
Happy reading...
Hamparan langit biru terlihat begitu kontras dengan putihnya awan yang bergelantung di atas sana. Hembusan angin seolah menggiring awan-awan itu untuk berdekatan satu dengan yang lainnya. Membentuk gumpalan putih seperti bulu domba.
Degup jantung Alena seakan berpacu saat iringan pengantin pria memasuki halaman rumah. Diantara jejeran mobil itu, Riky pastinya ada didalam mobil yang berhiaskan bunga.
Senyum tipis tersungging di wajah Alena. Gadis itu merasa lega karena sang arjuna menepati janjinya. Dan sebentar lagi, ia akan melepas masa lajang. Dipersunting Riky, kekasihnya.
"Sudah siap?"
Alena terhenyak dan menoleh ke arah suara. Senyum manis diperlihatkannya pada sang kakak yang memasuki kamar pengantin.
"Sudah," angguk Alena.
Alvin menatap haru pada adik bungsunya. Ia tidak pernah menyangka akan melepas Alena pada Riky, sahabatnya.
"Kamu terlihat sangat cantik," puji Alvin memegang ujung dagu Alena yang tersipu malu.
"Ayo turun," ajak Alvin sambil mengulurkan tangannya. Alena menyambut uluran tangan Alvin masih dengan senyum malu-malu. Alvin mengecup punggung tangan adiknya dan melingkarkan pada tangannya.
Baru saja mereka hendak melangkah, pintu kamar itu dibuka kasar dari luar.
"Auntie, Uncle sudah datang!" seru Zein.
Zein terpukau melihat penampilan Alena. Putra sulung Meydina itu terpaku dengan mulut yang menga-nga.
"Mingkem, Kak. Nanti ada lalat lewat," canda Alena.
"Kakak balu tahu Auntie cantik," ujar Zein polos.
"Jadi selama ini Auntie nggak cantik?" delik Alena.
"Cantikan juga Mami. Tapi hali ini Auntie cantik banget. Milip barbie-nya Baby." Sahutnya.
"Terima kasih. Kakak juga ganteng," puji Alena dengan kerlingan mata.
"Siapa dulu Daddy-nya," sahut Zein yang menggenggam sebelah tangan Alvin.
Alvin tersenyum dan mengajak mereka turun. Ia yakin Riky pasti sudah menunggu mempelai wanitanya.
Benar saja, sejak Alena menapakan kaki menuruni anak tangga, Riky menatapnya tanpa berkedip. Alunan nada dari tuts piano yang dimainkan Rafael menghadirkan suasana romantis dalam ruangan itu.
"Kamu nggak salah pilih. Alena yang manis terlihat sangat anggun dan mempesona," puji Mama yang duduk di samping Riky.
Riky tersipu menyembunyikan wajahnya yang malu. Diliriknya Alena yang sudah duduk di sampingnya. Pria itu tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Membuat Alena salah tingkah.
"Cantik." Bisiknya sambil menyondongkan tubuhnya ke samping.
__ADS_1
Deheman Evan membuat Riky tersenyum malu. Wajahnya semakin memerah saat menyadari orang lainpun ikut mengulumkan senyum.
"Sabar dong, Rik. Belum sah," goda Bramasta.
"Hehe. Iya, Om." Sahutnya, lagi-lagi melirik calon istrinya.
Nura memasangkan penutup kepala pada kedua mempelai. Ia mengangguk pelan saat Alena menatapnya sesaat.
Penghulu dari kantor urusan agama sudah siap dengan semua berkasnya. Suasana yang semula riuh mendadak hening. Semua mata tertuju pada mempelai yang akan menucapkan ijab kabul pernikahan.
Dengan lantang Riky menyebutkan nama Alena, wanita yang dipersuntingnya. Saat kata 'sah' menggema, raut wajah lega juga haru bercampur menjadi satu.
Suasana haru menyeruak manakala kedua mempelai sungkem pada orang tua. Alena tak bisa menahan isaknya saat Evan menitipkan dirinya pada Riky. Bagaimana tidak, seumur hidupnya, Papa Evan teramat sangat menjaganya. Memperlakukannya bak permata yang begitu berharga.
"Auntie jangan nangis, nanti jelek." Seketika ruangan riuh oleh suara orang yang terkekeh. Celotehan Zein yang berada di samping Alvin membuat Alena mau tak mau mengusap air matanya sambil menahan tawa.
"Nggak apa-apa jelek juga. Sudah ada Uncle yang punya," bela Riky.
"Ciee..." beberapa orang mengolok Riky membuat Alena jadi semakin merona.
Semua yang hadir kebetulan hanya kerabat dekat kedua belah pihak. Menghadirkan suasana kekeluargaan yang sangat kental. Terlebih mereka sudah beberapa kali bertemu, di pernikahan Alvin misalnya.
Namun bagi orang tua Riky ini pertemuan pertama. Akan tetapi dengan sikap semua orang yang terbuka pada siapa saja membuat keduanya merasa tidak canggung berada di tengah-tengah mereka.
