Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
belum kalah


__ADS_3

Happy reading...


Rendy memperhatikan dengan seksama, ia mengenali wajah pria ini dari foto yang pernah dilihatnya.


"Alex, mau apa dia ke sini?" batin Rendy.


"Tuan Rendy, bisa kita bicara empat mata?"


"Tentu," sahut Rendy.


Alex berjalan dibelakang Rendy. Dalam hati ia bertanya-tanya seperti apa perangai pria yang usianya lebih muda darinya ini. Diakuinya Rendy punya kharisma tersendiri. Tatapannya yang tajam cukup untuk menggoyahkan nyali lawan.


Rendy mempersilahkan Alex untuk duduk. Pria itupun duduk dengan gaya angkuhnya.


"Apa yang anda ingin bicarakan dengan saya?" tanya Rendy santai.


"Berhenti ikut campur urusan dalam proyekku. Kamu juga sama seperti aku, kita sama-sama bekerja pada perusahaan itu." Ucapnya to the point.


Rendy menyeringai mendengar ucapan Alex.


"Lalu?"


"Apa tujuanmu ikut campur, tertarik dengan proyek itu? Apa kamu iri karena Mike memilihku sebagai pengganti Mark, bukannya dirimu?"


Alex menatap tajam pada Rendy, ia berharap bisa menekan pria dihadapannya ini. Namun sepertinya ia harus kecewa. Ekspresi Rendy masih datar dengan senyum yang menyeringai.


"Iri? Heh," decih Rendy.


"Proyek ini tidak sebanding dengan proyekku, jadi memang wajar kalau kamu merasa iri."


"Lalu apa maksudmu dengan anggaran itu? Harusnya dengan uang yang sudah dikeluarkan, proyek itu sudah enam puluh persen. Tapi apa yang ku lihat di lapangan, bahkan setengahnya pun belum," selidik Rendy dengan tatapannya yang tajam.


Alex nampak terkejut. Ia tidak menyangka Rendy tahu banyak tentang proyek yang dipegangnya.


"Sepertinya dia tidak bisa di pandang sebelah mata. Sial! Tadinya ku pikir bisa mengajaknya kerjasama. Kalau begini, aku harus gunakan cara lain untuk membungkamnya."


"Aku sarankan urus saja urusanmu sendiri, Tuan. Dan ku peringatkan jangan mengusik ketenanganku. Aku tidak suka diganggu," tegas Alex.


"Aku juga akan memperingatkanmu. Jika besok laporan itu belum aku terima, maka ku pastikan ini akan jadi hari terakhirmu bekerja."


"Memangnya siapa dirimu bisa memberhentikanku, heh?" geram Alex.


"Bagaimana dia bisa tahu. Tuan Mike yang meminta laporan itu, tapi mengapa justru dia yang mengancamku?" Batinnya.


Alex keluar dari ruangan Rendy dengan raut wajah yang kesal. Ia benar-benar tidak menyangka pria muda itu berani mengancamnya. Sepanjang perjalanan menuju tempatnya bekerja, ia merasa heran bagaimana bisa Rendy mengetahui banyak hal.


Sementara itu, Rendy terpaku di tempat duduknya. Ia kini semakin yakin Alex bukan orang yang bisa di percaya. Secepat mungkin ia harus membuktikannya, sebelum Alex mengacak-acak laporan keuangan proyek yang sedang di pegangnya.


***


"Bagaimana ini, Tuan? Saya bingung memutar otak tentang laporan keuangan itu harus dibagaimanakan?"


"Bod*h! Masukkan saja data seperti yang kuperintahkan. Mereka tidak akan tahu," geram Alex.


"Tapi, Tuan. Anda dengar sendiri ucapan Tuan Mike. Tim audit bisa datang kapan saja."


"Turuti saja perintahku. Aku akan urus nanti tim audit itu." Titahnya.


Keesokan harinya, Alex yang bersiap akan menuju kantor Al-Azmi Corp dikagetkan dengan kedatangan beberapa orang tamu tak diundang. Rupanya mereka adalah tim audit yang dikirim Mike untuk mengaudit semua hal mengenai proyek tersebut, termasuk data keuangan didalamnya.


