Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
bertemu lagi


__ADS_3

Happy reading...


"Perkenalkan aku Andre. Siapa nama anda, Nona?" ucap Dokter tersebut.


"Mami Zein. Dan ini Papinya Zein," sahut Meydina sambil tersenyum kikuk memperkenalkan suaminya.


Dokter Andre mengulurkan tangannya pada Meydina mengajak bersalaman. Uluran tangan itu dengan cepat di sambut oleh Maliek yang kini sudah berdiri.


"Halo, Dokter. Saya Maliek, Papinya Zein," sahut Maliek datar. Tatapannya yang tajam membuat Dokter itu menjadi salah tingkah.


"Saya Andre." Ucapnya.


Dokter itu kemudian mulai memeriksa keadaan Zein. Putra Maliek itu berceloteh riang meminta pulang. Disisi lain, Maliek masih memberikan tatapannya yang setajam mata elang. Pria itu seakan tidak memberi ruang gerak pada mangsanya untuk melawan.


"Bagaimana Dok, sudah boleh pulang?" tanya Meydina.


"Kakak mau puyang, Mi."


"Sudah boleh kok, Jagoan." Sahutnya.


Setelah memberikan resep dan juga menjelaskan makanan apa saja yang harus di hindari, Dokter Andre pun pamit. Ia tersenyum manis pada Meydina dan juga Zein. Namun pada Maliek, ia tersenyum canggung.


Sambil meyusuri lorong rumah sakit, Andre bertanya pada seorang perawat yang menemaninya.


"Sus, sepertinya wajah pria itu tidak asing. Siapa dia?"


"Tentu saja wajahnya tidak asing, Dok. Dia salah satu yang mendapat julukan 'Pria idaman wanita', saat pernikahan mereka dulu itu menjadi salah satu hari patah hati bagi netizen khususnya. Namanya Tuan Maliek Bramasta, dan istrinya itu Nona Al-Azmi," tutur Perawat itu.


"Oh, gitu ya. Saya tidak terlalu melihat berita," ucapnya pelan.


"Nona Al-Azmi? Apa keluarganya ada hubungan dengan Al-Azmi Hospital?" tanya Dokter Andre.


"Kalau saya tidak salah iya, Dok. Karena sejak pernikahan mereka, banyak berita beredar tentang keluarga itu." Sahutnya.


"Benarkah?" gumam Dokter Andre.


***


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, hanya celotehan Zein yang terdengar di dalam mobil yang di kemudikan Maliek. Kedua orang tua bocah itu sejak tadi bungkam. Tanpa ada yang berniat memulai percakapan.


Setibanya di halaman rumah, Salman dan Laura juga Queena sudah menunggu di teras. Sedangkan Alvin sudah berangkat kerja. Salman sendiri sengaja tidak ke kantor hanya karena ingin menyambut cucu kesayangannya.


"Kakek!" seru Zein berlari ke arah Salman.


Salman memangku Zein dan menciumi wajahnya.


"Bagaimana, Mey? Nggak apa-apa kan?" tanya Laura.


"Nggak apa-apa kok, Kak. Hanya untuk sementara harus menghindari beberapa makanan kesukaannya," sahut Meydina.

__ADS_1


"Syukurlah," sahut Laura.


"Mami!" Seru Amar berlari kecil menuju Maminya.


"Sayang Mami. Udah makan?"


"Udah," angguk Amar.


Salman membawa Zein masuk ke dalam rumah. Menyusul di belakangnya Laura dan Meydina yang memangku anak mereka. Saat yang lainnya menuju ruang keluarga, Maliek berlalu ke kamarnya yang di atas. Meydina mengetahui hal itu dari ujung matanya.


Di dalam kamar, sekuat tenaga Maliek menendang kaki sofa. Rasa sakit di kakinya seakan tidak dirasa kecuali hatinya yang terasa panas terbakar oleh api cemburu. Tangannya yang terkepal kuat seakan siap memukul siapa saja yang berani mengganggu miliknya.


Maliek akhirnya pergi kekamar mandi. Ia berharap dengan guyuran air bisa sedikit mendinginkan hatinya.


Disisi lain, Meydina yang sedang menyusui Fatima juga merasa dilema. Ia merutuki pertemuannya dengan pria itu lagi. Ia tahu benar saat ini Maliek sedang marah. Tadi saat di mobil ia ingin menjelaskan semuanya. Namun karena ada Zein, Meydina pun mengurungkannya.


Meydina terkejut saat dari luar ia mendengar Maliek berpamitan pada putranya. Tidak lama kemudian, Amar masuk ke dalam kamar sambil membawa mainan.


"Amar, Papi udah berangkat kerja?" tanya Meydina. Amar mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kak Maliek nggak kesini dulu," batin Meydina. Maliek tidak berpamitan padanya. Terlebih lagi semalam ia tidak bertemu dengan Fatima. Apa dia semarah itu?


***


London


Pagi ini, Amiera sudah bersiap untuk pergi ke butik. Waktu yang ia butuhkan kurang lebih setengah jam perjalanan untuk sampai. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Tidak mungkin ia mengatakan alasan yang sama pada Julie, atasannya.


