Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
kembali ke London


__ADS_3

Happy reading...


Di dalam walk-in closet, Amiera tersipu malu pada pantulan dirinya sendiri. Wanita cantik dalam cermin itu terlihat seksi dalam balutan lingerie.


Saat terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Amiera terlihat gugup. Suara langkah kaki yang mendekat, membuatnya cepat-cepat mencari tempat untuk bersembunyi.


Rendy yang memasuki tempat itu mengernyitkan dahi melihat ujung kaki Amiera dibalik pintu lemari. Pria itu menyerigai kecil lalu mengambil pakaiannya sendiri.


Sementara itu, Amiera mengintip sosok Rendy dari pantulan cermin. Jantungnya berdegup kencang melihat Rendy hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.


Rendy berlalu sambil menenteng pakaiannya. Sepertinya ia akan mengenakan pakaiannya di tempat yang berbeda.


Malam mulai larut, Rendy melangkahkan kakinya ke luar kamar. Langkahnya terhenti saat melewati kamar Meydina yang berada tepat disamping kamar Amiera.


Pria itu menatap sendu pada daun pintu dan berlalu menuju ke lantai bawah. Sepi, rumah besar ini terasa sangat sepi. Sepertinya penghuni rumah ini kelelahan setelah acara pernikahan yang hampir seharian.


Rendy terduduk di ruang makan, segelas air minum dingin cukup membuatnya merasa nyaman. Setelah air dalam gelas habis ia kembali ke kamar.


Mendengar pintu kamar dibuka, Amiera yang sudah berselimut langsung memejamkan matanya. Derap langkah Rendy semakin dekat dan ia merasa pria itu mulai naik ke tempat tidur.


"Aku tahu kamu belum tidur. Bisa kita bicara sebentar?" Pintanya.


Amiera mengerjap dan menatap pada Rendy.


"Ada apa? Oh iya aku lupa, kamu tadi meminta tanda pengenalku."


"Tidak usah," cegah Rendy saat Amiera akan menggapai laci.


"Amiera, bagaimana kalau kita kembali ke London besok?"


"Apa, besok?" Amiera terlihat heran sekaligus bingung.


"Iya, besok. Aku tidak membawa dokumen apapun selain yang ada dalam dompetku. Lagi pula besok pesawat ayahmu akan mengantar anggota keluarga Al-Azmi ke Timur Tengah bukan? Bukankah akan lebih efektif jika sekalian mengantar kita ke London."


Amiera nampak berfikir sejenak.


"Baiklah, kalau itu keinginanmu. Aku akan membicarakannya pada Daddy besok pagi. Sebelum pergi, aku ingin berziarah dulu ke makam Mommy. Boleh kan?"


"Terserah, lakukan apapun yang kamu inginkan. Sekarang tidurlah, kamu pasti lelah."


Rendy yang sedari tadi tidak menoleh pada Amiera dalam posisinya yang terlentang memejamkan matanya. Sementara Amiera, ia mencoba mengerti keinginan suaminya.


Memang benar tidak hanya Rendy, ia pun harus segera kembali untuk bekerja. Julie pasti kewalahan dengan kepergiannya yang mendadak. Mengingat pekerjaan di butik untuk beberapa bulan ke depan memang sangat padat.


Amiera menatap wajah suaminya. Ini malam pertama mereka, tapi sepertinya Rendy tidak sedikitpun tertarik bahkan untuk sekedar basa-basi membicarakannya.


Namun senyuman tipis terlihat di wajah Amiera. Baru saja Rendy merubah panggilannya dari 'loe-gue' menjadi 'aku-kamu'. Setidaknya sudah ada perubahan, itu saja dulu. Karena yang terpenting, pria ini sudah jadi milik Amiera sepenuhnya.


***


Pagi pertama Rendy di rumah mertuanya terasa sangat canggung. Sedari tadi ia sudah bangun namun enggan untuk turun.


"Selamat pagi Kak," sapa Rendy pada Laura yang berada di ruang makan.


"Selamat pagi, Ren. Mau kopi?"


"Biar Rendy saja yang buat, Kak. Oh iya pada kemana, kok sepi?"


"Amiera dan Alvin sedang di ruangan Ayah. Meydina sama Maliek di kamar anak-anak. Sebentar lagi juga pada kesini," sahut Laura.


"Oh."


"Udah, duduk aja. Kakak yang buatkan," ujar Laura.


"Terima kasih."

__ADS_1


Laura tersenyum pada suami Amiera tersebut. Ia mengerti bagaimana perasaan Rendy saat ini. Pastinya tidak jauh berbeda seperti dirinya saat pertama kali berada di rumah ini.


