
Di tengah kebahagiaan Lucas bersama Alika tiba-tiba ada serangan dari mansion yang tidak di ketahui oleh para penjaga maupun lewat pengamanan CCTV. Serangan itu adalah pelemparan batu cukup besar lewat jendela kaca di ruang tamu, “pyarrr__”, suara itu menggema sampai ke ruang keluarga yang di dengar oleh Lucas dan Alika di malam hari. Batu itu terbungkus dengan kertas yang bertulisan ancaman untuk diri Lucas. Isi ancaman itu bertulisan, “akan aku bantai aliansi mafia kamu. Aku tidak akan menyerah menghancurkan rumah tangga dan teman-teman kamu. Lihatlah siapa yang menang dan kalah! “, dengan tanda gambar kepala putus dan pedang samurai. Alika yang berada di samping Lucas dengan mengintip surat tersebut terkejut isi pesan di kertas itu. Lucas meremas kertas itu dengan mata menyalang.
“Siapapun dia, aku akan menyelesaikan kalian dengan tanganku sendiri”, guman Lucas dengan suara nada rendah.
Alika yang berada di samping Lucas mengusap lengannya untuk menenangkannya. Ketika Lucas sedang tersulut emosi ada suara deringan ponsel di saku celana pendeknya. Lalu ia mengambil dan langsung mengangkat.
“Hallo!”
“Lucas, aku mendapatkan surat ancaman dan di lempar lewat jendela kamar. Aku tidak tahu pengirimnya siapa? Yang lain juga dapat, kecuali Adam”, adu Leon
“Ya, kita harus cari tahu siapa dalangnya. Besok kita bahas setelah aku ke markas CIA”,resah Lucas dengan mematikan ponsel sepihak. Lalu Lucas mengarah ke Alika dan memeluknya untuk menenangkan jiwa dan pikirannya dengan mencium ceruk istrinya. Alika membalas pelukan dengan mengusap punggung Lucas.
Keesokan paginya Lucas menggerakkan anak buahnya untuk menjaga Alika. Dia membagi kelompok anak buahnya yang berada di mansion miliknya. Setelah itu Lucas berpamitan kepada Alika untuk pergi ke kantor.
“Beni!”, teriak Lucas yang telah menghubunginya di tengah malam ketika Alika terlelap tidur untuk memerintahkannya mengumpulkan semua bawahan yang dibimbing oleh Beni di pagi hari. Saat ini Beni datang karena teriakan dari atasannya.
“Ya tuan, semua sudah siap. Mereka berada di pelataran depan”,kata Beni sesuai dengan perintah majikannya .
Lucas menyuruh Beni untuk keluar dengan kode tangan melambai. Beni kemudian berpamitan keluar dengan membungkukan badannya.
Lucas mencoba memberikan pengertian kepada Alika sebelum keluar dengan mengecup perutnya yang sedikit membuncit dan keningnya.
“Sweety, kamu tidak perlu resah dan khawatir. Masalah ini akan segerah selesai. Tapi untuk sementara kamu akan dalam pengawasan anak buahku dulu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan bayi kita. Aku mau kamu bekerja sama”, pinta Lucas dengan mengecup kembali kening istrinya.
“Iya, aku mengerti”, ucap Alika dengan senyuman hangat.
“Kalau begitu kita keluar”,ajak Lucas dengan menggandeng tangan istrinya.
Sampainya di pelataran Lucas langsung membagi anak buahnya untuk menajaga ketat mansion miliknya begitu juga yang dilakukan oleh teman-temannya. Mereka tidak mau terjadi apa-apa dengan keluarganya.
“Aku perintahkan kalian semua menjaga mansion dan istriku”, tegas Lucas.
__ADS_1
“Sepuluh orang berjagalah di belakang, dua belas orang berjaga di depan, untuk sayap kanan dan kiri masing delapan orang. Sisanya aku perintahkan untuk mengawasi istriku selama aku pergi. Kalian mengerti! “, seru Lucas dengan tegas.
“Mengerti!”, teriak bawahannya dengan serempak. Lalu mereka bersiaga di kubu yang diperintahkan oleh Lucas dengan berlarian. Sementara Beni menunggu perintah dari Lucas.
“Beni! “, panggilnya
“Ya, tuan”
“Aku meminta kamu untuk menjaga di mansion ini bersama enam orang yang tersisa. Aku percaya padam, Beni”, perintah Lucas.
“Siap tuan, saya laksanakan”, ucap Beni dengan tegas.
Lalu Lucas pergi bersama Xavier dan Theodor kaki tangannya yang kedua, meski tidak begitu banyak pengalaman, Lucas percaya dengan kekuatan mereka berdua yang telah terlatih sepuluh tahun di dunia kemiliteran. Sebelum pergi Lucas mencium Alika dan perutnya dengan kata-kata manis.
“Sweetheart, aku berangkat dulu”, dengan mencium kening Alika.
“Aku akan menunggumu, Lucas”, ucap Alika.
Alika melihat tingkah Lucas merasa geli karena biasanya bersikap cool dan gantlement namun saat bertingkah seperti anak kecil, Alika merasa geli apa lagi anak buahnya yang masih berada di dekatnya terutama Beni. Kemudian Lucas beranjak terus mencium bibirnya begitu dalam dan Alika memukul dada bidang dengan mendorong tubuh Lucas dan menginjak kakinya dengan wajah memerah.
