Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 59


__ADS_3

Ozzie yang berada dalam sel tahanan sedang menyiapkan surat untuk pria bertopeng tersebut.


***Dear Ozzie


Aku membuat surat ini untuk memberitahukan informasi penting yang telah lama aku simpan dalam brangkas. Kau bisa mengambilnya dan baca isi informasi itu untuk menyerang mereka terutama Lucas***.


Setelah sepuluh menit berkutat menulis pesan dalam kertas. Polisi datang memanggil namanya.


"Ozzie!", panggilnya dengan membuka gembok sel tahanan.


"Ada kerabat kamu mengunjungimu", ucap si polisi laki-laki.


Ozzie melangkah berjalan mengikuti polisi di depannya sampai ke ruang kunjungan. Polisi mempersilakan Ozzie untuk masuk ke ruang kunjungan dan polisi tersebut menunggu di luar.


Ozzie duduk dan mengambil telp genggam. Mereka saling menyapa.


"Bagimana kabar kamu di sana?", tanya si pria misterius.


"Sangat baik", ucap Ozzie.


"Syukurlah kalau kamu tidak terluka", ucap si pria misterius.


"Saya juga bersyukur jika anda juga baik-baik saja meskipun pura-pura ikut bertempur dengan kelompok Lucas", ucap Ozzie dengan tersenyum sinis.


"Hahaha", tawa pria misterius. Setelah tawa itu berhenti Ozzie menengok sedikit ke arah polisi yang menunggu di luar lalu langsung menyelip kertas itu ke lubang kaca sebelum polisi tersebut memergokinya.


Si pria misterius tersebut menanyakan kertas tersebut kepada Ozzie.


"Ini apa?", tanyanya.


"Itu sesuatu penting yang harus kau baca", ucap Ozzie.


"Baiklah akan aku baca setelah dari sini", ucap si pria misterius.


"Ada perihal apa anda sampai datang ke sini?", tanya Ozzie sebelum waktu kunjungannya habis.


"Aku ke sini menanyakan perihal pengacara yang akan mengadili kamu. Besok dia akan datang ke CIA menginterogasi kamu dengan Crishtoper. Aku mau kalian harus bebas untuk menguliti mereka. Apalagi Steve, dia sepertinya sudah mengingat sesuatu soal keluarganya yang pernah kita bantai", ungkap si pria misterius.

__ADS_1


"Carilah tahu selagi kamu berada di tahanan", perintah si pria misterius.


"Baiklah, akan aku cari tahu", ucap Ozzie.


"Bagaimana dengan wanita itu yang telah kau undang untuk menghancurkan rumah tangga mereka?", tanya Ozzie.


"Tidak ada yang beres. Tapi kita bisa manfaatkan dia untuk membuat polemik dalam rumah tangga mereka", ucap pria misterius itu.


"Baiklah, aku akan segera pergi sebelum ada yang mengenal wajahku", ucap si pria misterius ketika penjaga sel tahanan datang.Lalu Ozzie mengangguk kepala.


Sementara Abigail membawa Vio ke Turky tempat kelahirannya. Dia membawa ke tempat pulau terpencil sebagai momen bulan madu sebelum pernikahan dirayakan.


Abigail sudah menyiapkan segala bentuk buku nikah tanpa sepengetahuannya untuk mengikat Vio. Abigail sedang menunggu Vio untuk mengungkapkan perihal siasat yang di perintahkan oleh seseorang.


Saat ini Abigail menggoda Vio dengan kejahilannya ketika Vio menatap pemandangan dari sudut jendela kamar. Abigail melangkah mendekatinya dan memeluk tubuh Vio lalu membisikan di dekat telinganya.


"Apa kamu menyukai?", dengan mencium leher Vio yang membuat tubuhnya menegang.


"Aku menyukainya".


"Oh ya", ucap Abigail dengan mencium lehernya berkali-kali yang membuat Vio merasa jengkel dan kesal sampai Vio harus tega dengan mencubit tangannya yang bertengger di perutnya yang membuat Abigail merintih sakit dan melepaskan pelukan itu.


"Rasain!", ketus Vio dengan berlalu pergi tetapi Abigail langsung mencekal tangan Vio lalu menariknya sampai tububnya terhuyung ke depan menabrak dada bidangnya dengan merintih sakit saat hidung dan keningnya menabrak dada bidang miliknya.


"Aku ingin menerkam tubuhmu", bisik Abigail.


"Jangan Gila!", marah Vio.


"Ya, aku gila karena gadis bodoh yang selalu tidak pernah lelah mengomel", ucao Abigail yang langsung menarik tengkuk untuk menciumnya lalu mengangkat tubuh Vio seperti koala dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lalu memulai aksinya seperti hubungan suami istri meskipun Vio meronta tapi pada akhirnya ia menikmati apa yang dilakukan oleh Abigail.


Malam hari Alika tidak berhenti menggendong Sean yang sedang menangis. Alika menjadi khawatir terhadap Sean yang tidak berhenti meraung. Ketika Alika kewalahan Lucas datang dengan ekspresi wajah lelahnya karena bekerja seharian mengurus data yang tiba-tiba terkena virus entah siapa yang menyelipkan virus di data komputer miliknya di kantor.


Lucas masuk melihat ekspresi Alika yang khawatir dengan menggendong Sean. Lucas menghampirinya.


"Sweety, Sean kenapa?", tanya Lucas.


