
Happy reading...
London
Cuaca kota London hari ini cerah berawan. Gumpalan awan putih terlihat kontras dengan warna biru langit yang terbentang luas.
Amiera dan rekan-rekannya sedang menikmati makan siang bersama di sebuah restoran ternama. Amiera sengaja mentraktir mereka sebagai tanda perpisahan. Dalam diamnya, Amiera memperhatikan setiap wajah yang terlihat gembira itu.
"Amiera, jadi kapan pastinya kamu akan kembali ke sini?" tanya Diana.
"Aku belum tahu," sahut Amiera pelan sambil mengusap-usap bagian perutnya.
"Hmm, sayang sekali. Padahal kita adalah tim yang solid." Ujarnya lagi.
"Betul. Kami pasti akan merindukan anda, Nona." Rey menimpali.
"Apa suamimu juga akan kembali?" tanya Julie.
"Iya, tapi nanti setelah semuanya selesai."
"Sendainya saja kamu bisa hadir di pernikahanku," ujar Diana.
"Memangnya kamu akan menikah? Kapan? Aku baru tahu," ucap Julie.
"Kapan-kapan, Miss. Setelah aku bisa merebut hati Dave, aku akan langsung mengajaknya menikah."
"OMG, Diana. Aku sudah katakan berkali-kali, berhenti mengejar pria berisik itu. Dia sudah punya kekasih dan kamu tahu siapa kekasihnya? Bella. Temanku, teman Miss Julie juga. Oke.."
"Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa masih berusaha? Sampai-sampai berkhayal menikah dengannya. Di London ini pria tidak hanya satu jadi jangan berebut," ujar Julie.
"Kalau begitu, Miss. Bolehkah jika aku menginginkan Tuan Brian?"
"Heh??" Julie dan ketiga rekannya menatap aneh pada Diana yang sedang menatap penuh harap pada atasannnya tersebut.
"Boleh tidak?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku sampai tidak bisa menjawabnya," delik Julie.
Diana terlihat kecewa. Namun raut wajah itu kembali ceria setelah makanan penutupnya tiba.
Setelah selesai, Amiera berpamitan pada Julie dan teman-temannya. Suasana berubah haru. Doa dan terima kasih pun terlontar dari mereka untuk Amiera. Begitu juga dengan Amiera yang meminta maaf dan berterima kasih pada mereka.
***
Jalanan terasa lengang, gedung-gedung berjejer dengan beberapa orang yang sedang berlalu lalang.
"Sayang, tutup kacanya," ujar Rendy yang melajukan kendaraan cukup pelan agar angin yang menerpa wajah istrinya tidak terlalu kencang.
"Sebentar saja, Kak." Sahutnya pelan.
__ADS_1
Rendy mengulumkan senyumnya. Ia mengerti Amiera pastinya berat meninggalkan kota ini. Di sini ia mengenyam pendidikan di tempat yang selama ini jadi impiannya. Di kota ini juga Amiera bisa mengekspresikan diri dengan bekerja sesuai keinginannya.
"Kakak akan secepatnya menyusul kan? Amie tidak mau lama-lama menjalani long distance relationship."
"Sabar, Sayang. Semuanya butuh waktu. Aku akan minta Om Evan mengurus pembangunan rumah kita. Dia memuji konsep buatanmu, Sayang. Om Evan sangat menyukainya."
Amiera hanya tersenyum tipis mendengarnya. Rendy memang ingin membangun rumah untuk keluarga kecil mereka dari hasil keringatnya sendiri. Pria itu bahkan menolak saat Amiera menawarkan uang yang dimilikinya.
"Semua sudah diurus. Berkas-berkasmu sudah selesai. Ada kabar lagi dari Meydina?"
"Kak Alvin sudah ada di rumah. Katanya Daddy berencana pulang dulu. Kak, menurut kakak untuk apa Daddy pulang?"
"Entahlah. Mungkin ada urusan yang mendesak."
"Kalau itu soal perusahaan, kan ada Uncle Ahmed. Apa jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa? Sudahlah, jangan berprasangka."
Amiera terdiam dengan pandangannya yang menerawang. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Daddy-nya.
***
Tidak hanya Amiera, Meydina juga sedang menduga-duga alasan dibalik kepulangan ayahnya. Ia berpesan panjang lebar pada Aldo saat mengantar keberangkatan mereka di bandara.
Dengan berat hati Meydina melepaskan pelukannya. Salman bahkan sampai mengulumkan senyum melihat tingkah putrinya tersebut.
***
"Hai, Bob!" Sapanya.
"Halo, Tuan. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihat kalian lagi."
"Mereka sudah datang?"
"Ada di ruangan biasanya, Tuan."
"Oke. Aku ke atas dulu ya," pamit Riky.
