Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
pernikahan (bagian 2)


__ADS_3

Happy reading...


Di pagi buta, kediaman Salman sudah sangat ramai. Para pelayan hilir-mudik menyiapkan semua yang berhubungan dengan acara.


Nona kedua mereka hari ini akan menikah. Meskipun tidak digelar di sebuah gedung mewah, rumah itu cukup besar untuk menggelar acara. Bahkan mereka menghadirkan beberapa koki handal terutama untuk menu ala Timur Tengah.


Sejak kemarin, keluarga inti Salman telah berada di hotel. Mereka dijemput langsung oleh pewasat pribadi tuan rumah. Tidak terkecuali Ahmeh Al-Azmi dan Dokter Said yang membawa serta keluarga mereka. Resty dan Bramasta juga sengaja menginap di sana.


Meydina yang dibantu para babysitters-nya sedang sibuk mempersiapkan ketiga buah hatinya. Zein dan Amar berlarian kesana-kemari menyulitkan Maminya.


"Kakak! Amar! Ayo dong, Sayang! Di pake dulu bajunya," seru Meydina pada kedua putranya yang sedang menghindari babysitter mereka.


"Nggak mau, Mami! Enak gini, dingin ya Amal?" sahut Zein yang hanya mengenakan pakaian dalam, begitu juga Amar.


Amar mengangguk cepat, dan berlari sambil terkekeh saat babysitter akan meraihnya.


Meydina menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua bocah tersebut. Tidak mau kalah dari dua saudaranya, Fatima juga terus saja ingin berguling saat Maminya sedang memakaikan gaun mungil miliknya.


"Fatum, jangan di lepas!" ujar Meydina pada Fatima yang menarik-narik bando lucu yang dikenakannya.


"Huft!"


Meydina kembali menggelengkan kepalanya melihat bando yang terpental karena tarikan Fatima.


"Bu, dicari bapak."


Meydina mengangguk pelan dan pamit pada ketiga anaknya.


"Sayang! Zein, Amar! Di pakai bajunya. Mami mau keatas dulu ya."


"Iya, Mami!" Sahut keduanya.


Meydina berlalu dengan senyum di wajahnya. Hari ini merupakan hari bahagia adik satu-satunya dan juga sahabatnya, Rendy.


Meydina merasa bahagia karena Amiera bisa mendapatkan cintanya. Dan Rendy, meskipun pria itu belum bisa menerima perasaan Amiera, Meydina yakin Amiera mampu meluluhkan hati pria itu.


"Ada apa, Kak?" tanya Meydina saat memasuki kamar pribadinya.


"Sayang, tolong ambilkan bajuku dong!" Pintanya sambil memperhatikan wajahnya di cermin.


"Kakak lagi ngapain sih?"


"Aku belum kelihatan tua kan, Mey?" tanya Maliek yang menerima baju dari tangan istrinya.


"Kenapa bertanya seperti itu? Papi Zein masih muda kok. Ganteng lagi," puji Meydina yang memasangkan ikat pinggang suaminya.


"Kok kamu belum bersiap?"


"Baru mau. Anak-anak aja belum selesai," sahut Meydina.


"Ya udah, sana bersiap. Yang cantik ya, Mami. Eh jangan, aku ralat. Biasa aja," ujar Maliek.


"Kakak kenapa sih? Aneh," gerutu Meydina.


Maliek menatap punggung Meydina yang berlalu menuju lemari pakaian. Ia menggaruk pelan tengkuk lehernya. Merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Masih saja ia merasa cemburu pada Rendy, padahal sepupu Alvin itu akan segera menikah dengan adik iparnya.


Di kamar Amiera, gadis itu sedang dirias oleh perias dari salon langganan Mama Resty. Ia terlihat sangat cantik.


Dari cermin dihadapannya, Amiera bisa melihat pantulan sosok Alvin yang sedang memperhatikan dari ambang pintu. Pria itu nampak tersenyum manis pada sang adik yang tersipu malu.


Alvin memberinya isyarat gerakan tangan yang memberitahukan bahwa ia akan turun ke lantai bawah. Amiera mengangguk pelan sebagai jawaban mempersilahkan.


Saat melewati kamar Daddy-nya, Alvin berhenti di depan pintu lalu mengetuknya perlahan. Terdengar sayup-sayup Salman mempersilahkan.


"Dad, sudah siap?" Tanyanya.


Salman mengangguk pelan. Raut wajahnya sulit diartikan.


"Ada apa, Dad?"

__ADS_1


"Tidak ada," sahut Salman sambil melengoskan wajahnya.


"Vin, apa menurutmu keputusanku benar?" Tanyanya.


Alvin terduduk di tepi tempat tidur Salman. Menatap pria paruh baya yang sedang membelakanginya.


"Daddy sudah melakukan yang terbaik. Bukan hanya untuk Amiera, tapi juga untuk Alvin dan Meydina." Sahutnya.


