
Happy reading...
"Daddy? Daddy apa? Daddy, ayah atau Daddy, 'daddy'? Dan kenapa dia tahu namaku?" gumam Brian bingung.
"Tuan Brian, siapa pria itu? Kenapa tatapannya menakutkan?" tanya Diana pelan.
"Aku juga tidak tahu," sahut Brian sambil mengangkat bahu. Pria itu kembali ke ruangan Julie.
"Silahkan duduk, Tuan. Maaf, tidak ada apapun untuk menyambut anda," ujar Julie.
Amiera menatap penuh tanya melihat sikap Julie. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Apa Julie tahu siapa Aku? Kenapa sikapnya begitu? Kalau memang dia sudah tahu, sejak kapan?"
Salman duduk di sofa. Keramahan Julie membuatnya merasa simpati. Ia mulai berpikir ulang untuk bersikap arogan.
"Kapan anda tiba, Tuan Al-Azmi?" tanya Julie.
"Beberapa jam yang lalu," sahut Salman datar.
"Tuan Al-Azmi? Al-Azmi, Amiera Al-Azmi... OMG! Apa itu artinya Amiera benar-benar putri Al-Azmi? Kalau begitu, berarti dia ayah Amiera?" batin Brian terperanjak.
Amiera duduk di samping Daddynya sedangkan Julie, di depan mereka. Brian yang sudah mengerti situasi pun duduk di samping sang kakak.
"Maaf, saya tidak mengenali anda, Tuan. Perkenalkan saya Brian Winston."
"Aku sudah tahu," sahut Salman datar. Ia tidak berminat menyambut uluran tangan Brian.
"Saya teman dekat putri anda," aku Brian.
Amiera dan Julie nampak terkejut. Mereka tidak menyangka Brian akan mengatakan hal semacam itu.
"Teman dekat?" tatapan Salman menajam, membuat Brian salah tingkah.
"Itu tidak benar, Dad. Kami hanya kenal, itu saja."
"Tapi saya pernah berkunjung ke penthouse Amiera," ucap Brian cepat.
Menurut Brian, pasti tidak sembarang orang yang akan dibawa Amiera ke apartemennya. Dengan begitu Salman akan berfikir dia istimewa bagi Amiera.
"Aku tahu. Kau dan juga teman Meydina, siapa namanya?"
"Rendy, Dad."
"Ah iya, Rendy. Pernah makan malam di sana," sahut Salman masih dengan ekspresinya yang semula.
Brian merasa terkejut sekaligus malu. Ternyata Salman mengetahui banyak hal tentang dirinya.
"Bagaimana butikmu ini, ramai?" tanya Salman.
"Ramai, Tuan. Apalagi setelah keberadaan putri anda di sini. Semakin hari semakin banyak pelanggan kami," sahut Julie.
"Itu tidak benar," sanggah Amiera kikuk.
__ADS_1
"Apanya yang tidak benar, Amie? Kau sangat sibuk sampai-sampai pulang larut bahkan harus mengantar sendiri pesanan pelangganmu. Apa kau tahu itu membahayakan putriku?
"Maksud, Tuan?" Julie tidak mengerti arah pembicaraan Salman.
"Aku tidak suka ada yang mengganggu, merendahkan, apalagi kalau sampai keselamatan putriku terancam. Dan kau..."
"Daddy, itu sudah berlalu. Tidak usah dibahas lagi. Dan itu bukan kesalahan Miss Julie. Hal seperti itu di luar perkiraannya," sanggah Amiera.
Amiera tahu Salman tidak akan suka jika ada yang memotong kalimatnya, tapi ia juga tidak ingin Julie jadi sasaran kekesalan Daddynya.
"Kita akan bicarakan ini nanti, oke? Please, Dad!" pinta Amiera dengan wajah memelas.
Salman menghela nafasnya sebelum akhirnya berucap, "Baiklah. Ayo kita pulang! Zein pasti bosan terlalu lama menunggu."
"Daddy duluan kebawah ya. Amie mau mengambil tas di ruangan Amie." Pintanya.
"Miss, maaf aku harus pulang."
"Tidak apa. Pulanglah," sahut Julie.
"Sampai jumpa, Tuan. Mari saya antar," ucap Julie mempersilahkan.
Salman sudah melangkah hampir keluar ruangan Julie. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti.
"Amiera, siapa wanita yang kita temui di bawah tadi? Dimana dia sekarang?"
"Dia..." Amiera nampak ragu.
"Apa maksud anda, Diana?" tanya Julie.
"Entahlah. Dia mengatakan bahwa dia orang kepercayaanmu," sahut Salman.
"Itu karena Diana salah satu designer yang cukup lama bekerja dengan saya, Tuan."
"Dia seorang designer juga?"
