Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 68


__ADS_3

Sepulang dari rumah Saddam, Kini Alika sedang bersenandung menidurkan Sean. Usai menidurkan Sean, Alika turun dari kamar menuju dapur untuk bergabung menata makanan di meja. Namun hidangan itu sudah tertata rapi di atas meja. Lalu Liana yang melihat Alika berdiri di ruang makan memanggilnya.


“Alika!”, panggil Liana.


“Kamu kenapa berdiri di sana sayang?”, tanya Liana.


“Saya ingin membantu ternyata semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja aunty. Jadi Alika bingung mau membantui aunty Liana”, ucap Alika dengan tersenyum dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


“Iya nak, semua sudah tertata rapi berkat Mrs. Margareth dan lainnya. Jadi hidangan cepat tersaji. Aunty saja hanya membawa menu hidangan terakhir yaitu nasi”, ucap Liana dengan senyuman hangat.


“Bagaimana kalau kita menunggu para pria pulang dengan duduk di ruang tengah? Agar pert kita tidak meronta melihat makanan di atas meja yang sudah tersaji”, tawar Liana.


“Baiklah aunty, itu ide yang bagus”, ucap Alika.


Ketika mereka menuju ruang tengah, Raymond yang berada di balik pintu kemudian keluar melihat situasi aman dan sepi. Lalu Raymon menuju ke ruang makan tetapi Mrs. Margareth datang di waktu kurang tepat sehingga Raymond mengurungkan niatnya untuk menaruh obat ke dalam minuman milik Alika dan Raymond kembali ke posisi dengan bersembunyi di dalam kamar mandi dekat dapur.


Sedangkan Alika dan Liana baru duduk santai beberapa menit, Lucas dengan lainnya telah kembali dengan wajah lelah. Lalu Alika beranjak menyapa suaminya dan membantu mengambil alih tas cangklongnya.


“Uncle, sudah kembali?”, ucap Alika.


“Iya sweety, kamu duduk di sana pasti sedang menungguku”, ucap Lucas.


“Iya, kami menunggu kalian kembali pulang. Soalnya kami sudah tidak sabar untuk mau makan malam. Perut kita sudah keroncongan”, ucap Liana dengan mengusap perutnya.


“Kalian bisa makan dahuluan”, ucap Lucas.


“Kami ingin menikmati makan malam dengan suasana kekeluargaan”, ucap Alika.


“Bingo, aunty sependapat dengan keponakanku yang pintar ini dan begitu pengertian”, ucap Liana, membuat orang disekitarnya terkekeh.


“Sudah obrolan kita dahulu. Sekarang kita menuju ruang makan”, ucap Abraham.


“Benar kata daddy”, ucap Denis.


“Kalian tidak membersihkan badan dulu”, ucap Liana.


“Tidak, kami juga sudah keroncongan karena lapar. Kami bebersih nanti saja usai makan”, ucap Abraham.


“Kalau begitu kita makan”, ajak Liana dengan menggandeng lengan suaminya dengan diikuti Lucas, Alika, dan Denis. Mereka menjatuhkan bokongnya di kursi lalu Liana membantu mengambilkan nasi untuk mereka dengan dibantu Alika mengambilkan lauk pauk. Sedangkan Raymond yang masih berada di kamar mandi merasa suntuk dan ingin segera keluar apabila tidak pas pasan dengan para pelayan sialan yang terus wara wiri sudah berada di luar.


Raymon menyesal dengan aksi bodohnya. Lain kali ia akan menyuruh anak buahnya untuk menyelinap masuk memberikan obat di atas minumannya Alika.


Sementara Abigail masih melakukan pencarian soal Vio di sela-sela kerjanya dalam menangani kasus pembunuhan. Namun dia tidak pernah menemukan jejak Vio. Abigail sampai menduga bahwa si penculik itu Raina.


Abigail merasa lelah setelah seharian bekerja sambil mencari jejak Vio bersama Steve.


Lalu Abigail mengajak Steve mampir di sebuah restoran untuk mengisi perut yang terasa keronconga. Secara kebetulan Abigail melihat Raina sedang makan malam bersama Aminah. Kemudian Abigail menghampiri mereka bersama Steve dengan saling memberikan kode untuk mencerca persoalan Vio.


