
Dua minggu setelah kesembuhan Raiden. Lucas beserta rekan-rekannya berkumpul di markas membahas mengenai rencana menumpas Ozzie yang telah merugikan banyak orang. Denis juga ikut membantu dalam pelaksanaan diskusi. Denis bertugas seperti asisten menampilkan data untuk presentasi.
Saat akan memulai rencana ulang tiba-tiba Raiden membisikan di telinga Lucas yang sedang berdiri diujung meja sana untuk memberikan waktu meminta maaf kepada mereka agar suasana tidak canggung. Lucas menganggukkan kepala tanda menerima permintaan Raiden.
“Gaes aku meminta waktunya sebentar, sebelum kita membahas permasalahan mengenai Ozzie. Raiden ingin mengatakan sesuatu pada kalian”, seru Lucas.
“Silahkan Raiden”, ucap Lucas mempersilakannya.
“Aku mau meminta maaf pada kalian yang telah menderita, mungkin permintaan maafku atas perbuatan yang keji masa lalu kami tidak pantas untuk dimaafkan yang sudah menyakiti raga dan jiwa kalian selama aku bekerja dengan Ozzie. Begitupun dengan Johan sahabat kecilku yang telah terkubur di dalam tanah. Tapi aku akan tebus semua itu atas dosa-dosaku yang lalu bersama Johan meski dia di alam lain. Aku akan bantu kalian balaskan dendam untuk Ozzie yang telah merampas hak kalian di masa lalu. Sekali lagi maafkan aku", ucap Raiden dengan membungkukan badan.
Mereka tersenyum dan memaafkan.
“Kami memaafkan kamu, kita juga merasakan penderitaan yang dialami kamu. Kami juga ikut bela sungkawan atas kematian Johan”, ucap Adam yang diangguki oleh semuanya dan menampilkan senyum bersama untuk Raiden. Raiden sekarang begitu lega telah mengungkapkan semua unek-unek kepada mereka. Lucas yang berada di sampingnya menepuk pundak dan mengusap sambil memberi senyum. Raiden mengangguk dan memberikan tempat kepada Lucas kembali untuk memimpin rencana menumpas Ozzie bersama para krucul-kruculnya yang telah kelewatan kejam .
Lucas memulai membahas setelah acara basa basi tersebut.
“Kita mulai permasalahan mengenai Ozzie", ucap Lucas dan mereka mulai serius menatap data yang berada dilayar monitor besar itu.
"Lihat dari informasi yang didapat Ozzie memiliki aset yang begitu besar hasil kelicikannya. Usaha-usaha kecil yang dirintis oleh keluarga menengah saat ini banyak dibawah naungan Ozzie",jelas Lucas
"Benar, kamu Lucas. Ternyata kamu pintar membaca file itu dengan cepat", puji Raiden dengan berjalan mendekat layar monitor besar itu di samping kanan.
"Ozzie benar-benar pintar dalam siasat licik untuk mendapatkan banyak uang sampai membunuh mereka yang tidak bisa diajak kerja sama dengannya. Bahkan ada orang yang tidak tahu menahu permasalahan yang di perbuat anaknya selama di kasino hingga harta mereka yang dihasilkan ludes sampai terusir dari kediaman mereka. Keluarga itu bersembunyi di sebuah pedesaan yang jauh setelah anak laki-laki bungsunya ditinggal. Pria itu akhirnya naas terbunuh oleh tembakan yang dilayangkan anak buahnya saat memohon-mohon yaitu Johan temanku sendiri. Kelicikan Ozzie terlewat batas sampai Cristhoper sebagai rekan kerjanya hanya ikut-ikutan dan pada akhirnya mereka sama saja dengan ozzie", jelas Raiden.
"Dia Shyco tingkat dewa", umpat Daniel dan Raiden yang mendengarkan tersenyum saja.