“Lucas, kamu benar-benar tidak tahu tempat”,seloroh Alika dengan langsung masuk melesat. Lucas yang melihat tingkah istrinya bibirnya terangkat dengan senyuman hangat. Wajah para anak buah yang sejak tadi memperhatikan menampilkan geli.
Sementara Wily di markas tersenyum puas bersama Aslan dan Mirzha mengadu dua Aliansi musuh bebuyutan yaitu Ozzie dengan Lucas. Wily yang berada di markas nan jauh masih banyak ide licik untuk menghancurkan dua kubu itu dengan menggenggam anak buah yang berbakat dan memiliki dendam pada Ozzie yaitu Raiden sang pengkhianat kubu Ozzie.
Wily akhirnya merasakan kemenangan tinggal menunggu kehancuran dan peperangan antara dua kubu yang digadang-gadang oleh Wily.
“Lihatlah, siapa yang akan hancur dan menikmati kehancuran kalian dengan tertawa terbahak-bahak. Kami sudah menunggu beberapa abad”,gumam Wily sambil mengetuk meja dengan telunjuk dan senyuman terangkat diwajahnya yang licik.
Sedangkan Lucas berada di markas CIA menampilkan wajah ekspresi dingin dan emosi yang membuncah. Sebab saat tiba di markas mendapatkan informasi dari Abigail di area parkir bahwa Diego terbunuh.
Ketika turun dari mobil, Abigail memanggil Lucas, “Lucas! Lucas! __”, dengan berlari menghampirinya. Lucas berhenti melangkah saat ada suara berat memanggil namanya dan menoleh. Abigail langsung mengatakan to the point pada Lucas mengenai keadaan Diego.
__ADS_1
“Syukurlah kamu datang, aku mencoba menghubungimu tapi ponselku tiba-tiba mati”,ucap Abigail.
“Ada apa?”, tanya Lucas.
“Aku punya kabar buruk, Diego dibunuh dalam sel tahanan.., “ungkap Abigail dengan wajah serius.
Setelah mendengarkan berita itu, Lucas mengumpat, “f*ck”, dengan mengusap wajahnya yang tiba-tiba terasa gatal.
Abigail melihat emosi Lucas, langsung mengajaknya masuk untuk melihat pemerikasaan otopsi dimana Diego terbunuh. Lucas dan Abigail berjalan cepat dengan langkah lebar.
Di sana sudah ada banyak polisi dan para anggota CIA yang sedang menyelidiki kasus terbunuhnya Diego. Lucas yang hampir mendapatkan informasi dari mulut Diego mengenai Ozzie kini pupus harapan.
Saat mereka sedang melihat orang-orang yang wara wiri melakukan penyelidikan tiba-tiba ada salah satu polisi yang menemukan sebuah surat di bawah seprai yang terlipat dengan kasur kecil itu. Lucas dan Abigail mengedar pandangan dan menghampiri salah satu polisi tersebut.
“Maaf pak, saya menemukan surat kecil ini di bawah seprai di lipatan kasur pak”, ucapnya. Abigail mendengarkan langsung menghampiri temannya yang satu anggota CIA yang diikuti oleh Lucas.
“Apakah aku bisa memintanya dan membuka isi surat itu?”, tanya Abigail.
“Tentu”, dengan menyerahkan surat itu pada Abigail. Lalu Abigail membuka isi surat dari Diego bersama Lucas.
“Dear Lucas.
Aku tidak akan selamat saat ingin mengungkapkan informasi dari Ozzie. Karena kekuasaan Ozzie juga ada di CIA. Aku menyadari jika aku berotak bodoh, yang terselimuti dengan dendam tapi tingkah ku bukan penjahat namun seorang pengecut. Pada akhirnya aku diterkam mangsa lain dengan otak liciknya.
Ozzie bekerja sama di negara besar bangladesh untuk menghancurkan kalian. Aku mendapatkan bukti dari Johan sebelum ia terbunuh dan diselamatkan secara diam-diam oleh Raiden sahabatnya. Di dalam pojokan kasur ada sebuah falshdisk untuk kamu bisa lihat. Aku tidak tahu apa isinya aku langsung memebedah kasur itu untuk keamanan data.
Berhati-hatilah terhadap pengkhianatan di CIA, dia seorang Sycho berwajah polos. Itu sangat mengerikan.
Salam Diego”.
Abigail menyimpan surat itu sebelum ada yang melihat kecuali temannya dan polisi yang berambut blound tadi. Abigail harus memitan kerjasama pada dua orang tersebut sebelum terbeber kemana-mana. Lalu Abigail bersama Lucas mengubah ekspresi tadi yang sedikit gelisah mengubah ekspresi dingin. Mereka menunggu para kepolisian dan anggota CIA pergi sambil mengamati gerak gerik mereka. Abigail mencoba untuk ikut bergabung dalam penyelidikan dengan masuk ke dalam sel tahanan sedangkan Lucas menjaga-jaga aksi Abigail. Setelah mendapatkan Abigail langsung memasukan ke kantung jaket hitamnya dengan berpura-pura mengacak-acak kasur. Saatnya tiba untuk bubar Abigail dan Lucas mengikuti untuk bubar dan ke penyelidikan lain. Abigail dan Lucas merasa lega setelah penyelidikan selesai tanpa kecurigaan dari orang lain. Mereka menarik nafas dengan rasa lega seperti hidup kembali di ruang kerja Abigail.
__ADS_1