“Hai Min!”, sapa Abigail.


“Hai”,sapa Aminah.


“Apakah kami boleh ikut bergabung makan bersama di sini?”, tanya Abigail.

__ADS_1


“Tentu boleh”, ucap Aminah.


Raina yang berada di depan Aminah memandang ketampanan Abigail sejak ia melihat di restoran ketika bertemu dengan Vio.


Abigail yang berada di antara Aminah dan Raina bertanya nama sahabatnya yang telah berkomplotan dengan penjahat.


“Aminah, apakah kamu tidak ingin memperkenalkan dia kepada kami”, tanya Abigail dengan melirik Raina.


Raina yang mendengarkan pertanyaan itu langsung mengambil tangan Abigail untuk saling bersalaman tanpa izin.


“Hallo aku Raina”, ucapnya dengan senyum semanis-manisnya.


“Hai aku Abigail dan di depanku adalah Steve”, ucap Abigail dengan senyum di paksakan dengan melepaskan genggaman tangan Raina yang merasa jijik.


“Hallo”, sapa Raina.


Lalu Abigail memanggil pramusaji untuk memesan menu makanan dan pramusaji wanita itu datang membawa buku menu untuk diberikan kepada pelanggan.


“Silahkan tuan, dipilih menu sajian yang kami hadirkan di restoran ini”, ucap pramusaji wanita.


“Saya pesan omlete dan teh hangat saja”, ucap Abigail.


“Saya beef steak special dan orange jus”, ucap Steve.


“Apakah ada lagi yang mau di pesan nona?”, tanya parmusaji wanita.


“Tidak, mbak. Makasih”, ucap Aminah.


“Kalau begitu silahkan di tunggu tuan”, ucap pramusaji wanita itu dengan berlalu pergi.


“Apa kabar kamu Min?”, tanya Abigail.


“Baik Abigail”, ucap Aminah.


“Oh ya, ngomong-ngomong Vio sudah di temukan belum?$, tanya Aminah.


Abigail yang mendengarkan persoalan Vio dari bibir Aminah begitu pas sekali untuk mengulik penculikan yang dilakukan oleh Raina dengan atasannya yang dianggap begitu misterius. Abigail menatap Steve untuk mulai aksinya.


“Belum Min, dia diculik dengan orang yang sudah ahli sepertinya. Aku khawatir jika dia dibunuh dan tidak ditemukan jasadnya”, ungkap Abigail.


“Kasihan sekali Vio. Padahal dia masih harus merawat Haeun”, ucap Aminah.


“Iya Min, sekarang Haeun terus menangis seperti sedang mencari seseorang yang selalu merawat dirinya”, ungkap Abigail.


“Itu benar Min, kami sudah mencari dia kemana-mana sampai masuk ke dalam hutan Min”, ucap Steve.


Raina yang berada di tengah pembahasan mengenai Vio merasa tidak nyaman sehingga dia beranjak izin ke toilet.


“Gaes, aku mau ke toilet dulu. Kebelet banget”, ucap Raina.


“Ya, jangan lama-lama Rain”,ucap Aminah.


Seraya Raina pergi, Abigail berbicara dengan Aminah tentang Raina.

__ADS_1


“Min, kamu kayaknya begitu dekat dengan Raina”, ucap Abigail.


“Oh itu, waktu SMU dia sahabatku sekarang entahlah. Semuanya telah berubah. Aku mendekatinya untuk mencari informasi kejahatannya saja”, ucap Aminah.


“Aminah tadi kami sengaja ya, ngomongin tentang Vio”, ucap Steve dengan menyeruput orang juice.


“Hehehe, tahu aja kamunya”, cengenges Aminah.


“Thanks kamu tadi mau membahasnya”, ucap Abigail dengan mmenikmati omletenya.


“Aku tadi ingin menyinggung perihal Vio. Namun aku tidak tahu mau di mulai dari mana”, ucap kembali Abigail.


“Tenang saja, aku akan bantu kalian”, senyum Aminah yang mempunya segalah kelicikan melebihi dari Raina.


Kini Vio yang sedang dicari sedang berlatih bela diri dengan anak buah dari Joni. Vio bersungguh-sungguh untuk merubah segala penampilan untuk meringkus semua penjahat yang selama ini menginjak harga dirinya dan nyawanya.