"Iya, Tuan. Diana satu ruangan dengan Amiera."
"Kau tidak punya ruangan sendiri, Amiera?" Salman menatap tidak percaya pada Amiera dan dibalas cengiran oleh putrinya tersebut.
"Dimana ruangannya?" tanya Salman lagi.
"Di sebelah sini, Tuan. Silahkan!"
Salman mengikuti langkah Julie. Sementara itu Amiera ketar-ketir mengkhawatirkan Diana.
Kedatangan Julie bersama seorang pria berbadan tegap dan tinggi besar di ruangan itu tidak hanya mengagetkan Diana. Tapi juga Veya sang asiten dan juga Rey, asisten Amiera.
"Selamat siang, Miss. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Diana. Wanita itu tidak seberani tadi, nyalinya menciut melihat cara Salman menatapnya.
"Tuan Al-Azmi menanyakanmu," sahut Julie tanpa curiga.
__ADS_1
"Jadi, namamu Diana?"
"Benar, Tuan." Diana terlihat gugup. Ia tidak berani menatap wajah Salman.
"Aku hanya memperingatkanmu satu kali. Jika kau tidak mengindahkannya, maka jangan salahkan aku jika bertindak tegas padamu."
Salman menjeda kalimatnya. Julie mulai merasa ada sesuatu yang ia tidak tahu.
"Dia, putriku. Amiera Al-Azmi. Dan tadi kau bilang apa, dia sombong?" tanya Salman dingin sambil menunjuk oada Amiera.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu, anda ayahnya." Suara Diana terdengar pelan dan bergetar.
"Tidak apa, aku hanya ingin menegaskan padamu. Dia memang sombong. Dan kau tahu kenapa?"
Diana menggeleng pelan.
"Karena dia, putriku." Tegasnya.
"I-iya, Tuan. Saya mengerti, maafkan saya."
"Hanya untuk kali ini. Kau dengar? Seperti yang tadi kau bilang, bahwa kau tidak berteman dengannya. Jadi jika aku melakukan sesuatu padamu, aku tidak akan merasa tidak enak pada putriku."
"Tuan, sepertinya anda salah paham," ucap Julie pelan.
"Aku melihat dan mendengarnya sendiri. Jadi bukan kesalahpahaman," tegas Salman.
"Amiera, ambil tasmu. Cepatlah turun!"
Sebelum meninggalkan ruangan itu, Salman tertegun menatap ruangan yang selama ini di gunakan Amiera untuk bekerja. Kemudian langkah besarnya menuju ke tangga.
Amiera berpamitan pada Julie. Ia juga meminta maaf atas sikap Daddynya yang berlebihan.
Julie yang masih belum sepenuhnya mengerti yang terjadi kembali ke ruangannya diikuti oleh Brian.
"Kak, jadi selama ini Kakak mengetahuinya? Tentang Amiera," tanya Brian.
"Tentu saja. Kau pikir aku akan diam saja saat mengetahui nama belakang Amiera? Aku bisa gila kalau sampai berurusan dengan pria itu. Dan ku peringatkan padamu, jauhi Amiera!"
"Tapi Kak, aku menyukainya. Dia itu berbeda," sahut Brian.
"Justru karena dia berbeda maka jauhi dia! Jangan berurusan dengan Amiera, Brian! Kemanapun Amiera melangkah, para bodyguard itu mengikutinya. Kali ini saja, dengarkan aku!"
Brian terdiam. Ia mengingat kembali para bodyguard yang ada di penthuose Amiera. Mereka berbadan tinggi besar dan berekspresi datar. Menbuatnya bergidik hanya dengan membayangkannya saja.
Sementara itu, Diana yang penasaran dengan sosok Salman mencari tahu tentang pria itu. Tidak hanya Diana, Rey dan Veya juga rupanya penasaran akan hal yang sama.
Mereka mencari dan membaca satu persatu artikel tentang Salman Al-Azmi. Wajah di setiap foto dalam artikel mempertegas sosok itu adalah pria yang sama dengan yang mereka lihat barusan. Ketiganya saling bertukar pandang. Wajah Diana mulai memucat, ia merasa sudah menggali kuburannya sendiri.
"Nona, mulai sekarang kita harus bersikap sebaik mungkin pada Nona Amiera. Dan lagi pula, memang selama ini andalah yang selalu mencari-cari kesalahannya," ucap Veya.
"Aku, apa hanya aku? Lalu apa kau tidak, heh? Sekarang kau menyalahkanku. Sebelumnya kau selalu mendukung tindakanku. Dasar bermuka dua," hardik Diana.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku," sahut Veya.
Diana memukul pundak Veya dengan lembaran kertas yang ada di meja kerjanya. Sementara itu Rey memperhatikan mereka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.