
Mark yang baru saja datang langsung bergegas ke ruang dimana Alika berada? Ketika membuka pintu, Mark terkejut melihat Alika sudah sadarkan diri dari tidur panjangnya. Membuat Mark merasa senang apalagi jika di informasikan kepada Lucas pasti dia akan lebih senang. Mark menghampiri Alika.
“Hai Alika”, sapa Mark.
“Kapan kamu terbangun dari tidurmu? Apakah suster yang ada di sini mengetahui jika kamu telah bangun dari tidur panjangmu?”, tanya Mark bertubi tanpa sadar jika Alika merasa pusing dengan pertanyaan bertubi yang diajukan oleh Mark. Mark merasakan jika pertanyaan yang diajukan itu tidak di jawab dan baru menyadari bahwa Alika baru terbangun lalu Mark meminta maaf.
“Sorry Alika, aku lupa”, kekeh Mark.
“Its okay, no problem”, ucap Alika.
“Akan aku ulangi pertanyaanku”, ucap Mark.
“Kapan kamu terbangun dari tidur panjangmu? “, tanya Mark.
“Baru sepuluh menit yang lalu”, jawab Alika.
“Apakah suster mengetahui jika kamu sudah terbangun?”, tanya Mark.
Alika menjawab dengan gelengan kepala.
“Baiklah, aku akan periksa kamu. Baru aku akan kasih kabar kepada Lucas”, ucap Mark.
Lalu Mark beranjak dari tempat duduk mengambil alat denyut nadi, stetoskop, dan peralatan medis lainnya. Mark memeriksa dari denyut nadi dan mata lalu memeriksa dengan stetoskopnya. Kemudian Mark bertanya, “apa yang kau rasakan setelah bangun dari tidur pajangmu?”
“Aku merasakan kepalaku sakit seperti ada jarum menusukku namun ini tidak terlalu begitu sakit saat pertama kali ku rasakan”, jawab Alika.
“Apakah ada gerakan bagian tubuhmu terasa kaku?”, tanya Mark.
“Iya ada, di bagian kaki dan punggungku seperti rasanya habis lari maraton”, ucap Alika.
“Apakah ada gejala lainnya?”, tanya Mark.
“Tidak ada”, ucap Alika.
“Syukurlah, tubuhmu sudah di netralisir dengan baik”, senyum hangat Mark.
“Kalau begitu aku akan hubungi Lucas”, ucap Mark.
“Jangan”, ucap Alika mengehentikan Mark.
“Aku ingin memberikan dia kejutan. Bisakah kamu membantuku”, ucap Alika dengan ekspresi memohon.
“Tentu”, senyum Mark.
Sementara Abigail kembali menuju kediaman rumah Joni dengan mobil lain untuk tidak terlalu mencolok oleh musuhnya.
Abigail memencet bel milik Joni. Lalu Abigail dibukakan pintu oleh pelayan. Abigail bertanya, “apakah Vio ada?”
“Dia ada tuan, tetapi saat ini dia ada di dalam kamar dan sedang diperiksa oleh dokter”, ucap pelayan tersebut.
“Dokter?”, tanya Abigail dengan ekspresi terkejut.
“Apakah dia sakit?”, tanya Abigail.
“Ya tuan, sejak siang nona Vio tidak keluar dari kamar dan baru ketahuan saat ini”, ucap pelayan tersebut.
“Apakah aku bisa langsung masuk kamarnya?”, tanya Abigail.
“Tapi tuan...,” ucap pelayan itu dengan ragu.
“Tenang saja, Joni pasti mengizinkan. Saya yang akan bertanggung jawab”, ucap Abigail.
“Baiklah tuan, silahkan masuk”, ucap pelayan itu dan membawa Abigail masuk ke kamar Vio.
“Ada apa Joni?”, tanya Abigail. Joni menoleh ke sumber suara dengan menjawab tanpa ragu.
“Uhmm...dia hamil”, ucap Joni.
“Benarkah? Itu berita bagus”, senyum bahagia terpancar dari wajah Abigail.
“Tapi Abigail..., kamu harus mendengar dokter dengan saksama. Kamu juga harus tahu keadaan Vio saat ini”, ucap Joni dengan nada sedih.
