
Part ini terdapat adegan 18+. Jika kalian merasa risih, silahkan di skip.
Happy reading...
Lain di penthouse, lain pula di kediaman Anderson. Waktu menunjukkan hampir tengah malam, namun Bella belum juga bisa memejamkan mata.
Bella melangkah ke luar kamarnya. Sebuah mini bar yang terletak di salah satu sudut rumah menjadi pilihannya. Mungkin sebotol wine bisa menghilangkan gejolak di dalam hati Bella.
Sepulang dari penthouse, Bella dicecar pertanyaan perihal kebersamaannya dengan Riky. Sejak kedua orang tua mereka meninggal, Mike memang sangat posesif terhadap adiknya tersebut. Pria itu terkadang bersikap berlebihan pada pria yang berada di sekitar Bella.
"Sendirian?"
Sebuah suara mengagetkan Bella. Ia menoleh dan tersenyum pada pemilik suara yang tak lain adalah Riky.
"Mau?" Tawarnya.
"Boleh," sahut Riky.
Bella menuangkan wine ke dalam gelas miliknya lalu menyodorkannya pada Riky. Setelah gelas itu kosong, giliran Riky yang menuangkan minuman dan memberikannya pada Bella. Begitu seterusnya sampai gelas terakhir.
"Untukmu saja," ucap Riky sambil memijit pelipisnya.
"Itu bagianmu," sahut Bella pelan. Ia juga sepertinya sedang menahan pening di kepalanya.
"Aku akan kembali ke kamarku. Istirahatlah, kau harus bekerja besok."
Sebelah tangan Bella menahan langkah Riky yang akan meninggalkannya.
"Kau belum menghabiskan minumanmu," ucap Bella dengan gerakan mata mengarah pada gelas tadi.
Riky tersenyum tipis dan kembali duduk di tempatnya semula. Sementara itu Bella masih tetap berdiri.
"Mau menghabiskannya berdua?"
"Baiklah. Kamu seteguk, aku seteguk. Setalah ini habis kita harus tidur," ucap Riky.
"Kita mau tidur bersama?" tanya Bella dengan kening yang dikerutkan. Aroma khas wine tercium dari mulutnya. Sepertinya Bella sudah mulai mabuk. Bella meraih gelas dan meminumnya.
"Maksudku bukan begitu, tapi..."
Kalimat Riky terpotong. Bella menarik bajunya di bagian dada lalu menciumnya.
Glekk.
Riky menelan wine yang dimasukkan Bella melalui mulutnya. Bella menatapnya sambil tersenyum bodoh.
"Kau gila," ucap Riky pelan sambil mengusap sisa wine di bibirnya.
Saat Bella hendak meraih gelas itu kembali, Riky memegang tangannya karena khawatir wanita yang tengah mabuk itu bisa saja terjatuh atau tersungkur.
"Mau lagi?" tanya Bella sambil menggoyangkan gelasnya. Bella memasukkan wine ke dalam mulut dan meletakkan gelasnya kembali.
Bella kembali ke dalam dekapan Riky dan menciumnya. Lagi-lagi pria itu seakan pasrah pada perlakuan Bella.
__ADS_1
Sebelah tangan Bella mencengkram rahang Riky, sedangkan sebelahnya lagi menekan tengkuk leher pria itu. Posisinya yang mendominasi membuat Bella dengan leluasa memperdalam ciumannya.
Riky yang sudah mulai terbuai dalam cumbuan Bella balas mel*mat dan mengeratkan pelukannya. Mereka saling menyerang dengan l*matan yang menggairahkan.
"Aku menginginkanmu," bisik Bella dengan nafas yang memburu.
"Kau yakin?" tanya Riky disela cumbuannya.
"Ayolah, aku sudah tak tahan." Bella menatap sayu pada pria yang tengah menciumi lehernya.
Riky balik menatap pada Bella. Tatapan mereka sama-sama mengisyaratkan keinginan yang sama.
"Ku harap kau tidak menyesalinya," ucap Riky.
Pria itu berdiri dan dengan gerakan cepat ia membopong Bella. Saat menapaki anak tangga, Bella yang melingkarkan tangannya di leher Riky terus saja menciumi leher pria itu. Bahkan sesekali Riky terlihat meringis karena Bella menggigit kecil bagian dari lehernya.
"Diamlah, nanti kau jatuh." Ucapnya.
Bella hanya tersenyum dan mencium ujung bibir Riky. Ia pun membenamkan wajahnya di ceruk leher Riky.
Sesampainya di kamar Bella, Riky meletakkan wanita itu di atas tempat tidurnya. Bella yang masih melingkarkan tangannya tidak melepaskan Riky begitu saja.
Gerakan tangan Bella membuat Riky mau tak mau menindih wanita itu. Sesaat, Riky menatap wanita yang kini berada dalam kungkungannya.
Raut wajah Bella memerah dengan senyum menggoda dan tatapannya yang sayu. Wanita ini benar-benar dalam pengaruh alkohol yang diminumnya.
"Bella, aku harus..."
Lagi-lagi kalimat Riky terpotong. Bibir Bella seenaknya saja mencium dan mel*mat seakan tidak membiarkannya bicara.
"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," ucap Bella lirih sambil mengusap bibir Riky. Tatapanan Bella tertuju pada bibir itu dan kembali meraupnya.
