
Orang-orang terdekat Aminah saat ini sedang tegang, khawatir, sedih, dan panik di lorong depan ruang rawat Aminah. Mereka melihat dokter yang sedang berusaha mengembalikan irama jantung Aminah yang tiba-tiba berhenti yang terlihat di layar monitor. Semua orang sedang tegang dan berdoa agar Aminah bisa melewati dari masa kritis.
“huhhhuhhu hhuhhu huhhu”, suara tangisan menggema dari para sahabat tak terkecuali Daniel yang sedang memegang kepala.
“Lik, gimana ini?”, ucap Raina di suara tangisan.
“Kita berdo’a saja Rain”, ucap Alika yang terus menghapus air mata.
Sedangkan Denis menghubungi Lucas tetapi dia sudah terlihat di depan mata lalu mematikan ponselnya.
“Syukurlah kau datang”, ucap Danies
“Ada apa ini”, ucap Lucas yang baru datang bersama Abraham dan Leon.
“Jantung Aminah tiba-tiba berhenti, sekarang sedang di tangani dokter”, ucap Denis. Saat Lucas sedang berbucara, Alika melihat lalu memanggil nama suaminya. “Lucas”, panggil Alika dengan wajah sembab lalu memeluk tubuh suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Lucas. Kemudian Lucas mengusap punggung istrinya dan menenangkannya.
“Usstt sweety, tenanglah, dan berdoa kepada Tuhan. Dia pasti akan baik-baik saja”, ucap Lucas sambil memberikan ciuman di kepalanya.
Sedangkan Tasya mengumamkan kalimat untuk adik sepupu agar ia terbangun. “Min..hhuhu, Min aku tidak pernah merasa menangis setelah aku beranjak remaja dan dewasa. Saat ini pertama kalinya aku menangis karena melihatmu seperti ini. Ku mohon bangunlah Min. Kita bisa membuat peritungan untuk pria kamu dan lainnya. Huhhuhhu”, isak tangis Tasya, “jika kamu tidak bangun akan aku pukul dada kamu, biarpun sakit”, dengan menghapus airmata. “Min bangun.., huhhu.., kasihan mbah nella sendirian dia terus-terusan menangis dan pingsan. Para cogan juga galau tidak ada lagi yang digodain kamu. Min bangunlah!”, ucap Tasya lirih dan tiba-tiba berteriak dengan suara lantang yang menggema membuat semua orang didekatnya kaget lalu bersamaan tiba-tiba mata Aminah terbuka. Kemudian dokter dan suster yang kewalahan merasa lega, pasiennya tiba-tiba membuka mata.
Terus dokter memeriksa menggunakan stetoskop untuk memeriksa jantung Aminah dan dokter itu bersyukur karena irama jantung Aminah kembali normal. Saat dokter sedang memeriksa, Aminah bertanya, “saya ada dimana?” kemudian dokter tersebut menjawab, “anda sedang di rumah sakit dan mengalami kritis selama satu minggu”.
__ADS_1
“Jika tidak ada pertanyaan saya pami dahulu dan memberikan kabar gembira untuk kedua orang tua anda juga keluarga kamu”, ucap dokter yang diikuti dua suster.
Tasya yang sedang di tenangkan oleh Wulan dengan di rangkul pundaknya oleh Tasya dilepaskan dan menemui dokter yang keluar dari ruangan.
Tasya menyerobot masuk di tengah orang-orang untuk mendengarkan kabar pasien.
“Bagaimana dok, istri saya?”, ucap Daniel.
“Iya dok”, nimbrung Tasya.
“Tenanglah, saya akan menjawab”, ucap dokter di tengan kerumunan keluarga pasien.
“Pasien itu...,” jeda dokter dengan melihat raut wajah keluarga pasien yang tegang dan kusut karena menangis, “ dia baik-baik saja dan pasien sudah sadar”, ucap dokter.
“Bro, doa kamu terjawab”, ucap Leon dengan mengusap pundaknya. Lalu Daniel memeluk Leon untuk menyalurkan rasa bahagia.
“Apa saya boleh masuk dok?”, tanya Tasya dengan antusias. Saat dokter akan melontarkan kalimat, Tasya lebih dulu menyerobot masuk menemui Aminah. Wulan dan suaminya menggeleng kepala melihat Tasya yang mirip dengan Aminah. Lalu Wulan bergumam yang terdengar suaranya di telinga suaminya, “dasar satu genetik yang sama”, suaminya yang disampinh hanya mampu menggaruk tengkuk dan tidak bisa berdebat dengan istrinya.
