
Happy reading...
Flashback on
Di dalam pesawat, Amiera duduk didekat daddy-nya. Alvin duduk terpisah bersama Riky dan juga Zein. Sesekali terdengar kekehan Alvin dan Riky mendengar celotehan putra sulung Maliek itu.
Riky mengirim pesan pada Maliek. Namun saat Alvin melihat hal tersebut, ia meminta Riky tidak memberitahukan yang terjadi pada Maliek. Bagaimanapun ia khawatir Meydina merasa cemas.
Sementara itu di ruangan terpisah, Rendy sedang mendapatkan perawatan dari seorang dokter yang memang selalu ada dalam perjalanan Salman. Sebelumnya, dokter itu juga memeriksa keadaan Salman. Meskipun pria paruh baya itu masih terlihat tegap dan sehat, usianya sudah tidak muda lagi. Dokter itu juga memeriksa keadaan Amiera yang terserang flu.
Ringisan pelan dari dalam ruangan itu sayup-sayup terdengar oleh Amiera. Gadis itu membulatkan tekadnya untuk menceritakan semua pada daddy-nya.
Diliriknya pria paruh baya yang sedari tadi terdiam sambil menutup mata dengan ekspresi datarnya. Amiera tahu Salman tidak benar-benar tidur.
"Dad, apa benar tidak ada yang sakit?"
"Sudah ku bilang tidak ada. Asal kau tahu, aku masih bisa menghabisi orang yang mengganggumu."
"Dad, Amie akan jelaskan kronologi yang sebenarnya."
"Diamlah."
"Dad, dengar dulu penjelasan Amie!" pinta Amiera dengan wajah memelas.
Alvin menoleh dengan ekspresi yang sedih. Satu helaan nafas dibuangnya perlahan. Riky memperhatikan sikap sahabatnya itu. Ia tahu keluarga mereka sedang ada masalah. Jadi untuk saat ini ia memilih diam tanpa banyak bertanya.
"Dad, sebenarnya...."
Amiera menceritakan semuanya. Dari awal ia merasa agak pusing dan memutuskan mencari angin segar. Mark yang menawarkan kamar untuknya beristirahat. Perkelahian Mark dan Rendy. Perasaan yang dirasanya saat itu. Sampai alasan mengapa ia menangis dan mengenakan pakaian Rendy.
"Dad, Daddy sudah salah paham pada Rendy." Ucapnya sambil mengusap air matanya.
Salman tertegun mendengar semua itu. Begitu juga Alvin dan Riky yang saling menatap. Alvin beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri mereka.
"Kamu tidak sedang berbohong untuk menutupi perbuatannya kan, Amie?" tanya Alvin.
"Tidak, Kak. Amie tidak bohong. Amie memang menyukainya. Tapi bukan berarti Amie akan menutupi jika memang dia sudah berbuat buruk pada Amie." Tuturnya.
Alvin menatap Daddy-nya. Pria itu kembali memejamkan matanya. Alvin tahu Daddy-nya sedang berusaha mencerna ucapan Amiera.
Di sisi lain, Salman sedang memutar memorinya tentang kejadian tadi. Melihat keadaan Amiera yang bersama seorang pria bertelanjang dada membuatnya gelap mata. Saat itu yang terpikir olehnya adalah menghabisi pria yang telah berani menyentuh putrinya.
"Kamu menyukainya?" tanya Salman.
"Iya, Dad."
"Sejak kapan?"
"Sejak pertama kali bertemu dengannya. Saat itu Rendy berteman baik dengan Kak Meydina. Dan Rendy menyukai Kak Mey," sahut Amiera pelan.
Salman membuka kelopak matanya. Ia mengarahkan tatapannya pada Alvin.
"Apa karena itu juga kau sengaja menempatkan Amiera di penthouse itu?"
Alvin tertunduk, lalu mengangguk.
"Alvin sudah meminta Mike untuk memeriksa CCTV hotel itu."
"Minta dia juga memeriksa CCTV ruang pertemuannya," ujar Salman.
"Mike pasti akan memeriksanya juga, Dad."
"Ku harap ucapanmu benar, Amiera. Aku tidak tahu harus melakukan apa jika kau sampai berani membohiongiku. Alvin, lihat dia. Jika sudah selesai suruh dia datang kesini."
Alvin mengangguk dan beranjak menuju ruang perawatan. Tidak lama kemudian ia datang lagi.
"Rendy tertidur, Dad. Dia pasti sangat lelah," ujar Alvin.
"Baiklah. Sekarang kita istirahat saja. Akan aku pikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya."
Salman berlalu menuju kamar pribadinya. Alvin memeluk Amiera dan menenangkannya.