"Jika dilihat dari semua file yang ku baca lebih baik kita menumpas dia dengan mengikuti permainannya. Dan kita seolah-olah meletakkan bahu kita dibawahnya sebagai hasil untuk menyerah kemudian kita ambil ujung tumpu menjadi senjata yang tajam”, ucap Lucas
“Benar, kita ikuti permainan namun bukan melebarkan perang tapi dunia bisnis untuk melindungi keluarga kalian. Siasat kita harus lebih cerdik dari Ozzie terutama kamu, Lucas dan Damien. Kecerdasan kalian dalam membaca musuh sangat jeli. Tapi dalam rencana ini kita harus menyusupkan mata-mata di arena dermaga untuk sebagai karyawan baru”,ucap Raiden.
“Itu sangat bahaya",bantah Adam
“Tapi jalan ini untuk menaklukkan wilayah mereka”, ucap Raiden
“Benar kata Raiden”, ucap Abigail.
“Di area dermaga sana, kita bisa menemukan banyak informasi. Tidak hanya dermaga saja, kita juga menyusupkan dua orang di markas Ozzie. Paling tidak ambil dari anggota CIA yang pintar dalam ilmu teknologi untuk mengoperasikan komputer dan dia tulus berada di pihak kita", saran Raiden
“Begitu juga wanita untuk kita taruh sebagai penggoda Ozzie. Namun harus hati-hati dan dipikirkan matang-matang agar mudah mendapatkan informasi pembicaraan Ozzie terhadap para klien", ucap Raiden kembali dengan berkacak pinggang.
" Jika wanita kita bisa menempatkan Kana", ide Daniel.
"Itu akan sangat bahaya", ucap Damien.
"Aku memiliki teman, dia bekerja di club malam dan banyak meniduri laki-laki berpangkat tinggi. Dia bernama Lucy", ucap Adam
"Wahh, apakah kamu pernah tidur dengannya?", goda Daniel.
__ADS_1
"Diamlah!", ketus Adam sambil berdehem dengan mata melotot
untuk menghentikan Daniel menggoda dirinya.
Orang-orang yang berada di sekitarnya terkekeh melihat Adam yang kepergok dengan ekspresi salting.
Ditengah diskusi mereka Abraham datang untuk ikut andil. Lalu diskusi itu dilanjutkan kembali.
“Halo gaes, sepertinya aku banyak tertinggal rencana kalian”, senyum Abraham sambil jalan menuju meja diskusi itu dengan pakaian formal dan dilapisi mantel.
“Kau belum terlambat”, ucap Damien dengan tawa yang diikuti lainnya.
“sampai mana rencana kalian?”, tanya Abraham.
“Kita menyusun tempat untuk menempatkan mata-mata sebelum menyerang”, ucap Lucas.
“Bagaimana pesta politik kamu bulan lalu?”, tanya Abigail.
“Yap, lancar dan dia termakan omongan aku”, senyum Abraham.
“ Saat ini dia mau menjalin kerja sama tapi aku harus diskusikan dulu kepadamu, Lucas, walaupun dia kelompok teri yang termakan omongan tapi otaknya lebih cerdik memainkan trik dibalik layar.
“Benar, yang kamu katakan Abraham", Raiden ikut menimbrung.
“Kita kembali ke masalahan dahulu mengenai Ozzie", ucap Lucas.
Abraham melihat konsep peta itu yang tergeletak diatas meja dengan memuji, " wao! konsepnya begitu rinci man. Sangat bagus, itu pikiran yang matang sebelum mengibarkan perang dan mengangkat senjata”, senyum Abraham.
“No, no, ini berkat kalian juga. Tanpa kalian aku tidak akan bisa menyusun seperti ini”, ucap Raiden dengan malu karena pujian yang dilontarkan padanya.
Sementara Tasya berada di kampus sedang lemah karena tidak ada Denis untuk di goda. Dia sudah melemparkan chat kepadanya namun tidak terbalaskan.
Angel yang melihat Tasya sedang galau lalu menghampirinya dengan duduk disamping Tasya yang berada di lorong.
“Ada apa Sya, kok lemes gitu?”, tanya Angel sambil meletakkan kantong kresek yang berisi camilan yang ia beli di kantin.
“Aku lemes karena tidak ada yang aku berikan perhatian. Dia pergi kemana ya?”, ucap Tasya dengan lemah.
“Maksud kamu Denis”, ucap Angel dan diangguki Tasya yang kepalanya ditaruh diatas meja.
