
(Pukul 06.00 pagi)
Lucas, Mark, dan Saddam membawa dirinya ke mansion milik Mark. Sementara Alika menunggu kepulangan suaminya dengan mondar-mandir ke sana kemari.
Beberapa lama kemudian mereka datang dan Alika yang pertama membuka pintu lalu memeluk tubuh suaminya yang kusut dan berantakan.
“Lucas!”, teriaknya dengan air mata berurai.
“Sweety!’, ucap Lucas dengan mencium bau aroma wewangian di rambutnya.
“Syukurlah kalian selamat”,ucap Sea dengan memeluk tubub suaminya.
“Bagaimana kalau kita masuk dulu?”, tanya Mark yang tengah sedikit iri dengan dua pasangan yang saling mengisi kehidupannya.
“Ok Mark, kamu masuk duluan saja”, ucap Lucas.
“Apa kamu mengkhawatirkan aku?”, tanya Lucas.
“Tentu”,angguk Alika dengan menampilkan senyuman hangat.
“Berikan aku obat agar lukaku cepat sembuh”,minta Lucas.
“Tentu”,ucap Alika.
Lal Alika mencium Lucas dengan kecupan namun Lucas masih ada yang kurang sehingga Lucas menahan tenkuk Alika untuk menahan ciumannya.
Sea dan Saddam yang masih disekitar mereka tersenyum lalu Saddam juga ingin Sea memberikan kecupan seperti apa yang dilakukan oleh anak dan mantunya.
“Berikan aku kecupan dong sweetheart”, ucap Saddam dengan menunjukkan ke arah tempat bagian wajahnya yang ingin dimintai ciuman oleh istrinya. Tapi Saddam malah kena cubitan dan tinggal Sea setelah mengecup bibirnya dan berlari masuk.
Sementara Abigail, Abraham, Denis, dan Chalvien datang di kediaman Joni dengan membawa peti. Vio yang datang dari arah belakang memanggil nama kekasihnya.
“Abigail!”, panggilnya.
Abigail menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan yang tidak dapat diartikan lalu memeluk Vio dengan erat. Kemudian menarik tangannya masuk ke dalam kamar Vio dengan amarah memuncak.
“Kamu darimana saja kemarin?”, tanya Abigail dengan geram sambil mata melotot.
“A..a..aku dari luar cari angin”, bohong Vio.
“Cari angin?”, heran Abigail.
“Aku tidak percaya omong kosongmu”,ucap Abigail dengan gigi mengetat.
__ADS_1
“Jawab dengan jujur, kamu darimana saja?”,tanya Abigail.
“Aku pergi keluar dan berolahraga sedikit”, kesal Vio.
“Oh ya, apakah aku percaya dengan bibir bohong kamu ini”, ucap Abigail dengan mengusap bibirnya dengan kasar.
“Kalau kamu gak percaya ya udah”, kesal Vio.
“Kamu benar-benar tidak bisa dimaafkan dan diberi ampun ya”,geram Abigail. Lalu manarik pinggang Vio dan Abigail memulai percintaannya dengan adegan ciuman namun begitu kasar membuat Vio meronta.
Namun Abigail tidak melepaskan ciuman itu sampai ada gigitan dari Vio dan bibirnya mengeluarkan darah.
Vio menangis sambil memukul dada bidang Abigail dengan marah dan kesal.
“Iya, aku berbohong dengan kamu. Aku kemarin memantau ke markas orang-orang jahat itu. Aku ingin membalaskan rasa sakit yang ku alami. Aku hanya... “, ucapan Vio terpotong karena tidak bisa menahan rasa tangisan yang peca sambil memeluk tubuh Abigail. Lalu Abigail membalas pelukan Vio sambil berkata, “maafkan aku”.
“Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Aku sangat khawatir dengan kamu”, ucap Abigail sambil mencium kepala Vio.
Sedangkan di ruang tengah Alam amat terpukul melihat jasad Joni di dalam peti itu dengan adanya jahitan di wajahnya.
“Tuan!”, tangis histeris Alam.
“Aku belum siap atas kematian kamu. Aku belum bisa memenuhi janjiku untukmu. Tuan jangan tinggalkan aku”, ucap Alam dalam tangisan.
“Alam tenanglah, kasihan Joni jika kamu terus menangis. Dia menyuruhku untuk memberikan pesan untukmu bahwa Joni menyanyangimu. Dia juga berkata kamu jangan terlalu bersedih berlarut-larut karena dia sudah bahagia membalaskan kejahatan yang dilakukan oleh Raymond”, ungkap Abraham.
