
Happy reading...
Setelah tiba di kediaman mereka, Maliek pamit kembali lagi ke kantor. Zein yang telah melepaskan seragamnya menolak dipakaikan baju oleh pengasuhnya.
"Amal, Kakak mau belenang!" seru Zein sambil berlarian.
"Kak, jalan aja," tegur Meydina.
"Mi, kakak boleh bawa ini ya?" tanya Zein sambil memperlihatkan pistol air mainannya.
Meydina mengangguk. Zein terlihat senang dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Amar yang menghampirinya juga mengikuti gaya sang kakak.
Meydina terkekeh membuat Fatima yang sedang menyusu melongo dan melepaskan pagutannya. Ia menatap pada kedua kakaknya dan ikut tertawa sambil berusaha mengikutinya.
Zein dan Amar berjalan menuju kolam renang di ikuti para pengasuhnya. Sejak kolam renang itu selesai pengerjaannya, kedua putra Meydina terutama si sulung setiap hari mandi di sana.
Kolam renang yang cukup luas itu di desain khusus untuk anak-anak. Ada air mancur dan dua perosotan di kedua bagian ujungnya. Di bagian atasnya diberi atap yang transparan agar mereka tidak kepanasan atau kehujanan.
"Fatum mau juga?" tanya Meydina yang dijawab anggukan oleh Fatima. Meydina kemudian memanggil seorang babysitter untuk menemaninya.
Fatima dimasukkan ke dalam pelampung renang miliknya. Bayi cantik itu sangat senang apalagi saat kedua kakaknya menyiramkan air ke arahnya.
"Sayan! Kakak! Amar! Pelan-pelan mainnya ya. Nggak boleh kena telinga!"
"Oke, Mami!" sahut keduanya.
Meydina berlalu menuju ruang makan. Ia berencana membuatkan makan siang untuk ketiga buah hatinya.
***
London
Di butik Julie, Amiera dan atasannya itu sedang mendiskusikan sebuah ajang fashion show tahunan yang akan segera di selenggarakan di kota tersebut. Julie pernah mengikuti ajang itu namun tersisih di tengah jalan.
Kali ini Julie mulai optomis. Selain rancangan miliknya, ia juga akan mengikut sertakan rancangan Amiera dalam ajang tersebut. Walaupun nantinya ia mengalami hal serupa, masih ada Amiera yang bisa diharapkan.
"Amiera, kamu bisa kan mengunjungi rumah pelanggan kita yang ini?" tanya Julie menunjuk nama seorang pelanggannya yang tertera di lauar monitornya.
"Tentu, aku sendiri yang akan mengukurnya."
"Baiklah. Mereka bersedia meluangkan waktu hari ini, bagaimana kalau kamu mengunjunginya sekarang?" tanya Julie.
"Oke. Aku akan mempersiapkannya sebentar," sahut Amiera.
Amiera beranjak meninggalkan ruangan Julie. Ia akan mengunjungi salah satu pelanggannya yang merupakan seorang anak tunadaksa. Keluarga anak itu ingin merayakan ulang tahunnya. Dan Amiera diminta merancangkan gaun ulang tahun yang indah untuk anak tersebut.
Di sisi lain tempat itu, sebuah mobil menepi di halaman parkir butik Julie.
"Kamu yakin ini tempatnya, Kiran?"
"Iya. Menurut temanku, walaupun butiknya tidak terlalu besar gaun yang mereka tawarkan bagus-bagus. Aku ingin mencari gaun yang cocok untuk acara temanku. Ayo Alex, temani aku ke dalam." Pintanya.
Dengan enggan Alex turun dari mobilnya dan mengekor di belakang Kiran. Pria itu memilih duduk di salah satu kursi sambil menunggu.
Tidak lama kemudian Alex menerima panggilan. Ia berjalan keluar untuk menjawab panggilan tersebut.
"Anda akan keluar, Nona?" tanya Rey yang berpapasan dengan Amiera di tangga.
"Iya, tolong kamu berikan desain yang ada di mejaku oada Miss Julie."
"Baik. Hati-hati, Nona."
"Terima kasih."
Amiera berjalan menuju pintu kaca yang terbuka. Ia melirik sekilas pria yang berdiri membelakangi sambil menerima panggilan di dekat pintu. Ia pun berlalu menuju mobilnya yang terparkir di halaman butik tersebut.
