Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 49


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit terbesar di kota Berlin, Alika sedang mengecek kandungan yang sudah memasuki enam bulan dengan di temani Lucas sebagai suaminya. Saat ini perutnya Alika sedang di USG untuk melihat sang jabang bayi yang begitu sehat. Alika terharu melihat calon anaknya yang begitu baik di dalam perutnya. Lucas yang berada di sisi kiri memberikan kecupan pada bibirnya. Alika tersentuh melihat anaknya.


"Lucas lihatlah anak kita. Dia begitu sehat"


"Iya sweety"


"Mrs. saat melahirkan nanti ingin sesar atau secara normal?", tanya Mrs. Agatha.


"Kalau bisa saya ingin melahirkan normal dok", jawab Alika yang masih melihat jambang bayi.


"Bagaimana dok?", tanya Lucas


"Dia baik-baik saja, tolong jaga istri anda jangan sampai telat minum vitamin dan hubungan bercinta anda harus di perhatikan. Masa kehamilan itu begitu rawan. Jangan lakukan yang berat-berat. Jika ingin melahirkan lancar ikutlah senam ibu hamil untuk mempermudah bayinya keluar dan rasa sakitnya tidak terlalu berlebihan", saran Mrs. Agatha.


"Thank you, dok", ucap tulus Alika.


Setelah selesai chek up bayi dan mendapatkan hasil USG, Lucas mengajak Alika ke taman sambil menikmati keramaian orang dan tentunya dalam pengawasan beberapa orang bawahannya untuk mengantisipasi hal-hal buruk.


Alika begitu senang melihat pemandangan di taman yang dipenuhi keramaian orang berlalu lalang dan berlarian anak-anak kecil. Alika mengusap perut dan terus berdoa untuk calon anaknya agar selalu sehat.


Senyuman Alika tidak pernah berhenti dari tatapan Lucas. Lucas yang memandang tanpa di sadari Alika begitu bahagia melihat senyuman yang terpatri di wajahnya.


"Sweety, apa kamu senang?"


Alika menganggukan kepala dan mencium pipi Lucas. Tetapi Lucas tidak puas lalu menarik tengkuk Alika untuk mencium lebih dalam. Lucas melepaskan dan menyenderkan kepala Alika di pundaknya dengan kaki bersilang menumpu kaki kirinya.


Aku berharap kita diberkahi kebahagiaan bersama dengan malaikat kecil kita. Aku ingin hidup bersama kamu sampai tua dan mau memisahkan kita.


Sementara Aminah sedang melakukan terapi yang ditemani oleh Daniel yang saat ini sedang mengambil cuti di tengah kesibukan pekerjaan hanya untuk mengantar istrinya terapi.


Selesai terapi Daniel menanyakan kondisi istrinya.


"Bagaimana dok untuk kemajuan pemulihan terapi jalan istri saya?"


"Begitu baik tuan, saya lihat kesungguhan istri anda membuatnya untuk terus berjalan terapinya begitu cepat. Biasanya orang yang habis dari koma dan Otot-ototnya mulai menegang atau kaku sangat lama. Dua,tiga tahun baru dapat berjalan kembali. Tapi ada yang cepat satu tahun namun harus menggunakan alat bantu jalan dulu", jelas dokter tersebut.


"Thank you dok", ucapan tulus dari Daniel.


"Oh ya, saya dapat informasi dari suster saya yang membantu istri anda terapi jalan, akhir-akhir ini mudah lelah, apakah mungkin istri anda sedang hamil?"


"Hamil?", tanya Daniel dengan dua alis mengerut dan menatap dokter dengan sebuah anggukan kepala.


"Sebaiknya periksakan saja untuk tahu lebih jelasnya"


"Thank you dok,saya permisi keluar dulu", pamit Daniel.


Setelah dari ruangan dokter, Daniel menghampiri Aminah yang penuh peluh dan wajah sedikit pucat dan membuka suara.


"Apa kamu kelelahan?"


