Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
bertemu calon mantu


__ADS_3

Happy reading...


Pagi menjelang siang, Rafael sudah bersiap menuju rumah kekasihnya, Alya. Hari ini untuk pertama kalinya pria casanova itu akan bertemu Wira dan istrinya sebagai kekasih Alya. Pengalaman pertama juga baginya bertemu calon mertua.


Calon mertua? Ya, sejak pertama mengenal Alya, pria itu sudah jatuh hati dan berniat serius padanya. Pada wanita dengan kepribadian yang menurutnya tidak biasa.


Riky sudah memberitahukan padanya bagaimana Alya. Namun bagi Rafael, seperti halnya dirinya, Alya juga manusia biasa yang tidak sempurna.


Di tempat lain, Alya sedang menautkan alisnya menatap Mama yang sibuk memberi intruksi pada ART mereka. Mama terlihat sangat bersemangat menyambut pria yang diakui sebagai pacar putrinya itu.


Di luar, Wira sedang berbincang dengan Evan yang baru saja datang. Alena dengan gaya cerianya melenggang mendekati ruang makan.


"Tante! I'm coming..." Serunya.


"Aish, tarzan perempuan datang," ucap Alya pelan.


"Kak Alya gitu deh. Kalau Alena tarzan, rumah ini hutan dong, hehe.."


"Enak aja. Yang ada loe tu, tarzan nyasar." Gerutunya.


"Eh-eh Alena, Sayang, sini! Mendingan bantuin Tante. Jangan ganggu kakakmu. Aduh, nanti itu kalau mukanya cemberut nggak jadi laku," celoteh Nura yang menarik Alena menjauhi Alya.


"Mama!" pekik Alya.


"Sstt, udah sana ke atas aja. Dandan yang cantik, jangan marah-marah!" ujar Mama Nura dengan tangan yang dikibas-kibaskan.


Alya merasa kesal dengan ucapan Mamanya yang terkesan berlebihan. Wanita itupun berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Mau ada tamu, Tan? Masaknya banyak banget," tanya Alena.


"Kan tamunya kamu..."


"Asik. Terima kasih, Tante."


"Tapi, bohong..."


"Iih, Tante. Alena kan serius nanyanya," gerutu Alena.


Nura terkekeh melihat Alena yang memajukan bibirnya.


"Mau ada pacarnya Alya," bisik Nura.


"Oh, ya? Sejak kapan Kak Alya laku?"


"Kamu ini!" seru Nura sambil menjitak kening keponakannya.


"Aww! Sakit, Tan."


"Lagian kamu juga, emangnya Tante jualan. Laku, laku..."


"Yee, kan tadi Tante sendiri yang bilang, kalau Kak Alya cemberut nanti nggak jadi laku." Sahutnya tidak mau kalah.


"Memangnya Tante ngomong gitu?"

__ADS_1


"Iya. Waah Tante, belum lima menit masa udah lupa. Ini sih harus cepetan punya cucu. Tante udah kayak nenek-nenek, pelupa." Ocehnya.


"Cucu? Hmm, apa Tante suruh mereka menikah aja, ya. Biar Tante cepat punya cucu," sahut Nura yang terlihat serius menanggapi ocehan Alena.


"Siapa yang punya cucu, Ma?" tanya Wira yang datang bersama Evan ke ruangan tersebut.


"Pa, kata Alena Mama udah tua. Jadi harus cepat punya cucu. Kita nikahkan aja Alya sama pacarnya itu, setuju kan?"


Wira menoleh pada Alena yang saat ini tersenyum kecut. Kemudian berucap, "Kalau Alya menikah, kamu harus cepat nyusul ya."


"Yaa, Om. Kok gitu? Lena kan masih kuliah," sahut Alena.


"Terus kenapa ngasih ide begitu sama tante kamu? Mama juga! Kenal aja belum, main nikahin aja," tegur Wira.


Evan yang sedari tadi mendengarkan hanya tersenyum sambil menikmati buah apel yang tersedia di meja. Nura kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dibantu oleh Alena.


Di kamarnya, Alya terlihat melamun.


"Menikah?" Gumamnya.


Obrolan keluarganya di lantai bawah terdengar jelas di telinga Alya. Tapi Rafael...


Flashback on


"Al, loe beneran pacaran sama Rafael?" tanya Alvin suatu hari.


Alya yang tidak menyangka Alvin sudah mengetahuinya merasa mengelakpun percuma.


"Iya, Vin. Emangnya kenapa?" tanya Alya datar.


"Vin! Maksud loe apa sih ngomong gitu?" Alya terlihat mulai kesal.


"Gue cuma nanya doang. Ya syukur deh, berarti dia nggak bohong." Ujarnya.


