
Saddam kembali ke negaranya bersama Abraham. Saddam pergi ke mansion miliknya sendiri sebelum bertemu dengan Lucas. Saddam belum siap menemui putranya yang telah lama berseteru karena salah paham.
Sea hanya mengikuti suaminya saja. Sebenarnya hati Sea merindukan putra semata wayangnya namun Sea ingin menjaga hati Saddam saat baru tiba di Jerman.
Sea dan Saddam telah sampai di mansion setelah melalui perjalanan yang panjang dan memakan waktu. Sea membuka korden dan merasakan kembali akan masa lalu ketika Lucas masih kecil. Hati Sea terenyuh ketika mengingat itu semua.
Sementara Saddam hanya mengingat kepahitan setelah sekian lama terlupakan akan masa lalu yang dahulu pernah terjadi. Saddam merasa momen itu memberikan pukulan besar terhadap dirinya ketika kejadian perang saat itu.
Di sebuah gedung yang megah dan kokoh di tengah perkotaan kota Berlin saat ini Lucas sedang berbicara dengan Adam, Daniel, dan Abraham. Mereka sedang membahas tentang masalah pria misterius saat ini.
"Bagaimana pencarian informasi yang kalian dapatkan?", tanya Lucas.
"Kami belum mendapatkan apa-apa. Pria itu kemungkinan tertutup. Identitasnya sudah dia kunci. Kami akan menerobos data itu akan memakan waktu lebih dari satu bulan jika dapat", ucap Adam.
"Pria itu apakah kita mengenalnya diantara Damien, Leon atau bahkan diantara anak buah kita?", tanya Daniel.
"Menurutku bukan Damien bahkan Leon karena mereka setia kepada pihak kita bertahun-tahun. Kita tidak boleh terprovokasi oleh siapapun", ucap Abraham.
"Benar yang kamu katakan, kita harus benar-benar menyelidiki mereka semua", ucap Adam.
"So, kita bisa melibatkan mereka berdua Leon dan Damien", ucap Abraham.
"Jika begitu, kita mengumpulkan mereka semua di dalam markas", ucap Lucas.
"Bingo!", ucap Abraham.
Ketika mereka sedang membicarakan pria itu, dia sudah berada di balik pintu kerja Lucas dengan senyuman menyeringai. Dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Lucas. Dia pergi menuju mobil untuk menghubungi anak buahnya membuat rencana baru di mansion. Setelah itu dia pergi melajukan mobilnya.
Sedangkan Lucas menghubungi kaki tangannya untuk datang ke ruangannya.
"Hallo Beni, datanglah ke ruangan ku", perintah Lucas.
"Baik tuan", ucap Beni.
Beberapa saat baru menutup sambungan telepon Beni datang menghampiri Lucas dengan mengetuk pintu dengan keras. Lalu Lucas berada di dalam langsung menyuruhnya masuk.
"Masuk!", perintahnya dengan suara keras.
"Ada apa tuan?", tanya Beni.
"Saya ingin kamu menyelidiki pria misterius yang telah melakukan penyerangan di mansion ku", ucap Lucas.
"Baik tuan, saya laksanakan", ucap Beni.
Kali ini Lucas tidak ingin kecolongan soal musuh apalagi Ozzie yang berada di dalam tahanan yang sedang di selidiki oleh Steve di ruang interogasi.
"Apakah kamu tidak merasa bersalah soal pembunuhan keluarga Lorenzo?", tanya Steve.
__ADS_1
"Itu sudah konsekuen dari keluarga Lorenzo sebagai pembisnis", ucap Ozzie dengan menyeringai.
"Kamu benar-benar sakit jiwa", sinis Steve dengan mengendalikan emosinya yang saat ini ingin membunuh Ozzie yang wajahnya begitu tengil.
"Kamu akan membayar semua kematian orang-orang yang kau bunuh",dengus Steve dengan senyuman sinis.
"Kamu tidak perlu khawatir. Semua sudah impas dengan kejadian yang dahulu ku alami", senyum jahat Ozzie.
"Apakah masalah hak saham dari keluarga kamu yang tidak kau dapatkan dan malah diberikan oleh kelompok aliansi Lucas?", tanya Steve.
"Sungguh ironis kamu yang tidak mendapatkan apa-apa", senyum sinis Steve yang hampir membuat emosi Ozzie hampir membuncah.
"Diamlah, itu semua yang mulai kalian!!", geram Steve dengan mengeratkan kepalan tangan di bawah meja.
"Apabila kamu mengetahui kenyataan, kamu dan Cristhoper akan menyesal", ucap Steve dengan memajukan tubuhnya sambil tangan melipat di atas meja.
"Eisth..,bukan Christoper sih. Tetapi yang menyesal adalah kamu",ejek Steve.
"Kalau Christoper, dia hanya mencari untung saja sebagai benalu di samping kamu", ucap Steve.
"Kamu hanya sebagai kambing hitam oleh pria dibalik topeng itu", senyuman sinis Steve.
"Mungkin interogasi kita sampai di sini..." Steve menepuk pundak Ozzie.