“Kamu tinggal kabarin Tasya, sekarang bukan jaman old tapi now. Teknologi itu sudah canggih dan praktis tanpa harus kirim surat lewat kantor pos bebeb”, omel Angel.
“Aku tahu ngel, semua sudah aku lakukan tapi dia tidak membalas chat dan mengangkat teleponnya”
“Sudah tidak perlu lemas gitu, masih banyak cowok menunggu dibelakang”
__ADS_1
“Benaran Ngel, tapi aku tidak merasa ada cowok mengantri di belakangku”,
ucap Tasya dengan ekspresi idiotnya
“Ada Sya”
greget Angel
Tasya mencoba menoleh kebelakang tapi nihil tidak ada yang mengantri hanya orang-orang yang berlalu lalang.
“Aku benaran gara-gara kamu, pulang-pulang kulitku jadi keriput”, greget Angel sambil menunjukan bagian keriput diwajahnya.
“Tinggal di laser Ngel”
“bodo amat”
“Ngel marah kamunya”
“Bodo”, sambil membuka keripik dan mengunyah dengan membuang muka. Tasya berusaha untuk membuat Angel tidak marah lagi kepadanya. Lalu mereka tertawa bersama. Dan Angel mengumpat di depan Tasya dengan mengatakan, “idiot”. Sedangkan Tasya menanggapi dengan santai, “biarin”, sambil mencomot jajanan Angel.
Tasya memiliki keteguhan untuk mencari pengganti Denis. Saat ada mahasiswa baru Tasya memulai menggoda. Dia bernama Azril yang baru saja mengikuti MOS lulusan dari SMU N Nusa 45.
Tasya berjalan dengan bertingkah seperti anak kecil sambil bergumam, “aku akan cari pria tampan pengganti Denis walaupun mahasiswa baru sekalipun”, dengan bersenandung lagu ceria.
Ketika melewati anak-anak MOS di lorong, Tasya menemukan pria tampan itu sedang berbicara dengan kakak senior salah satu teman Tasya di satu jurusan. Tasya menghampiri dengan ikut menimbrung pembicaraan mereka.
“Kalian sedang apa?”, tanya Tasya.
“Eh kamu Sya, ngapain ada di sini?”, tanya temannya satu jurusan
"Aku tadi tidak sengaja mataku kena silau dari jauh saat aku berjalan menyusuri lorong ini. Eh ternyata ada anak ganteng di depan kamu Put", ucap Tasya dengan mata genit. Azril yang mendapatkan perilaku genis dari seniornya menjadi bergidik ngeri. Azril hanya memberi senyum paksa saja sebagai tanda sopan untuk seniornya.
Tasya menyodorkan tangannya dengan menyapa, "Hai, namaku Tasya", senyumnya dan Azril membalas sebagai bentuk kesopanan.
"Nama saya Azril", ucapnya meski belum ditanya tapi Azril peka terhadap para gadis seperti itu.
"Hallo Zril", ucap Tasya yang langsung menyambar lengannya tanpa izin malah menampilkan unjuk gigi. Azril yang berada di sampingnya hanya pasrah dan menggeleng kepala.
Saat Putri belum selesai mengobrol seputar peraturan di MOS untuk ketua tim. Tasya menariknya pergi dan Putri kesal dengan menggeleng kepala melihat teman satu itu.
"Zril kamu tampan sekali tidak seperti kak Denis", curhat Tasya.
"Denis itu siapa kak?", tanya Azril.
"Dia itu pria yang jelek pokoknya", ucap Tasya
"Jika jelek, kenapa kakak kesal begitu?"
__ADS_1
"Udahlah gak perlu bahas itu, kita bahas lainnya. Seperti rencana masa depan kita atau nantinya", kekeh Tasya sambil berjalan mencari tempat duduk dan masih asyik merangkul lengan Azril yang begitu pasrah.
Azril menjadi teringat dengan temannya yang selalu terus mengikuti yaitu Aminah. Sekarang dikampus mendapatkan senior yang mirip dengannya sampai Azril menepuk jidatnya sambil berkata dalam hati, "sungguh takdir selalu mempermainkan manusia dan dunia itu sempit untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang unik".