Vio sedang tengah berduka atas kehilangan Joni yang selama ini menolongnya. Begitu juga dirasakan oleh orang-orang yang terdekat dengan Joni.
Semua orang mengantar atas kepergian Joni sampai ke pemakaman. Di sana suasananya sangat sedih sampai Alam terus berurai air mata tanpa henti.
Beberapa hari kemudian setelah insiden itu, Lucas membawa kabar gembira bahwa dirinya akan memiliki anak kedua kepada kedua orang tuanya.
Sedangkan Leon masih tidak terima atas kekalahan dan dia kini berada dalam sel tahanan sebagai seorang tahanan masa percobaan.
Di dalam tahanan Leon mendapatkan kabar bahwa istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan. Kabar itu di sampaikan lewat sipir penjara.
Semua rekannya datang berkunjung menengok Amanda yang tengah menggendong putrinya.
“Amanda selamat”, ucap Arletta teman dekatnya dan ucapan terus mengalir dengan membawa hadiah sebagai tanda ikut bahagia.
“Bagaimana setelah melahirkan? Apakah berat di tubuhmu ringan atau malah sebaliknya?”, tanya Aminah bertubi.
“Berat badanku menjadi sedikit ringan karena putriku sudah hadir”, ucap Amanda dengan senyum bahagia. Rasa bahagia juga dirasakan oleh Vio saat bertemu dengan Haeun yang memanggilnya dengan sebutan mama. Vio memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
__ADS_1
Milka yang berada di sampingnya memukul Vio dan memeluknya untuk melepaskan rasa rindu.
Setelah berpelukan dan melepaskan rindu mereka berdalil di ruang tengah.
“Vi, sungguh kamu membuatku khawatir”, ucap Milka.
“Maaf, aku tidak mengabari kamu. Aku harus bersembunyi dan pura-pura mati”, ucap Vio.
“Tapi,aku senang kamu kembali”, senyum Milka.
“Tahu gak, aku menjaga Haeun sangat kewalahan. Dia itu terlalu aktif. Apabila kamu berhenti bermain dengannya dia akan meronta dan menangis sampai seisi rumah kewalahan”, keluh Milka.
Vio menanggapi dengan tertawa dengan keluhan Milka.
“Kamu kok malah ketawa sih?”, cemberut Milka.
“Gimana gak ketawa, Haeun akan berhenti main apabila di depannya ada makanan. Masak kamu tidak tahu setelah sekian lama merawat Haeun”, ucap Vio.
“Kenapa aku tidak sadar”, ucap Milka.
“Itu tidak parah Milka, waktu aku pas merawatnya dia itu selalu protes dan tidak mau makan sampai aku pusing karena harus kejar waktu untuk bekerja”, ucap Vio.
“Suatu saat jika kamu memiliki anak pasti juga akan sama. Sekarang Haeun itu sebagai latihan kamu mengurus anak”, ucap Abigail.
“Benar juga”, ucap Milka.
“Ngomong-ngomong kapan kalian menikah?”, tanya Milka.
“Lusa”, sahut Abigail tanpa persetujuan Vio.
Vio menatap Abigail dengan mata melotot.
“Why?”, tanya Abigail dengan santai.
“Kenapa kamu tidak berbicara denganku dahulu Abigail?’, tanya Vio.
“Tidak bicara pun, kita harus segera melangsungkan pernikahan sweety”, ucap Abigail dengan mengecup bibirnya.
Milka dan Raiden senang melihat mereka mesra. Apalagi mendengar kelangsungan pernikahan mereka membuat Milka bisa segera menyusul sebelum perutnya semakin buncit dan ketahuan oleh Abigail yang notabenenya kakaknya sekaligus kepala keluarga.
Sementara Alam ikut dengan Abraham dan Denis untuk memantau pergerakan Wily dalam dunia politiknya.
Mereka tidak begitu yakin dengan kebaikan Wily selama ini. Abraham sempat terpanah dengan cara Wily membantu para fakir miskin. Entah siasat apa yang di rencanakannya dengan dua temannya.
__ADS_1
Abraham semakin bingung begitupun dengan Denis yang selalu dapat informasi mengenai siasat para musuh kini dia tidak mampu mengorek informasi dari Wily dan dua rekannya.