“Keadaan Vio kenapa?”, tanya Abigail.
“Kita bicarakan di ruangan lain. Biar Edward yang menjelaskan”, ucap Joni.
“Baiklah”, ucap Abigail.
Sampai di ruang kamar tamu, Edward menatap Joni untuk meminta persetujuan dari Joni dan Joni menganggukkan kepala.
__ADS_1
Edward menarik nafas paling dalam dan mulai bersuara.
“Kini Vio sedang dalam masa hamil yang membahayakan hidupnya karena obat yang dibiuskan waktu itu mengandung racun”, ucap Edward.
“Apa?!”, terkejut Abigail.
“Jadi, waktu itu pas Vio di culik, dia terkena efek racun dalam obat bius itu”, ucap Abigail dengan ekspresi serius.
“Iya, dia mengalami itu sepertiku waktu dahulu. Tetapi keberuntungan Vio denganku berbeda. Saat Vio terkena obat itu, dia sudah di tangani lebih dahulu tapi untuk menetralisirkan racun berbahaya itu membutuhkan waktu cukup panjang meski tidak sampai dua sampai tiga tahun karena kami memiliki obat dan penyembuhannya. Tetapi pada saat dia hamil maka dia harus berhenti meminum obat itu dan tubuhnya akan melemah jika janin dalam perutnya tidak digugurkan”, ungkap Joni.
Abigail mengusap wajahnya dengan kasar sambil mengumpat, “sh*t”.
“Tenangkan dirimu, Abigail”, ucap Joni.
“Berapa usia kandungannya?”, tanya Abigail.
“Masih mudah”, ucap Edward.
“Apakah tidak ada cara lain?”, tanya Abigail.
Edward menggelengkan kepala.
“Apakah kamu bisa membujuk Vio demi kesehatannya?”, tanya Joni
“Kalian akan memilikinya kembali setelah pengobatan itu selesai”, ucap Joni dengan menepuk bahu.
“Apakah aku bisa bertemu dengannya?”, tanya Abigail.
“Tentu”, ucap Joni.
Abigail langsung melesat ke kamar Vio yang saat ini tengah terlelap. Ketika Abigail sedang mendekati Vio, Alam beranjak dari sisi samping ranjang untuk memberikan waktu kepada Abigail. Alam keluar dari kamar Vio meski hatinya tidak begitu rela melihat kemesraan mereka namun saat ini yang dibutuhkan oleh Vio yaitu Abigail.
Di dalam kamar, Abigail memeluk tubuh Vio dengan meneteskan air mata sambil mengecup keningnya.
“Sweety, thank you”, ucap Abigail yang dapat keluar dari bibirnya.
Tatkala Abigail sedang tersu mengecup kening Vio. Vio merasa terganggu dan dia terbangun dari alam mimpinya. Vio memanggil Abigail.
“Mister ternyata di sini”, ucap Vio.
“Ya, sweety. Aku merindukan kamu”, cium Abigail di bibirnya.
“Oh ya, perasaan aku tidak merasa menangis. Apakah efek dari mengantuk?”, ucap Abigail.
“Kalau begitu kita tidur dan aku akan memeluk tubuhmu”, ucap Abigail tang diangguki oleh Vio. Kemudian Vio memeluk tubuh Abigail dengan erat sambil mencium bau harum wangian yan menyeruak dari tubuhnya yang begitu membuat Vio merasa nyaman. Begitu juga Abigail.
Di pagi hari, Vio terbangun dari tidurnya dan melihat Abigail yang memandang wajahnya yang membuat Vio tersipu malu.
“Kenapa kamu memandangiku?”, tanya Vio.
“Aku hanya ingin melihat wajah yang kurindukan selama ini”, jawab Abigail.
“Good morning sweety”, sapa Abigail mengecup bibirnya.
“Sekarang bersihkan badanmu setelah itu kita sarapan”, ucap Abigail.
“Baiklah, tapi beri aku sepuluh menit untuk menetralkan mataku”, ucap Vio.
“Kamu harus segera membersihkan diri dan tidak ada waktu sepuluh menit segala atau kamu ingin aku mandikan”, ucap Abigail seraya menawarkan diri.
