Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
Amiera vs Rendy


__ADS_3

Area 21+, jika kurang berkenan silahkan di skip.


Happy reading...


Sudah dua hari Amiera tidak pergi ke butik. Itu artinya selama dua hari itu pula Amiera mengerjakan semuanya dari rumah. Dan dua hari ini, Rendy juga meluangkan waktu lebih banyak bersamanya. Pria itu bahkan mulai membawa dan menyimpan beberapa pakaiannya.


Amiera ingin menikmati hari bersantainya. Besok ia mulai lagi dengan pekerjaan di butik. Walaupun ia juga bekerja. Namun mengerjakan pekerjaan di rumah terasa lebih santai dari pada di butik.


Amiera lalu menelepon salon kecantikan yang pernah datang ke tempatnya. Sore ini ia ingin mendapatkan pijatan dan perawatan untuk merelaksasi tubuhnya.


***


Malam semakin gelap. Suara lalu lalang kendaraan terdengar seperti gemuruh di kejauhan. Sesekali bunyi klakson yang saling bersahutan juga terdengar. Membuat Amiera berkali-kali menghela nafas dan membuangnya kasar.


Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Tapi yang ditunggu Amiera masih juga belum pulang. Sedari tadi Amiera mencoba menahan kantuknya, karena ingin menyambut kepulangan suaminya.


Amiera berjalan keluar kamar. Dibeberapa bagian lampu sudah dimatikan. Sepi, hanya ada dirinya seorang di tempat seluas itu. Sekali lagi Amiera melihat kearah pintu, berharap suaminya pulang sebelum ia memutuskan untuk tidur.


"Apa Kak Rendy tidur di apartemennya?" gumam Amiera dengan nada kecewa.


Ceklek.


Amiera terhenyak. Tertegun melihat senyum suaminya.


"Aku kira kamu sudah tidur," ucap Rendy sambil melangkah mendekati Amiera.


"Amie menunggu kakak pulang," sahut Amiera pelan.


"Amiera, aku masih bau keringat." Rendy menjaga jaraknya saat Amiera ingin memeluknya.


"Biarin," ucap Amiera.


Amiera memeluk Rendy yang seharian ini tidak dilihatnya juga tidak ada kabar darinya.


"Amie kangen," ucap Amiera pelan sambil mendongak menatap wajah suaminya.


Rendy tersenyum dan mengusap lembut surai Amiera.


"Kenapa panggilan Amie dialihkan?"


"Aku sangat sibuk hari ini, Sayang."


"Apa proyek baru selalu begitu?"


"Hmm, karena semuanya harus matang sejak awal. Jika di bidang konstruksi, persiapan pembangunan awal itu harus benar-benar diperhitungkan."


"Karena itu akan jadi pondasi? Kalau pondasinya kuat, bangunannya juga akan kuat. Begitu kan?"


"Pinter," ucap Rendy mencubit ujung hidung Amiera.


Amiera membenamkan wajahnya di dada bidang Rendy. Aroma tubuh suaminya itu sama sekali tidak mengganggu penciumannya.


"Aku mandi dulu ya."


"Sudah makan?"


"Sudah tadi dengan asistenku. Kamu sudah makan?" tanya Rendy yang dijawab anggukan oleh Amiera.


Amiera melepaskan pelukannya. Membiarkan Rendy membersihkan diri sementara dirinya menunggu sambil bermain ponselnya.


Amiera melirik Rendy yang melewatinya menuju walk-in closet. Ia turun dari tempat tidur dan mengikuti langkah Rendy.

__ADS_1


"Amie ambilkan piyamanya ya?"


"Tidak usah, aku bisa mengmbilnya sendiri."


Saat Rendy sedang memilih pakaian yang akan dikenakannya, Amiera memeluknya dari belakang. Pelukan erat di punggungnya yang tidak mengenakan apa-apa.


"Amie, biarkan aku memakai bajuku dulu." Pintanya.


"Nggak usah pakai baju. Amie suka lihat perut kakak yang begini," ujar Amiera yang menggerak-gerakkan jarinya mengikuti bentuk otot perut Rendy yang six pack.


Amiera mungkin tidak menyadari, gerakan jarinya itu membangunkan sesuatu di balik handuk yang dikenakan suaminya. Rendy sebisa mungkin menahannya. Namun tiba-tiba saja tangannya menuntun sebelah tangan Amiera untuk menyentuh bagian bawah perutnya.


