
Di tengah malam Abigail mencoba masuk ke dalam kamar Milka yang tengah tertidur pulas bersama Rayden. Sebenarnya Abigail tidak begitu menyukai Raiden. Namun Raiden telah berjanji untuk selalu melindungi Milka. Jadi, Abigail merestui hubungan mereka tanpa harus ada sesuatu yang berhubungan intim tetapi mereka sudah melakukannya dan membuat Abigail sedikit geram. Namun apalah daya saat Milka mengungkapkan dirinya juga telah melakukan keintiman dengan Vio.
Abigail melangkah menuju ke box dimana Haeun tengah berbaring dan matanya sudah terbuka. Abigail menenangkan Haeun dengan mengatakan, “little, momy mencari kamu. Jangan bangunkan mereka. Ok little girl”. Abigail mengangkat tubuh Haeun ke dalam gendongannya sambil menepuk punggung Haeun dan langsung melesat dengan langkah yang lebar agar cepat keluar dari dua sejoli yang sedang nyenyak tidur sambil berpelukan.
Abigail membuka pintu kamarnya dan di sana Vio sedang tengah menunggu kehadiran Haeun bersama Abigai. Saat sudah dalam kamar Haeun memanggil Vio dengan sebutan mama. Vio menoleh ke sumber suara dan beranjak dari duduknya. Vio mengambil alih Haeun dalam gendongannya.
“Sayang, mama kangen dengan kamu”, ucap Vio sambil memberikan kecupan pada pipi gembulnya.
“Mama, mama”, oceh Haeun.
“Iya, mamah masih hidup untuk melindungi Haeun dari penjahatnya sayang”, ucap Vio dengan mencium kembali pipinya.
Abigail melihat interaksi tersebut ikut merasa senang. Abigail juga memiliki harapan untuk segera mendapatkan seorang malaikat dari hubungannya dengan Vio. Abigail mencoba melangkah untuk ikut bergabung bermain bersama mereka selama beberapa jam. Dan mereka akhirnya terlelap.
Dini hari, Vio terbangun mengingat bahwa dirinya harus segera pergi meninggalkan mansion milk Abigail sebelum semuanya terbangun.
Abigail yang merasakan Vio akan pergi, Abigail menarik lengan Vio dan memeluknya.
“Sweety, aku janji setelah semua urusan selesai aku akan membahagiakan kamu. Aku akan menangkap orang yang telah membuat tubuhmu terluka”, ucap Abigail mengusap kepala Vio dan mencium bau harum di rambut Vio.
“Iya, aku harus pergi”, ucap Vio.
“Baiklah”, ucap Abigail.
Vio pergi lewat depan yang sudah Abigail siapkan rencana dan membuat Vio leluasa keluar dari mansion miliknya.
Setelah punggung Vio menjauh, Abigail menghubungi anak buahnya untuk mengikuti Vio pergi. Lalu anak buahnya menjalankan tugasnya yang di perintahkan oleh Abigail.
Sementara Lucas sedang tertidur di ruang dimana Alika di rawat dengan wajah kusut. Lucas terbangun mendengar suara deringan telepon dari Daniel.
“Hallo Daniel”, sapa Lucas.
“Hallo Lucas, aku menemukan data milik Raina di sana terpampang wajah Raymon di masa lalu. Beberapa hari lalu aku mencoba memasukkan program virus ke dalam ponsel Raina...”, ucapan Daniel terpotong oleh Lucas.
“Ceritanya itu besok saja”, sela Lucas.
__ADS_1
“Tadi kamu bilang Raymon?”, tanya Lucas.
“Iya, Raymond. Musuh dalam selimut yang dahulu pernah hampir merebut klien kita dengan tawaran licik”, ucap Daniel.
“Cari tahu detailnya”, ucap Lucas.
“Baiklah”, ucap Daniel.
“Oh ya, Lucas aku lupa! Jangan dimatikan dahulu! Aku mau memberitahu kepadamu untuk berhati-hati dengan Beni. Dia begitu mencurigakan saat aku tidak sengaja melihat dia di sebuah gedung diskotik. Dia seperti menemui pria tapi di ruang VIP. Aku tidak bisa masuk ke sana”, ucap Daniel.
“Okay, aku akan berhati-hati dengannya”, ucap Lucas.
Setelah selesai mengobrol lewat ponsel, Lucas bergegas menemui Abraham yang lebih dipercaya olehnya dari pada teman dekatnya.
Sementara pria misterius sedang mengadakan pesta di mansionnya atas keberhasilan menghancurkan Lucas.
Mereka berpesta sampai menggila. Pria itu mengundang para wanita untuk melayaninya.
