
Dritt dritt drittt
Lucas terbangun karena ponsel terus berderit. Lucas merenggangkan ototnya dan mengucek mata yang terasa perih. Lalu mengambil ponsel tersebut. Lucas men deal up ponselnya.
“Hallo Lucas, Leon terbebas dari sel tahanan hari ini. Apakah kamu yang memberikan kebebasan untuknya di penjara?”, tanya Steve.
“Aku tidak melakukan itu. Aku hanya memberikan keriangan masa tahanan saja. Apakah orang lain yang membebaskan dia?”
“Entahlah Lucas”.
“Kalau begitu kamu selidiki orang-orang di kantor polisi”.
“Baiklah, kalau begitu aku ke kantor polisi”.
Setelah menerima telepon Lucas beranjak dari ranjang dengan mengambil kaos putih di lemari. Lalu pergi ke bawah dengan menuruni tangga satu persatu. Lucas melihat pemandangan pagi di ruang tengah. Lucas tersenyum bahagia. Lucas menghampiri istri dan anak-anaknya yang tengah menikmati susu yang diberikan oleh Alika. Lucas menyapa sambil memberikan kecupan pagi untuk mereka.
“Morning sweety”.
“Morning daddy”.
“Hai, kamu sudah pintar memanggilku sayang dengan tanpa paksaan”, ucap Lucas dengan mengusap kepala Alika dan memberikan kecupan singkat untuknya.
“Uncle, kamu jangan besar kepala. Aku melakukan itu untuk mereka agar bisa mengucapkan kata daddy”, sangkal Alika.
“Tapi, kalau kamu memanggilku seperti itu. Aku bakalan senang sweety”, ucap Lucas dengan menggoda Alika. Perasaan Alika berubah menjadi kesal dengan melototi suaminya.
“Uncle lebih baik bersihkan diri lalu sarapan gih”, usir Alika.
“Lihatlah momy kalian sedang marah dengan daddy. Tolongin daddy dong prince dan princes”, adu Lucas.
“Uncle!”, amarah Alika.
“Iya sweety, aku akan pergi membersihkan diri lalu berolahraga ok”, ucap Lucas dengan memberikan kedipan genit untuk istrinya.
“Yah!”, teriak Alika.
Di area belakang mansion Aminah tengah menuntun buah hatinya berjalan bersama Daniel. Mereka saling menangkap buah hatinya dengan tertawa bersama begitu dirasakan oleh kedua orangtua Aminah yang sedang memperhatikan putrinya. Mereka tidak menyangka kalau Daniel benar-benar menjaga Aminah amat sangat baik. Kedua orang tua Aminah tidak khawatir lagi dengan putrinya semenjak simbahnya meninggal. Mereka berharap simbah ini dan hidupnya juga ikut bahagia di dunia lain.
Rasa senang, bahagia, tertawa juga dirasakan oleh Leon yang baru saja terbebas dari penjara atas bantuan seorang wanita yang belum sempat ia mengenalnya. Namun Leon tetap saja ingin mengucapkan dia terima kasih. Wanita itu juga merasakan kebahagiaan di keluarganya yang sudah lama tak di rasakan olehnya.
Diatas rasa bahagia mereka memberikan tawaan untuk pria bertopeng itu.
“Kalian hidup bahagia tak akan lama lagi. Kebahagiaan itu akan terganti sebuah kepedihan dan kesedihan yang akan kalian rasakan seperti yang ku alami beberapa tahun lalu”ungkapan hati Ellios.
Ellios memanggil anak buahnya dengan lambaian jari telunjuk untuk memberikan pemantik api pada cerutunya yang ia hisap. Ellios mengepulkan asap ke udara sambil menikmati pemandangan jendela luar.
“Bagaimana kandidat yang akan bersaing dengan Willy?”, tanya Ellios.
“Akan memasuki babak pertama dalam pers dan perhitungan sementara”.
