Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 24


__ADS_3

Setelah mereka selesai ujian pertama, Aminah mengajak dua sahabatnya pergi ke bioskop. Membuat Raina dan Alika heran.


“Min bukannya kamu masih dihukum sama abang kamu”, ucap Alika


“Iya Min, takutnya nanti kamu dihukum berat oleh bang Daniel itu. Kemarin-kemarin kan kamu tidak dapat pergi ke mana - mana lalu saat kami menghampiri kamu dia tidak memperbolehkan kamu pergi karena masa hukuman buat kamu masih panjang. Apalagi kamu sulit dihubungi lagi. Janganlah Min lebih baik kita ke kantin nongkrong sebentar lalu pulang takutnya kamu kena hukuman dari bang Daniel”,omelsq Raina tanpa jeda


“usstt..,”menghentikan bibir Raina dengan jari telunjuk, “tenang saja dia sudah mengizinkan aku yang penting pulangnya tidak sore atau malam”, ucap Aminah.


“Syukurlah”, ucap Alika dan Raina bersamaan.


“Aku merindukan kekoplakan kamu Min Min”, peluk Alika.


“Aku juga”, peluk Raina sambil mereka ikut terkekeh dan suasana menjadi berubah ketika Anisa datang dengan banyak ocehan.


“Iuhh, kalian sedan teletubies ya, sampai pelukan gitu”, ucap Anisa dengan gaya menyebalkan.


“Syirik aja”, sindir Raina


“Aku kesini mau memperingatkan Alika saja, jika sudah punya pasangan tuh dijaga bukannya malah menggoda laki-laki lain”, ucap Anisa


“Iya, dijaga om-om bule itu. Kasihan Axel jika di PHP in ama wanita yang tidak pantas untuknya”, ucap Lisa.


“Oh ya, bukannya yang gak pantas itu orang yang lagi ngomong ya”, sindir Aminah.


“Kita tanyain saja sama orangnya. Siapa yang pantas dan tidak pantas”, ucap Raina dengan memanggil Axel saat berjalan dengan Noval, “Axe”, panggilnya. Anisa dan dua krucul menoleh ke belakang.


“Gawat jika Axel ke sini aku tambah dipermalukan. Awas saja akan aku balas kalian”, batin Anisa


“Ayo, kita pergi saja. Nanti kita nontonnya telat”, ajak Anisa berjalan dahuluan dan diikuti dua krucul.


“Lho mereka kok pergi, padahal kita belum tanya ama Axel”, ucap Raina


“Dia takut mungkin”,kata Aminah


“Kenapa memanggil Axel, Min?”, tanya Noval


“Aku mau menawari, mau ikut ke bioskop tidak?”, ucap Aminah.


“Itu ide bagus, karena kita pulang awal daripada bingung mau nongkrong ke tempat mana lebih baik menonton”, ucap Axel


“Kalau begitu let’s go”, ajak Aminah.


Alika masih terngiang-ngiang ucapan Anisa.


“Benar kata Anisa, aku telah memberikan harapan palsu untuknya. Meskipun Axel belum berbicara apa-apa. Tetapi dia selalu memberikan kode rasa suka untukku”, batin Alika

__ADS_1


“Pokoknya aku harus berbicara dengannya dengan jujur”, batin Alika


“Hei Alika, kamu kenapa?”, tanya Axel


“E..o..tidak apa-apa”, senyum Alika dengan kikuk.


Mereka naik mobil menuju ke gedung bioskop.


“Oh ya Axel, aku sejak tadi tidak melihat Gilang. Dia kemana?”, ucap Raina.


“Kangen ya, cieee”, goda Noval disamping.


“Enggak kok, aku cuman tanya”, jawab Raina dengan nada kesal dan pipi merah merona.


“Tidak kangen kok pipinya merah gitu”, goda Noval.


“Rain kamu menyukai Gilang ya, jika suka kami mendukung kok”,nimbrung Aminah


“Kamu juga Min apaan sih”, dengus Raina. Sementara Alika masih bergelut dengan pikirannya yang merasa bersalah dengan Axel di sampingnya yang fokus mengemudi dan tersenyum.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai ke pusat perbelanjaan. Mereka turun setelah mobil terparkir. Lalu berjalan bersama dengan beriringan menuju gedung bioskop.


Kemudian Aminah dan Raina memesan tiket, sementara Noval memesan minuman bersama Alika dan Axel. Setelah mendapatkan yang diperlukan mereka masuk ke bioskop melihat film romance. Bagi Axel filmnya sangat cocok saat ini bersama Alika yang duduk di sampingnya.


Mereka menikmati hingga berakhir adegan romance. Mereka keluar sambil banyak mengumpat karena si pria dalam film itu bodoh karena tidak membela ceweknya sebagai pemeran utama. Adegan tadi yang mereka tonton menguras emosi sedangkan Alika belum menikmati filmnya karena bergelut dengan pikirannya saat tangan Axel tiba-tiba memegang dan tersenyum hangat padanya. Sedangkan Axel menikmati momen itu hanya untuk berpegang tangan tanpa tahu isi hati Alika.


