Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
pernikahan (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading...


Semua yang termasuk dalam rencana pernikahan Amiera dan Rendy, Resty penanggung jawabnya. Wanita paruh baya itu dengan senang hati menawarkan diri mengingat Nura akan disibukkan dengan persiapan Alya.


Sementara itu di halaman kediaman Atmadja, seorang pria muda berpakaian perlente baru saja memarkirkan mobilnya. Beberapa jam yang lalu, Alya kekasihnya memintanya datang ke kediaman tersebut.


Seperti kunjungannya yang pertama, satu buket bunga yang sangat indah juga dibawanya kali ini. Alya yang mengetahui ia datang segera membukakan pintu dengan senyum bahagianya.


"Hai, Sayang! Ada apa sebenarnya ini?" tanya Rafael sambil memberikan buket bunga yang dibawanya.


"Nanti juga tahu," sahut Alya yang berkali-kali terlihat mencium aroma bunga yang wangi.


"Kamu suka?"


"Hmm," angguk Alya.


"Ayo masuk! Papa sama Mama sudah menunggu." Ujarnya.


Rafael tersenyum tipis. Tiba-tiba saja ia jadi merasa tidak enak. Akan tetapi melihat raut wajah Alya yang bahagia, ia sedikit optimis ada berita bahagia yang akan didengarnya.


"Selamat sore Om, Tante!" Sapanya.


"Selamat sore, Raf. Ayo, silahkan duduk!" sahut Nura.


"Terima kasih, Tante."


Wira memperhatikan Rafael dengan seksama. Kemarin saat Alvin datang ingin bertemu Rendy, banyak hal yang keponakannya itu bicarakan tentang Rafael.


"Om! Seperti halnya Rafael, Alvin juga dulu seorang casanova. Tapi lihatlah Alvin sekarang! Bahkan seorang casanova juga punya cinta yang sesungguhnya. Alvin memang tidak bisa menjamin tentang Rafael ke depannya. Karena hal seperti itu hanya hatinya yang tahu. Tapi kalau Alvin perhatikan, Rafael sungguh-sungguh pada Alya, Om."


Sesaat Wira mengingat percakapannya dengan Alvin, semalaman ia mempertimbangkan ucapan keponakannya tersebut. Sebagai seorang ayah, ia harus mempertimbangkan putrinya jika putranya nanti menyetujui pernikahan itu.


Dan hari ini setelah Rendy mengutarakan keputusannya, mau tidak mau Wira juga harus mengambil keputusannya.


"Rafael! Boleh Om tahu, sejauh mana keseriusan kamu pada putri Om?"


"Saya sangat serius, Om. Saya menyukai pribadi Alya sejak pertama kali bertemu. Saya juga berniat mempersunting Alya jika Om mengizinkan." Tuturnya.


"Bagaimana jika Om tidak mengizinkan? Apa yang akan kamu lakukan?"


"Pa!" protes Alya.


Wira menatap tajam pada putrinya dan Alya pun terdiam tidak berani menyela lagi.


"Saya akan berusaha meyakinkan om," sahut Rafael.


"Caranya?"


"Ya saya akan berusaha mencari caranya, Om."


Alya menatap heran mendengar jawaban Rafael.


"Heh, itu artinya kamu belum memikirkan caranya. Betul begitu?"


"Saya akan berusaha yang terbaik, Om."


Rafael memundukkan kepalanya. Tatapan Wira tidak seramah biasanya.


"Buktikan pada Om kalau kamu benar-benar serius dengan Alya!"


"Caranya, Om?"


"Berikan pada saya bukti yang menyatakan kamu bebas HIV dan pernyataan tes kesuburan. Kamu bisa?"


"Pa, jangan gitu dong! Papa sudah menyinggung Rafael," protes Alya lagi.


"Bisa, Om." Sahutnya.


"Raf?"


"Aku nggak apa-apa kok, Al. Harusnya kamu senang karena dengan cara ini papa kamu membuktikan bahwa beliau sangat menyayangimu. Om Wira pantas mengkhawatirkan masa depanmu jika bersanding denganku," tutur Rafael.


"Om beri kamu waktu tiga hari. Cari laboratorium yang bagus dengan perlengkapan yang modern. Pastikan hasilnya akurat," tegas Wira.


"Baik, Om."


Wira berlalu meninggalkan Rafael menuju ruang kerjanya. Nura yang baru saja meletakkan minuman untuk tamunya terlihat heran.