Satu persatu anggota keluarga mulai berkumpul. Pekikan Zein selalu dapat mengalihkan perhatian mereka. Kali ini Zein tidak mau turun dari pangkuan Maminya. Sementara Amar yang berada dalam dekapan Maliek ingin dipangku Meydina.


"Amal sama Papi aja!" seru Zein sambil memeluk erat leher Maminya.


"Kakak kenapa sih, pagi-pagi udah rame? Nanti auntie bisa kangen lho sama Kakak. Rumah auntie jadi sepi deh," ujar Amiera.


"Mau ikut lagi nggak ke rumah auntie Amie, Zein?" tanya Alvin.


"Nggak," sahut Zein sambil menggeleng.


"Yang benar? Naik pesawat lho," ujar Amiera.


"Enggak, Anutie. Disana nggak ada Amal, nggak ada Queen, nggak ada baby, nggak ada Mami juga," jawab Zein.


Baby adalah panggilan Zein untuk adik bungsunya, Fatima.


"Kan ada auntie. Hmm..." Amiera berlagak kecewa.


"Jangan percaya, Kak. Auntie udah punya Uncle Rendy," ujar Meydina.


"Memangnya kapan kalian akan kembali ke London?" tanya Meydina.


"Nanti malam, Kak. Sekalian mengantar yang lain," sahut Amiera.


"Nanti malam? Cepat baget," ucap Meydina sambil mengernyitkan keningnya.


"Sayang, kamu ini beneran nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti sih? Namanya juga pengantin baru, pasti nggak mau diganggu. Ya kan, Amiera?" goda Maliek.


Amiera tersipu, sedangkan Rendy hanya tersenyum tipis. Maliek mengacak pelan rambut basah istrinya yang sedang mengangguk-angguk. Melihat perlakuan Maliek yang manis, Rendy mengalihkan tatapannya.


"Amie, nanti kalau di sana sekali-kali buatkan Rendy nasi goreng seafood, dia suka banget."


"Kok kamu bisa tahu?" tanya Maliek dengan tatapan heran.


Rendy terkekeh pelan kemudian bertanya, "Kamu bisa buatnya, Mey?"


"Nggak bisa. Kalaupun bikin nggak akan seenak buatan ibu," sahut Meydina.


Rendy tersenyum sambil menatap Meydina.


"Amie, bukannya kamu mau ke makam mommy-mu?"


"Iya, Kak. Sebentar lagi," sahut Amiera.


"Sama Kak Alvin juga?"


"Iya," angguk Amiera.


"Mey ikut ya. Pulangnya kita nengok Nenek Hana."


Amiera mengangguk senang.


Mereka sepakat pergi menjenguk Nenek Hana, kecuali Salman. Nenek Alvin dan juga Amiera itu memang sedang sakit. Itu sebabnya beliau tidak hadir pada pernikahan Amiera kemarin.


Menjelang siang, mereka pun berangkat. Saat di pemakaman, Meydina dan keluarganya tidak ikut turun karena Meydina memangku Fatima yang tertidur.


Setelahnya, mereka menuju rumah Hana. Di sana Anton yang menyambut kedatangan mereka. Anton terlihat senang, begitu juga dengan ibunya yang merasa haru. Ia bahkan terlihat sangat gemas pada Queena, Cicitnya.


Berkali-kali Hana mengusap air matanya yang menetes. Melihat kedua cucunya hidup bahagia, hatinya juga merasakan hal yang sama.


***


Semilir angin malam yang dingin mengantar kepergian Amiera, Rendy, beserta seluruh keluarga Salman yang hadir dalam pernikahan Amiera kemarin. Tidak hanya Salman beserta keluarganya yang mengantar kepergian pasangan pengantin baru tersebut. Keluarga Atmadja juga ikut mengantar mereka.

__ADS_1


Rasa haru begitu tarasa. Wejangan para orang tua juga terselip untuk mereka. Sampai akhirnya oesawat merekapun mengudara.


***


Setibanya di bandara kota London, Mike sudah menunggu mereka. Pria itu juga tidak lupa mengucapkan selamat atas pernikahan keduanya.


Rendy merasa canggung atas perlakuan Mike.


"Tuan Mike, bisakah anda bersikap seperti biasa? Anda tetap atasan saya di perusahaan," pinta Rendy.


"Tidak bisa begitu, Tuan. Anda menantu Tuan Salman, tentu sekarang andalah atasan saya." Sahutnya.