"Ya aku lelah, biasanya aku itu dua jam minta tambah waktu lagi. Tapi akhir-akhir ini lelah baru satu jam", tutur Aminah dengan meneguk air mineral.


Setelah mendengarkan tutur dari Aminah, Daniel menduga perkataan dokter dan suster benar.


Jangan-jangan kata dokter itu benar.


Daniel kemudian bertanya kembali untuk memastikan jika dugaan mereka benar.


"Sweety, apakah kamu pernah telah bulanan di tahun ini"

__ADS_1


"Pernah! tidak hanya tahun ini saja. Dulu waktu aku SMP juga telat sampai tiga bulan dan mamah panik dan membawaku pergi ke dokter ternyata tidak apa-apa. Jadi jika aku dua bulan ini telat itu sudah jadi kebiasaan", jelas Aminah


"Kalau begitu untuk memastikan kita periksa ke dokter untuk memastikan sesuatu, sweety"


"Tidak usah, karena aku pernah mengalami", tolak Aminah


"No sweety, aku tidak mau kamu menganggap remeh soal itu"


Daniel beranjak dari duduk dengan menggendong tubub Aminah. Aminah terkejut sebab tanpa kata Daniel menggendongnya. Wajah Daniel saat ini terlalu serius setelah mendengarkan penjelasan Aminah.


Aminah yang berada di gendongan Daniel meminta untuk menurunkan dirinya ke kursi roda. Tetapi Daniel menulikan pendengaran dan terus berjalan melewati setiap lorong rumah sakit sampai ke dokter khusus ahli kandungan dan kewanitaan.


Aminah sangat malu dilihat orang sebagai pusat perhatian pengunjung rumah sakit tersebut.


"Permisi dok", ucap Daniel


"Silahkan tuan masuk", perintah dari dalam.


Daniel masuk ke ruangan yang tidak mengantri begitu banyak pasien menunggu, jadi Daniel tidak perlu mengantri dan mendudukan tubuh Aminah di kursi.


"Ada keluhan apa Mr?"tanya dokter perempuan tersebut.


"Saya ingin anda memeriksa istri saya"


"Silahkan tua, langsung saja istri anda berbaring di bangkar itu", ucap dokter.


Daniel menggendong dan membaringkan istrinya. Aminah berbisik di telinga Daniel.


"Aku itu tidak kenapa-napa Daniel?"


Tapi Daniel tidak menganggapi pertanyaan Aminah dan Daniel menggeser tubuhnya untuk mempersilakan dokter tersebut memeriksa Aminah.


"Bagaimana dok?", tanya Daniel.


Dokter tersebut menampakkan senyuman seulas setelah seperkian detik dokter tidak menanggapi pertanyaan dari Daniel.


"Lihatlah tuan, di rahim istri anda ada dua telur", ucap dokter tersebut. Lalu Daniel mendekat dan melihat USG di monitor dan dia terbelalak senang. Aminah yang melihat di monitor depan juga ikut terbelalak matanya karena terkejut bahwa ia sedang hamil.


Daniel begitu bahagia dan senang dengan memberikan kecupan di pelipis Aminah.


Tatkala kebahagiaan terpancar di wajah Daniel, saat ini Abigail juga merasakan bahagia juga. Kini Abigail mengajak Vio dan Haeun pergi ke taman bermain di sore hari.


Abigail tidak berhenti mengajak Haeun untuk bermain sampai lelah dan akhirnya si gadis mungil tersebut tertidur di pangkuan Vio dengan empengnya.


Abigail bersuara, "Vi, apa kamu memiliki cinta pertama?" tanyanya


" Aku memiliki cinta pertama di waktu remaja hingga saat ini, dia selalu di sampingku"


Abigail mendengarkan ucapan Vio tersenyum miris pada dirinya yang sudah mulai jatuh hati pada Vio dan melupakan Olivia.


"Siapa pria beruntung itu?", tanya Abigail.