__ADS_1


"Maafkan Papanya Alya ya, Raf. Dia sedang banyak pikiran," ujar Nura.


"Tidak apa-apa, Tan. Saya mengerti." Sahutnya.


***


Resty dibantu Meydina dan Laura sangat sibuk menyusun rencana untuk acara pernikahan Amiera. Walaupun diadakan sederhana, tetap saja semuanya haruslah sempurna.


Resty telah membawa Amiera ke butik langganannya. Satu setel kebaya etnik-modern dipilih Amiera. Seandainya saja pernikahan ini terencana jauh-jauh hari, tentu Amiera akan mendesain sendiri gaun pengantinnya. Tapi sudahlah, walaupun sederhana Amiera terlihat sangat bahagia.


Tiga hari setelah keputusan Rendy...


Rafael datang kembali ke kediaman Atmadja. Di ruang keluarga tidak hanya ada Alya dan kedua orang tuanya. Tapi juga ada Evan, Alvin dan Rendy.


Setelah berbasa-basi cukup lama, akhirnya Wira fokus pada inti pembicaraan sore ini. Sedari tadi tatapannya sudah tertuju pada berkas laboratorium yang masih tersegel di atas meja.


"Jadi dia belum membukanya? Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai keinginannya, apa dia ingin mempermalukan dirinya sendiri?" batin Wira.


"Bagaimana Rafael, sudah ada kan hasilnya?" tanya Wira.


"Iya, Om. Dari laboratorium, saya langsung kesini. Jadi belum sempat saya buka," sahut Rafael sambil menyerahkan hasil laporan lab-nya.


Evan yang duduk bersebelahan dengan Rafael menepuk pelan pundaknya. Pria itu merasa bangga pada sikap yang dimiliki sahabat Alvin tersebut.


Raut wajah Rafael terlihat menegang melihat Wira yang membuka hasil tes miliknya. Tidak hanya Rafael, semua yang hadir juga merasakan ketegangan yang sama.


Wira nampak mengernyitkan dahinya. Sesaat kemudian pria itu menyeringai.


"Bagaimana, Pa?" tanya Nura dan Alya hampir bersamaan.


"Oke, besok bawa orang tuamu kesini." Ujarnya sambil meletakkan berkas itu di atas meja.


Rafael merasa tertohok mendengar ucapan Wira. Evan yang sudah mengambil berkas itu dan melihatnya pun berucap sambil menepuk pundak Rafael, "Selamat ya! Kamu lolos seleksi."


Alvin terkekeh mendengar ucapan papanya.


"Selamat ya, Raf! Akhirnya loe nyusul gue sama Maliek."


"Vin?" Rafael memberi isyarat mata pada Alvin. Rupanya pria itu belum mengerti maksud ucapan Wira.


Rafael melirik pada Alya dan mendapat anggukan dari kekasihnya tersebut.


"Beneran ini, Om?"


"Kamu nggak mau?" tanya Wira sinis.


"Bukan begitu, Om. Saya mau banget," sahut Rafael yang jadi salah tingkah.


Pria itu menyalami dan mencium punggung tangan Wira, Nura dan juga Evan.


"Ish, apaan sih? Emangnya gue udah tua pake cium tangan segala," tepis Alvin.


"Hehe, sorry Vin. Gue jadi grogi," sahut Rafael.


Rafael tersipu malu saat menyadari sikapnya membuat yang lain menahan tawa.


***


Pernikahan Alya dua hari kemudian telah disetujui kedua belah pihak. Rafael dan Alya untuk saat ini hanya akan melaksanakan ijab kabul. Mereka sepakat menggelar resepsi pernikahan satu bulan kedepan.


Pada hari-H, keluarga Salman juga Bram dan istrinya sudah hadir disana. Riky juga tidak ketinggalan hadir pada hari bahagia salah satu sahabatnya.


Ijab kabul berjalan lancar. Rafael dengan percaya dirinya menerima tanggung jawab Alya sebagai istrinya.


"Ciee, pengantin baru," goda Alena pada Alya. Amiera yang bersama Alena hanya tersenyum melihat calon kakak iparnya dalam balutan kebaya pernikahan.


"Sabar ya, Kak Amie. Tinggal satu hari lagi." Kini giliran Amiera yang digoda Alena.


Amiera hanya tersenyum malu, apalagi saat tatapannya tanpa sengaja beradu dengan delikan Rendy.


"Kak, Ren! Sini dong," ujar Alena sambil menarik tangan Rendy.


