
Sial, mereka telah mengetahui identitasku. Aku harus melangkah maju untuk melancarkan siasat untuk mereka sebelum mereka menghancurkan aku kembali seperti keluargaku yang telah meninggal. Aku tidak mau menjadi bodoh. Sekarang yang aku harus pikirkan adalah bagaimana membawa pergi Amanda dari mereka.
Argggghhh **** kepalaku ingin pecah rasanya saat memikirkan para aliansi brengs*k itu.
Ketika Leon sedang melamun tiba-tiba ada suara ketikan pintu dari luar dan Leon menyuruhnya masuk.
Pria itu masuk mendekati Leon yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
“Maaf tua mengganggu”, ucap Beni.
“Ada apa kamu ke sini?”, tanya Leon dengan ekspresi dingin.
“Saya mau menyampaikan informasi mengenai istri anda dibawa kemana?”, ucap Beni.
“Dia dibawa kemana?”, tanya Leon.
“Dia dibawa kediaman milik Daniel”, ucap Beni.
Leon menghembuskan nafas lega ketika mendengar bahwa Amanda di bawa kediaman Daniel. Itu akan memudahkan bagi Leon untuk membawa istrinya pergi dari mansion itu.
“Kalau begitu besok kita kerahkan beberapa orang untuk membawa istriku dari kediaman Daniel”, ucap Leon.
“Baik tuan”, ucap Beni.
“Sebelum kamu pergi, aku mau tanya apakah kamu tahu siapa yang pertama kali tahu identitasku dan sampai bocor ke telinga mereka?”, tanya Leon.
“Oh iya, saya lupa menyampaikan itu kepada anda. Informasi itu di dapat dari tuan Joni. Dua yang mengetahui pertama kali identitas pria bertopeng tuan”, ucap Beni.
“Joni?”, Leon mencoba mengingat-ingat orang-orang di masa lalu.
Joni? Joni? Oh ternyata pria tua itu yang pernah dianggap dari bagian hidup keluarga Courvin. Tak ku sangka ternyata dia bisa bertahan hidup. Sungguh luar biasa!! Hahahha.
“Kamu sekarang boleh keluar”, usir Leon.
“Baik tuan”, ucap Beni mengundurkan diri.
__ADS_1
Sementara Lucas, Abigail, Steve, dan Saddam sedang membicarakan soal tentang masa lalu yang terjadi saat sekumpulan aliansi terpecah belah di kediaman Joni.
Joni dan Saddam menceritakan kenapa keluarga Courvin meninggal dalam keadaan mengenaskan.
Falsh back.
“Saddam, kamu keterlaluan tidak mengajakku untuk menggulingkan mereka! Apakah kamu sudah tidak percaya denganku?! Ataukah kamu tidak ingin membagi aset denganku sehingga kamu turun tangan sendiri!”, teriak Courvien.
“Aku percaya dengan kamu Courvien. Kami bukannya tidak mau menghubungi kamu. Tetapi kami sudah berpuluh-puluh kali menghubungi kamu namun kamu tidak mengangkatnya”, ucap Saddam.
“Jika kamu tidak mempercayai yang aku katakan kamu bisa bertanya dengan orang-orang di sini”, saran Saddam.
“Bulshit! Dia bahkan kemarin malam telah melancarkan serangan kepada musuh kita tuan Courvien”, ucap Raymon menambahkan sulut api diantara ketiga aliansi.
“Maaf tuan, bukannya aku membela tuan Saddam. Tapi, saya juga ikut menghubungi anda”, ucap Abigail yang masih menginjak usia tujuh tahun.
“Kamu tahu apa bocah ingusan!”, bentak Courvien.
“Aku sudah tidak percaya lagi dengan kalian”, ucap Courvien dengan pergi berlalu meninggalkan markas besar yang telah dibangun bersamanya.
Api sulut pun semakin membesar setelah kejadian kebakaran gudang milik keluarga Courvien terlalap si jago merah. Apalagi ditengah hubungan Saddam dengan istrinya yang sering kali bertemu dengan istrinya meski mereka pernah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Courvien sudah tidak mempercayai Saddam. Padahal Saddam bertemu dengan istrinya untuk meminta tolong mengembalikan suaminya agar seperti dahulu yang tidak mudah tersulut dengan emosi.