“Teruslah awasi dan kerja sama dengan baik untuk mendapatkan informasi penting hal politik”.
“Baik tuan”.
.........
Di dalam kamar Vio sedang mondar mandir setelah mendapatkan informasi dari William mengenai persengkokolan antara pria bertopeng dengan Emrat. Mereka telah mengultimatum dahuluan kepada pihak investor asing di Dubes. Salah satu investor merupakan pengusaha yang telah lama kerjasama dengan pihak Lucas. Vio menjadi khawatir dengan ultimatum mereka.
“Apabila investor itu dapat di taklukan oleh Ellios makan pihak Lucas akan mudah untuk dihancurkan. Jika pihak investor itu tidak menyetujui kerja sama Ellios pasti mencari jalan kotor untuk menundukkan investor tersebut. Aku harus berfikir cepat sebelum itu terjadi. Apa aku harus mulai dari Danu. Namun kalau aku mencari ayah berengs*k itu akan bahaya rencana tinggalah rencana. Kalau begitu aku minta bantuan dari Leon”, gumam Vio.
Abigail masuk ketika Vio akan menghubungi Leon.
“Sweety, kamu mau menghubungi siapa?”, tanya Abigail dengan menggigit pundak istrinya.
“Kamu harusnya jangan menggigit pundakku. Aku ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada seseorang”, ucap Vio.
“Seseorang itu laki-laki atau perempuan?”
“Dia laki-laki”.
“Hei, kamu mulai nakal humm”. Abigail mulai cemburu dan membalikkan tubuh Vio untuk berhadapan sambil mencapit sisi kedua pipinya.
“Lepasin uncle! Katanya kamu percaya denganku!”, kesal Vio.
“Ya, aku percaya namun bukan untuk pria lain. Kamu harus kuberi hukuman”, ucap Abigail dengan langsung memberikan serangan untuk istrinya sampai dia kewalah memukul dada bidangnya hingga Vio hanya pasrah. Lalu Abigail mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan seperti bayi koala. Kemudian Abigail membawanya ke ranjang namun sudah keburu orang yang ada di luar kamar. Suara ketukan itu mengganggu Abigail yang sedang asyik menikmati momen yang intim. Abigail mendesah karena kesal kepada orang yang telah menggangu dirinya.
“Sudahlah uncle, kita harus membuka pintu untuknya”, ucap Vio dengan rasa senang.
“Sweety, sepertinya kamu menyukai suara ketukan itu”, kesal Abigail.
“Sudahlah, lebih baik turunkan aku dan kita lihat siapa yang datang”, ucap Vio.
Abigail pun terpaksa menuruti istrinya. Abigail menurunkan tubub Vio. Lalu Vio berjalan ke arah pintu luar kamar. Vio membuka dan terpampang wajah Milka menggendong Alex yang sedang menangis.
“Momy, Alex rindu”, ucap Milka dengan meniru suara anak kecil.
“Mana anak momy”, ucap Vio dengan mengambil alih putranya.
“Sayang, anak momy paling tampan”, sambil memberikan usapan di kepalanya.
__ADS_1
“Boy, kenapa kamu menangis?”, tanya Abigail dengan memberikan kecupan di kepalanya.
“Apakah Haeun juga menangis?”, tanya Vio.
“Tidak, Hauen sedang asyik bermain dengan Raiden di bawah bersama putraku juga”, jawab Milka.
“Kalau begitu aku turun ke bawah dulu”, pamit Milka.
“Selamat bersenang-senang kak”, goda Milka dengan mengedipkan satu mata.
Abigail berdecak dengan tingkah adiknya. Abigail menutup pintu dan ikut masuk bersama Vio. Abigail ikut duduk di samping Vio dengan memberikan usapan kepada Alex yang tengah akan tidur.
“Vi, William itu siapa?”, tanya Abigail.
“Dia pria”, jawab Vio tak acuh.