"Wanita itu!" seru Alex saat melihat Amiera masuk ke dalam mobil tidak jauh dari posisinya berdiri. Ia lalu menoleh pada seorang karyawan yang memanggil wanita tersebut.
__ADS_1
"Nona, tunggu! Anda melupakan ini," ujar Rey tergesa-gesa.
"Oh, iya. Maaf sudah merepotkan, Rey."
"Tidak apa, Nona. Hati-hati," sahut Rey.
Amiera berlalu meninggalkan butik. Alex yang terpaku menatapnya sampai laju mobil itu menghilang dari pandangannya.
"Nona, boleh aku tahu siapa wanita yang baru saja meninggalkan tempat ini. Apakah dia pelanggan tetap di sini?" tanya Alex pada Rey.
"Bukan, Tuan. Nona Amiera designer di sini, bukan pelanggan. Saya permisi," ujar Rey.
"Amiera? Jadi dia seorang designer? Heh, menarik. Seorang designer memiliki mobil sport mewah limited edition." Gumamnya.
Alex menoleh saat Kiran memanggilnya. Ia lalu menuju ruangan yang khusus menjual baju-baju rancanagan designer yang dimiliki butik tersebut.
Saat membayar gaun pilihan Kiran, Alex sengaja menanyakan nomer telepon butik dengan alasan mungkin suatu hari nanti ia berminat membuat setelan jas di butik tersebut. Seringaian terlihat saat Alex memasukkan nomer telepon yang disebutkan karyawan kasir ke dalam ponselnya.
***
Setelah kembali dari rumah pelanggannya, Amiera singgah di sebuah taman yang dilewatinya. Taman itu nampak sepi mungkin karena ini hampir tengah hari.
Ia berjalan-jalan di sekitar taman menikmati keindahan air mancur dan bunga yang di tata rapi di sekitarnya. Tatapannya lalu tertuju pada penjual es krim yang ada di salah satu sisi taman tersebut. Tiba-tiba saja ia ingin menikmatinya.
Amiera membeli es krim itu dalam porsi yang cukup besar. Saat es krim itu habis, Amiera merasa heran karena tidak biasanya ia makan sebanyak itu.
"Ternyata es krim di pinggiran seperti ini juga enak ya. Bahkan aku habis banyak," gumam Amiera sambil tersenyum tipis menatap bekas es krimnya.
Amiera beranjak sambil membuang wadah bekas es krimnya ke tempat sampah. Ia menyadari tatapan dari beberapa orang saat memasuki mobilnya. Amiera merasa risih dengan tatapan itu.
"Apa aku pakai saja mobil Kak Rendy ya?" Gumamnya.
Mike memaksa Rendy menggunakan mobil perusahaan karena itu termasuk fasilitas perusahaan yang harus diterima karyawan. Dan Rendy meminta Amiera memakai mobilnya karena khawatir akan keselamatan Amiera jika ia selalu menggunakan mobil mewahnya kemana-mana.
***
Begitu juga dengan gemericik air yang terdengar di kamar mandi dalam kamar Amiera dan Rendy. Suaranya mengiringi pergulatan dua insan yang tengah dimabuk cinta. Dan setelah agak lama, keduanya keluar dengan wajah yang sumringah.
"Kak, makan di luar yuk!" ajak Amiera. Mereka kini tengah berada dalam walk-in closet.
"Memangnya kamu mau makan apa?"
"Apa aja. Amie ingin jalan-jalan di trotoar sambil menikmati pemandangan malam." Ujarnya.
"Mmm, oke kita keluar. Aku dengar ada festival yang diadakan di salah satu jalanan kota ini."
"Benarkah?" tanya Amiera dengan wajah yang berbinar.
Rendy mengangguk. Mereka pun bersiap dengan menggunakan pakaian casual.
"Pakai mobil kakak ya," pinta Amiera.
"Yakin?"
Amiera mengangguk pasti. Mereka pun keluar dan berjalan menuju lift yang akan membawa ke basement gedung tersebut.
"Kak, ayo masuk!" seru Amiera saat melihat Rendy memutarkan pandangan ke sekeliling.
"Sepertinya hanya perasaanku saja," gumam Rendy dalam hati.
Ia pun masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?"
"Tidak ada. Kita pergi sekarang?"
"Of course," sahut Amiera.