"Saya sudah bicarakan ini dengan Tuan Salman. Saya tidak ingin memanfaatkan status saya di perusahaan. Jadi tolong, bersikap seperti biasanya. Saya juga tidak ingin ada yang tahu kalau saya ini menantu bos besar. Apalagi pernikahan kami memang tidak dipublikasikan."


Mike mengangguk mengerti. Sementara itu Amiera terdiam mendengar penuturan suaminya.


Sesampainya di apartemen, Amiera menarik tangan Rendy yang akan memasuki lift.


"Kamu mau kemana, Kak?"


"Aku mau ke apartemenku, Amie." Sahutnya sambil mengernyitkan dahi mendengar Amiera memanggilnya 'kak'.


"Ya udah ke tempat Amie dulu," pintanya.


Rendy pun mengikuti kemauan istrinya. Ia menatap tidak suka pada lengan Amiera yang bergelayut di lengannya.


Memang hanya lift khusus itu yang bisa membawa mereka ke penthouse Amiera. Selain pemilik penthouse, tidak sembarangan orang bisa menggunakan lift tersebut.


Selain Amiera, Mike dan Bella juga memiliki kartu khusus untuk lift tersebut. Juga ada satu untuk digunakan para bodyguard dan pelayan di sana.


"Amie, aku mau ke apartemen ku dulu," ucap Rendy setelah mengantar Amiera.


"Ikut."


"Kamu istirahat aja di sini. Besok aku harus kerja, malam ini juga mau minta laporan dari asistenku."


"Nggak apa-apa, Amie ikut aja. Janji nggak akan ganggu. Tunggu ya, Amie mau ganti baju dulu!"


Amiera bergegas menuju kamarnya. Rendy menghela nafas dan membuangnya kasar. Sesekali ia memijit pelipisnya.


Setelah mengenakan piyamanya, Amiera berjalan mengikuti langkah cepat Rendy menuji lift. Sesampainya di apartemen Rendy, ia segera menjatuhkan diri di atas tempat tidur.


"Ah, nyamannya. Malam ini jangan tidur terlalu larut ya, Kak. Besok kita mulai lagi beraktivitas!" seru Amiera riang.


Rendy menyeringai. Ia duduk di kursi. Barang-barang di atas meja dihadapannya masih seperti terakhir kali ia meninggalkan kamar ini. Ia lalu menghubungi asistennya.


Dari asistennya itu Rendy mengetahui bahwa selama ini Mike memberitahukan kepergian Rendy atas permintaan Tuan Salman. Tentu saja tanpa memberitahukan yang sebenarnya terjadi.


Rendy juga merasa terkejut saat mengetahui posisi PM pada proyek yang dipegang Mark sudah digantikan oleh PM lain. Ia yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada Mark yang tidak diketahui siapapun.


Rendy menoleh ke arah tempat tidurnya. Amiera sudah tertidur, dengakuran halus yang terdengar menandakan bahwa wanita itu memang sangat lelah.


Setelah sedikit memeriksa laporan dari asitennya, Rendy beranjak dari tempat duduknya. Ia tertegun melihat posisi tidur Amiera yang asal-asalan sehingga mempersempit ruang kosong baginya.


Tempat tidur Rendy memang tidak terlalu besar dan Amiera hampir menempati lebih dari setengahnya. Dengan ragu ia membaringkan tubuhnya. Ia berharap bisa bertahan dengan posisinya saat ini sampai pagi. Karena jika tidak, bisa saja ia terjatuh dari tempat tidurnya sendiri.


Rendy ingin terlelap. Tapi posisi Amiera yang terlalu dekat dengannya membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Kemarin malam, posisi mereka tidak sedekat ini. Tempat tidur Amiera cukup besar untuk mereka berdua.


Rendy merutuki kamarnya yang bahkan tidak memiliki sofa. Hanya ada dua kursi makan yang berada tidak jauh dari kitchen set yang seadanya.


Rendy mencoba memejamkan mata. Esok, ia harus mulai bergelut dengan laporan dan angka-angka. Aroma tubuh Amiera yang sedari tadi tercium olehnya menghadirkan rasa yang berbeda. Sebisa mungkin Rendy menepisnya.


Rendy terperanjak. Amiera tiba-tiba saja memeluknya sangat erat. Ia berusaha menjauhkan Amiera dari tubuhnya dengan sangat pelan. Namun bukannya melepaskan pelukannya, Amiera justru mengeratkannya.


Rendy mulai menegang. Hembusan nafas Amiera yang mengenai bagian lehernya membuat pria itu merasakan sesuatu. Rendy sampai membulatkan kedua matanya saat melihat ada yang berdiri di bagian bawah perutnya.

__ADS_1


"Ah, sial!" umpatnya pelan.


__ADS_2