Mike dan asistennya saling menatap. Mereka merasa sangat kaget dengan kedatangan mereka yang mendadak.

__ADS_1


"Tunggu, aku akan menanyakan sendiri pada Tuan Mike. Aku tidak ingin dibodohi. Kalian pasti orang-orangnya Rendy Atmadja." Ujarnya.


Alex hendak menelepon Mike, namun belum juga panggilannya tersambung, Mike sudah berdiri di ambang pintu ruangannya.


"Tuan, apa-apaan ini? Saya bahkan belum menyerahkan laporan keuangan ini, tapi mereka sudah datang." Protesnya.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Mike sinis.


Mau tidak mau, Alex pasrah. Saat Mike dan tim auditnya mencecar bagian keuangan, Alex berusaha berkilah.


Namun sekeras apapun usahanya, Alex tetap tak bisa menghindari kenyataan adanya permainan pada proyeknya. Alhasil, Mike memberhentikan Alex dan beberapa stafnya dengan tidak hormat. Akan tetapi karena ini baru permulaan dan belum ada kerugian yang berarti, Mike tidak memperkarakan hal tersebut ke ranah hukum.


Sehari setelah kejadian itu, Mike pun mengadakan rapat. Dari hasil rapat diputuskan Rendy yang akan menggantikan posisi Alex. Dan posisi Rendy digantikan oleh James, asistennya.


***


Gelak tawa seorang wanita terdengar menggema. Ia seolah senang karena prediksinya benar.


"Aku sudah peringatkan, Alex. Dan lihatlah, kamu juga mendapat sial karena nama itu." Kelaranya.


"Aku belum kalah, Kiran. Aku tidak seperti Bagas dan yang penting aku tidak di penjara."


"Tentu saja mereka tidak menyeretmu ke penjara karena baru datanya yang di rubah. Tapi lihatkah, kamu akan jadi pengangguran selamanya. Image-mu sudah jelek dan bisa dipastikan tidak ada perusahaan yang akan menerimamu bekerja." Selorohnya.


Alex terlihat sangat kesal. Ia mengepalkan tangannya. Ia semakin geram setelah mengetahui Rendy-lah yang menggantikan posisinya.


"Kita lihat saja nanti. Karena dia sudah mengusik kehidupanku, maka aku pun tidak akan membuat hidupnya tenang." Geramnya.


***


Langit mulai gelap, saat mobil yang Rendy kemudikan memasuki area parkir gedung apartemen. Beberapa hari ini ia harus bekerja ekstra menyusun ulang anggaran proyeknya. Beruntung celah kecurangan itu segera ditemukan, jika tidak maka perusahaan akan mengalami kerugian besar.


"Apa hanya perasaanku saja?" Gumamnya.


Rendy menepis prasangkanya. Ia pun masuk ke dalam lift dan menuju penthouse Amiera.


"Jam berapa kamu pulang, Sayang?" tanya Rendy pada istrinya yang sedang membenamkan wajah di dadanya.


"Tadi sore. Pekerjaan Amie tidak terlalu banyak."


"Syukurlah. Jangan terlalu lelah ya," ucap Rendy sambil mengecup bibir Amiera.


Pria itu tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang kecewa. Amiera kecewa karena dirinya hanya memberinya sebuah kecupan.


"Aku mau mandi dulu, Amie. Haah! Mulutku bau kan?" Rendy membuang nafasnya di depan Amiera.


"Biarin, sekali aja. Lagian juga nggak bau kok," sahut Amiera sambil memajukan bibirnya.


Melihat ekspresi Amiera yang menggemaskan, tanpa aba-aba Rendy meraup bibir istrinya. Ia mulai mel*mat lembut bibir itu. Senyumnya samar terlihat saat Amiera tidak membiarkannya melepaskan tautan bibir mereka. Mereka pun menikmati ciuman itu dengan Rendy yang memeluk erat istrinya.


Deringan ponsel dalam saku Rendy menghentikan aksi mereka. Mau tidak mau Amiera melepaskan tautan bibirnya juga.