Salman menghela nafasnya. Menatap keluar dari jendela kamar yang terbuka.


Ketiga anaknya sudah menikah. Alvin dan Amiera akan tinggal di negara yang berbeda. Ia bersyukur, Maliek tidak keberatan Meydina dan anak-anak tinggal bersamanya. Jika tidak, ia akan menghabiskan masa tuanya hanya dengan bekerja.


Setengah jam lagi acara akan dimulai. Satu persatu mobil yang membawa rombongan keluarga besar juga sudah datang. Mereka begitu gemas dengan tingkah dan polah cucu-cucu Salman.


Gelak tawa terdengar saling bersahutan. Salman menyunggingkan senyumnya melihat keakraban keluarganya meski jarang sekali bertemu.


"Kau bahagia? Aku tidak menyangka Amiera akan secepat ini menikah. Rasanya belum lama ini dia baru saja merengek minta digendong," ujar Ahmed tersenyum simpul.


"Ku harap ini yang terbaik," ujar Salman pula.


Ahmed menoleh pada kakaknya. Meski usianya bertambah, garis kelelahan dari wajah Salman sedikit berkurang.


"Percayalah pada anak-anakmu. Sejalan dengan waktu, mereka akan dewasa. Aku senang melihat mereka sangat terikat satu sama lain. Harus ku akui, Alvin memang luar biasa. Aku kagim pada anak itu. Oh iya, apa pria itu ayahnya?" tanya Ahmed yang menunjuk pada Evan.


Salman mengangguk.


"Ku rasa dia seperti ayahnya. Namun rasa hormat dan cintanya pasti lebih padamu. Lihatlah sekarang Salman, kau tidak hanya punya seorang putra, kau bahkan memiliki tiga."


"Mereka bukan putraku," sahut Salman santai.


"Aish, kau ini. Menantu juga seperti putra kita. Bahkan mereka bisa lebih menuruti kita dari pada putra kita sendiri," geram Ahmed.


Salman hanya tersenyum tipis melihat reaksi adiknya. Tentu ia mengerti maksud dari ucapan Ahmed.


"Mereka sudah datang?" tanya Ahmed saat melihat beberapa orang berjalan menuju teras luar.


"Kurasa begitu," sahut Salman.


Mereka saling menyapa, kemudian menuju ruangan tempat acara inti akan dilaksanakan. Nura terlihat bahagia menyapa beberapa wanita yang menjadi kerabat Salman. Dalam hati ia merasa bangga bisa berada diantara wanita yang berasal dari keluarga tak biasa itu.


Rendy sudah pada posisinya. Berhadapan dengan Salman dengan meja sebagai pemisahnya. Sayup-sayup terdengar suara tamu mulai berbisik.


Rupanya calon pengantin wanita sudah terlihat dari arah tangga. Amiera diapit oleh saudari dan kakak iparnya. Mereka terlihat sangat cantik layaknya bidadari.


"Wah! Cantiknya," gumam salah seorang kerabat Rendy.


Mendengar hal itu, Rendy menoleh. Ia tertegun menatap satu dari tiga wanita tersebut.


"Mey..." Batinnya.


Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Ini adalah hari pernikahannya dengan Amiera. Setidaknya ia belajar menghormati calon istrinya itu dengan tidak memperhatikan Meydina.


Belum lagi sorot mata elang yang sedari tadi seolah mengawasinya. Rendy menyadari bahwa Maliek menaruh rasa tidak suka pada dirinya.


"Cantiknya, Kak Amiera! Alena yang perempuan aja langsung meleleh, apalagi Kak Rendy. Beruntung Kak Rendy ya, Kak Alya. Sudah dapat istri cantik, kaya lagi. Satu paket komplit, plit, plit..." Bisiknya.


"Sstt, jangan berisik! Malu sama mereka. Lihat tuh mereka! Nggak ada yang norak," tegur Nura pelan.


Alena langsung menutup setengah wajahnya menggunakan tangan. Ia tersenyum malu mendapat seringaian dari Rendy.


Meydina dan Laura menuntun Amiera untuk duduk disamping Rendy. Gadis itu tersenyum malu pada Daddy-nya.


Acara pun dimulai. Penghulu menyampaikan sepatah dua patah kata terlebih dahulu. Setelah semua siap, ijab kabul pun dimulai.


Walau dengan perasaan grogi dan suara yang bergetar, Rendy mampu berikrar hanya dalam satu helaan nafas. Saat penghulu mengucap kata 'sah', para tamu yang hadir pun serempak mengucap kata yang sama.


Setelah membaca do'a, Amiera dan Rendy diperkenankan saling berhadapan. Memakaikan cincin pernikahan lalu Amiera mencium punggung tangan suaminya, begitu juga Rendy mencium kening wanita yang kini menjadi istrinya.


