
Di siang bolong, Axel baru terbangun dari tidurnya setelah mengalami mabuk semalam. Axel sedang meregangkan otot setelah tidur lamanya dengan kepala masih pusing. Lalu dia beranjak dan duduk dengan bersender di kepala ranjang.
Sementara Gilang sedang membuat soup untuk Axel sebagai pereda mabuk semalam. Setelah selesai siap saji soupnya, Gilang membawakan ke kamar miliknya dan membangunkan Axel. Ia membuka dengan membawa nampan di tangan kirinya lalu tangan kanan membuka, “cklek”, Gilang masuk dan ternyata ia melihat Axel sudah bangun.
Dia mengatakan, “syukurlah, jika kamu sudah bangun. Apabila belum, aku harus membangunkan kamu dengan cara lain andaikan kamu sulit dibangunkan”, dengan meletakkan nampan di samping ranjang diatas nakas.
“Makanlah, sudah aku siapkan soup untukmu sebagai obat pereda mabuk”, ucap Gilang lalu pergi ke sofa yang berada di kamarnya. Lalu Axel mengambil makanan yang telah disiapkan oleh Gilang.
“Bro untung kamu mabuk pas hari libur, jika tidak sudah aku tinggal dan tidak memperdulikan kamu”, ucap Gilang mengambil handphone di atas meja di dekatnya lalu memberikan pesan untuk Raina.
“Thanks Lang jika tidak ada kamu. Entah akan seperti apa aku di sini sendirian”, ucap Axel sambil menikmati soup.
“Makanya, cepatlah move on. Semalam nyokap kamu nyariin terus. Apabila dia tidak nyariin kamu dengan suara nada terakhir sudah aku tinggal tidur Xel”, ucap Gilang.
“Iya, aku sudah bertekad untuk move on, namun apa daya, hati ini tetap sulit untuk melupakan dia. Sepertinya aku harus meninggalkan negara ini dan kembali ke rumah grandmaku yang berada di Perancis. Mungkin di sana dengan kesibukan kuliah dan kerja aku bisa melupakan rasa sesak ini”, ucap Axel dengan menaruh soup yanh telah habis setengah mangkuk dan segelas air putih.
“Aku bakal kehilangan kamu. Sahabat satu-satunya sejak duduk di bangku kelas satu SMP N lalu pindah ke sini kembali menjadi anak baru di sekolahku begitu saja akan pergi. Apalah daya aku melepaskan kamu, tetapi ini jalan yang baik untuk bisa kamu move on bro”, ucap Gilang beranjak dari berbaring di sofa dan memposisikan tubuhnya duduk dengan kaki bersilang.
“Tenang saja, aku tidak berhenti untuk jadi sahabat kamu”, ucap Axel dengan beranjak dari ranjang dan akan pergi ke kamar mandi.
“Baguslah, jika kamu selalu setia mengenai persahabatan kita”, ucap Gilang.
Ketika mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Farhana datang dengan suara teriakannya.
“Kak Gilang!”,
“Kak Gilang!”, teriak Farhana dengan panggilan dua kali dan membuka pintu kamar Gilang, “cklek”.
“Sepertinya dia mengajak kamu minta dipesenin makanan”, ucap Axel dan Gilang mengedikan pundak.
Saat Farhana masuk, Gilang bertanya, “ada apa sayang?”.
“Aku mau minta dipesankan bakso tengkleng sama jus jeruk. Aku juga ingin camilan karena di kulkas sudah habis”, ucap Farhana.
__ADS_1
“Baiklah sayang, kita pesan lewat god food”, ucap Gilang dengan menggandengkan tangan adiknya menuju ke sofa lalu membuka aplikasi untuk pesan makanan.
Pada saat Gilang sedang mengurus adiknya, Axel pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Tidak butuh waktu lama, Axel keluar dari kamar mandi lalu turun dari kamar menuju ke ruang tengah dimana Gilang sedang duduk bersama Farhana dengan menonton tv.
Axel menghampiri dan duduk di samping Farhana dengan mencubit pipi gembulnya dengan gemas dan Farhana merintih kesakitan kemudian mengadu kepada kakaknya Gilang.