"Jangan bilang asisten kakak lagi yang mengganggu kita. Katakan padanya jangan menelepon jika sudah di rumah. Jika tidak aku akan meminta Uncle Mike memecatnya," gerutu Amiera sambil berlalu menuju ruang makan.


Rendy tersenyum mendengar gerutuan istrinya sambil mengekor di belakang Amiera.


📱 "Halo, Tuan Salman. Apa kabar?"


Amiera langsung menoleh mendengar nama Daddy-nya disebut. Ia terseyum malu menyadari gerutuannya salah sasaran.


📱 "Kenapa memanggilku 'tuan'? Jika tidak dalam urusan pekerjaan panggil aku 'ayah' seperti Maliek."

__ADS_1


Rendy terdiam. Entah mengapa hatinya merasa tak suka mendengar Salman mengatakan hal seperti itu.


📱 "Rendy, apa kau mendengarku?"


📱 "Iya, Tuan. Maksud saya, iya ayah."


Amiera tersenyum senang mendengar Rendy menyebut Daddy Salman dengan panggilan 'ayah'.


📱 "Aku sudah dengar semuanya dari Mike. Terima kasih, aku bangga padamu. Tidak salah aku memilihmu, kamu bisa diandalkan."


📱 "Terima kasih atas pujiannya, Ayah berlebihan."


📱 "Bagaimana kabar Amiera?"


📱 "Amiera baik, Yah. Sebentar.."


Rendy memberikan ponselnya pada Amiera. Istrinya itu terlihat senang dan mengalihkan panggilan pada panggilan video.


Saat mereka berbincang, Rendy pun akhirnya memutuskan untuk makan malam. Cukup lama Amiera bicara dengan Daddy-nya. Amiera berceloteh riang menceritakan kegiatannya. Sambil menyuapkan makanannya, Rendy menatap wajah ceria istrinya.


***


Hari begitu cepat berganti, esok adalah hari pertama kedua putra Meydina masuk sekolah. Sebetulnya kata 'sekolah' terdengar terlalu formal di telinga. Karena kenyataannya di playgroup itu lebih mengedepankan konsep sosialisasi terhadap lingkungan dan teman-teman.


Mereka akan bermain sambil belajar. Belajar mengenal warna, huruf dan angka. Selain itu juga mereka akan dilatih untuk berempati, mau berbagi makanan dan juga mainan kepada teman-temannya.


"Ayo, Sayang! Kalian harus tidur cepat mulai sekarang. Siapa yang besok mau sekolah?"


"Kakak!"


"Amar!"


Meydina tersenyum melihat kedua putranya yang sangat antusias. Setelah meminum susu mereka, Meydina menemani sampai mereka tertidur.


"Kenapa, Mi? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Maliek pelan sambil mengecup kening istrinya.


"Nggak kerasa mereka sudah besar ya, Pi. Rasanya baru kemarin Mami melahirkan Amar karena sikap Zein yang tidak mau diam." Kenangnya.


Maliek mengusap lembut pipi kedua putranya. Setelah memberikan ciuman selamat malam, ia mengajak Meydina ke kamar mereka.


Kebetulan Fatima belum tidur, karena saat ini memang baru pukul delapan malam. Maliek memangku putri kecilnya dan membawa ke kamar atas.


"Papi sudah makan?"


"Sudah. Mami sama Baby sudah makan belum?" tanya Maliek menatap gemas pada Fatima.


"Sudah, Pi." Meydina yang menyahut pertanyaannya.


"Pi.."


Maliek terperanjak dan terlihat sangat senang mengetahui Fatima sudah bisa memanggilnya.


"Sekali lagi, Sayang. Pa-pi," pinta Maliek.


"Pi," sahut putrinya.


"Pinter. Coba panggil Mami. Ma-mi..."


"Mi," sahut putrinya lagi.


Maliek bersorak gembira. Gurat lelah di wajahnya hilang seketika. Meydina yang sedang menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk suaminya, mengulumkan senyuman mendengar gelak tawa mereka.

__ADS_1


__ADS_2