Di dalam ruang inap Aminah, Tasya langsung berteriak, “Aminah!”, dengan berlari dan memeluknya.
Tasya membisikkan dengan umpatan, “ dasar cucu mbah Nella suara cempreng”, ucapnya dengan terkekeh.
__ADS_1
“Apaan sih Tas?”, ucap Aminah yang baru terbangun dari alam bawah sadar.
Sementara mereka yang masih di luar ruangan rawat inap Aminah masih mendengarkan saran dan mengenai jenguk pasien.
“Saya harap dalam jangka waktu tiga hari, pasien hanya boleh dijenguk satu atau dua orang karena takutnya pasien terlalu pusing menghadapi banyak orang sebab pasien sepenuhnya belum sembuh total juga masih pengawasan dokter. Jadi saya mohon sekeluarga pasien untuk memperhatikan kesehatan pasien tersebut”.
“Baiklah dok, makasih”, ucap Wulan.
Daniel yang masih berada di luar, Wulan menyuruhnya menemui Aminah terlebih dahulu karena dia telah sekian lama menunggu Aminah hingga kusut.
“Daniel!’, panggil Wulan.
“Masuklah, lepaskan rasa rindumu untuk dia”, ucap Wulan. Daniel yang mendengarkan tawaran Wulan penuh keraguan dan membuat sang sahabat Abraham ikut menimbrung, “masuklah Daniel, saat ini yang ia cari itu kamu begitu sebaliknya dengan kamu”.
Daniel kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Aminah dengan pelan saat Aminah dan Tasya berbicara. Aminah yang tak sengaja melihat Daniel raut wajahnya berubah dan Tasya yang berada di tengah mereka lalu pamit dan keluar dari ruang inap Aminah.
“Min sepertinya kamu harus berbicara dengannya. Aku tinggal dulu”, ucap Tasya dan Aminah menganggukkan kepala.
Setelah kepergian Tasya, Aminah menghembuskan nafas kasar, "haah", saat melihat wajah Daniel yang terlihat kusut. Aminah merasa kasihan melihatnya hancur. Wajah Daniel sungguh buruk di mata Aminah apalagi penampilan saat ini seperti orang gila yang compang camping dan terlihat kurus.
Pada saat Daniel mendekat, dia memanggil namanya, "Aminah", ucapnya dengan bibir kering. Aminah hanya memerhatikan tanpa mengucapkan sepatah kata. Daniel memanggil kembali, "Minah!", dengan suara lirih lalu memeluk tubuh Aminah dengan air mata tidak bisa terbendung lalu mengatakan, "syukurlah kamu kembali sweety, aku sangat merindukan kamu", ucap Daniel dengan mencium pundak Aminah. Tanpa ragu Aminah membalas pelukan Daniel yang terlihat menyedihkan.
__ADS_1
Wulan dan lainnya melihat mereka saling menerima merasa lega. Begitupun Lucas, yang telah berjuang mencari wanuta l*kn*t yang ingin menghancurkan Daniel beserta keluarganya telah tertangkap tinggal menunggu Daniel memberikan pelajaran. Alika memeluk pinggul Lucas dengan mengatakan, "senangnya, Aminah telah bangun dan menerima kehadiran Daniel. Meski Daniel telah berbuat salah namun dia sudah menerima imbalan", ucap Alika yang didengar oleh Lucas dan Alika mendongak lalu mendapatkan kecupan singkat dari sang suaminya. Axel yang berada dari jauh melihat kemesraan antara Alika dan Lucas merasa nyeri di dadanya. Laly Axel pergi diam+diam untuk menenangkan hatinya tanpa sepengetahuan lainnya kecuali Gilang yang melihat Axel pergi dengan mengendap-endap sambil mengusap bahu Raina. Gilang yang telah mengetahui situasi yang dihadapi sahabatnya, dia membiarkan Axel pergi untuk menenangkan dirinya. Gilang hanya berdoa untuk sahabatnya agar cepat melupakan Alika dan kembali menjadi Axel seperti dahulu dan mendapatkan penggantinya.