"Baik-baiklah di tahanan jangan sampai terbunuh dengan menyedihkan", peringatan Steve dengan berlalu pergi meninggalkan Ozzie yang akan meledak emosinya. Steve yang telah berada di luar dan melihat lewat kaca jendela tersenyum menyeringai.
Penjaga sel tahanan sampai tersentak dengan teriakan Ozzie dan teman-teman tahanan lainnya.
Tatkala Ozzie sedang melampiaskan kemarahannya, kini Lucas sedang mencari tahu tentang pria misterius. Lucas masih menerka-nerka pria itu.
Berdasarkan informasi dari Beni menduga bahwa orang dibalik kekejaman ini adalah ayahnya bersama bala bantuan Leon ataukah Damien. Semua informasi yang di dapat membingungkan sehingga Lucas menghubungi Abraham yang tahu akan masa lalu yang pernah terjadi setelah hilang ingatan separuh nyawa di otak Lucas akibat insiden terdahulu.
Sesaat Lucas sedang melamun di kagetkan dengan suara deringan telepon genggamnya di sana tertera nama Abigail yang telah lama di tunggu untuk memberikan informasi yang di dapat olehnya.
"Sorry Lucas, aku baru menghubungi kamu. Aku mendapatkan informasi mengenai Raina. Dia ternyata di perintahkan oleh pria bertopeng itu. Aku juga sudah menyuruh Vio memberikan flasdishk yang telah ku program bersama Steve untuk mendapatkan data lebih lengkap. Aku hanya mendapatkan informasi itu saja", ucap Abigail.
"Aku juga mendapatkan flashdishk dari Vio yang telah lama ia kumpulkan mengenai informasi Raina. Kita bisa bahas besok", ungkap Abigail.
"Baiklah, besok kita berkumpul di markas", ucap Lucas.
"It's ok", ucap Abigail.
Lalu Lucas beranjak dari tempat duduk dan menghubungi sopirnya Raffael untuk mengantarnya pulang.
Sedangkan pria misterius itu tertawa terbahak-bahak melihat drama akan segera di mulai setelah mendengarkan informasi bahwa Saddam kembali lagi. Dia merasa senang dengan memutarkan kursi dan berteriak seperti orang kegirangan. Para anak buah juga ikut senang.
Sementara Raina menemui Aminah dan Daniel secara kebetulan di restoran steak. Raina menyapa Aminah yang sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
Raina berteriak, "Aminah!!", dengan memeluk tubuh Aminah yang sedang menikmati steak yang dia pesan.
"Apa kabar Min?", tanya Raina.
"Lepasin dulu lengan kamu dari leherku", ucap Aminah. Lalu Raina melepaskan lengannya dari leher Aminah. Sedangkan Daniel melihat keplasuan Raina membuat dirinya merasa geram.
"Tentu saja baik", ucap Amina dengan senyuman biasa.
"Wow, kamu terlihat berbeda Rain. Kapan kamu bisa berubah seperti ini? Lalu ngapain kamu ke Berlin Rain?", ucap Aminah sambil makan steak.
"Aku berubah sesuai fashion dan lingkungan. Aku merasa tidak berubah apa-apa. Mungkin cuman gaya fashionku saat ini modis. Aku ke sini ada projek", jelas Raina.
"Projek apa?", tanya Aminah.
"Projek untuk pemasaran produk yang akan dibuat di perusahaan dimana aku bekerja", ucap Raina dengan senyum cerianya.
"Syukurlah kamu semakin mandiri", ucap Aminah.
"Apakah kamu sudah mempunyai pasangan?",tanya Aminah sambil menyeruput lemon tea nya.
"Belum, aku masih lajang. Aku lagi fokus bekerja saja", ucap Raina.
"Pantesan aku hubungi selalu tidak aktif", ucap Aminah dengan nada menyindir.
"Sorry Min, aku sudah ganti nomor. Nomorku yang dahulu hilang bersama ponselku", ucap Raina.
"Sekarang kamu kaya dong", ucap Aminah.
"Kayaan kamu Min. Apalagi memiliki suami super duper terkenal di kalangan pengusaha. Ya kan kak Daniel", ucap Raina dengan mengedipkan mata kanan yang membuat Daniel merasa risih.
"Benar, aku setuju dengan pernyataan kamu Rain", ucap Daniel menahan emosi.
"Kapan-kapan kita ketemuan yum. Jalan bersama, aku kangen momen saat SMU dulu", ungkap Raina.
"Baiklah itu bisa diatur", ucap Aminah.
Pada saat mengobrol bersama Aminah, Raina mendapatkan pesan singkat dari bosnya.
**Bos Raina
Segeralah temui aku. Ada misi untukmu**.
Setelah membaca pesan singkat dengan mendengus, Raina berpamitan dengan Aminah dan Daniel untuk pergi dengan alasan akan menemui klien di sekitar daerah Berlin.
Daniel dan Aminah hanya berohria saja dengan senyum yang biasa di tampakkan.
Setelah punggung Raina menghilang, Daniel menghembuskan nafas kasar "ahhh.." begitu juga Aminah. Mereka sebenarnya sudah tidak nyaman lagi bertemu Raina. Namun apa daya Aminah harus berpura-pura dahulu sampai waktunya tiba menyadarkan Raina.
__ADS_1