__ADS_1
Rendy memutarkan kemudinya. Wajahnya menegang saat melihat pada kaca spionnya. Ia melirik pada Amiera kemudian tersenyum pada istrinya itu.
Rendy terlihat senang melihat Amiera menikmati acara yang sedang mereka tonton. Ia juga mengulumkan senyumnya melihat Amiera yang sedari tadi tidak henti mengunyah makanan yang dibelinya.
Setelah dirasa puas, Amiera yang juga mulai mengantuk meminta pulang. Sepanjang perjalanan Rendy mendengarkan celotehan istrinya itu. Karena jalanan agak macet, Amiera pun mulai merasa kesal dan akhirnya tertidur.
Setibanya di basement, sebelum turun ia meminta dua orang penjaga untuk turun membantunya. Rendy masuk ke dalam lift sambil membopong Amiera dan membawanya ke penthouse.
Seorang pria mengenakan pakaian serba hitam keluar dari sela mobil yang berjejer disana. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
📱 "Beres, Tuan. Anda akan mendengar beritanya esok."
Pria itu menyeringai setelah menutup panggilannya. Namun tak lama seringaian itu berubah menegang dan ia kebingungan karena ada dua pria yang menghadang jalannya.
"Kalian siapa?" tanya pria itu dengan raut wajah yang ketakutan.
Seorang dari mereka maju dan menarik paksa lalu memukulnya.
***
Rendy mengerjap berkali-kali sambil mengerutkan dahinya. Dari kamar mandi ia mendengar suara seseorang yang sedang muntah.
Rendy bergegas beranjak dan menuju kamar mandi dengan segelas air yang diambilnya dari atas meja.
"Amie! Kamu kenapa, Sayang?"
"Amie sepertinya masuk angin, Kak."
Rendy memapah Amiera keluar dari kamar mandi.
"Kemarin Amie makan es krim yang dijual di pinggir jalan, makannya banyak. Sekarang Amie tidak enak perut." Keluhnya.
"Semalam juga kamu makan sembarangan. Perutmu mungkin tidak biasa dengan makanan seperti itu," timpal Rendy.
"Iya mungkin ya, Kak."
Rendy mengusap-usap punggung Amiera. Setelah merasa agak baikan, Amiera sepertinya ingin kembali tertidur.
"Kamu di rumah saja Amiera. Jangan ke butik ya sayang," pinta Rendy.
"Nanti agak siang Amie ke butiknya. Kakak di sini temani Amie," pinta Amiera manja.
Rendy beringsut ke sebelah istrinya. Ia berbaring dan membiarkan Amiera memeluknya. Sambil mengusap pucuk kepala Amiera, Rendy tiba-tiba terhenyak. Ia teringat pada sosok pria yang dilihatnya dari kaca spionnya semalam.
Flashback on
Mike merasa bingung melihat ekspresi Rendy. Pria itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Tuan?"
"Tuan Mike, aku merasa beberapa hari ini seperti ada seseorang yang mengikutiku." Ucapnya.
"Benarkah? Kapan dan dimana?"
"Setiap kali aku pulang kerja, aku merasa seperti ada yang memperhatikanku di basement apartemen. Aku mencoba menepisnya, tapi ini tidak hanya sekali atau dua kali aku merasakannya."
Mendengar hal itu, Mike hanya terdiam.
Semalam ia merasakannya lagi. Ia yakin sepasang mata sedang memperhatikannya yang saat itu sedang bersama Amiera. Dan benar saja, seorang pria terlihat di kaca spionnya keluar dari sela mobil yang biasa digunakannya untuk pergi bekerja. Mobil itu memang terparkir terpisah.
Sepanjang kebersamaannya dengan Amiera, Rendy tidak bisa melepaskan ingatannya dari sosok pria tadi. Pria berpakaian serba hitam yang menutup sebagian wajahnya dengan syal.
Saat kembali, ia menelepon salah satu penjaga dan meminta membawakan kunci mobilnya. Kemudian ia berbisik agar penjaga itu memeriksa keadaan mobil yang biasa digunakannya untuk bekerja.
Awalnya ia berniat kembali ke basement setelah menempatkan Amiera di tempat tidur. Namun Amiera justru terbangun dan memintanya tetap di sana sampai akhirnya Rendy pun ikut tertidur.
Flashback off
__ADS_1
"Siapa pria itu? Ada maksud apa dia mengawasiku?" Gumamnya.