Amiera tersentak. Jarinya yanhlg sedang bermain di perut Rendy seketika tidak bergerak. Ia mematung dan baru tersadar saat dirasanya ada yang menarik lembut bibirnya.


Tanpa menunggu lama, Amiera pun membalas ciuman suaminya. Keduanya pun saling bertukar saliva.


Rendy merengkuh tubuh istrinya, membuat wanita itu melingkarkan tangan di lehernya. Dengan satu gerakan saja Rendy sudah bisa mengangkat Amiera yang langsung melingkarkan kedua kaki di pinggangnya.


Amiera tersipu malu lalu kembali melahap bibir suaminya. Memperdalam ciuman mereka selama yang mereka bisa.


Amiera melepaskan tautan bibirnya. Menatap sayu wajah Rendy sambil mempertemukan ujung hidung mereka. Bagian kerah kimono nightdress-nya yang turun memamerkan kulit mulusnya yang menggoda.


Rendy mengecup bagian yang terbuka itu tepat di bagian atas dada Amiera.


"Sekarang?" bisik Rendy meminta persetujuan.


Amiera mengangguk malu kemudian menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher suaminya. Rendy pun membawa Amiera menuju tempat tidur mereka dan menurunkannya.


Ditariknya tali kimono nightdress itu. Dengan perasaannya yang berdebar tidak karuan, Rendy melucuti satu persatu pakaian istrinya. Membuat wajah Amiera teramat merah menahan malu.


Niatnya ingin membalas dengan menarik handuk yang dikenakan Rendy, namun nyatanya Amiera justru terbelalak melihat senjata suaminya yang sudah siap tepur.


Wajah Amiera semakin memerah. Ia bergerak mundur saat Rendy mulai menekuk lututnya menaiki tempat tidur.


Rendy terus mendekatkan tubuh mereka hingga akhirnya Amiera pun menyerah. Membiarkan tubuhnya di bawah kungkungan tubuh suaminya.


Tatapan keduanya sama sayunya. Deru nafaspun seakan seirama. Rendy mendaratkan bibirnya, meraup bibir Amiera yang sudah sangat merah.


Ciuman Rendy pun berpindah dari mulai leher terus turun ke bawah. Pria itu membenamkan wajahnya diantara dua gunung kembar Amiera yang merekah.


Amiera melenguh merasakan sensasi lidah suaminya yang bergerak liar pada kedua gunung kembarnya itu. Semakin ke bawah, deru nafas mereka semakin terasa berat.


Gerakan tangan Rendy yang mengusap lembut pahanya membuat Amiera menggelinjang. Sentuhan tangannya yang bermain di area inti membuat Amiera ceperti cacing kepanasan.


Merasa cukup bermain di sana, Rendy menatap Amiera yang sudah terlihat agak lemas setelah pelepasan pertamanya. Amiera tersipu malu.


Tatapan Rendy seolah meminta sesuatu. Sekali lagi Rendy mengecup bibir Amiera sebelum akhirnya wanita itu mengangguk pelan sebagai tanda persetujuannya.


Rendy mulai mengarahkan senjatanya. Perlahan, namun tepat sasaran.


Amiera meringis, membuat Rendy menghentikan aksinya. Ditatapnya wajah sayu yang cantik jelita itu. Saat Rendy menekan kembali pinggulnya, Amiera tersenyum padanya.


"Sakit, Sayang?" Bisiknya.


Amiera mengangguk pelan sambil tetap menatap wajah suaminya. Keduanya saling menatap saat Rendy memulai gerakannya dengan tempo yang sangat pelan.


Rendy membungkam mulut Amiera dengan mulutnya saat lenguhan Amiera kembali terdengar olehnya. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan menambahkan tempo permainan.


Ia bisa merasakan cengkraman Amiera pada pinggangnya yang mulai melemah, mungkin itu pertanda Amiera mulai menikmati permainannya. Dan membuatnya lebih percaya diri untuk melanjutkan permainannya.


Rendy mengakhiri permainannya dengan beberapa hentakan yang cukup kuat, membuat kedua manik Amiera terbelalak merasakan sensasinya yang dahsyat. Satu lenguhanpun akhirnya terdengar diiringi nafasnya yang tersenggal.