Rendy dan Amiera mendapat ucapan selamat dari setiap tamu yang hadir. Tidak terkecuali Meydina.

__ADS_1


"Selamat ya, Ren! Nyangka nggak sih kalau ternyata loe bakalan jadi adik ipar gue, hehe." Kekehnya.


"Nggak lah, Mey. Oh sorry. Kak Mey," canda Rendy.


Mereka berdua terkekeh.


"Baik-baik loe ya, sama adik gue."


"Pasti dong. Amiera kan adik loe, mana berani gue macam-macam."


Rendy melirik Amiera sambil tersenyum. Amiera tersipu dengan wajahnya yang merona.


"Cie.. Udah ah! Gue nggak mau ganggu, bye. Sekali lagi selamat ya, Sayang!" Meydina memeluk Amiera. Ia juga tersenyum menatap wajah Amiera yang merona.


Disalah satu sisi rumah itu, empat sekawan sedang berkumpul. Kali ini Alya juga ada bersama mereka.


"Duh, ini perangko. Nempel mulu," sindir Riky.


"Kenapa loe? Sirik aja," decih Rafael.


"Ye, enak aja. Sirik sama loe, nggak level." Balasnya.


"Udah, udah. Maklumin aja Rik, mereka kan pengantin baru. Lagi hot-hotnya," ujar Alvin.


"Menurut gue bukan cuma karena itu. Pasti Alya takut Rafael matanya jelal*tan lihat cewek arab yang pada bohai. Iya kan, Al?" goda Riky.


"Rik, loe jangan mancing perang dunia dong." Rafael terlihat salah tingkah mendapat lirikan tajam dari istrinya.


Ketiga temannya tergelak.


"Dia takut nggak dapat jatah," ucap Maliek disela-sela gelak tawanya.


Di sisi lain, Meydina dan Amiera sedang berada ditengah-tengah keluarga besar ayahnya. Meskipun dari keluarga terhormat, nyatanya keluarga besar Salman sangat terbuka pada semua orang apalagi pada Laura.


Walaupun Alvin tidak ada hubungan darah dengan mereka, kehadiran Alvin menjadi pelengkap hidup Salman dan kedua putrinya.


Menjelang sore, para tamu mulai berkurang. Kesibukan para pelayan menjadi pemandangan yang biasa disetiap akhir acara.


Ketiga putra Maliek dan Meydina sedang dimandikan babysitters mereka. Sedangkan penghuni rumah yang lain sedang beristirahat di kamar masing-masing.


Di kamar Amiera, Rendy sedang merebahkan badannya diatas tempat tidur. Sedangkan Amiera sedang membereskan beberapa pakaian yang dibawa suaminya.


Setelah selesai, Amiera beranjak mendekati Rendy. Pria itu tengah memejamkan matanya seperti orang yang sedang tertidur.


Perlahan Amiera mencoba melepas sepatu yang dikenakan Rendy. Namun tanpa diduga, Rendy terhenyak dan kakinya hampir mengenai Amiera.


"Sorry, gue kaget." Ucapnya.


"Nggak apa-apa. Kamu mau ke kamar mandi dulu nggak? Kalau enggak aku dulu, ya."


"Hmm, kamu aja dulu." Ucapnya sambil kembali memejamkan matanya.


"Nggak usah, nanti aku lepas sendiri." Rendy menolak saat Amiera hendak melepas sepatunya lagi.


Amiera beranjak dan menuju kamar mandi. Sementara itu, Rendy membuka kelopak matanya. Menatap langit-langit kamar dengan sebelah tangan sebagai pengganjal kepalanya.


Beberapa kali ia menghela nafasnya. Dengan tatapan menerawang, entah apa yang ia pikirkan.


Amiera terlihat ragu saat hendak keluar dari kamar mandi. Ia berjinjit melihat kearah tempat tidur. Ingin memastikan pria yang sedang berbaring itu memang terlelap.


Amiera berjalan perlahan dan sangat pelan. Ia mengendap-endap menuju walk-in closet. Saat hendak melangkah ke dalam walk-in closet, langkahnya terhenti.


"Amiera, jika sudah selesai berikan tanda pengenalmu padaku."


Suara Rendy mengagetkan Amiera. Ia perlahan menoleh, kemudian mengernyitkan dahinya. Posisi Rendy tidak berubah. Masih dengan kedua matanya yang terpejam.


"Baiklah. Tunggu sebentar ya," ujar Amiera masih dengan posisinya yang menoleh pada Rendy.


"Hmm," gumam Rendy.

__ADS_1


Saat kedua mata Rendy terbuka, Amiera sontak berlari ke dalam walk-in closet.


Menyadari sosok Amiera tak terlihat ujung matanya, Rendy menoleh ke tempat semula Amiera berada. Ia menyeringai sinis, pada ruang kosong yang sedang ditatapnya.


__ADS_2