"Entahlah Lucas, sejak tadi sore Sean terbangun dia terus menangis. Padahal aku sentuh keningnya tidak panas. Sudah aku ganti popoknya dan aku beri susu botol dia menolaknya", ungkap Alika dengan jelas.

__ADS_1


"Boy, kau kenapa?", ucap Lucas dengan nada khawatir sambil mengusap kepala anaknya.


"Sudahkah kamu menghubungi dokter?", tanya Lucas dan Tina menggeleng.


"Baiklah, aku akan hubungi dokter dulu. Agar kita tahu penyebab Sean menangis terus", ucap Lucas dengan mengambil ponsel dari saku kanannya dan mendeal up no Mark.


Mark yang baru saja keluar dari ruang operasi tiba-tiba di ruang kerjanya ponselnya berderit lalu Mark mengangkat.


"Hallo!", sapa Mark.


"Hallo Mark, apa kau hari ini bisa datang ke mansionku? Anakku sakit dia butuh pertolongan", dengan tangan terus mengusap kepala anaknya.


"Baiklah, aku akan segera ke sana", ucap Mark dengan mematikan ponsel sepihak dan dimasukkan ke dalam kantong celana kanan.


Mark membereskan semua perlengkapan medis untuk dibawa ke mansion Lucas. Setelah itu dia bergegas pergi. Beberapa lama kemudian Mark telah sampai ke mansion Lucas. Mark memencet bel mansion milik Lucas. Lalu Mrs. Magareth datang membukakan pintu dan mempersilahkan Mark masuk. Kemudian Mark langsung bergegas menuju ke kamar milik Lucas dan Alika. Setibanya di depan pintu milik Lucas dan Alika, Mark mengetuk pintu dengan keras. Lalu Lucas yang berada di dalam yang sedang duduk di samping Alika untuk ikut menenangkan tangisan Sean mendengar suara ketukan dari luar. Lucas beranjak dari tempat duduk di ranjang membukakan pintu dan menampakkan wajah Mark. Kemudian Lucas mempersilahkan Mark masuk. Alika yang sedang menggendong Sean beranjak dan menyapa Mark.


"Hallo Mark".


"Hai Alika, bagimana keadaan Sean?", sapa Mark dengan mengajukan pertanyaan.


"Dia sejak sore menangis terus, sekarang tangisannya berhenti. Mungkin dia lelah tapi aku menyusui dia terus menolak. Kenapa ya Mark?", ungkap Alika dengan menggendong Sean.


"Coba Sean baringkan di atas ranjang biar aku periksa", ucap Mark mengambil alat medis untuk memeriksa Sean buah hati dari Alika dan Lucas.


Mark memeriksa keadaan Sean yang saat ini menangis ketika tububnya di baringkan oleh Alika. Beberapa saat kemudian Mark menjelaskan perihal kenapa Sean tidak menerima ASI dari Alika.


"Dia sakit sariawan dan perutnya sedang tidak nyaman. Jadi, aku berikan beberapa pengobatan dan vitamin agar Sean cepat sembuh. Sakit yang dialami Sean biasa terjadi kebanyakan bayi yang ku temui. Kalian tidak perlu khawatir. Berikan obat tetes sariawan untuknya dan buatlah tubuh Sean senyaman mungkin. Kamu bisa membaringkan dengan tengkurap sebentar dan kamu menepuk punggungnya agar Sean nyaman", jelas Mark.


"Thank you Mark", ucap Lucas.


"Sama-sama", ucap Mark.


Sedangkan Vio sedang merajuk karena Abigail yang tidak pernah memberikan waktu untuk bersantai. Vio memunggungi Abigail yang sedang memeluk tubuh Vio dengan mengucapkan kata maaf sambil membujuknya dengan mengajak Vio main jet sky dan menyelam melihat ikan. Lalu Vio tersenyum dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Abigail sambil berkata, "janji ya, jangan ingkar", dengan menyodorkan jari kelingking tetapi Abigail tidak maksud apa yang sedang dilakukan Vio. Kemudian Vio memaksa tangan Abigail untuk ikutan menyodorkan jari kelingking lalu Vio menautkan jari kelingkingnya milik Abigail dan memberi cap pada jempolnya.


Kemudian Vio terkekeh geli melihat Abigail tidak mengerti arti saling menautkan jari kelingking. Lalu Vio memeluk tubuh Abigail dengan menghirup bau tubuhnya sambil mengatakan, "arti menautkan jari kelingking itu adalah membuat janji yang harus uncle tepati".


Abigail tersenyum setelah mendengarkan ucapan Vio dan inisiatif Vio memeluk tubuhnya. Lalu tangan Abigail membelai rambut Vio dan mencium kepalanya begitu lama. Kemudian Abigail mengeratkan pelukan Vio untuk membawanya mendekap di dadanya. Vio yang berada di pelukan Abigail merasakan kehangatan yang sudah sekian lama tidak ia rasakan setelah kepergian ibunya. Vio juga sempat merasa bersalah telah berpihak kepada orang jahat meskipun karena keadaan yang memaksanya. Vio menghembuskan nafas kasar di dada bidang Abigail. Abigail yang membawa kepala Vio dalam dekapan merasakan hembusan nafas dari Vio dengan sedikit menggelitik pada dada bidangnya. Abigail merasakan nafas teratur dari Vio yang sudah mulai terlelap dan Abigail pun menyusul ke alam bawah sadar dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2