Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 67


__ADS_3

Satu minggu berlalu, setelah pencarian Vio namun tidak di temukan kemana ia pergi. Kini Haeun dibawah pengasuhan Milka sampai Vio di temukan. Milka hanya berharap Vio kembali dengan keadaan masih hidup.


Abigail yang tengah frustrasi tak kunjung menemukan Vio, saat ini dia menatap wajah di photo bingkai yang diambil saat selfi di turki.


Tatkala Abigail sedang merindukan Vio, kini Vio sedang berbincang di teras halaman depan rumah dengan pria paruh baya bernama Joni.


“Bagaimana keadaan kamu, nak?”, tanya Joni.


“Sudah membaik grandpa, cuman sedikit sakit di bagian mata kanan saya”, ucap Vio.


“Syukurlah”, ucap Joni.


“Apakah kamu minum obat itu secara rutin?”, tanya Joni.


“Tentu, seperti yang dikatakan oleh dokter”, ucap Vio dengan jari saling bertautan.


“Apakah aku boleh meminta bercerita sekarang mengenai kamu terlibat dalam masalah para mafia itu?”, tanya Joni.


Vio membalas dengan anggukan kepala. Vio mulai bercerita kenapa dirinya bisa terlibat dengan urusan para mafia yang begitu rumit.


“Uhmm.. saya harus mulai dari mana ya?”, tanya Vio dalam batin.


“Mulailah dengan cerita singkat”, ucap Joni seolah tahu dalam pikiran Vio. Vio menoleh menatap pria paruh baya itu.


“Baiklah”, ucap Vio mantap dengan memposisikan tubuhnya bersandar di kursi.


“Waktu itu saya tidak tahu apa-apa soal hutang yang ditangguhkan kepada saya. Hutang itu sebenarnya milik ayah saya. Tetapi pria bajing*n itu yang notabenenya ayah saya malah melemparkan hutang keluarga barunya dilimpahkan kepada saya sebab dia tidak dapat membayar berpuluh-puluh juta. Saya sebenarnya merasa jengkel. Saya sudah di keluarkan dari kartu keluarga sebab katanya saya sudah harus hidup mandiri. Namun kakak tiri saya hidup bergelimang dibawah kekuasaan ayah saya. Saya merasa sakit hati”, ucap Vio dengan ekspresi geram dan marah. Joni yang berada di sampingnya mengerti perasaan yang di alami oleh Vio.


“Terus bagaimana kamu bisa terlibat dengan para mafia?”, tanya Joni.


“Saya terlibat karena diawal saya dijual oleh preman rentenir tersebut. Lalu saya di tolong oleh seorang wanita bernama Raina. Dan saya harus membalas kebaikannya dengan menjalankan misi menghancurkan aliansi milik Lucas”, ucap Vio.


“Jadi kamu dijadikan tameng oleh mereka untuk memperlancaran aksi siasat mereka”, ucap Joni dan diangguki oleh Vio.


“Waktu kamu belum mengalami luka seperti ini, kamu tinggal dimana?”, tanya Joni.


“Saya tinggal di rumah teman saya dan tidak tahunya saya terlibat dengan urusan kakaknya yang rumit. Kakaknya seorang anggota CIA musuh dari bosnya Raina dan dia juga anggota dari aliansi Lucas”, ucap Vio.


“Apakah dia bernama Abigail?”, tanya Joni yang diangguki oleh Vio kembali.


Lalu Vio berganti bertanya dengan pria paruh baya tersebut.


“Grandpa kok bisa tahu nama yang saya sebut?”, tanya Vio.

__ADS_1


“Ya, saya tahu. Dahulu pernah terlibat bersama keluarga Saddam dan Lucas masih kecil. Setelah persengitan selesai kami bubar dan melakukan aktivitas masing-masing dengan bekerja aman setelah insiden yang mematikan itu”, ucap Joni.


“Sudahlah, kita tidak perlu mengingat itu semua. Lebih baik kamu sembuhkan luka kamu dan akan saya ajarkan beberapa metode menghadapi musuh agar kamu dapat kembali ke negara kamu dengan aman”, ucap kembali Joni.


“Baiklah grandpa, selama aku tinggal di sini. Aku akan membantu kamu bekerja menanam berbagai sayuran”, senyum Vio.


“Kalau begitu saya terima tawaran dari kamu”, ucap Joni sambil minum kopi hitamnya yang akan habis.


Vio ikutan minum namun milik Vio minumannya berupa teh manis sambil berkata dalam hati, “Haeun tunggu mama, akan menjemput kamu dan membongkar semua kebusukan Raina sebagai aksi dendamku kepadanya juga terhadap ayah kandung yang brengs*k bersama keluarganya”.


Sementara Lucas sedang berkutat masalah pasar saham yang saat ini sedang turun. Lucas menghubungi para karyawannya untuk pengadaan rapat dadakan untuk mengreview hasil kerja dan pemasaran global.