Semakin hari, Courvien sudah tidak bisa dikendalikan emosinya. Dia terus melakukan rencana serangan terhadap Saddam dengan aliansi lainnya.
Joni yang berada di pihak Courvien pun juga ikut menyerang markas milik Saddam sampai meneror mansion milik Saddam dengan sebuah bahan peledak yang hanya mematikan satu orang. Bahan peledak itu diterima oleh salah satu pelayan rumahnya dan dia belum sempat memberikan kepada Saddam bahan peledak itu telah aktif.
Peringatan yang diberikan oleh Courvien tidak main-main sehingga mereka berkumpul untuk membalas serangan yang telah mereka berikan.
Saddam bersama kedua orang tua Abigail dan lainnya di tengah malam dalam markas telah dikepung oleh para aliansi milik Courvien. Mereka saling menyerang dan menjatuhkan dengan senapan api ataupun panah yang mereka miliki.
Saddam yang berada di depan mencoba melumpuhkan Courvien di kakinya saat itu juga ada salah satu anak buahnya yang berpengkhianat mencoba menembakkan kearah Saddam namun peluru itu menancap kebagian jantung ayahnya Abigail.
Para aliansi pun mundur setelah mendapatkan perinta dari Courvien dan Ellios.
__ADS_1
Saddam berteriak histeris di tengah keporandakan markas miliknya.
Paginya Saddam membawa pulang jasad kawan baiknya di kediaman miliknya. Abigail yanh baru saja keluar langsung berlari menghampiri jasad ayahnya dan diikuti oleh istrinya yang tengah hamil. Mereka menangis dengan histeris.
Lucas dan Sea ikut berkabung ke pemakaman milik ayahnya Abigail.
Setelah tiga bulan menyerang keluarga Saddam. Raymon dan pamannya memiliki rencana licik dengan memutuskan untuk menculik Lucas waktu kecil.
Saat itu Saddam sedang mengurusi perusahaan yang diembannya sedang dituntut oleh Courvien tiba-tiba ditengah kesibukkannya wali kelas Lucas menghubungi bahwa anaknya diculik oleh sekelompotan preman membuat Saddam semakin hancur begitu juga dengan Sea setelah mendengar kabar dari Saddam.
Saddam menduga bahwa yang menculik anaknya adalah aliansi dari Courvien. Courvien yang sedang menggendong Leon tidak tahu apa-apa. Penculikan itu diluar kendali Courvien.
Raymon dan Ellios sedang terbahak-bahak bersama. Mereka telah berhasil mendapatkan setengah aset milik Courvien. Mereka sedang membuat paket ancaman untuk keluarga Saddam.
Saddam yang berada di mansion sedang menenangkan Sea yang terus saja menangis. Ketika Saddam akan beranjak untuk menelepon setelah menenangkan perasaan Sea istrinya tiba-tiba ada pelayan yang mengetuk pintu kamar miliknya. Saddam menyuruh pelayan itu untuk masuk.
“Maaf tuan mengganggu, saya ke sini mau memberikan kiriman paket entah dari siapa tuan”, ucap pelayan tersebut.
“Baiklah, kamu boleh keluar”, usir Saddam setelah mengambil alih paket dengan sampul berwarna coklat.
Saddam membuka paket tersebut dan isinya sebuah surat dan foto Lucas sedang diikat dengan wajah babak belur.
Surat itu beris, “putramu akan mati ditanganku jika kamu tidak segera membagi sebagian aset yang kau miliki”.
Saddam meremas surat itu dan foto anaknya sebelum Sea melihat putranya yang tengah disakiti oleh mereka. Saddam semakin geram.
Mari kita lakukan apa yang kau buat Courvien.
Courvien menerima surat balasan dari Saddam dengan sebuah ancaman jika dirinya akan menerima segala sesuatu yang telah menjadi tekad bulatnya.
Courvien membaca isi pesan dari Saddam. Pesan itu berisi sebuah ancaman yaitu aku akan menerima yang telah kamu tuai. Aku akan balaskan segala yang telah kamu sentuh dan dedamku terhadap kamu. Di tengah malam nanti kita bertemu.
Courvien melihat ancaman itu juga merasa geram dan tersenyum menyeringai dengan tatapan mata menyalang.
Aku terima balasan kamu. Akan aku tunggu, siapa yang menang.
__ADS_1