
Saat ini Abraham sedang menghadiri pesta milik perdana menteri. Di sana dia tidak hanya akan menikmati pesta namun untuk berbaur bersama para politikus untuk mengorek informasi baik tentang Ozzie maupun Wily.
Ketika dia sedang mengamati orang-orang disekitar dalam keramaian pesta sambil menikmati wine, mata Abraham menemukan sesuatu ikan besar dengan sudut bibir terangkat sinis dan bergumam menyebut nama pria itu yaitu Wily.
Abraham mencoba mendekati Wily yang sedang bergurau bersama para politikus di sudut sana dengan senyum sapa dan santun.
"Hallo apa kabar pak Hendrik?” sapa Abraham yang masih betah memegang gelas berisi wine. Hendrik menoleh sumber suara begitu juga lainnya yang di sekitar Hendrik.
"Hallo Mr. Abraham", sapa balik darinya dengan menyodorkan tangan dan senyum sapa.
"Mr. Abraham ternyata diundang juga ke sini?", tanya Hendrik
"Yap", jawab singkat dengan senyum palsu.
"Saya akan kenalkan pada kalian, siapa Mr. Abraham ini. Dia itu orangnya kompeten..," ucap Hendrik yang terpotong dengan suara Abraham yang berpura-pura sungkan dan malu dengan mengatakan, “bisa saja”, senyum Abraham sambil terkekeh yang diikuti lainnya.
“Memang benar, jika Mr. Abraham ini orang yang kompeten dan profesional hingga menghasilkan suatu yang besar.. “, puji Hendrik si tua berambut putih dengan wajah dihiasi kacamata minus.
“Wah, Mr. Abraham benar-benar hebat”, nimbrung Wily dengan senyum.
“Iya, bagaimana gak hebat? Dia punya bangunan resort sampai luar negeri.. “, puji kembali dari bibir Hendrik.
“Bisa saja bapak ini”, ucap Abraham dengan meminum wine untuk membasahi tenggorokan.
“Oh ya, saya lupa memperkenalkan kalian pada Mr. Abraham”, terang Hendrik.
“Perkenalkan bapak-bapak ini Mr. Abraham. Dia bapak Tio yang ingin mencalonkan diri sebagai DPR”
__ADS_1
“Salam Mr. Abraham”, sapa Tio dengan senyum.
“Lalu sebelah bapak Tio itu, Mr. Wily dia juga sama hebatnya dengan Mr. Abraham. Dia itu memiliki hotel di California dan sedang mengembangkan potensi daya manusia untuk pembangunan resort juga dimana-mana”
Wily tersenyum dengan mengangguk sebagai salam sapa.
“Dan satu ini yang berada di samping Mr Abraham, dia adalah dokter Randy, dia juga ingin mencalonkan dirinya dalam kandidat politik tapi dia masih proses. Dia memiliki klinik farmasi,kapan-kapan bapak bisa minta bantuan darinya baik sakit ataupun obat”,
“Salam kenal Mr. Abraham”, sapa Randy.
Hendrik memperkenalkan semua orang yang sudah ia kenal dengan pujian yang berlebihan. Abraham sebenarnya tidak begitu peduli dengan bisnis mereka, tapi kali ini dia membutuhkan untuk mengorek informasi mengenai pria yang berada di depan matanya. Tapi baginya itu adalah awal yang bagus untuk mendekati musuh yang selama ini hanya memerankan di belakang layar. Abraham saat ini begitu senang memasukkan musuh dalam perangkapnya.
Malam hari di kota Berlin, Lucas bersama rekannya kembali ke rumah dengan ekspresi lelah. Saat ini Lucas sedang mengemudikan mobil mengantar Abigail menuju ke rumahnya sebab mobil milik Abigail terpakir di markas CIA karena jauh untuk kembali ke markas. Sedangkan Denis ikut kembali ke mansion milik Lucas untuk tempat menginapnya.
Di tengah perjalanan mereka tiba-tiba dikejutkan seorang pria yang terjatuh di depan mobil sedan milik Lucas dengan bercucuran darah. Lucas, Abigail, dan Denis turun dari mobil untuk menolongnya ke rumah sakit. Saat melihat wajahnya mereka terkejut kecuali Denis sebab dia tidak mengenal pria itu.
“Tolong!”, suara Raiden minta tolong dengan tenggorokan tercekat. Lucas kemudian membantunya dengan bantuan Abigail untuk memasukkan ke dalam mobil di jalanan yang tidak begitu ramai dan dibawah sorot lampu termaram. Denis ikut membantu dengan membukakan pintu. Setelah selesai memasukkan Raiden, Lucas dan Abigail masuk kembali dan membawa ke rumah sakit tapi Raiden menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, jika tidak mau ke rumah sakit, kalau begitu ke rumahku saja Lucas”, ucap Abigail yang diangguki Lucas dan melajukan mobil dengan sedikit kecepatan agar segerah diobati dengan pertolongan pertama.