“Jangan!”, ucap Vio langsung beranjak dari ranjang dan lari terbirit ke kamar mandi.
Abigail menarik nafas, “hahh__,” dengan beranjak dari ranjang mengambil sarapan untuknya.
Tak butuh waktu yang lama Abigail mengambil sarapan pagi untuknya dengan membawa nampan yang berisi roti dan susu.
Beberapa lama kemudian Vio keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya untuk menutupi area yang tidak boleh terlihat. Abigail yang sedang duduk ranjang beranjak dan menghampiri Vio lalu memeluknya dari belakang sambil membisikkan, “apakah kamu ingin meng pagi hari?”
“Abigail! lepasin, aku tidak menggoda kamu. Aku lupa membawa pakaianku ke dalam. Jadi, lepasin pelukan kamu”, ucap Vio.
“Baiklah, tapi aku mau meminta morning kiss lagi”, ucal Abigail dengan memutarkan tubuh Vio dan langsung memberikan ciuman untuknya yang begitu panjang.
“Kalau begitu segeralah pakai pakaian kamu”,perintah Abigail.
Vio malah mendengus kesal dan membuat Abigail tersenyum. Vio kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Setelah itu keluar dengan memakai dress selutut yang dipilih oleh Abigail.
“Wow, kau terlihat cantik, sweety”, puji Abigail.
“Kalau begitu kita sarapan di sini”, ucap Abigail.
__ADS_1
Vio ikut bergabung duduk di atas ranjang dan makan sarapan yang di bawa Abigail dengan memakan roti tawar tanpa selai. Abigail melihat Vio mau makan rasanya bersyukur dan Abigail tidak begitu khawatir dengannya. Lalu Abigail memberikan susu untuknya tapi Vio menolaknya.
“Aku tidak mau minum susu Abigail”, tolak Vio.
:Sweety, kamu harus minum untuk menjaga tubuh kamu”, ucap Abigail.
“Tapi, jika aku minum susu, akan mengeluarkan isi perutku kembali”, ucap Vio.
“Baiklah, kamu mau minum apa?”, tanya Abigail.
“Aku mau minum juice saja”, ucap Vio.
“Kalau begitu tunggulah, aku akan buatkan untukmu”, ucap Abigail turun dari ranjang.
Tak lama kemudian Abigail kembali membawa jus smoothy. Abigail menyerahkan juice itu kepada Vio. Lalu dia menerimanya dan meminum hingga tandas setengah gelas. Usai sarapan selesai ekspresi wajah Abigail serius dengan mencium kening Vio. Abigail menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kembali sampai mampu untuk bersuara.
“Vio”, panggil Abigail.
“Apakah kamu senang setelah mendengar berita dari dokter bahwa kamu hamil”, tanya Abigail.
“Tentu saja”, ucap Vio.
“Jika tahun ini kehamilan kamu di tunda bagaimana?”, tanya Abigail.
“Maksud kamu aborsi gitu?”, tanya Vio dengan menatap sorotan mata Abigail.
“Aku tidak mau!”, ucap Vio dengan marah.
“Jika kamu tidak menginginkan janin ini. Aku tidak mempermasalahkan. Aku akan rawat sendiri. Aku bisa merawat tanpa kehadiran siapa-siapa. Aku sudah terbiasa semenjak aku merawat Haeun sendirian. Aku dari dulu juga hidup sendiri setelah mamah dan nenekku meninggal. Kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa merawat mereka tanpa bantuan siapa-siapa. Itu sudah nasib aku”, ungkap Vio dengan meneteskan air mata lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Abigail.
“Bukannya aku tidak ingin tanggung jawab namun ada sesuatu hal yang harus kita pilih demi kebaikan kamu”, ucap Abigail.
“Sudahlah, aku tidak ingin mendengar”, ucap Vio dengan menangis.
“Kamu tahu kan, jika kamu berhenti meminum obat itu. Tubuhmu semakin melemah. Kamu pernah dibius oleh penculik itu dan diberi obat dengan campuran racun dan racun itu belum ternetralisir dalam tubuhmu. Jadi, kita harus mengorbankan salah satu”, ucap Abigail.