__ADS_1
"Sedari awal kakak tidak percaya Rendy melakukan hal buruk padamu. Kakak lega kamu baik-baik saja."
"Tapi bagaimana dengan Rendy, Kak?"
"Entahlah. Kakak tidak bisa menebak keputusan apa yang akan diambil daddy."
Saat mereka menikmati makan siang, Salman meminta maaf pada Rendy. Ia mengakui kesalahannya dan berterima kasih pada pria itu karena telah menyelamatkan putrinya.
Tanpa diduga, Rendy malah memuji Salman. Rendy mengatakan bahwa Salman ayah yang baik yang pasti akan sangat marah bila melihat putrinya dalam situasi seperti tadi.
Ketika pesawat mulai landing, Salman meminta Alvin menghubungi Evan dan meminta keluarga Rendy datang ke rumahnya. Walau tidak mengerti maksud Daddy-nya, Alvin tetap menghibungi Evan, papanya.
Aldo dan beberapa bodyguard sudah menunggu dibandara kedatangan. Saat dalam perjalanan, Alvin menerima pesan video dari Mike.
Ia terkejut sekaligus menggeram.
"Ada apa?" tanya Salman.
Alvin memperlihatkan video itu pada Salman. Raut wajah Salman memerah menahan amarah.
Dalam video pertama, ia melihat Mark memasukkan bubuk obat pada sirup yang kemudian diberikan pria itu pada Amiera. Pada video kedua adalah kejadian di lantai atas hotel tersebut.
Dalam videu itu terlihat Amiera yang berjalan pelan dan beberapa kali menepis tangan Mike. Tidak lama ada Rendy yang berlari menuju kamar itu. Kemudian, Mark yang diseret keluar oleh Rendy dan berjalan tertatih meninggalkan tempat tersebut.
Flashback off
"Wira, aku minta maaf!" ujar Salman.
"Tidak, Tuan. Jika saya dalam posisi anda, saya juga akan melakukan hal yang sama." Sahutnya sambil melirik pada Alya, putrinya.
"Tapi Rendy tidak mau menikah dengan Amiera, Pa. Kejadian ini murni kesalahpahaman. Jadi tidak akan ada pernikahan," protes Rendy tegas.
Nura dan Wira saling menatap bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Meydina melirik pada Amiera. Ia mengetahui bagaimana perasaan Amiera terhadap Rendy, sahabatnya.
"Begini saja, putuskan dalam dua hari. Jika setuju, minggu depan mereka akan kita nikahkan," ujar Salman.
"Kami akan bicarakan hal ini di rumah. Bagaimanapun juga, masih ada Alya putri kami yang belum menikah." Ujarnya.
"Iya, Tuan Salman. Kami akan membicarakan dulu hal ini. Kami pasti sangat beruntung jika bisa berbesanan dengan anda. Apalagi punya menantu secantik Amiera," ujar Nura.
Amiera hanya tertunduk. Ia tidak tahu apakah harus kegirangan ataukah sebaliknya. Jikapun terlaksana, pernikahan ini dipaksakan. Cintanya pada Rendy masih bertepuk sebelah tangan. Dan ia yakin, Rendy pasti menolak rencana pernikahan ini.
***
London
"Dasar bodoh! Kau benar-benar bodoh, Mark!" maki Sophia.
"Ini di luar perkiraanku, Sophia. Kau sendiri lihat kan, keadaanku seperti ini."
"Tapi lihat akibatnya! Rendy dipaksa ikut mereka kembali ke negaranya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Oh My God! Bagaimana kalau Tuan Salman mem*tilasinya," gumam Sophia sambil bergidik ngeri.
"Tidak mungkin. Kau ada-ada saja," kekeh Mark.
"Bisa saja, Mark. Aku melihat sendiri wajah Tuan Salman yang murka. Ku dengar dia orang yang bertangan dingin. Kasihan Rendy," ucap Sophia sambil mengusap wajahnya.
Tidak lama kemudian, dua orang pria berpakaian serba hitam menghampiri mereka.
"Mark Anthony?" tanya salah satu pria itu.
Mark dan Sophia saling menatap heran. Sophia memperhatikan dua pria berbadan tinggi dan tegap yang berdiri dihadapannya.
"Iya. Itu aku, kenapa?"
"Ikut kami!"
"Kalian siapa? Ikut kemana?"
"Tuan kami ingin bertemu," sahut salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Siapa tuan kalian?" tanya Mark.
"Aku, Mike Anderson."
Mark dan Sophia tampak terkejut.
"Tuan Mike?" ucap keduanya bersamaan.
"Ayo, ikut aku!" titah Mike dengan ekspresinya yang dingin.