Riky yang sudah berusaha menahan diri sedari tadi, menggerakkan tangannya untuk menjamah bagian dada Bella. Saat ia mer*mas satu diantara dua bukit kembar itu, Bella mend*sah. D*sahan yang membuat Riky tidak bisa lagi mengontrol dirinya.
"Aah, Vin. Lakukan sekarang," pinta Bella dengan suara yang mend*sah.
Riky yang sedang mencium bagian telinga Bella sontak menghentikan aksinya.
"Vin?" batin Riky.
Tidak terima prianya berhenti, tangan Bella bergerak liar di bagian bawah perut.
"Alvin, kumohon sayang lakukan sekarang." Rengeknya sambil mengusap-usap junior Riky.
"Jadi sedari tadi dia mengira aku Alvin? Sialan!" umpat Riky dalam hati.
Riky menekuk kakinya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bella.
"Vin.."
Riky menepis tangan Bella yang coba menariknya kembali.
"Tidurlah." Ucapnya sambil memberikan bantal pada Bella sebagai pengganti dirinya.
__ADS_1
Riky menarik selimut hingga dada Bella. Tatapan mata Bella terlihat sayu dan semakin sayu. Senyuman tersungging dari bibirnya.
"Alvin, huft."
Bella berucap sangat pelan. Hembusan nafasnya yang dibuang kasar seolah mewakili perasaan yang ingin di hempaskannya. Riky masih berada di sana, menatap Bella sampai wanita itu benar-benar memejamkan kedua matanya.
***
Bukan hembusan angin bukan pula kicauan burung yang membangunkan Bella dari tidurnya. Melainkan suara bariton Mike yang membangunkannya dengan kalimatnya yang mengancam.
"Bella, bangun! Jika kau datang terlambat, kupastikan kau akan kehilangan pekerjaanmu. Dengar itu!"
Bella terhenyak kemudian terduduk. Derap langkah Mike samar-samar bisa didengarnya. Bunyi pintu yang ditutup kasar oleh sang kakak benar-benar mengagetkannya, sekaligus memaksanya kembali pada kesadarannya.
"Aww!" Pekiknya.
Bella merasa pundak dan kepalanya terasa sangat berat. Sambil terhuyung, Bella berjalan menuju kamar mandi.
"Aww!" Pekiknya lagi. Keningnya membentur pintu kamar mandi.
"Sadarlah!" seru Bella sambil menampar pipinya sendiri. Setelah itu ia meringis sambil mengusap-usap pipi yang baru saja ditamparnya.
***
Suasana rumah dua lantai itu terasa sepi saat Bella menuruni tangga. Mike pasti sudah berangkat ke kantor. Lalu tamu mereka kemana? Bukankah Riky tidak bekerja?
Seorang pelayan menghidangkan kopi. Bella mulai menikmatinya kemudian bertanya, "Apa pria yang datang semalam sudah pergi?"
"Saya rasa tamu anda belum bangun, Nona."
"Baiklah. Jika dia bangun siapkan sarapan untuknya. Dan minta dia menghubungiku," pesan Bella.
"Baik, Nona."
Setelah menghabiskan secangkir kopinya, Bella meraih tas dan melangkah keluar rumah. Dalam hati, Bella mengingat-ingat sesuatu yang samar-samar melintas dalam pikirannya.
"Bukankah dia semalam minum denganku? Apa jangan-jangan dia sangat mabuk tadi malam. Ah, semoga dia baik-baik saja." Gumamnya.
Bella bergegas menuju mobilnya. Jika ia sampai terlambat, maka dirinyalah yang tidak baik-baik saja. Karena Mike tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Dari jendela kamar yang di tempatinya, Riky menatap Bella yang berjalan ke arah mobilnya. Pria itu mematung melihat mobil Bella meninggalkan halaman rumah keluarga Anderson.
Setelah beberapa saat, Riky keluar dari kamarnya dan langkahnya menuju kamar Bella. Ia memasuki kamar yang semalam hampir saja menjadi saksi bisu perbuatannya.
Riky berjalan menuju meja rias. Ada sebuah foto di sana. Semalam, sebelum meninggalkan kamar itu sekilas Riky melihat bingkai foto itu. Kepalanya yang dirasa berat, membuat Riky mengurungkan niatnya melihat foto tersebut.
Seorang wanita berambut pirang dengan dua pria yang mengapitnya. Wanita dalam foto itu adalah Bella. Sementara salah satu prianya adalah Mike, kakak Bella. Lalu pria satunya lagi?
Seorang pria yang Riky kenal betul siapa dia.
Alvin. Sahabatnya yang lahir dan besar di kota itu.
Untuk sesaat Riky memperhatikan raut wajah Bella dalam foto itu. Binar matanya memperlihatkan kebahagiaan yang sedang dirasakannya.
__ADS_1
"Ada hubungan apa Bella dan Alvin di masa lalu? Apa sampai saat ini Bella masih mencintai Alvin? Dan kemarin saat di ruangan Bella, dia dan Alvin... Ah! Apaan sih? Bella mungkin wanita di masa lalu Alvin, tapi Laura dan Queena adalah wanita dalam kehidupan Alvin saat ini dan selamanya." Ujarnya bermonolog.