Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
wanita di masa lalu Alvin


__ADS_3

Happy reading...


Salman menatap haru kebahagiaan anak, cucu dan menantunya. Sesekali ia terkekeh melihat kelucuan tingkah mereka. Tidak ketinggalan juga di sana ada Resty yang turut serta bersama mereka.


Wanita itu terlihat antusias bermain barsama cucu-cucunya. Ia juga tak lupa ber-selfie ria untuk mengabadikan moment kebersamaan mereka.


Maliek dan Alvin untuk sementara menanggalkan gengsinya, terutama Maliek. Pria tiga anak itu mau tak mau bertingkah mengikuti keinginan kedua putranya.


Dari kejauhan Zein melambai pada Kakeknya. Anak itu berlari dengan riang, mengarah pada Salman yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Kakek!"


Salman tersenyum sambil membalas lambaian Zein. Namun senyum itu tiba-tiba memudar saat bayangan Meydina terlintas dalam pikirannya.


"Ayaah!"


Brukk.


Salman tersentak. Tanpa sadar ia bergumam, "Salumi."


"Jagoan Papi jatuh," seru Maliek sambil mendekat pada putranya.


"Nggak, nggak cakit kok," sahut Zein.


Salman memberi isyarat pada Zein agar kembali bermain bersama yang lainnya. Zeinpun kembali dengan riangnya. Dan tak lama terdengar gelak tawa mereka.


Salman menatap Meydina yang sedang tertawa. Ada perasaan sesal dalam hatinya. Karena egonya, masa kecil Meydina tidak bahagia. Salman tertunduk merutuki dirinya. Bayangan Meydina kecil yang selalu menatap penuh harap kini tak ubahnya bilah yang mengiris hatinya.


Salman menyadari, penyesalannya sia-sia. Sebesar apapun ia berusaha, masa lalu mereka tidak akan berubah. Terkadang ia iri bila tanpa sengaja melihat Meydina menatap penuh cinta pada foto Fahri, ayah sambungnya.


Disisi lain Salman bersyukur Meydina mendapatkan sosok ayah seperti almarhum Fahri, pria yang sangat mencinta Meydina dan tentu Anita juga. Dan semakin ia menyadari, semakin besar sesal itu. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan istri dan anaknya.


Drtt...


Salman mengusap wajahnya. Ia melirik layar ponsel, ada Amiera yang sedang menghubunginya.


Cukup lama Salman berbincang dengan Amiera. Sesekali nada suaranya terdengar meninggi untuk menegaskan sesuatu. Namun akhirnya melembut seiring berakhirnya pembicaraan itu.


"Ada apa, Yah? Amiera yang tadi menelepon?" tanya Meydina heran melihat ekspresi wajah ayahnya.


"Amie menolak sebagian fasilitas yang ayah sediakan untuknya," sahut Salman sambil membuang kasar nafasnya.

__ADS_1


"Oh ya, kenapa?"


"Katanya dia ingin mandiri. Dan ingin merasakan hidup sederhana seperti orang biasa."


"Waah, bagus dong!" seru Meydina senang.


Meydina tidak menyangka Amiera punya pemikiran seperti itu. Apakah ini ada hubungannya dengan Rendy? Meydina ingat benar bagaimana Amiera dulu sangat terobsesi pada sahabatnya itu.


"Apa yang bagus, Mey?" tanya Alvin.


"Itu lho, Kak. Amiera ingin mandiri. Baguskan? Berarti dia sudah mulai berfikir dewasa. Ingin belajar menentukan pilihannya."


Mendengar penuturan Meydina, Alvin hanya mengangguk pelan lalu menoleh pada Salman.


"Lalu bagaimana, Dad?"


"Yaa, mau bagaimana lagi? Aku tentu menolak keinginannya," ujar Salman dan sukses membuat Meydina juga Alvin merasa bingung.


"Maksud, Ayah?"


"Ayah bilang sama Amiera, semua fasilitas itu akan tetap ada. Dia harus tetap tinggal disana. Mobil juga tersedia untuk Amiera. Dan tentang Bella, Amiera bisa menghubunginya juga Mike kapanpun dia membutuhkannya. Begitu juga pelayan dan bodyguard yang akan melayani dan melindunginya."


"Lalu bagaimana reaksi Amiera, Yah?"


"Intinya dia tidak ingin orang lain tahu jati dirinya. Begitukan, Mey? Waah, anak manja itu sekarang sudah mulai dewasa," ucap Alvin.


"Daddy tetap khawatir, Vin. Dulu daddy mengizinkan dia kuliah di sini karena ada kamu. Tapi sekarang, tidak ada siapapun disana. Dan pergaulan di sana, daddy khawatir dia memilih teman yang salah."