__ADS_1


Rendy mengusap peluh di keningnya. Kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Amiera.


Amiera mengusap rahang suaminya. Mengecup bibir itu dengan tatapan yang berbinar. Rendy tersenyum padanya, masih dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Masih sakit?"


Amiera menggeleng. Namun sepertinya Rendy mengetahui istrinya itu sedang menutupi agar dirinya tidak merasa bersalah.


"Terima kasih sudah menjaganya untukku," ucap Rendy yang kemudian mengecup kening Amiera.


Amiera mengangguk pelan sambil berbisik, "Mau lagi?"


Rendy terkekeh. Ia tahu Amiera sedang menggodanya.


"Aku masih lelah, Amie. Nanti kalau staminaku sudah kembali, akan ku pastikan kamu tidak akan berani menggodaku lagi dengan tawaranmu itu." Ucapnya.


Malam semakin larut, udara yang berhembuspun semakin dingin. Amiera memeluk tubuh suaminya masih dengan tubuhnya yang belum mengenakan apa-apa. Usapan lembut tangan Rendy pada surainya perlahan perlahan membuatnya terlelap.


"Semoga mimpimu indah, Amiera." Rendy mengecup pucuk kepala istrinya.


Senyuman tipis tersungging di wajahnya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya dengan Amiera.


Ia tidak menyangka Amiera yang dulu arogan ternyata bisa bersikap manis dan menggemaskan. Rendy tersenyum sambil menggeleng mengingat wanita yang ditakdirkan menjadi jodohnya adalah adik sahabat juga cinta pertamanya.


"Mey, mulai sekarang hubungan kita murni persahabatan. Maaf, karena aku pernah menodai persahabatan kita dengan perasaanku yang berlebihan." Batinnya.


Sekali lagi Rendy mengecup pucuk kepala Amiera. Ia belum tahu apakah perasaan cinta itu sudah tumbuh dihatinya ataukah belum. Namun yang pasti ia bertekad mempertahan wanita ini untuk tetap bersamanya sampai maut memisahkan.


***


Sinar matahari yang cerah bisa terlihat oleh siapa saja. Namun sinar cerah dari wajah Amiera hanya diperlihatkan untuk suaminya.


Amiera menatap gemas pada wajah di hadapannya. Dengkuran halusnya terdengar merdu di telinga Amiera. Ingin rasanya ia membangunkan pria ini dengan memberinya kecupan di setiap centi bagian wajahnya. Namun wajahnya yang tenang membuat Amiera mengurungkan keinginannya.


Cahaya matahari yang memantul dari cermin menyilaukan pandangan Rendy. Ia mengerjap berkali-kali sambil menghindari cahaya itu dari kedua maniknya.


"Morning..."


Rendy tersenyum menoleh ke arah suara.


Rupanya Amiera baru keluar dari kamar mandi. Tangan Rendy yang mulai usil menyingkap bhatrobe yang dikenakan Amiera.


"Nakal ya, sengaja nggak pakai apa-apa."


Rendy menarik pelan lengan Amiera agar mendekat lalu memeluknya.


"Yang nakal itu, ini." Ucapnya sambil menepuk pelan tangan Rendy yang tadi menyingkap bathrobe-nya.


"Kamu sengaja kan menggodaku?"


"Nggak. Amie kan memang mau ambil baju."


"Mmm, nggak usah pakai baju. Aku suka kamu yang begini," ucap Rendy mengulang ucapan Amiera padanya semalam.


Amiera tersipu malu. Ia membiarkan Rendy menciumi bagian dadanya dan membuat tanda merah di sana. Tangan Rendy mulai bergerilya. Menjelajahi setiap bagian dari tubuh istrinya.


Amiera memberinya tatapan menggemaskan saat telapak tangan Rendy mengusap bagian intinya. Maniknya membulat sempurna merasakan jari-jari itu mulai bermain di sana.


Rendy mendekatkan wajahnya. Memberi senyuman menggoda melihat wajah Amiera yang memerah. Mereka mulai berciuman. Mengulang kembali kenikmatan yang mereka rasakan semalam.


Malam pertama yang tertunda nyatanya adalah awal kebahagian mereka. Kebahagian yang mereka harapkan dapat mengiringi niat mereka menyongsong kehidupan rumah tangga yang seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2