Lalu Lucas meminta Denis untuk menghubungi dokter Mark yang telah begitu dipercaya sekaligus sahabat dirinya. Denis menganggukkan kepala dan mengeluarkan ponsel lalu mendeal up no Mark.
Mark yang berada di ruang kerja rumah sakit dan sedang membaca catatan medis para pasien mendengarkan suara deringan ponsel lalu dia mengangkat.
“Hallo, ini siapa?”,
“Hallo, Mark, aku Denis. Aku mau minta tolong segeralah ke rumah Abigail. Ada pasien yang terkena tembak. Pokoknya segeralah datang, dia membutuhkan pertolongan kamu”
__ADS_1
“Baik, aku akan segera kesana”
Mark langsung bergegas membawa alat medis yang diperlukan dan dimasukan ke dalam tas. Kemudian Mark memanggil asisten bahwa hari ini dia pulang awal setelah menangani pasien di luar rumah sakit dan asisten itu mengangguk kepala tanda mengerti.
Lucas dan Abigail membaringkan tubuh Raiden di kamar tamu. Setelah membaringkan tubuhnya, Lucas mencoba mengobati bagian yang bisa dilakukan pertolongan pertama. Lalu Lucas membersihkan diri akibat keringat lengket dan darah Raiden yang tertempel baik di baju ataupun di bagian tubuhnya. Tatkala Lucas sedang mandi Abigail mencoba membuka baju Raiden yang telah belumuran darah kemudian menutupi dengan selimut dan ditinggalkan untuk pergi ke kamar membersihkan diri. Sementara Denis menjaga Raiden selama mereka mandi dan bergantian.
Beberapa lama kemudian Mark telah tiba di mansion milik Abigail dan memencet bel, “ting tong__”, Abigail membuka pintu saat mendengar suara bel ketika baru menuruni tangga di tengah.
Kemudian Abigail menyuruh Mark masuk dan langsung membawanya ke kamar tamu. Mark terkejut siapa sosok orang yang terbaring? Lucas yang melihat ekspresi Mark lalu menjelaskan saat mengobati Raiden..
“Akan aku jelaskan. Obatilah dia, aku butuh informasi darinya”, ucap Lucas yang bersender di dinding.
“Ok”,Mark lalu mengeluarkan alat medis yang dibawa dari rumah sakit sambil mendengarkan cerita dari Lucas.
“Kami bertemu di tengah perjalanan saat akan kembali ke rumah. Tiba-tiba dia mengetuk dari bagian depan mobil dengan menabrakan diri ke mobil kami. Untungnya aku mengemudikan mobil tidak kecepatan tinggi dalam mode pelan. Dia berteriak meminta tolong dengan wajah lebam dan di bagian dada dan lengannya terkena tembakan dengan lumuran darah begitu banyak. Tapi kami saat bertanya dia sudah pingsan. Entah kenapa pikiran aku menuju kepada Ozzie begitu juga Abigail”
“Dia benar-benar gila Lucas”, umpat Mark.
“Dia amat beruntung, pelurunya tidak tembus sampai jantung sehingga bisa tertolong. Untuk sementara dia tidak boleh terlalu banyak bergerak. Aku akan menyuruh asisten aku untuk mengirimkan infus. Tunggulah sebentar. Mungkin besok dia akan bangun”,jelas Mark
“Thanks Mark, malam-malam mau berkorban ke sini padahal kamu sedang sibuk”, ucap Abigail dengan membawakan wine.
“Aku hari ini tidak sibuk, aku tidak begitu banyak mengurus pasien”, ucap Mark. Mereka meminum wine yang disediakan oleh Abigail.
Sementara Ozzie saat ini sedang mengamuk kepada bawahannya yang tidak becus bekerja untuk membunuh Raiden. Para bawahan ketakutan dengan menundukkan kepala. Wajah dia memerah karena emosi, semua barang yang ada di markas ditendang. Cristhoper yang berada di dekatnya hanya membiarkan Ozzie mengamuk sebab jika Cristhoper berbicara sedikit dia pasti kena amukan dan bisa saja dibunuh olehnya. Semua orang di markas hanya mampu diam dan melihat Ozzie marah besar dan menembakan ke arah salah satu anak buahnya yang tersungkur sebagai pelampiasan kemarahannya.
Wily yang baru saja dapat babak jacpot permainan sekarang mendengarkan bahwa Raiden terbunuh yang baru saja bergabung menjadi anggotanya untuk membalas dendam para mafia itu. Wajah Wily mulai suram dan memikirkan cara yang lain untuk mengadu domba mereka.
__ADS_1