“Farhana kecil yang menggemaskan”, ucap Axel.
“Auch sakit kak”, ucap Farhana dengan cemberut dan kesal.
“Kak Gilang tolongin Farhana”, ucapnya.
“Xel jangan cubit terus kasihan dia”, ucap Gilang sambil beranjak berdiri dan pergi menuju pintu keluar setelah mendengarkan suara bel. Gilang membuka pintu ternyata makanan sudah datang lalu membayar dan menyantap sambil menonton tv menemani Farhana.
Sedangkan Daniel saat ini sedang menyuapi Aminah setelah memotong rambut dan mencukur kumis juga ******.
“Sweety, aku sangat senang kamu memaafkan aku”, ucap Daniel.
“Iya, tapi kamu harus tepati janji buat menceritakan semua tentang wanita itu hingga kehidupan uncle selama ini yang tidak aku ketahui”, ucap Aminah.
“Asyik nih”, ucap Aminah dengan senyuman.
Ketika mereka sedang mengobrol, Alika dan Raina datang menjenguknya setelah satu hari kemarin terjadi kejang-kejang pada sahabatnya yaitu Aminah.
Raina berlari dan memeluknya.
“Aminah! Aku kangen kamu”, ucap Raina dengan berteriak.
Alika juga ikut memeluk sahabatnya yang baru bangun dari komanya.
“Aku juga kangen”, ucap Alika.
Daniel yang melihat dari jarak dekat, tersenyum bahagia. Lalu Daniel mempersilahkan mereka untuk melepaskan kerinduan dan memberi kesempatan pada dua sahabatnya Aminah untuk mengobrol. Daniel pergi dengan pamit.
__ADS_1
“Sweety, aku keluar dulu. Sepertinya kalian butuh ruang untuk melepas kerinduan kalian. Aku takut mengganggu”, ucap Daniel dengan mengecup kening milik Aminah dan pergi keluar menemui Lucas dengan mengajakanya membicarakan perihal yang serius.
Setelah kepergian Daniel Alika dan Raina menggoda.
"Chiee, panggilan dari mas suami so sweet banget", goda Raina dengan ekspresi lebay.
"Apaan sih", ucap Aminah dengan malu.
"Iya, sweet banget", goda Alika dengan kekehan yang diikuti lainnya.
"Kalian jangan menggoda ya, katanya kangen. Malah baru bangun sudah di cengengin", kesal Aminah.
"Iya, iya, sweety", goda Raina
"Sudahlah kalian keluar, jika kalian kesini hanya menggodaku terus", cemberut Aminah dengan membuang muka.
"Jangan marah, bercanda doang. Nanti cepat keriput lho", ucap Alika.
"Nih, aku bawain susu kotak dan makanan ringan kesukaan kamu", ucap Raina sambil menyerahkan bingkisan untuknya.
"Thank you", senyum Aminah.
"Aku juga bawain buah-buahan agar kamu cepat sembuh", ucap Alika.
"Makasih semua, gak nyangka dapat banyak jatah camilan begitu banyak. Lain kali bawalah yang banyak", ucap Aminah dengan membuka bingkisan milik Raina lalu menyeruput susu kotak yang telah diberikan.
"sruppp srupp, hahh.., enak, sudah lama aku tidak minum ini", ucap Aminah.
"Emang belum ada yang bawain susu untuk kamu", ucap Alika dengan jawaban gelengan kepala dari Aminah.
"Syukurlah, berarti aku yang pertama dong", ucap Raina.
"Iya, kamu sahabat yang juara", puji Aminah dengan menunjukkan ibu jari sebagai tanda bagus.
__ADS_1
"Bisa ae kamu neng", ucap Raina dengan tertawa.
Daniel dari jendela yang melihat adegan mereka merasa bahagia sebab istrinya tidak akan kesepian selama ia ditinggalkan ke luar negeri untuk menyelesaikan sebuah urusan penting. Lucas berada di sampingnya juga berpikir seperti itu. Dua laki-laki itu tersenyum bahagia dan lega di dada melihat adegan tiga perempuan yang sedang canda ria dengan wajah berseri-seri.