"Kakak udah hafal belum bacaan ijabnya? Hati-hati salah sebut nama," canda Alena.


"Ya nggak lah. Memangnya aku mau sebut nama siapa?"


"Nggak tahu. Jangan takut Kak Amie, calon suami kakak ini nggak laku. Jadi dia nggak akan salah sebut nama," kelakar Alena.

__ADS_1


"Kamu ini ya," ujar Rendy yang menjitak kening sepupunya.


Amiera terkekeh melihat Alena yang meringis. Tatapannya menatap punggung Rendy yang tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.


Sementara itu di bagian luar rumah tersebut, Rafael sedang bersama ketiga sahabatnya.


"Beruntung banget loe Raf. Udah celup sana-sini masih dapat per*wan," seloroh Riky.


Rafael yang berada di sampingnya langsung membekap mulut sahabatnya itu.


"Ssstt, loe kalau ngomong di rem dong. Didengar orang kan nggak enak," bisik Rafael.


"Emang loe bisa jamin, Rik. Kali aja udah dicobain sama dia," goda Alvin.


"Engga lah. Beneran gue nggak macem-macem sama Alya," ujar Rafael dengan kedua jari membentuk huruf 'V'.


"Nggak percaya," geleng Riky.


"Sumpah, gue nggak ngapa-ngapain. Gue juga heran, ternyata bisa juga ya gue nahan." Sahutnya.


Ketiga sahabatnya itu hanya terkekeh pelan.


***


Satu persatu para tamu undangan mulai berpamitan. Suasana rumah Wira jadi mulai sepi. Hanya ada keluarga Atmadja termasuk Alvin beserta istri dan anaknya.


"Om, Tante.. Alvin sama Laura pamit ya."


"Nggak nginap di rumah Papa, Laura?"


"Nggak sekarang deh, Pa. Setelah acara Amiera selesai mungkin akan menginap," sahut Laura.


"Oke, deh. Mmm ini princess Opa udah tidur," ujar Evan sambil mengusap pipi cucunya.


"Raf, gue pulang ya! Baik-baik lho, jangan kasar." Kelakarnya.


Rafael tersipu mendengarnya. Raut wajah Wira ayah mertuanya masih kurang bersahabat.


Rafael kini sudah berada di kamar Alya. Ia memutar pandangan menatap satu persatu foto Alya yang bertebaran di sana.


Tatapannya lalu mengarah ke pintu kamar mandi. Gemericik air yang terdengar dari dalam seakan memanggilnya untuk mendekat. Pikirannya mulai nakal membayangkan Alya yang sedang membersihkan diri.


Dengan ragu Rafael mengetuk pintu kamar mandi itu. Karena tidak ada jawaban, Rafael mencoba memutar pegangan pintu.


Raut wajahnya kecewa saat mengetahui pintu itu terkunci. Senyumnya menyeringai menertawakan dirinya sendiri.


"Alya, yang bersih ya! Gosok semua!" Rafael terkekeh pelan.


Saat ia hendak berlalu dari pintu, Alya membuka pintu tersebut.


"Udah selesai?" Tanyanya.


Alya mengangguk sambil menunduk.


"Kenapa, Sayang? Malu ya? Nggak usah malu, Alya. Sekarang aku ini suami kamu. Papa juga nggak akan ngelarang lagi karena kita udah sah."


Rafael mengusap pucuk kepala Alya dan menarik ke dalam pelukannya.


"Lucu deh, Kamu. Udah jadi istri tapi masih malu-malu." Rafael mengucup gemas pucuk kepala istrinya.


"Bukan itu, Raf."


"Jangan panggil nama dong, Sayang. Panggil aku hubby, darling, atau apa aja lah. Jangan nama ya!" Pintanya.


"Bukan karena itu," kilah Alya.


"Terus, karena apa dong? Aku gemes lama-lama," ujar Rafael yang langsung membopong tubuh Alya.


Saat Rafael menempatkannya di tempat tidur dan akan menurunkan tali gaun tidurnya, Alya menahan tangan tersebut. Alya mengeleng pelan sambil menatap wajah suaminya yang keheranan.


"Aku lagi palang merah," ucapnya ragu.


"Apa? Oh My God! Beneran?" tanya Rafael dengan wajah kecewa.


Alya menunduk dan mengangguk pelan. Melihat istrinya yang seperti itu, Rafael tersenyum tipis.


"Nggak apa-apa, Sayang. Masih ada malam-malam berikutnya." Ucapnya sambil mengecup kening Alya.

__ADS_1


__ADS_2