"Hai, Ren. Selamat pagi!" Sapanya.


"Pagi... Kemarin loe nggak ke kampus?" tanya Rendy.


"Enggak. Kan gue udah bilang ke loe kalau gue udah kerja," sahut Amiera dengan ekspresi bangga.


Rendy menyeringai. Saat ada bus berhenti, ia heran karena Amiera tidak naik. Hal yang sama juga di rasakan Amiera.


"Kok nggak naik?" ucap mereka bersamaan.


Sesaat mereka terkejut. Amiera tersenyum malu, sedangkan Rendy memalingkan wajahnya. Setelah menanyakan tujuan masing-masing, mereka menaiki bus yang sama. Kemudian berpisah di halte berikutnya karena tujuan mereka berbeda.


Amiera terlihat senang karena harinya di awali bersama Rendy. Ia melangkah masuk ke dalam butik tanpa memperdulikan tatapan aneh setiap orang yang berpapasan dengannya.


"Apa Miss sudah datang?" tanya Amiera pada Asistennya.


"Belum, Nona."


Amiera memulai pekerjaannya. Terdengar suara high heels mendekat ke arah mejanya.


"Wah, ternyata ada yang jadi Cinderella hanya untuk satu hari. Dan sekarang dia sudah kembali jadi Upik abu lagi," sindir Diana sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


Amiera hanya mendelik, ia tidak mengerti maksud dari ucapan rekan kerjanya itu.


"Hey, anak baru. Apa kamu tuli? Aku bicara padamu." Hardiknya.


"Sial. Aku ingin sekali merobek mulutnya. Kemarin dia bilang aku bodoh, dan sekarang tuli?" batin Amiera menggeram.


"Apa kau lupa menyikat gigimu pagi ini? Mulutmu itu bau sekali. Kalau kau sangat suka mengumpat orang lain, maka sering-seringlah menggosok gigi. Agar bau busuk dari mulutmu itu tidak mengotori udara di sekitarmu, paham?" decih Amiera.


"Dan satu lagi, aku tidak mengerti siapa Cinderella atau Upik abu yang kamu maksud. Tapi kurasa kamu cocok jadi Upik abu," delik Amiera.


Amiera berlalu meninggalkan Diana disusul oleh Asistennya ke ruang produksi. Diana menghentakkan sebelah kakinya karena kesal dengan tangan yang terkepal.


Di tempat lain, Rendy melangkah memasuki lobi perusahaan Al-Azmi bersama seorang Asistennya yang sedari tadi menunggunya di luar. Hari ini mereka akan mengadakan rapat dengan semua PM yang yang terlibat dalam proyek perusahaan itu.


Sebenarnya Rendy dan Asistennya mendapat fasilitas sebuah mobil dari perusahaannya. Untuk memudahkan menjangkau tempat proyek. Namun karena Rendy sudah nyaman dengan kesehariannya, mobil itu di bawa Asistennya.


Rapat yang di pimpin oleh Mike itu berlangsung lebih dari satu jam. Dan selama rapat, Sophia terus saja mengarahkan senyumnya pada Rendy. Walau Rendy bersikap tak acuh, ia tetap saja merasa tidak nyaman dengan senyuman itu.


"Tuan Rendy!" panggil seseorang.


Rendy menoleh ke arah suara. Ada Sophia disana, tapi Rendy yakin bukan Sophia yang memanggilnya. Miss Bella, begitu wanita itu tadi disapa oleh PM yang lain. Ia berjalan mendekati Rendy dengan senyumnya.


"Kita bertemu lagi," ucap Bella sambil mengulurkan tangannya.


"Bertemu lagi? Dimana kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rendy heran, namun tetap menyambut uluran tangan Bella.


"Anda lupa? Kita bertemu di apartemen Amiera."


"Benarkah? Maaf saya tidak memperhatikan anda, Miss Bella."


"Tentu saya tidak terlihat saat ada tiga wanita cantik di sekitar anda," kelakar Bella. Tiga wanita yang di maksud Bella ialah Amiera, Alena, dan Mama Nura.


"Anda bisa saja," sahut Rendy dengan senyumnya yang ramah.


"Ku dengar proyekmu baru mulai beberapa minggu lagi. Selamat bergabung, Tuan," ucap Bella.


"Terima kasih. Saya banyak mendengar tentang anda. Pastinya anda luar biasa," puji Rendy.


"Terima kasih," sahut Bella.


"Kalian saling mengenal?" tanya Mike yang menghampiri mereka.


"Tidak juga, Mike. Tuan Rendy, saya permisi. Ayo Mike!"


Bella dan Mike meninggalkan Rendy. Pria itu menatap keduanya. Bella sepertinya membisikkan sesuatu pada Mike dan Mike menoleh padanya.


"Ren, kamu ada hubungan apa dengan Amiera?" tanya Sophia ketus.


"Tidak ada. Dia itu adik temanku. Itu saja," jawab Rendy santai.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu ada di apartemen Amiera?"


"Kenapa juga aku harus jelasin semua itu ke kamu? Heh, aneh." Sahutnya sambil berlalu meninggalkan Sophia.


__ADS_2