Waktu terus berlalu, gelak tawa terdengar saling bersahutan. Anak-anak berlarian menambah suasana semakin ramai.
Meydina tersenyum melihat Ayah Salman dikelilingi banyak orang. Meski terlihat risih, Salman sebisa mungkin bersikap wajar.
"Sabar... nanti malam belah durennya," goda Alvin.
"Iya nih, lihatnya udah seperti mau nerkam mangsa aja," ledek Rafael yang mendorong bahu Riky.
Riky hanya terkekeh sambil menyesap sigaretnya. Sesekali tatapannya mengarah pada Alena yang sedang tertawa diantara para wanita.
Ia tertunduk malu saat tatapannya tertangkap basah Alena. Sekali lagi diliriknya wanita yang kini telah berstatus istrinya itu sambil menyeringai penuh arti.
***
Malam mulai merangkak, namun suasana gedung itu masih nampak ramai. Banyak para klien Bramasta Corp. menghadiri resepsi pernikahan Riky dan Alena. Belum lagi rekan Papa Riky yang kebanyakan pejabat dan ex-pejabat pemerintah.
Kesan formal sangat terasa, karena tak ada anak-anak yang berlarian seperti siang tadi. Satu persatu orang terdekat mulai berpamitan. Mereka sudah lelah karena mengikuti acara sejak akad nikah.
Meydina dan Maliek yang hadir tanpa anak-anak juga Salman. Pasangan itu berpaitan bersamaan dengan kedua orang tuanya.
"Selamat ya, Van. Tugasmu sebagai orang tua sudah selesai. Menikahkan putrimu dengan pria baik yang bertanggung jawab. Riky nggak akan macam-macam kok," ujar Bram.
"Benar, Pak Bram. Sekarang saya sudah tenang," sahut Evan.
__ADS_1
"Kalau macam-macam tendang aja dari perusahaan," sahut Maliek datar.
"Enak aja. Jangan dong, gue udah cinta mati sama perusahaan loe." Kelakarnya.
"Untung cintanya nggak sama gue," sahut Maliek masih dengan ekspresinya yang datar.
"Gue normal, Liek."
"Besok kalian pergi jam berapa?" tanya Resty.
"Setelah makan siang, Ma," sahut Meydina.
"Kalau begitu istirahat yang cukup ya. Biar rencana honeymoon-nya lancar," saran Resty.
"Istirahat? Mama bercanda ya," goda Bram sambil melirik pada pasangan pengantin baru.
"Selamat ya, Jeng. Jadi punya anak perempuan. Sama seperti saya, yang ada jadi lebih sayang sama Meydina daripada Maliek."
"Iya, Jeng Resty. Saya sudah mulai merasakannya. Akhirnya keinginan saya punya anak perempuan terkabul dengan adanya Alena di rumah kami." Mama Riky tersenyum pada menantunya.
Mereka saling berpelukan sambil berpamitan. Setelah Bramasta pulang, tamu lain pun ikut menyusul. Evan dan juga kedua orang tua Riky mengantar mereka sampai di depan pintu.
"Masih lama ya, Kak? Kaki Lena udah pegal," keluh Alena.
"Sebentar lagi, Sayang," sahut Riky santai. Tidak ada gurat kelelahan terlihat di wajahnya. Berbanding terbalik dengan Alena yang sedari tadi sudah terlihat bosan dan juga lelah.
"Rik, gue pulang duluan ya. Kasihan Alya, belum lagi besok siang kita udah berangkat kan?"
"Iya. Thanks ya.."
"Oke. Jangan ganas ya, kasihan masih bocah" Oloknya, membuat Riky tergelak mendengarnya.
"Len, ada Alvin. Kalau Riky ganas teriak aja," canda Rafael.
"Tenang, ntar gue dobrak," sahut Alvin dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Riky dan Alvin mengantar Rafael, Alya, Wira dan juga Nura hingga ke mobil. Malam ini Alvin dan keluarga kecilnya menginap di rumah Papa Evan.
***
Guyuran air hangat mengembalikan kesegaran yang sempat hilang. Dengan raut wajah yang terlihat bahagia, Riky bercermin di dalam kamar mandi memastikan dirinya tidak kehilangan pesona.
"Saatnya eksekusi, ck," ujar Riky pada pantulan dirinya dengan sebelah mata yang mengedip.
Ia sengaja keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dengan semangat Riky membuka pintu kamar mandi. Pikirnya, siapa tahu Alena membutuhkan bantuannya melepas gaun pengantin yang cukup berat itu.
Saat Riky keluar kamar mandi, seketika raut wajahnya nampak kecewa. Diatas tempat tidur, penagantin wanitanya sudah terlelap lengkap dengan gaun yang masih dipakainya.
__ADS_1
"Yaa, Alena. Aku udah on begini masa iya dianggurin," ujar Riky pelan.
Dengkuran halus terdengar dari Alena yang tertidur dengan posisi tengkurap. Nampaknya istrinya itu memang sangat kelelahan, hingga tertidur dengan posisi dan pakaian yang belum sempat ia ganti.