Ketika Alika sedang berjalan dengan teman-temannya ia melihat Lucas bersama Abraham memasuki sebuah resto kecil. Lalu Alika mengikutinya. Sedangkan mereka yang sedang bingung mencari tempat makan melihat Alika jalan duluan. Lalu mereka menyusul.


“Kita makan dimana nih?”, tanya Noval.


“Kamu punya review gak Min?”, tanya Raina.


Sementara Alika melihat Lucas bersama Abraham masuk resto.


“Mereka sedang apa di sini?”, batin Alika dan kemudian mengikutinya.


“Alika mana sih?”, tanya Aminah


“Itu Alika”, ucap Raina


“Dia punya review, tidak bilang sama kita”, ucap Aminah


“Kita ikuti saja”, ucap Axel


Mereka masuk menyusul Alika yang sedang bersembunyi di balik buku menu.

__ADS_1


“Alika!”, panggil Raina.


“Kalian cepatlah duduk nanti ketahuan”, bisik Alika


Noval yang masih berdiri dengan bingung lalu di tarik oleh Alika.


“usstt.., jangan berisik nanti ketahuan. Jangan pesan makan dahulu”, perintah Alika dengan berbisik. Aminah mencoba menengok ke belakang dan menyadari jika itu Lucas lalu membantu Alika bersembunyi.


“Hei, kalian ngapain sih ke sini tapi tidak makan”, Ucap noval yang hampir berteriak langsung di bungkam mulutnya oleh Aminah yang mengerti situasi dari Alika.


Mereka menguping obrolan dari Lucas, Abraham, dan dua temannya yang satu wanita dan laki-laki. Alika mendengarkan saksama obrolan mereka.


“Lucas kapan kamu akan memberitahu istri kamu jika ia sedang hamil?”, tanya teman ceweknya


“Jika sudah ada waktunya, aku akan mengatakan segalanya”, ucap Lucas.


Alika termangu dan memegang perut ratanya setelah mendengarkan jika ia sedang hamil. Ketika sedang termangu tiba-tiba wanita bule menghampiri Lucas dengan nada amarahnya.


“Lucas! Aku tidak rela jika kamu berhubungan dengan gadis bernama Alika. Kamu anggap apa? Hubungan kita!”, marahnya dan menjadi pusat perhatian.


“Helen, kamu gila ya”, ucap Lucas dengan mengetatkan gigi.


“Kamu yang gila, dengan sekenanya perjodohan kita dibatalkan hanya karean gadis kecil itu”, ucap Helen


“Aku sudah bilangkan, aku tidak pernah menyukai kamu. Jadi jangan buat keributan di sini”, geram Lucas sambil menyeret lengan wanita bule keluar dari resto di salah satu pusat perbelanjaan.


Alika kemudian keluar dari persembunyian dengan memanggil suaminya, “Lucas!”, lirih Alika di depan matanya.


Lucas terkejut begitu juga dengan Abraham.


“Sweety nanti aku bisa jelasin”,ucap Lucas


“Oh ini, gadis yang telah menghancurkan hubungan kita!”, ucap Helen dengan suara lantang dan menghempaskan tangan kekar itu dari lengan miliknya. Lalu menarik rambut milik Alika dan Axel yang berada di sana menolong Alika. Namun Lucas yang dahuluan yang menolong Alika. Tetapi wanita bule itu membawa senjata tajam di dekat leher Alika yang sedang menangis.


“Helena kamu apa-apaan sih?! Lepasin dia, Alika tidak tahu apa-apa”, bentak Lucas.


“Aku tidak peduli, kamu harus cerai dengannya”, ucap Helen.


“Maaf nona dia itu tidak ada hubungannya dengan uncle itu karena dia kekasih saya”, ucap Axel untuk menolong Alika meskipun saat ini hatinya sedang hancur karena mendengarkan bahwa Alika telah bersuami.


“Kamu jangan membelanya”, ucap Helena sambil menodongkan pisau. Para pengunjung yang menonton sangat ironis pada Alika yang di sekap oleh wanita bulenya.


“Saya tidak membelanya nona”, ucap Axel lalu maju dan Lucas langsung menghempaskan pisau meski tangannya terluka. Dan Alika jatuh kepelukan Lucas dengan menangis histeris.


Sedangkan Axel melihat mereka berpelukan hatinya terasa pilu. Lalu ia meninggalkan mereka dengan berjalan lunglai dan menyetir dengan kecepatan tinggi. Ia meneteskan air mata akibat cintanya bertepuk sebelah tangan dengan memukul kemudi dan meringkuk kepalnya di atas tangan.

__ADS_1


__ADS_2