mengikuti keinginan Zein dengan semua ocehannya.

__ADS_1


Setelah membuat susu botol Zein, Alvin memangkunya dan membawa kembali ke tempat tidur. Zein menikmati susunya sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.


Alvin menatap gemas pada putra Meydina itu. Tingkah Zein mengingatkannya pada Queena. Ia pun memutuskan untuk menelepon dan bicara dengan buah hatinya tersebut.


📱 "Hubby, sudah bangun?"


📱 "Hmm. Kamu selalu cantik, Sayang!" puji Alvin dengan sorot mata yang menggoda.


Laura tersipu mendengar ucapan suaminya. Ia kemudian memberikan ponselnya pada Queena karena sedang membantu Resty membuat makan siang untuk mereka.


📱 "Daddy!" seru Queena.


📱 "Hai, Princess! Sedang apa, Sayang?"


📱 "Main cama Amar."


📱 "Hai, Amar! Gantengnya," puji Alvin.


Mendengar Alvin menyebutkan nama adiknya, Zein melemparkan botol susunya yang sudah kosong dan bergegas mendekati Daddynya.


"Kakak, Dad. Kakak mau bicala sama Amal," pinta Zein yang ingin merebut ponsel dari tangan Alvin.


Alvin membetulkan bantalnya, kemudian meminta Zein berbaring disampingnya. Zein sangat senang melihat wajah saudaranya. Karena jarang sekali Meydina menyertakan Amar saat ia menelepon Zein.


📱 "Amal itu punya kakak, nggak boleh!" pekik Zein saat melihat mainannya sedang dimainkan Amar.


📱 "Bialin."


📱 "Aaah, jangan Amal! Nanti lucak," rengek Zein.


"Bialin. Itu punya kakak, Daddy." Tegasnya.


Alvin terkekeh melihat ekspresi wajah keponakannya.


Di layar ponsel terlihat Laura menghampiri mereka. Samar-samar terdengar suara Mama Resty yang khas menanyakan kabar Amiera.


📱 "Amiera baik, Tante." Sahutnya.


Resty berbicara setengah berteriak karena sedang berada agak jauh dari Laura dan anak-anak. Alvin hanya mengulumkan senyuman mendengar perkataan mertua adiknya tersebut.


Dari Laura, Alvin mengetahui Meydina yang baru saja mengantarkan makan siang untuk suaminya di kantor. Selain itu juga akan ada supir yang datang hari ini ke rumah mereka. Setelah mengobrol sebentar, Alvin mengakhiri panggilannya.


"Mau berenang?"


"Mau!" seru Zein.


"Oke. Ayo kita berenang!"


Alvin dan Zein menuruni tempat tidur. Mereka berlari kecil menuju kolam renang dengan sangat riang.


***

__ADS_1


"Selamat siang, Pak!" Meydina menyapa security yang berjaga di depan kantor Bramasta Corp.


"Selamat siang, Bu." Sahutnya hormat.


Dibagian resepsionis, Dila sedang menyapa tamunya. Meydina hanya melambai pada bekas teman kerjanya tersebut.


"Maaf, Bu. Sepertinya Pak Maliek tidak bisa ditemui untuk saat ini," ucap Dila.


"Kenapa? Saya memang belum ada janji dengan Pak Maliek. Jadi buatkan janji untuk saya sekarang juga." Tegasnya.


"Mungkin nanti setelah jam makan siang saya baru bisa buatkan janji ibu dengan beliau," ujar Dila.


"Katakan pada Pak Maliek, Kiran dari perusahaan ZA ingin bertemu." Ujarnya.


"Mohon maaf, Bu. Untuk saat ini saya tidak bisa."


Bukan tanpa alasan Dila bersikap demikian. Sebelumnya Maliek berpesan tidak ada yang boleh mengganggunya hari ini. Selain itu, baru saja Meydina berlalu menuju ruangan atasannya tersebut.


Kiran nampak geram pada karyawan wanita yang sedang bicara dengannya itu. Dengan angkuhnya ia berjalan menuju lift. Ia tidah mengacuhkan Dila yang mengejarnya dan memintanya untuk menunggu. Saat Dila hendak memanggil security, Kiran sudah masuk dan menutup pintu liftnya.


"Ada apa?" tanya Indah, manager HRD yang melihat Dila yang kesal.


"Itu, Bu. Pak Maliek tidak menerima tamu. Dan di atas juga ada Bu Meydina. Tapi tamu yang barusan memaksa ingin bertemu Bapak," tutur Dila.


Indah menghela napasnya dan berkata, "Semoga kamu selamat dari perang dunia ketiga."


Dila hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Indah.


Sementara itu, Kiran yang melenggok menuju ruangan Maliek merasa diberi angin segar saat tidak melihat sekretaris Maliek di tempatnya. Dengan percaya diri, ia membuka pintu ruangan CEO tersebut. Namun tidak lama kemudian ia menutupnya lagi.


Ia tertegun dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Maliek sedang bercumbu dengan seorang wanita di kursi kerjanya. Kiran kembali melihat ke arah meja sekretaris. Kemudian ia berguman, "Apakah Maliek ada affair dengan sekretarisnya? Pantas saja dia tidak mau diganggu."


"Siapa?" terdengar suara Maliek dari dalam. Kiran cepat-cepat berlari kembali menuju lift.


Didalam ruangan Maliek...


"Siapa, Kak?" tanya Meydina.


"Nggak ada siapa-siapa," sahut Maliek sambil mengangkat kedua bahunya.


"Tapi jelas-jelas tadi terdengar suara pintu di tutup dari luar."


"Nggak ada siapa-siapa, Sayang."


Maliek yang kini duduk di ujung meja kembali menarik Meydina ke dalam pelukannya.


"Udah ah, nanti ada orang lagi. Kan malu kalau sampai ada yang lihat," ucap Meydina melepaskan pelukan sauminya. Ia merasa yakin ada orang yang melihat mereka sedang berciuman barusan.


"Ya biarin aja. Toh kamu kan istriku," sahut Maliek santai. Pria itu berjalan menuju wastafel yang ada di dekat kamar mandi dalam ruangan tersebut. Setelah mencuci tangannya, ia dan Meydina menikmati makan siang bersama.

__ADS_1


Dila menatap heran wanita yang tadi memaksa ingin bertemu atasannya sedang bergegas menuju pintu lobi. Ia berpikir mungkin saja wanita itu dibentak oleh Maliek hingga terburu-buru ingin meninggalkan kantor tersebut.


"Heh, jauh dari sangkaan gue. Ternyata Maliek punya affair juga. Kalau begitu, ini akan lebih mudah buat gue mendapatkan dia," gumam Kiran dengan seringaiannya.


__ADS_2