“Dan janin itu masih muda”, lirih Abigail.
“Aku tidak akan menggugurkan janin di perutku meski dia masih berbentu sebiji kacang kecil”, ucap Vio.
“Apabila kamu mempertahankan itu, tubuhmu akan semakin melemah. Kamu masih harus minum obat itu. Kita masih ada banyak waktu untuk kembali memiliki buah hati. Kita mempunyai Haeun”, ucap Abigail.
“Aku tidak mau!”, marah Vio dengan beranjak dari tidurnya dan meneteskan air mata.
Abigail menghembuskan nafas dalam-dalam dan mendekati Vio dengan mengusap air matanya.
“Aku tidak akan menyuruhmu untuk memggugurkan kandungan. Tapi, kamu harus berjanji untuk selalu menjaga nutrisi. Kamu harus makan jika waktunya makan. Jika tubuh kamu merasa lelah harus beristirahat. Menegerti”, ucap Abigail.
“Iya, aku mengerti. Aku akan menuruti nasehat dari kamu”, ucap Vio.
Abigail memeluk tubuh Vio dengan begitu erat.
Sedangkan Lucas sedang mengemudi mobil setelah rapat usai menuju ke sebuah mansion lain dimana Alika dirawat.
Beberapa lama kemudian Lucas telah sampai di mansion itu. Daro balik jendela Alika melihat Lucas datang dan berlari ke ranjang untuk berbaring dengan memberikan kejutan untuknya.
Lucas membuka pintu kamar Alika yang tengah terbaring di atas ranjang. Lucas mencoba menghampiri Alika dengan mengusap kening Alika dan memberikan ungkapan isi hatinya.
“Sweety, aku akan menjaga kamu sampai kapan pun. Aku tidak akan terkecoh lagi oleh musuh. Cepatlah bangun dari tidur panjangmu ini. Aku merindukanmu, sweetheart”, ungkap Lucas yang didengar oleh Mark dari luar yang baru saja selesai membersihkan diri untuk mengajak Alika sarapan.
Setelah mendengarkan ungkapan cinta dari Lucas, Alika bangun dengan mencoba menggerakkan tangannya dan Lucas melihat itu lalu berteriak, “Alika! Alika! Sweeatheart!”
“Aku akan panggilkan Mark”, ucap Lucas. Saat Lucas akan pergi memanggil, Mark masuk ke dalam dengan mengatakan, “Alika, bangunlah. Kasihan suami kamu yang terus menunggumu dengan kesedihan”.
Lalu Alika terbangun dengan tersenyum dan beranjak dari acar terbaring di atas ranjang sambil merentangkan kedua tangannya untuk meminta Lucas yang sedang bingung memeluknya. Lucas memeluk Alika meski dia mengerjainya.
“Sweety, kamu ternyata mulai nakal”, ucap Lucas di dalam pelukannya. Alika hanya tertawa mendengar Lucas sedikit kesal.
“Maaf honey, aku hanya ingin memberikan kejutan”, ungkap Alika.
Lalu Lucas melepaskan pelukannya dan memandang wajah cantik miliknya.
“Syukurlah kamu telah bangun dari tidur pajangmu”, ucap Lucas dengan mencium bibirnya yanh begitu dia rindukan.
Mark yang sejak tadi melihat kemesraan mereka menyela, “kalian berdua janganlah bermesraan terus. Ini waktunya kita makan. Perutku sudah keroncongan”.
“Jika kamu tidak ingin melihat kemesraan orang lain segeralah mencari pendamping agar kamu juga merasakan betapa bahagianya memiliki pasangan yang kau cintai”, ucap Lucas.
“Ya, ya, tuan Lucas. Sekarang kita sarapan dahulu. Perutku sudah keroncongan”, ucap Mark dengan berlalu pergi. Alika mendengarkan nada kesal Mark tersenyum.
__ADS_1
Usai kepergian Mark, Alika dan Lucas bermesraan kembali dengan berciuman amat panjang dan melepaskan lalu mereka beranjak menyusul Mark ke meja makan. Kini ekspresi bahagia terpatri di wajah Lucas setelah melihat Alika terbangun dari tidur panjangnya.