“Vi”, geram Abigail.
“Iya, akan aku ceritakan honey. Jangan cemburu begitu. Aku menidurkan Alex dahulu”, ucap Vio.
Abigail mau tidak mau mengalah dan menunggu Vio menidurkan buah hatinya. Abigail pergi ke bawah menghampiri putrinya dan keponakannya yang tengah asyik bermain dengan Raiden dan Milka.
“Hallo anak daddy yang cantik”,Abigail dengan mengangkat tubuh Haeun sambil memberikan kecupan pada pipi gembulnya.
“Daddy bola”, ucap Haeun.
“Apa kamu sedang mau mengajak daddy main bola”, ucap Abigail.
Lalu Milka ikut menyela, “ iya daddy”.
“Baiklah, kita bermain bersama”, ucap Abigail.
Saat mereka asyik bermain Alika, Lucas, dan lainnya datang dengan membawa buah hati mereka masing-masing.
“Hallo guys”, sapa Aminah langsung mengambil posisi di samping Milka.
“Wah, akhirnya kita bisa berkumpul bersama”, ucap Aminah.
Vio yang masih berada di kamar sedang asyik berteleponan dengan William.
“Vi sebaiknya kamu harus berhati-hati dengan pria itu. Ia di kenal paling licik dan cerdik”, ucap William.
“Lebih baik kamu ceritakan kepada mereka bahwa rencana kita diubah. Kita harus pikirkan matang-matang. Kamu jangan mendekati Danu terlebih dahulu. Menurutku kamu dekati kalangan politikus agar mereka bisa menjadi informan untuk kita gali lebih dalam lagi”,saran William.
“Baiklah, akan aku lakukan”, ucap Vio.
“Oh ya Vi, kamu harus segera meminta Leon untuk membantu kita. Kalau bisa dia harus ikut bergabung dengan timnya”, ucap William.
“Sampai bertemu kembali”, ucap William.
Vio menghubungi Leon namun saat membalikkan badan Abigail sudah berada di belakang entah sejak lama atau baru datang. Terlihat dari wajahnya ia sudah cukup lama datang karena raut wajahnya seperti menunjukkan kemarahannya. Abigail melangkah menghampiri Vio dengan dekat dan mencekal lengannya.
“Siapa pria yang menghubungimu?”, tanya Abigail.
“Dia hanya seorang teman”, jawab Vio dengan sedikit gugup. Vio juga merutuki kebodohannya sebab kenapa dirinya gugup padahal ia tidak merasa berselingkuh. Tatapan mata tajam Abigail membuat Vio merasa takut sehingga Vio mencoba untuk menenangkan Abigail dengan mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan namun Abigail menghindar sehingga Vio menyuruh Abigail duduk.
“Jelaskan sekarang juga”, ucap Abigail dengan ekspresi marah dan cemburu.
“Iya, akan aku jelaskan namun kamu berjanji jangan ceritakan kepada siapa-siapa karena dia seorang informan yang dalam bahaya...”, jeda Vio dengan menatap wajah Abigail dan sorotan mata tajamnya yang masih menyimpan api cemburu.
“Baiklah, akan aku pertimbangkan setelah kamu bercerita”, ucap Abigail.
Vio menatap pria itu lalu mendekatkan wajahnya kemudian memberikan kecupan dan memberikan ciuman yang dalam membuat Abigail tersenyum miring. Vio merasa kalau Abigail sedang menertawakan dirinya. Vio memundurkan wajahnya namun Abigail mencegahnya.
“Sweety ternyata kamu masih saja kaku untuk melakukan lebih intim”,ejak Abigail.
“Ya.. ya.. ya.. a.. aku tidak semes*m kamu tuan”, kesal Vio dengan cemberut. Abigail semakin gemas dengan istrinya. Abigail menarik tengkuknya dan memberikan ciuman yang diinginkan istrinya.