Riky baru saja tiba dari luar kota. Ia sangat ingin bertemu kekasihnya, akan tetapi saat ini terlalu malam untuk berkunjung ke rumah Evan. Terlebih, Maliek dan kedua temannya kebetulan sedang berkumpul di tempat ini.
"Weey, bos baru kita datang!" seru Rafael menyambutnya.
"Bos apaan?" sahutnya sambil ber-tos-ria pada ketiga temannya.
"Sekarang loe udah di posisi sama dengan Maliek, bos dong. Ya nggak, Liek?"
Maliek yang sedang menyesap minumannya hanya mengiyakan dengan mengangkat kedua alisnya.
"Mana ada yang bisa nyamain posisi Maliek. Dia kan anak bos besar, menantu Al-Azmi lagi. Jauh lah gue sama dia," sahut Riky.
Ketiga sahabatnya hanya terkekeh pelan mendengarnya. Riky pun menautkan alisnya melihat minuman di meja.
__ADS_1
"Kok yang begini? Nggak biasanya," ujar Riky menatap aneh pada yang lain. Maliek dan kedua temannya memang hanya memesan koktail untuk minuman mereka malam ini.
"Loe mau kita diamuk bini, hah?" ujar Rafael.
"Haha, loe juga ternyata sama Raf. Takut juga sama bini," kelakar Riky.
"Dia takut nggak dikasih jatah," timpal Alvin.
"Hehe, tahu aja. Yang lebih takut sih kalau mertua gue yang ngamuk. Bisa berabe," sahut Rafael.
"Nanti juga loe ngalamin," sahut Alvin.
"Gila loe, Rik. Mimpi apa dapat adiknya si Alvin. Dia kan baru keluar SMA, kuliahnya aja baru dua semester. Udah mirip om-om loe kalau jalan sama dia."
"Enak aja. Gue nggak setua itu. Teman-temannya aja manggil gue 'kak'. Berarti masih cocok dong," sahut Riky membela diri.
"Hati-hati, Vin. Ingetin adik loe, pinter-pinter jaga diri. Takutnya bujang lapuk ini nggak bisa nahan diri," gurau Rafael.
"Sialan, Loe. Ngatain gue seenaknya," ujar Riky memukulkan bantal sofa pada wajah Rafael. Dan tentunya dibalas hal serupa oleh Rafael.
Alvin dan Maliek hanya bisa mengulumkan senyum melihat keduanya. Mereka bahkan menggeleng pelan melihak aksi mereka yang berlanjut.
"Udah sejauh mana, Rik?" tanya Alvin.
"Gue baru mau bicara langsung sama bokap loe, Vin. Mungkin besok," sahut Riky.
"Jangan ditunda, Rik. Adiknya Alvin kan manis, nanti banyak semut ngedeketin baru tahu," canda Rafael.
"Iya, gue tahu. Tapi Alena nggak mau cepat-cepat, katanya dia masih muda. Mungkin belum siap secara mental," sahut Riky.
"Loe buat aja dia hamil, Rik. Dijamin pasti mau dinikahin." Usulnya.
Bugh.
"Woy! Satu-satu dong, main keroyok aja." Pekiknya. Pasalnya Alvin dan Riky bersaman melemparkan bantal sofa pada dirinya.
Bugh.
"Maliek, loe ikut-ikutan juga!" protes Rafael yang berhasil menangkap bantal yang dilempar Maliek.
"Lagian punya mulut nggak dijaga. Eh, beraninya loe ngomong gitu di depan gue." Alvin yang terlihat mulai kesal menoyor kepala Rafael.
"Sorry, Vin. Gue cuma bercanda. Kan loe tahu sendiri gimana Riky. Nggak mungkin dia sampai sejauh itu," ujar Rafael sambil nyengir.
"Eh tapi gimana kalau nanti anak-anak kita dijodohin, pasti seru. Siapa tahu dari teman bisa jadi besan. Iya, nggak?" Rafael lagi-lagi mengutarakan usul yang menurut ketiga sahabatnya itu konyol.
"Terserah loe deh. Loe sama Riky aja belum punya buntut. Udah mikir buat ngejodihin anak."
"Buntut, emang kita lutung ya Rik. Gue kan lagi usaha, si Riky juga. Ayo Rik, semangat! Peped terus cewek loe, sampai dia mau dikawinin."
"Dinikahin. Dasar b*go, Loe." Riky berniat menoyor kepala Rafael namun pria itu berhasil menghindarinya. Alhasil kaduanya seperti anak kecil yang sedang main kucing-kucingan. Saling membalas pukulan ringan yang diberikan.
__ADS_1
Maliek dan Alvin hanya tertawa pelan. Melihat Riky dan Rafael yang mulai ngos-ngosan. Sudah lama kebersamaan seperti ini tidak mereka rasakan. Dan sepertinya malam ini kerinduan itu terobatkan.