"Oppa Jimmy"


"Oppa!", dengan wajah kaget yang terpatri pada Abigail.


Vio mengangguk sambil mengusap pilu di pelipis Haeun dengan tisu.


"Berarti kamu menyukai seorang kakek-kakek"

__ADS_1


"Kok kakek!", marah Vio dengan mata menyipitkan.


"Iya, oppa kan yang kamu maksud. Setahuku oppa bukankah nama kekek"


"Bukan, dia itu orang Korea namanya itu sama sebelas dua belas dengan member BTS. Bukan opa-opa tua!", kesal Vio


"Oppa itu panggilan kakak untuk laki-laki dari perempuan yang lebih mudah", jelas Vio


Abigail beroh ria.


"Kamu pacaran sudah berapa lama?"


"Sudah tiga tahun lebih", senyum Vio.


Tiga tahun lebih cukup lama juga.


Setelah selesai berbincang dan bekal yang dibawa habis, mereka kembali ke mansion membersihkan diri setelah seharian bermain.


Vio langsung melesat ke kamar Milka untuk menidurkan anaknya. Lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak butuh lama, Vio keluar dengan disuguhkan Milka yang sedang menggendong Haeun yang sudah bangun dari tidurnya.


"Vi, sepertinya Haeun lapar", ucap Milka.


"Sebentar, aku buatkan susu dulu, soalnya habis tiga botol tadi", ucap Vio mengambil botol dalam tas.


"Tolong jaga Haeun sebentar ya, Mil", ucap Vio kembali


"Baik, cepatlah kembali"


"OK", dengan kode jari berbentuk O.


Vio menuruni tangga menuju dapur membuat susu. Pertama yang dilakukan Vio membuat air panas dahulu. Sembari menunggu, Vio membersihkan botol-botol susu tersebut.


Saat sedang asyik membersihkan botol-botol dot tiba-tiba Mrs. Marline kepala dapur datang.


"Nona sedang apa?", tanyanya.


"Saya sedang membuat susu"


"Biar saya bantu", ucap Marline menawarkan diri.


"Tidak per...," ucapan Vio terpotong dengan suara Abigail dari belakang.


"Biarkan dia membantu kamu, aku sudah minta tolong padanya setiap kali kamu membuat susu aku menyuruhnya membantu kamu", ucap Abigail dengan melangkah ke lemari es untuk mengambil bir lalu membuka dan meminumnya.


"Ta..tapi.. "


"Tidak perlu tapi nona, itu tugas saya. Oh ya, saya masih ada air panas jika mau mensterilkan botol bayi itu nona. Biar air panas ini untukku simpan saja", ucap Mrs. Marlin.


"Ok"


Abigail yang melihat tingkah Vio sungkan tersenyum miring dibalik kaleng.


Beberapa saat kemudian Vio telah selesai menyiapkan susu untuk Haeun dan kembali ke kamar. Kemudian Mrs. Marlin melanjutkan pekerjaannya untuk mempersiapkan makan malam. Sedangkan Abigail pergi ke ruang kerja.


Di mansion yang tak kalah megah, kini Daniel sedang berhati-hati menjaga Aminah yang sedang mengandung benihnya. Aminah dibuat jengah sikap Daniel setelah pulang dari rumah sakit.


Dia saat ini sedang membuatkan susu hamil dan mengupas buah untuk Aminah. Tidak hanya itu, dia bertanya pada Adam hal-hal untuk menjaga ibu hamil muda. Karena saking senangnya Daniel yang menunggu begitu lama setelah insiden kecelakaan itu membuat dia terus siaga di samping istrinya. Aminah yang sedang menonton TV tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Daniel sebab Aminah terlalu pusing untuk menghadapi sikap overprotektifnya. Dia juga sempat terus mencium perut milik Aminah saat tiba di kediaman dengan mendudukkannya di atas ranjang sambil memberikan kata romantis kepada calon anaknya di perut Aminah.

__ADS_1


__ADS_2