“Sekarang ceritakan dan jangan mengalihkan pembicaraan dengan sikapmu ini”, ucap Abigail sambil mengusap bibir ranumnya.
“Iya, akan aku ceritakan”, ucap Vio.
“William merupakan putra dari Joni”.
“What?”, terkejut Abigail.
“Selama ini Joni memiliki putra yang tidak diketahui oleh banyak orang”, ucap Abigail dengan masih tidak percaya.
“Dulu Joni memiliki seorang wanita yang dia cintai. Wanita itu juga bekerja di keluarga Courvin. Hubungan mereka tidak ada yang mengetahui sampai tahap apa. Lalu Joni membawa wanita itu ke negara lain saat kondisi aman. Lalu Joni meninggalkan istrinya yang baru saja seminggu resmi. Di tengah kerumitan keluarga Courvien, Joni memutuskan hubungan dengan istrinya yang tengah mengandung putranya untuk keselamatan mereka. Pada akhirnya Joni tak pernah berkomunikasi hingga ia meninggal”, jelas Vio.
“Oh my god”, ucap Abigail dengan mengusap wajahnya yang terasa gatal.
“Selama ini yang kami tidak ketahui ternyata beban dipundaknya cukup berat”, monolog Abigail.
“Benar yang kamu katakan uncle”, ucap Vio.
“Terus kamu mengenal dia sejak kapan?”, tanya Abigail.
“Saat berada di klub malam..”
__ADS_1
“Sweety, kamu tidak bisa ku maafkan”, ucap Abigail dengan mendorong tubuh Vio berbaring diatas ranjang dan Abigail mengukungnya.
“Tunggu dahulu dong, jangan mengambil kesimpulan sebelum penjelasan itu selesai”, kesal Vio.
“Baiklah,jelaskan jangan membuatku menunggu”, ucap Abigail.
“Tapi, uncle menyingkir dulu”, ucap Vio.
“No, aku mau tetap begini”, ucap Abigail.
“Huh.., Aku cerita sampai mana?”
“Bertemu dia di klub malam”.
“Waktu itu aku ketahuan menguntit seorang pria paruh baya yang memiliki kerja sama dengan Danu dan aku hampir ketahuan oleh orang yang baru saja datang ke ruang VIP tersebut. Lalu aku berlari dan tiba-tiba ada tangan menarik lenganku. Pria itu William. Kemudian kami kerja sama bareng untuk menggali informasi mereka”, jelas Vio.
Abigail menghembuskan nafas dan mengerti perasaan yang ada di hati istrinya. Abigail mendekatkan wajahnya lalu memberikan ciuman hangat untuk istrinya dengan lembut.
Kemudian Abigail keluar tanpa Vio setelah Vio memberikan alasan.
Flashback.
“Abigail, aku tidak bisa ikut bergabung. Saat ini aku tidak mau memunculkan keberadaanku dahulu. Demi keselamatan mereka. Please, percayalah kepadaku”, ucap Vio.
“Katakan kepada para pria yang bertemu denganku dan Milka, jangan mengatakan kalau aku ada di mansion ini. “, ucap Vio kembali.
“Tolong sampaikan pesan kepada teman-teman kamu untuk berkumpul kembali. Ada hal yang harus kita bahas”, pesan Vio
“Baiklah, akan aku suruh mereka untuk tutup mulut termasuk orang-orang yang berada di mansion ini”, ucap Abigail.
“Thank you”, ucap Vio dengan memberikan kecupan kepada suaminya.
“Abigail, kenapa kamu berada di dalam. Pasti kamu sedang melakukan sesuatu ya”, ucap Adam dengan mulut lemesnya.
“Diamlah!”,peringatan Abigail.
“Milka, apakah kamu bisa ikut bersamaku ke dapur untuk memberikan camilan”, ajak Abigail dengan memberika. Kode kepada sang adiknya.
“Baiklah”, ucap Milka beranjak berdiri dan melangkah mengikuti Abigail.
