
Happy reading...
Empat bulan kemudian..
Angin berhembus menerpa wajah Amiera. Terasa begitu dekat seolah sengaja ditiupkan padanya. Perlahan Amiera mengendus, mencium aroma mint yang tercium hidungnya. Memaksanya mengerjap dan membuka kelopak mata.
Senyum manis dari wajah tampan suaminya menjadi pembuka hari Amiera. Ia tersenyum sambil memajukan bibirnya.
"Kok enggak?" tanya Amiera kecewa karena Rendy tak juga menciumnya.
Rendy meniup pelan wajahnya. Ternyata aroma mint yang tadi dihirupnya berasal dari mulut suaminya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu menatap lekat pada wajah istrinya. Tangannya bergerak mengusap pipi lembut Amiera. Membuat Amiera keheranan memperhatikan tingkah suaminya.
"Kakak kenapa? Pagi-pagi senyum-senyum sendiri," tanya Amiera pelan.
Dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya itu, perlahan Rendy mendaratkan ciumannya. Dan tentu saja hal itu disambut hangat oleh Amiera. Saat bibir itu mulai terpaut erat, tangan Rendy bergerak mengusap ke bagian perut Amiera yang mulai membesar.
"Tadi aku merasakan gerakan Baby kita, Sayang." Ucapnya disela-sela tautan bibir mereka.
"Oh ya?" Amiera menatap tidak percaya.
Kemarin saat pemeriksaan kandungan, Obgyn mengatakan bahwa pada usia kandungannya yang sudah lima bulan ini, ia akan merasakan pergerakan bayi dalam kandungannya.
"Ah, curang. Masa Amie nggak merasakannya," protes Amiera.
"Kita lihat, siapa tahu dia akan bergerak lagi." Ucapnya antusias.
Rendy menurunkan selimut yang menutupi tubuh Amiera. Pria itu tersenyum menggoda melihat Amiera yang belum mengenakan apa-apa seusai permainan mereka.
"Udah jangan ditutupi, aku suka melihatnya. Semakin besar, semakin menantang ingin dipegang." Cegahnya sambil menjauhkan tangan Amiera yang menutupi dua gunung kembarnya.
"Apaan sih kakak ini? Dalamnya kan ada ASI untuk Baby," sahut Amiera tersipu malu.
"Sekali-kali aku juga boleh dong mencicipi," ujar Rendy menyeringai penuh arti.
Rendy mengusap lembut perut Amiera, menunggu bayinya memberi respos dengan pergerakannya. Sambil menunggu, usapan itu sesekali diarahkannya ke bagian bawah. Membuat Amiera menggelinjang keenakan.
"Lihat, Yang! Baby-nya gerak," pekik Rendy.
Satu benjolan di perut Amiera membuat pasangan muda itu histeris kegirangan. Bahkan Amiera sampai menetaskan air matanya. Rendy yang melihatnya cepat-cepat memeluk istrinya.
"Gerak lagi, Kak."
"Iya, benar." Sahutnya dengan mata yang berbinar.
Hari-hari Amiera dan Rendy berjalan seperti biasanya. Mereka seakan sudah tidak sabar menunggu hari kelahiran buah cinta mereka.
Rendy masih mengizinkan Amiera bekerja selama Amiera tidak merasa lelah. Rendy juga sering membantu Amiera menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia tidak ingin aktivitas Amiera mengganggu kehamilannya.
***
Suara anak-anak yang bernyanyi terdengar bersahutan di dalam mobil yang dikemudikan Maliek. Suara yang berasal dari Zein dan Amar yang tak kenal lelah dengan tingkah dan celotehannya.
Sore ini, Maliek dan Meydina berencana membawa anak-anak mereka ke taman kota. Walaupun tidak mudah mengawasi ketiga anak mereka yang sangat aktif, tetap saja mereka tidak membawa serta babysitter seorang pun juga.
"Hole, kita sampai!" seru Zein yang disambut tepuk tangan oleh Amar, adiknya.
Maliek menggendong Fatima dalam dekapannya. Putri kecil Maliek yang sudah belajar berjalan itu meronta ingin diturunkan. Mau tidak mau, ia menurutinya dengan berjalan membungkuk sambil memegangi kedua lengan putrinya.
__ADS_1
"Ayo, Amal! Kita kesana," ajak Zein dengan gerakan tangannya yang menunjuk area bermain anak.
"Mi, mau ikut kakak." Ucapnya sambil menengadahkan wajahnya pada Meydina.
"Zein! Nggak lari-lari, ya. Jalan aja," ujar Meydina yang melepaskan genggaman tangan Amar.
Zein mengangguk dan menggenggam tangan adiknya. Mereka berjalan bersama sambil berpegangan tangan.
Suasana taman itu cukup asri. Pepohonan dan bunga-bunga tertata sangat rapi. Beberapa orang terlihat sedang duduk di kursi taman. Menikmati suasana sore dan tenggelam dalam gemuruh deru suara kendaraan.
Zein dan Amar terlihat senang bermain di area permainan. Mereka tak segan mengantri untuk sekedar mencoba permainan. Maliek juga melakukan hal yang sama, pria itu menuntun Fatima untuk mengikuti kedua kakaknya.
"Pororo!" seru seorang gadis cilik yang berlari menghampiri mereka.
"Rabbit! Kamu kecini juga?" tanya Zein yang menyambut teman sekolahnya.
"Iya, sama Papa." Tunjuknya.
"Amar!" Serunya lagi sambil melambaikan tangan.
Amar yang baru turun dari perosotan berlari kearah Zein dan Zenita.
