
“Yuk kita segera pergi sebelum terlalu kesiangan” ucap Steve.
Abigail, Vio, dan Steve mulai melakukan perjalanan menuju markas CIA. Vio duduk di samping Abigail dengan gelisah sementara Steve sebagai pengemudi. Abigail bertanya kepada Vio mengenai kegelisahannya. “Are you ok?”
Vio menjawab dengan senyum yang dipaksakan.
Abigail memberikan rasa ketenangan kepada gadis kecilnya dengan mengusap tangannya dan menggenggam.
“Tenanglah, kita akan segera sampai dan menemuinya. Kamu bisa memaki pria tua itu bahkan memukulnya. Steve akan memberikan ruang untukmu”, ucap Abigail.
Steve mendengar ucapan dari bibir Abigail sediki melirik lewat spion di depannya.
Vio hanya tersenyum kecut lalu mengalihkan pandangannya ke luar.
...
Beberapa lama kemudian mereka telah tiba di markas CIA. Abigail, Steve, dan Vio keluar dari mobil sedan hitam itu. Mereka berjalan beriringan menuju ruang penjara.
Vio melihat salah satu pria yang ia kenal. Ekspresi Vio berubah dingin dan marah melihat wajah pria paruh baya itu. Ia pergi keluar dengan menghela nafas kasar. Ia merasa sesak melihat sosok pria paruh baya itu.
“Dam it. ****. Aku melihatnya saja membuat tubuhku bergetar dan jantungku hampir mati rasa dengan nafas sangat berat. Dia benar-benar membuat aku frustrasi. Aku tidak sanggup bertemu dengannya. Kenapa di saat telah menangkapnya aku gak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk membalas kekejiannya?” kata hati Vio.
Pada saat Vio sedang gelisah, Abigail menepuk bahunya. Vio menoleh ke arah belakang melihat sosok suaminya dengan raut khawatir.
“Are you ok sweety?”
__ADS_1
“Ya aku baik-baik saja”, jawab Vio dengan menghela nafas kasar, “ahhh, sebenarnya aku gak baik-baik saja”, gumam Vio yang terdengar jelas di telinga Abigail. Abigail menarik tubuhnya lalu memeluk dia dengan erat dan mencium harum rambut miliknya. Vio menerima pelukan dari suaminya dengan menyembunyikan wajahnya ke dalam dada. Abigail merasakan akan ketakutan dan kegelisahan istrinya.
“Jika kamu tidak sanggup untuk melihat dia bagaimana untuk memberikan pelajaran kepadanya. Apakah aku yang harus turun tangan untuk memberikannya pelajaran?”
Vio tak dap membalas perkataan dari Abigail. Vio hanya diam dan menyembunyikan kepalanya ke dalam dada bidang milik suaminya dengan memeluknya dengan erat.
Sementara Saddam, Lucas, Daniel, William, dan lainnya telah tiba di villa dimana orang-orang tercinta mereka berada. Mereka turun dari mobil dan melihat para istri tengah menunggu langsung berhamburan memeluk pria yang mereka cintai.
William melihat mereka yang berhamburan dalam pelukan yang di cintainya membuat terenyuh dan mengingat ibunya yang selalu melindunginya.
“Will~!”
“Will~!”
“Will~!”
“Mom, lihat kupu-kupu itu. Mereka tengah mengelilingi bunga-bunga yang momy tanam”, seru William.
Martha berlari menghampiri William. Mata Martha tertuju dengan kupu-kupu yang mengelilingi bunga mawar dan lily yang ia tanam dengan mata berbinar karena mengagumi betapa indahnya mereka sambil memberikan kecupan pada pipi cubby puteranya.
“Momy sudah lama tidak melihat keindahan seperti ini. Momy ingin kita seperti mereka. Walaupun jarak kita terlalu jauh momy berharap William untuk selalu mengingat keberadaan daddy. Mengerti!” ucap Martha. William menganggukkan kepalanya lalu berbalik menghadap momy-nya menatap wajah cantik milik momy-nya sambil berkata I love you lalu mengecup keningnya dan kemudian memeluk momy-nya dengan erat. Martha membalas pelukkan puteranya dengan meneteskan air matanya. Martha mengusap dengan jemari tangannya sambil mencium pundak puteranya dengan dalam-dalam.
Masa lalu yang ia ingat sangatlah ia rindukan dan selalu mengandaikan jika keluarganya tidak terpisah dengan jarak jauh ia pasti memiliki momen indah seperti yang di miliki oleh keluarga Saddam. Namun hidup tidak bisa di tebak dan tidak bisa kita atur sesuai akan keinginan kita.
...
__ADS_1
Usai melepaskan rindu, mereka pergi masuk dan mencium bau harum masakan yang sudah di siapkan oleh para istri.
“Humm baunya sangat harum. Sudah lama tidak mencium bau masakan ini”, seru Adam.
“Benar, yang kau katakan Dam”, ucap Daniel.
Para istri tersenyum dengan tersipu malu-malu kecuali Aminah. Karena bagi Aminah gombalan itu sering banget di dengar dari mulut suaminya yang sudah menjadi kebiasaan untuknya.
“Kalau begitu kita makan sampai kenyang”, ajak Sea.
Mereka mengambil tempat duduk lalu para istri melayani para suaminya dengan penuh ketulusan. Dari kegiatan itu Leon dapat sesekali mencuri pandang ke arah Alika. Ia melihat wajah blasteran itu. Ia memperhatikan sampai sang istri memanggilnya pun tidak ia dengar sampai tepukan di pundaknya membuat dia berjingat.
“Honey”, panggil Amanda sedikit keras.
“Ya sweety”, senyum Leon dengan kikuk.
“Kamu sedang memikirkan apa? Bukankah perangnya telah usai?” tanya Amanda.
“Ya”, jawab Leon.
“Aku hanya memikirkan tentang masalah keluargaku di masa lalu”, bisik Leon.
“Nanti akan aku ceritakan”, sambungnya.
“Baiklah, sekarang makanlah. Aku gak mau suamiku sakit”, ucap Amanda dengan mengecup pipi kanan Leon.
__ADS_1
“Oke~” senyum Leon.