"Loe kenapa sih, Vin? Meydina aja loe dukung sama Maliek. Kenapa sama gue, loe gitu? Gini-gini gue ini masih saudara loe," protes Alya.


"Justru karena loe saudara gue, makanya gue nanya. Gue kasih tau tentang si Rafael, dia itu 'pemain'. 'Pemain kelas kakap', gue nggak mau loe menyesal di akhir," tegas Alvin.


"Kalau dia 'pemain' emang kenapa, heh? Yang penting kan gue aman-aman aja. Lagian juga gue nggak serius. Dia aja yang b*go mau jadi pacar gue, padahal jelas-jelas gue tanya dia kaya apa enggak." Paparnya.


Alvin menatap Alya, pria itu bingung harus berkata apa. Disatu sisi Alya adalah sepupunya, di sisi lain Rafael juga sahabat karibnya.


Flashback off


Kini Alya merasa bingung. Ia tidak menyangka orang tuanya khususnya sang Mama berharap lebih pada pria yang jadi kekasihnya.


***


Deru mesin mobil yang berhenti menarik Alena untuk berlari menghampiri kaca jendela. Gadis itu sudah tidak sabar ingin melihat siapa pria yang jadi kekasih Alya.


Seorang pria keluar dan mengambil seikat bunga jugaa sebuah paper bag dari dalam mobilnya. Saat pria itu berbalik, alangkah terkejutnya Alena.


"Kak Rafael?" Gumamnya.

__ADS_1


"Gimana Len, ganteng nggak?" tanya Nura yang menghampirinya.


"Ee, itu Tante, Lena mau manggil dulu Kak Alya. Ke atas dulu ya," sahut Alena salah tingkah. Setengah berlari Alena menuju kamar Alya.


Sementara itu Nura yang merasa heran dengan tingkah Alena memutuskan membukakan pintu untuk calon menantunya.


"Siang, Tan-te."


"Kamu? Kamu temannya Alvin kan?" tanya Nura heran.


"Iya, Tante. Saya Rafael, teman Alvin."


"Ja-jadi kamu pacarnya Alya?" tanya Nura lagi.


"Disuruh masuk dong Ma, tamunya," ujar Wira dari dalam.


"I-iya, Pa. Masuklah," ucap Nura.


"Terima kasih, Tante. Permisi..."


Rafael berjalan menghampiri sofa. Ada Wira dan Evan Atmadja sedang duduk di sana.


"Lho, Rafael? Kamu..." Evan terlihat terkejut. Begitu juga Wira. Keterkejutan mereka membuat Rafael salah tingkah.


Alya menuruni tangga lengkap dengan dandanan cantiknya. Di belakangnya, Alena terlihat ragu-ragu mengikuti langkah Alya.


"Udah sampai, Sayang?" tanya Alya ramah.


Rafael yang mendengarnya pun terkesiap. Ini pertama kalinya Alya memanggilnya begitu. Ah, jika saja di ruangan ini hanya ada mereka berdua, mungkin Rafael sudah memeluk Alya.


"Baru aja sampai," sahut Rafael malu-malu.


"Nggak disuruh duduk Ma, Pa? Kok malah pada bengong?" Alya menatap heran orang tuanya.


"Ayo duduk, Sayang."


Alya menarik pelan pergelangan tangan Rafael. Seperti orang yang terhipnotis, Rafael menatap Alya sambil mengikuti perintahnya. Pria tersenyum tak percaya Alya memperlakukannya semanis itu.


Kini seluruh anggota keluarga Atmadja yang ada di sana terduduk dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejujurnya Rafael tidak mengerti mengapa keluarga Alya memberinya tatapan seperti itu. Pria itu berpikir mungkin seperti inilah rasanya bertemu calon mertua.


"Sayang, kenalkan ini Mama, Papa, Om Evan dan itu Alena. Om Evan ini Papanya Alena. Dan semua, kenalkan ini Rafael. Tahu dong siapanya Alya?" tutur Alya.


Rafael tersenyum tipis melihat sikap Alya. Dalam hati pria itu sangat optimis bisa meyakinkan keluarga Atmadja.


"Al, kamu tahu siapa dia?" tanya Nura hati-hati.


"Rafael, Ma."


"Iya, Mama sudah tahu namanya. Tapi apa kamu kenal dan tahu bagaimana dia?"


"Alya kenal dia, Ma. Bahkan Alvin juga mengenalnya. Kalian kenapa sih?" tanya Alya saat mulai menyadari ada yang aneh dari ekspresi keluarganya.


"Al, maafkan Papa. Kali ini Papa tidak setuju pilihan kamu," ujar Wira.

__ADS_1


"Apa? Pa, kok gitu sih?" tanya Alya bingung.


__ADS_2