"Hai, Mey!" sapa Andre.
"Selamat sore, Pak Dokter." Sambutnya.
"Kebetulan ketemu di sini."
"Iya, Dok. Kebetulan sekali. Hai, Zeni! Mbak Uli nggak ikut?"
"Nggak, Tante."
"Ikut main sama Zein, sama Amar. Itu Papi-nya Zein juga ada di sana," tunjuk Meydina.
"Sedang libur, Dok?" tanya Meydina.
"Jangan panggil begitu dong, Mey. Panggil saja saya Andre." Sahutnya.
"Pak Dokter kan lebih tua dari saya. Panggil 'pak' aja ya," ujar Meydina.
"Terserah kamu aja deh." Ucapnya sambil tersenyum.
Maliek menghampiri mereka, tatapannya yang tajam mengarah pada pria yang dirasa pernah dilihatnya.
"Pi, ini Dokter Andre. Papanya Zenita, teman Zein dan Amar."
Maliek menoleh pada anak perempuan yang sedang bersama kedua putranya. Lalu kembali menoleh pada pria dihadapannya.
"Halo, Tuan Maliek. Senang bisa bertemu lagi. Nggak nyangka anak-anak kita bisa satu sekolah, satu kelas lagi." Selorohnya.
"Anda sering ke sekolah?" telisik Maliek.
"Jarang sih. Kalau kebetulan sempat saya ke sekolah jemput Zeni."
"Sering ketemu istri saya?"
"Pi.."
Meydina menggenggam tangan Maliek. Ia merasa tatapan Maliek mulai tidak bersahabat. Beruntung tidak lama kemudian Zeni dan Papanya pamit pulang. Karena mereka lebih dulu datang.
__ADS_1
Maliek dan Meydina membawa ketiga anaknya berkeliling menikmati keindahan taman dan berakhir di air mancur yang berada di pusat taman tersebut.
Meydina menatap Maliek dan ketiga putrinya dengan tatapan haru. Kenangan indah bersama almarhum ayahnya berkelebat dalam ingatannya. Tawa riang terdengar saling bersahutan membuat Meydina mengulumkan senyumnya.
Perlahan senyum itu memudar, saat ingatannya akan ucapan Aldo kembali terngiang.
"Nona, saya ingin memberitahukan sesuatu pada anda. Sebenarnya belakangan ini, Tuan rutin mengunjungi dokter di salah satu rumah sakit swasta."
"Sejak kapan?"
"Kurang lebih satu bulan ini. Satu minggu dua kali. Saya mengatakan ini, karena yakin Tuan pasti tidak memberitahukannya pada anda."
"Hei, Sayang! Ngelamunin siapa? Aku di sini lho," tegur Maliek.
"Ngelamunin yang nggak di sini," sahut Meydina asal.
"Siapa? Jangan bilang yang barusan," tuduh Maliek.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Kak Maliek bisa nggak sih bersikap dewasa? Mey nggak suka ya, anak udah tiga tapi masih cemburuan." Gerutunya pelan.
Maliek mencomot bibir Meydina yang cemberut.
"Kalau bukan di taman udah ku cium bibirmu ini, Sayang." Ucapnya gemas.
Diakui Maliek, ia memanglah selalu kesulitan mengendalikan diri saat ada pria lain mendekati istrinya. Namun begitu, menurutnya itu bukti bahwa ia sangat mencintai Meydina.
Maliek menatap lekat pada Meydina yang sedang memperhatikan kedua putranya yang sedang mengantri membeli gulali. Ia merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Meydina.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Mey sedang memikirkan ayah," sahut Meydina lirih.
"Sudah lama ya, kita tidak berziarah ke makan ayah dan ibu." Ujarnya.
Meydina menoleh, Maliek pasti berfikir ia sedang teringat almarhum ayahnya. Meydina tersenyum tipis, tatapannya beralih pada Fatima yang terlihat bahagia melihat kedua kakaknya memegang gulali dengan bentuknya yang lucu.
"Baby mau?" tawar Zein. Ia mencubit sedikit gulali miliknya dan menyuapkannya pada Fatima.
Adik kecilnya itu nampak ketagihan dan meraih gulali milik sang kakak hingga merusak bentuknya.
"Baby, gitu! Nggak boleh, nanti nggak kakak kasih lagi." Gerutunya sambil menjauhkan gulali tersebut dari jangkauan Fatima.
"Ini, punya Amar ada. Fatum makan punya Amar aja," tawar Amar yang hendak memberikan gulalinya agar dipegang Fatima.
"Nggak boleh, Amal! Baby masih kecil. Nanti cakit gigi," cegah Zein.
"Fatum nggak punya gigi, Kakak. Giginya baru tiga," sahut Amar.
"Bialin, kasih sedikit aja. Baby nggak boleh banyak-banyak ya," ucap Zein yang mencomot gulali Amar dan menyuapkannya pada Fatima.
"Punya kakak jadi jelek," ucap Amar menertawakan gulali Zein yang mulai menyusut.
"Papi, kenapa punya kakak jadi gini?" tanya Zein manja.
"Kena angin mungkin sayang, makanya cepat habiskan."
"Mau beli lagi," rengek Zein.
"Amar juga, Pi. Punya Amar juga jadi kecil," sahut Amar.
__ADS_1
"Nggak boleh. Nggak boleh banyak-banyak, sedikit aja."
Mendengar larangan Meydina, anak-anak itu terdiam tidak berani membantah. Keduanya pun kembali menikmati gulali mereka yang sudah tak berbentuk.