Pria itu berteriak, “untuk menyambut kemenangan kita! Maka kita harus bersulang!”
Sedangkan Amanda berada di mansion begitu khawatir dengan Leon yang tidak pernah mengabari bahwa dirinya telat pulang.
Abraham dan Denis sedang ikut rapat pemilihan calon dewan yang tengah diselenggarakan untuk dipertimbangkan kembali pemilihan untuk mencapai tujuan yang sama.
Sementara Lucas pergi kediaman Saddam untuk menemui anaknya Sean yang kini di bawah pengasuhan Sea.
Lucas memencet bel mansion yang di dengar oleh Saddam. Dan Saddam pergi menuju ke pintu luar untuk membukakan orang yang berada di luar.
Ketika membuka pintu, Saddam terkejut melihat putranya datang namun Saddam mengetahui kenapa dia datang? Lalu ekspresi wajah Saddam berubah sekejap dan menyuruh Lucas masuk.
Lucas masuk ke dalam tanpa kata terhadap Saddam dan langsung menemui putranya yang berada di ruang tengah. Sea yang sedang membawa camilan dan minuman melihat Lucas menggendong Sean. Sea menyapanya, “hallo nak”, sambil meletakkan makanan di atas meja.
Lucas hanya menoleh sebentar dan kembali beralih kepada putranya semata wayang. Kemudian Sea bertanya, “bagaimana keadaan Alika, Lucas?”, dengan menjatuhkan bokongnya di sofa singel.
“Ahhhh”, hembusan kasar dari bibir Lucas. Saddam yang tidak jauh berada di tempat yang sama mengerti perasaan Lucas seperti yang dialaminya dahulu ketika Sea terkena obat yang membuat kepalanya sakit.
__ADS_1
“Dia masih tertidur mom”, ucap Lucas.
“Momy selalu mendoakan untuk kalian”, ucap Sea melihat wajah anaknya yang begitu lelah.
Saddam melihat tatapan mata Sea dengan memberikan sinyal untuk mengatakan sesuatu kepada Lucas. Saddam menarik nafas dan mulai mengatakan, “Lucas, bisakah kita bicarakan di ruang kerjaku”, dengan rasa canggung.
Lucas berdiam beberapa detik untuk menimbang ajakan Saddam.
Aku butuh bantuan daddy. Jika aku begini terus, keluargaku akan selalu dalam penderitaan.
“Baiklah”, ucap Lucas.
Lucas beranjak memberikan Sean kepada Sea lalu pergi mengikuti Saddam yang berjalan di depan.
Sampainya di ruang kerja, Saddam mengambilkan wine di ruangannya dan menuangkan ke dalam gelas yang diletakkan di atas meja.
“Ambillah, ini minuman sangat sulit di dapat”, ucap Saddam. Lucas mengambil dengan meneguk sekali dan meletakkan gelas kosong diatas meja.
“Bagaimana perkembangan usahamu?”, tanya Saddam.
“Lumayan”, ucap Lucas dengan singkat.
“Bagaimana cara menangani musuhmu yang sudah mengincar kamu begitu jauh?”, tanya Saddam.
“Entahlah”, ucao Lucas mengambil botol wine dan langsung meminumnya tanpa menuangkan ke dalam gelas.
“Aku sudah menangkap musuh bebuyutanku tapi di balik serangan Ozzie ada yang lebih kuat dan menudukungnya”, ucap Lucas kembali.
“Aku berikan semua data musuh kamu untuk kau analisis”, ucap Saddam melemparkan kertas di atas meja. Lucas melihat data dan foto yang diberikan oleh Saddam. Lucas melihat sosok yang dikenal yaitu Leon yang selama ini sahabat dekatnya dan Beni kaki tangan yang sudah ia dipercaya.
“Kamu diskusikanlah bersama Abigail, Abraham, dan Denis yang sudah kita percaya selam ini”, ucap Saddam.
“Jika mereka mengkhianati kita?”, tanya Lucas.
“Aku mengenal Abigail sejak ikut denganku menjadi pengawal walaupun tubuhnya masih kecil. Dia berani melawan musuh ketika aku akan tertembak. Abigail selalu memegang kesetiaannya kepada orang-orang yang sudah ia percaya. Kamu boleh menggunakan Adam dan Daniel namun di dalam situasi yang tidak bisa kamu lacak secara diam-diam.Kamu bisa menghubungi orang-orang bawahanmu dengan mengetes kesetiaan mereka. Akan aku bantu di ruangan yang sudah lama aku tinggalkan. Tidak perlu khawatir. Chloe, Chalvin dan lainnya akan membantumu”, ucap Saddam.
__ADS_1