Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 66


__ADS_3

Malam hari ketika Vio sedang terlelap tidur di kamar Milka tiba-tiba ada seorang pria masuk mengendap-endap setelah menyabotase CCTV di rumah Abigail. Pria itu membekap mulut Vio dengan obat bius di kain sakunya.


Vio terbangun dengan memukul tangan pria itu dan akhirnya tubuhnya perlahan melemas lalu tertidur efek dari obat bius yang di taruh pada kain saku.


Lalu Pria itu mengangkat tubuh Vio dan dibawa ke dalam mobil hitam sedan. Kemudian pria itu membawa Vio ke area jurang dengan membawa pisau yang tengah di asah sambil melihat wajah Vio yang tengah pingsan akibat obat bius dengan tersenyum menyeringai sambil bergumam, “ sebentar lagi ajal kamu di tanganku dan bos ku”.


Setelah menunggu lima menit pria itu langsung memasukkan Vio ke dalam karung dengan menancapkan benda tajam ke berbagai area perut, tangan, dada dan lainnya membuat Vio menjerit juga meronta kesakitan. Saat sudah tidak mendengarkan suara jeritan pria itu langsung menggelindingkan Vio ke jurang sambil tertawa puas seperti seorang psyhco.


Lalu pria itu menghubungi bosnya bahwa dirinya telah menyelesaikan tugas yang diembannya. Sehingga pria itu mendapatkan pujian dari bosnya.


Kemudian pria itu dengan luka di wajah pipi kanan melajukan mobil menuju ke klub untuk bersenang-senang setelah mendapatkan bonus dua kali lipat dari hasil gajinya. Dia memilih beberapa wanita untuk melayaninya.


Di pagi buta Haeun menangis dan Milka merasa terganggu dengan menyuruh Vio untuk menghendong Haeun namun tidak ada jawaban. Akhirnya Milka beranjak dari acara tidur dengan ekspresi kesal seperti akan menerkam Vio namun dia tidak ada di sebelah. Milka bergumam, “kemana wanita itu pergi? Jika membuat susu biasanya dia membawa Haeun bersamany. Aishh”, dengan beranjak melangkah ke tempat box dimana Haeun menangis.


Milka mengangkat tubuh Haeun dan membawany pergi ke lantai bawah untuk mencari Vio. Milka terus memanggil namun tidak ada respon di setiap sudut ruangan. Sehingga Milka kembali ke kamar dan mendapati bahwa susu yang dibuat oleh Vio masih tersisa lebih dari cukup. Membuat Milka heran lalu mencari Abigail tetapi dia juga tidak ada di dalam kamar.


Kemudian Milka menerka bahwa Abigail secara diam-diam membawa Vio. Ketika sampai di ruang tengah, Milka kebetulan melihat Abigail keluar dari ruang kerja dan bertanya keberadaan Vio.


“Abigail! Kemana kamu membawa Vio pergi?”, tanya Milka.


Abigail mengernyit dahinya sambil duduk dibangku sofa karena tubuhnya merasa lelah.


“Bukankah Vio berada di kamar kamu”, ucap Abigail dengan membawa tubuhnya terlentang di sofa samping Milka.


“Dia tidak ada, aku sudah cari setiap sudut ruangan Abigail”, ucap Milka.


“Mungkin dia berada di halaman belakang”, ucap Abigail kembali menerka.


“Sudah aku cari”, ucap Milka.

__ADS_1


Abigail mulai menerka kembali tentang keberadaan Vio dan terperanjat saat pikirannya terbesit bahwa Vio pergi di culik setelah terbayang saat di Turky ketika Vio bercerita.


“Apakah dia diculik?”, gumam Abigail dengan bertanya pada dirinya yang masih di dengar oleh Milka.


“Di culik?!”,teriak Milka.


“Abigail lebih baik kita cari di CCTV”, ucap Milka.


Abigail lalu beranjak dari tidurnya dan pergi ke ruang keamanan. Saat mengetahui anak buahnya terkapar karena obat bius, Abigail mengumpat sambil berteriak, “sh*t, Arghhh”, dengan mengusap wajahnya kasar.


Abigail lalu mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Vio. Abigail juga menghubungi Lucas untuk meminta bantuan mencari keberadaan Vio saat ini.