"Bukankah ada Mike. Dan Bella.... Hmm, anak itu." Seringai Alvin.


"Bella, siapa Kak?"


"Putri Uncle Anderson, adik Mike."


"Oh."


"Dad, apa Bella juga bekerja di perusahaan? Alvin lupa menanyakan tentang dia pada Mike."


"Iya, dia PM salah satu proyek penting kita yang ada disana."


"Hebat juga dia. Kukira dia main-main saat mengambil kuliah jurusan itu."

__ADS_1


"Dia sedikit unik. Cara dia bekerja berbeda dari yang lainnya. Tapi dia bisa diandalkan," ujar Salman.


Alvin tersenyum tipis. Bella, wanita itu punya tempat tersendiri di hatinya. Bukan sebagai wanita yang pernah dicintainya, melainkan sebagai...


Flashback on


Alvin yang dalam keadaan setengah sadar menatap nanar bungkus 'pengaman' yang diberikan temannya, Rafael. Saat itu masih pukul tujuh sore, ia dan beberapa temannya pulang dari sebuah cafe untuk sekedar nongkrong.


Di cafe itu mereka minum minuman beralkohol dengan kadar yang cukup rendah. Di perjalanan, Rafael yang mengantarnya membujuk Alvin untuk ikut serta ke sebuah pesta anak muda. Dia bahkan memperlihatkan bungkusan 'pengaman' yang sudah disiapkan untuk mereka dalam pesta itu.


Alvin menolak dan meminta di antar pulang. Sebelum turun, Rafael menyelipkan satu dari beberapa 'pengaman' itu.


Alkohol yang diminumnya tadi cukup membuat Alvin merasa pusing. Ditambah lagi ia membayangkan Rafael dan beberapa wanita di pesta malam ini. Ucapan Rafael tentang kenikmatan sesaat bersama para wanitanya terngiang dan mebangunkan bir*hi Alvin.


Bel apartemen Alvin berbunyi. Dengan malas ia membukanya. Ada Bella di sana. Berdiri di depan pintu dengan makanan yang dibawanya. Rupanya Bella mengantarkan makanan dari Nyonya Anderson untuk Alvin. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi Alvin.


Alvin mempersilahkan Bella masuk. Mungkin karena bir*hinya yang sudah memuncak, Alvin melihat Bella begitu menggoda.


Bella yang sedang meletakkan makanan di meja terperanjak saat Alvin memeluknya dari belakang. Bukan hanya itu, Alvin menciumi tengkuk leher juga belakang telinganya. Nafasnya sangat memburu. Lenguhan Bella saat Alvin mer*mas pay*daranya membuat pria itu menggila. Dan terjadilah kejadian itu...


Alvin mengingat dengan jelas setiap hal yang terjadi. Dan kenikmatan yang ia rasakan menjadikannya sebuah candu. Beberapa kali ia dan Bella melakukannya. Tentu menggunakan 'pengaman' yang selalu dimintanya dari Rafael.


Tak pernah ada ikatan apapun juga antara ia dan Bella. Sampai akhirnya Alvin memutuskan menerima perintah Daddynya bekerja di salah satu cabang perusahaan. Karena selain ketiga temannya ada disana, menurut informasi Mommy Anita juga disana.


Sejak itu, Alvin menjadi casanova. Berganti-ganti wanita, namun tak ada yang seperti Bella. Wanita yang telah menyerahkan kesuciannya pada Alvin, walau tanpa ikatan apa-apa. Dan sejak saat itu, baik Alvin maupun Bella tidak pernah lagi bertemu. Bahkan Alvin merasa malu untuk sekedar bertanya pada Mike tentang adiknya itu.


Flashback off


***


"Bella! Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Amiera heran. Beberapa kali ia menjentikkan kedua jarinya, namun Bella tetap asik dengan lamunannya.


"Tidak ada, Nona. Bagaimana kau tidak keberatan atas keputusan Tuan Salman?"


"Lumayan, tapi setidaknya aku bisa sedikit bebas. Oh ya, Bella. Jangan memanggilku dengan sebutan nona. Kau panggil saja aku dengan namaku, oke?" pinta Amiera.


"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan," sahut Bella riang.


Bella berusaha menutupi hatinya yang sedikit terusik. Tadi ia dengar dari Amiera bahwa saat ini Tuan Salman sedang bersama kedua anaknya dan juga keluarga mereka. Dan itu artinya Alvin juga sedang ada disana, bersama istri dan juga anaknya.


Alvin...

__ADS_1


Bella kemudian tersenyum tipis dan kembali menemani Amiera yang sedang menikmati makanannya.


__ADS_2