Dengan ekspresi wajah yang bingung, Mark mengikuti langkah dua pria tadi. Sebelum melangkah meninggalkan Sophia pria itu berucap pelan, "Ku harap kau tidak terlibat. Karena aku tidak akan segan menghabisimu."
Sophia tertegun dengan wajah yang memucat. Jantungnya terasa berdetak kencang dan tubuhnya bergetar. Ia menoleh pada Mark yang sudah ada di halaman parkir. Salah seorang pria tadi mendorong kasar Mark agar masuk ke dalam mobil mereka.
***
Di kediaman Salman...
Setelah keluarga Atmadja berpamitan, Salman kini hanya bersama anak-anak dan menantunya. Ketiga buah hati Meydina sudah ditidurkan. Begitu juga Aldo yang sudah pulang.
"Dad, menurut Amie tidak perlu ada pernikahan. Tidak ada yang harus Rendy pertanggung jawabkan."
"Betul, Dad. Apa jadinya pernikahan mereka nanti jika dipaksakan seperti ini?" ujar Alvin.
"Yah, coba dipikirkan lagi kedepannya akan bagaimana. Jujur saja Mey setuju jika Rendy menikah dengan Amiera, tapi tidak dengan situasi seperti ini."
"Kalau Maliek sih, setuju."
Empat pasang mata mengarah pada Maliek. Alvin dan Meydina mengerutkan kening. Laura terlihat bingung begitu juga dengan Amiera.
"Gini lho. Setelah kejadian ini, wajar kalau ayah mengkhawatirkan Amie lebih dari biasanya. Dengan menikahkan Amie dengan Rendy, setidaknya akan berkurang kekhawatiran tersebut. Karena Amiera sudah menikah dan ada suaminya yaitu Rendy yang akan bertanggung jawab pada Amiera. Betulkan, Yah?"
Salman menyunggingkan senyumnya. Merasa senang karena pemikiran Maliek sejalan dengannya.
"Seharusnya kamu jadi anak ayah saja." Ujarnya.
"Nggak mau, Yah. Kalau Maliek jadi anak ayah nggak bisa nikah sama Meydina dong," protes Maliek.
"Iya juga, ya."
Alvin dan ketiga wanita yang berada disana menahan rasa ingin tertawa mereka.
"Ya sudah, sekarang kita istirahat saja. Laura, kalian tidak akan pergi secepatnya kan?" tanya Salman. Mengingat rencana awal Alvin yang akan berkunjung ke rumah orang tua Laura dan kembali ke negara K.
Laura melirik suaminya kemudian berkata, "Tidak, Dad. Kemungkinan kami akan kembali setelah pernikahan Amie."
Laura melirik dengan senyum menggoda pada Amiera. Gadis itu tersipu mendapat tatapan yang serupa dari Meydina.
***
Lain di kediaman Salman, lain lagi di kediaman Wira Atmadja. Suasana tegang menyelimuti ruang keluarga rumah tersebut. Rendy menolak dinikahkan dengan Amiera. Alya juga menolak dilangkahi jika Rendy menikah lebih dulu.
Wira dan Nura terlihat bingung. Begitu juga dengan Evan, sang paman. Sedangkan Alena memilih diam dan hanya jadi pendengar.
"Ren, kamu harus mengerti. Papa sebagai seorang ayah juga akan mengkhawatirkan anak perempuan papa kalau sudah terjadi hal seperti ini."
"Tapi Rendy nggak ngapa-ngapain Amiera, Pa. Dan Rendy juga tidak mencintai Amiera. Jadi untuk apa menikah?"
"Terus kamu mau menikah sama siapa, Meydina?"
"Ma!" pekik Rendy.
"Lupakan Meydina, Ren! Sedih hati mama melihat dari dulu cinta kamu bertepuk sebelah tangan. Amiera sama cantiknya dengan Meydina. Dan sepertinya Amiera mencintai kamu," ujar Mama Nura.
"Tidak bisa begitu, Ma."
"Kenapa tidak bisa? Amiera anak yang baik. Itu sebabnya Tuan Salman ingin dia menikah dengan kamu. Dia tahu kamu pria yang baik, Ren."
"Iya, Ren. Om juga setuju kamu menikah dengan Amiera. Bagaimanapun juga Amiera itu adiknya Alvin sama seperti Alena," ujar Evan.
"Pokoknya enggak! Alya nggak mau dilangkah. Kalau Rendy menikah seminggu lagi, besok atau lusa Papa nikahkan Alya dengan Rafael. Titik." Alya berlalu meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan orang tuanya dalam kebingungan yang luar biasa.
__ADS_1