Vio terus bertekad sampai darah menetes. Dia tak akan menyerah untuk mendapatkan kehidupan damai bersama Haeun di masa depan tanpa di hantui oleh orang-orang yang ingin melukai dirinya maupun Haeun.


Ketika Vio sedang menendang dan meninju tiba-tiba Joni datang dan menyuruh berhenti berlatih dengan membawa air mineral satu botol dengan ukuran sedang.


“Berhentilah berlatih, tidak baik di frosir terus menerus. Badan kamu akan cepat lelah. Bukannya kuat tapi malah jadi letoy karena keberatan berlatih. Minumlah dahulu, saya bawakan minum untuk kalian”, ucap Joni.


Vio berhenti berlatih bela diri dan mengambil air minum yang dibawakan oleh Joni. Vio duduk di lantai dengan ditemani Joni dan Alam.


“Bagaimana latihan kamu? Apakah kekuatan kamu meningkat?”, tanya Joni.


“Ya, aku memiliki tenaga lebih dan badanku seperti lumayan enteng”, ucap Vio sambil meneguk air hingga setengah tandas.


“Bagaimana latihan Vio, Alam?”, tanya Joni.


“Dia sudah bisa beradaptasi dan energinya meningkat setelah berlatih terus menerus”, ucap Alam.


“Syukurlah, semoga ini bermanfaat untukmu ke depannya”, ucap Joni.


“Ngomong-ngomong kamu akan meringkus penjahatnya?”, tanya Joni dengan ekspresi khawatir.


“Ya, aku akan meringkus mereka dengan semua latihan yang sudah ku pelajari”, ucap Vio.


“Baiklah, jika itu keputusan kamu. Namun ingat, kekuatan kamu belum setinggi kekuatan seperti Lucas, Abigail dan Alam”, ucap Joni.


“Kamu harus menggunakan otak licikmu untuk melawan mereka”, saran Joni.


“Baiklah tuan”, ucap Vio dengan semangat sambil memberikan tanda hormat seperti tentara yang sedang di kasih petuah oleh komandannya. Joni dan Alam tersenyum sampai Alam mengusap kepalanya karena gemas.


Selama Vio berlatih dan tinggal bersama Joni dan Alam. Alam merasa bahwa hatinya mulai ada buih cinta terhadap Vio. Alam merasakan bahagia setelah sekian lama mengurung niatnya untuk jatuh cinta kembali dengan wanita. Tetapi sekarang dia termakan omongannya sendiri. Alam mulai merasakan jatuh cinta setelah sekian lama di khianati oleh kekasihnya yang f*ck.


Sedangkan Abigail masih terus menunggu kabar dari Vio sembari memantau aktivitas Wily yang terus bersikap aneh saat pertemuan pemilihan politik untuk menduduki jabatan.


Wily kini sedang merasakan jabatannya akan dipilih sebagai anggota DPR tetapi dibalik itu Wily telah menyuap beberapa petinggi juga rekan kerja yang sudah memiliki jabatan di kancah politinya.


Abraham yang sejak lama memantau tertawa sinis melihat senyum licik dari Wily. Ketika Wily sudah menerima jabatan, dia akan berbuat licik dengan menyalahgunakan kekuasaan untuk menghancurkan perusahaan milik anggota Lucas yang telah lama ia incar untuk keuntungannya. Tetapi kelicikan Wily akan terbongkar jika dia tidak berhati-hati dalam bekerja karena setengah jalan kariernya dipantau oleh Abraham yang notabenenya di pihak Lucas yang belum diketahui oleh Wily.


Raymon yang masih di kamar mandi akhirnya bisa terbebas setelah menunggu tiga jam untuk mendapatkan kemanan. Raymond kini pergi melewati pagar agar tidak ketahuan oleh para penjaga yang mengenalnya lewat belakang yang tidak terpantau CCTV yang sudah ia rusak.

__ADS_1


Sementara Alika dan Lucas sedang bermadu kasih setelah menenangkan Sean untuk tidur hingga mereka terlelap saling memberikan kecupan hangat dan memeluk satu sama lain sampai menjelang pagi.


__ADS_2