Lucas yang berada di seberang sana sedang memasang dasi untuk persiapan berangkat kerja. Ketika sedang mencium Alika tiba-tiba ponselnya berdering dan langsung mengangkat setelah melihat nama yang tertera di layar depan.


“Hallo Abigail ada apa?”


“Apa?!”, terkejut Lucas.


“Baiklah, aku akan membantu kamu”, ucap Lucas bergegas menghubungi Beni untuk mengumpulkan anak buahnya.


Alika yang berada di sampingnya setelah mendengarkan percakapan kata diculik langsung bertanya.


“Honey siapa yang di culik”, tanya Alika.


“Vio”, ucap Lucas.


“Apa?! Vio teman Milka?”, tanya Alika.


“Ya sweety, biarkan aku untuk bekerja membantu Abigail”, ucap Lucas dengan mengecup kening dan pergi berlalu sambil melonggarkan dasi yang sudah dirapikan oleh Alika.

__ADS_1


Lucas pergi keluar setelah melihat anak buahnya berkumpul dan langsung memerintahkan seluruh anak buahnya melacak keberadaan penculi yang membawa Vio. Lalu mereka melaksanakan sesuai pembagian tugas keahlian masing-masing.


Abigail yang berada di rumah mencoba melacak namun tidak dapat jejak dari penculik tersebut. Lalu Abigail mencari sidik jari penculik dan dibawa ke markas CIA yang ada lab untuk mengungkapkan sidik jari namun nihil.


Seolah penculik tersebut sudah merencanakan jauh-jauh hari. Abigail melampiaskan kemarahannya dengan berteriak sekeras mungkin di ruang kerjanya. Sedangkan Ozzie yang mendengarkan informasi di sel tahanan tersebut tersenyum dengan bergumam, “persengitan sudah di mulai”, sambil tersenyum menyeringai.


Vio yang saat ini sedang dicari jejaknya, dia berada di sebuah gubuk dan sedang diobati oleh seorang pria paruh baya. Dia mengobati luka tusukan di tubuhnya yang tidak sampai menembus ke organ dalam meski racun yang dihisap dari hidungnya tidak dapat dikeluarkan. Sehingga pria paruh baya mengerahkan dokter untuk menetralisir racun dalam tubuhnya.


Beberapa lama kemudian sang dokter keluar dengan mengatakan bahwa racun yang dia hirup seperti di tahun saat pria paruh baya itu mengalaminya dan obatnya telah ditemukan sehingga gadis itu bisa di selamatkan.


Pria paruh baya tersebut merasa lega setelah mendengarkan penjelasan dari dokter.


Sudah tiga hari berturut-turut akhirnya Vio sadar dari komanya. Kepala Vio merasa pusing dan matanya terasa sakit di bagian sebelah kanan. Ketika akan beranjak untuk memposisikan tubuhnya duduk semua terasa sakit sampai dirinya merintih.


Ketika Vio sedang berusaha si pria paruh baya berlari dengan membawa nampan tatkala Vio sedang berusaha untuk bangkit. Pria paruh baya itu mengatakan, “nak jangan paksakan diri. Lebih baik kamu terlentang dahulu untuk kesembuhan luka di tubuhmu”, dengan lembut.


“Kakek siapa?”, tanya Vio.


“Saya yang menolong kamu, ketika aku sedang mencari kayu di area tebing perbukitan”, ucap pria itu.


“Makasih”, ucap Vio dengan meneteskan air mata saat mengingat dirinya di culik sambil di tusuk di beberapa bagian area tubuh.


“Kamu tidak perlu menangis nak. Kamu sudah aman”, ucap pria paruh baya sambil mengambilkan minuman air putih dan membantu tubuhnya bangun sebentar.


“Syukurlah, kamu bisa selamat nak. Sepertinya kamu bukan orang eropa. Kenapa kamu bisa terlibat dengan beberapa mafia?”, ucap kembali pria paruh baya dengan menanyakan keberadaannya ada di Eropa.


“Ceritanya panjang grandpa”, ucap Vio.


“Baiklah, saya akan menunggu kamu bercerita setelah luka kamu sembuh. Jika itu alasan yang membuat saya dapat membantu kamu untuk mengalahkan para preman tersebut”, ucap pria paruh baya dengan senyum hangat sambil mengobati luka di tubuh Vio dan menggantinya perban. Dan untuk luka yang berada di balik kain pria itu meminta bantuan pelayannya untuk memberikan olesan obat.

__ADS_1


__ADS_2