“Ada apa kak?”, tanya Milka membuka kulkas.
“Apa kamu sudah memberitahukan kepada mereka soal Vio yang berada di sini?”, tanya Abigail.
“Sudah”, ucap Milka. Mata Abigail melotot menyoroti adiknya. Milka lalu tersenyum dan mengatakan bahwa ia tidak mengatakan kehadiran kakak iparnya karena sudah di beritahu oleh Vio waktu mengobrol membuat sarapan pagi. Milka juga sudah memberitahu kepada orang-otang di mansion.
Abigail menghembuskan nafas lega. Lalu Abigail bertanya dalam batin, “Apakah semua sudah diberitahu oleh Vio? Apakah wanita itu sedang mengerjaiku? Awas saja akan aku berikan hukuman lebih menyakitkan.
Abigail ikut bergabung bersama mereka dengan membawa camilan yang ada dalam kulkas. Lalu Abigail mengajak para pria ke ruang kerja membahas bisnis. Semua pria beranjak dari posisinya ke ruang kerja.
“Ada apa Abigail?”, tanya Adam ketika sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Aku mau membahas masalah musuh kita dan menyampaikan pesan dari istriku”, ucap Abigail.
“Apa itu?”,tanya Lucas.
“Apakah kalian sudah memberitahu kepada istri-istri kalian mengenai kembalinya Vio?”, tanya Abigail.
“Aku tidak memberitahukan kepada istriku karena setelah berkumpul di markas dia memberikan pesan singkat mengenai keberadaan dia”, jawab Lucas.
“ Berarti aku tidak tahu apa-apa malah dikerjain olehnya”, gummam Abigail.
Lucas dan sekitarnya yang mendengar gumaman Abigail dengan jelas menggoda dan mengejeknya.
“Wah, wanita itu lebih cerdik untuk mengerjai suaminya semenjak ia menghilang”, ejek Adam.
“Dia mulai berani setelah berpengalaman di luar sana”, ucap Daniel.
“Sudahlah kamu nanti bisa menghukumnya. Sekarang kita membahas masalah Willy dan partnernya”, ucap Lucas.
Sedangkan Vio di dalam kamar menghubungi Leon. Leon yang sedang bermain dengan putrinya harus menghentikan acara bermainnya untuk mengangkat nomor yang tidak dikenalnya.
“Hallo ini siapa ya?”, tanya Leon.
“Saya yang telah membantu anda keluar dari sel penjara. Saya wanita yang membantu kamu. Saya menghubungi anda mau minta bantuan”, ucap Vio.
“Apa yang bisa saya bantu?”, tanya Leon.
“Bisakah anda membuka lembaran lama milik keluarga anda mengenai dokumen masa lalu yang pernah dipegang oleh ayah anda bernama Courvien. Saya ingin tahu mengenai pria bertopeng. Jika anda bersedia maka saya akan menemui anda dikediaman kamu”, ucap Vio.
Leon mempertimbangkan ucapan Vio.
“Apakah kamu bisa menjelaskan siapa pria bertopeng itu?”, tanya Leon.
“Akan aku jelaskan di kediaman kamu. Sepertinya tempatmu lebih aman untuk aku bahas soal pria itu”, ucap Vio.
“Baiklah, nanti akan aku hubungi setelah aku selesai mengumpulkan semua datanya”, ucap Leon.
“Ok, aku tunggu kabar selanjutnya”, ucap Vio.
__ADS_1
Di ruang tengah Alika bersama sahabat-sahabatnya tengah asyik bertukar cerita tentang momen si kecil mulai lincah. Mereka terus girang melihat perkembangan anak-anaknya. Para pria juga ikut bergabung dan mengambil momen sesi foto untuk kenangan bersama walaupun ada yang terlewat dalam sesi foto itu. Vio yang berada di kamar malah sedang mencari data mengenai kerja sama Ellios di Dubai.