Para karyawan langsung bergegas mengumpulkan semua data tahun lalu dan untuk tahun sekarang. Mereka bekerja sambil mengeluh saat tiba-tiba ada perintah untuk rapat mengenai pemasaran global.


Lucas yang berada di ruang kerja dibantu oleh Lucy untuk mengepak beberapa laporan untuk di diskusikan bersama karyawannya.


Setelah dua jam berlalu, Lucas telah menyelesaikan pekerjaannya dalam mengepakkan hasil laporan untuk di review ulang.


Lalu Lucas menghubungi seluruh jajaran karyawan untuk segera memasuki ruang rapat satu setengah jam lagi. Para karyawan mengeluh dengan mengeluarkan kata, “yahhh, kita harus cepat mengumpulkan sebelum rapat di mulai”.


Sedangkan Alika sedang menemui Saddam ayah dari Lucas setelah Sea memohon. Alika bersama Sea dan Liana pergi menuju di kediamannya dimana Saddam berada.


Sea yang sedang memangku Sean begitu senang. Alika yang melihat kedekatan putranya dengan neneknya juga ikut bahagia.


“Alika, aku akan ceritakan ayah Lucas yang belum pernah kamu temui nak”, ucap Sea.


“Apakah ayah Lucas memiliki sikap yang sama dengan putranya?”, tanya Alika.


“Bingo, pertanyaan yang bagus”, kekeh Sea.


“Ayah Lucas memiliki sifat yang sama dengan putranya yang suka pemaksa, berekspresi dingin, dan sama-sama keras kepala. Namun jika berurusan dengan orang terkasihnya mereka akan bersikap hangat”, senyum Sea.


“Dahulu aunty memiliki umur seperti denganmu nak dan di paksa menikah dengan ancaman yang tidak masuk akal seperti saat Lucas mengancam kamu di altar pernikahan tapi bedanya kalau Saddam mengancam keluargaku akan dibuat bangkrut jika putri keluarga itu tidak menuruti kemauan dirinya. Pada akhirnya putri dari keluarga yang diancam oleh Saddam menerima kenyataan bahwa dirinya harus menikah dengan pria dewasa yang notabenenya dahulu dia seorang mafia dan pengusaha terkenal. Setelah pernikahan itu di jalani, dia jatuh cinta dengan Saddam dan mulai hidup bahagia”, cerita Sea.


“Berarti sama dong Sea”, kekeh Liana di depan samping kemudi.


“Iya, Liana”, ucap Sea.


“Apakah itu takdir atau kutukan dari keluarga kamu?”, ucap Liana dengan tertawa.


“Mungkin kutukan Liana, karena cerita kami pasti hampir sama. Iya enggak Alika”, ucap Sea dengan menyenggol lengan Alika. Lalu Alika menjawab dengan mengangguk kepala dengan malu-malu dan pipinya merona. Kemudian mereka tertawa dan Sean dalam pangkuannya ikut tertawa.


Liana, Alika dan Sea menggoda Sean yang ikut tertawa dalam pangkuan Sea.

__ADS_1


“Apa anak momy tahu yang di bicarakan uhmm?”, tanya Alika dengan mencium pipi gembulnya.


“Iya nih Sean, kamu kayak tahu aja yang di tertawain”, kekeh Sea dengan mencium pipi gembulnya bertubi-tubi sampai menjerit.


“Sepertinya dia tahu”, kekeh Liana lewat kaca spion.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai di kediaman Sea. Mereka turun dari mobil lalu melangkah menuju mansion. Lalu Sea membuka pintu dan mengucapkan selamat datang untuk Alika dan Liana. Kemudian Sea mempersilahkan mereka duduk dan memberikan Sean sementara kepada Alika untuk memanggil suaminya keluar dari ruang kerja. Alika dan Liana menunggu di raung tengah.


Sedangkan Sea memanggil suaminya yang sedang berkutat dengan komputernya. Entah apa yang di kerjakan suaminya. Sea mendekati suaminya yang sedang serius.


“Honey!”, panggil Sea.


“Ya sweety, ada apa?”, tanya Saddam.


“Yuk, kita keluar ada kejutan untukmu honey”, ajak Sea.


“Kejutan apa?”, tanya Saddam yang tidak mengalihkan pandangannya dari komputer.


“Kalau kejutan tidak boleh diomongin, apabila sudah di beritahukan namanya bukan kejutan honey”, ucap Sea dengan menarik lengan suaminya.


“Ayo, nanti kejutannya hilang lho”, ucap Sea.


“Sekarang matiin dahulu komputernya. Aku mohon honey”, ucap Sea kembali.


“Baiklah, aku akan matika dahulu komputernya”, ucap Saddam.


Setelah selesai mematikan komputernya Saddam mengikuti langkah Sea keluar menuju ruang tengah lalu Sea berteriak dengan kalimat kejutan, dengan kedua tangan di rentangkan.


Alika dan Liana beranjak dari duduknya kemudian menyapa Saddam.


“Hai Saddam, sudah lama tidak berjumpa”, ucap Liana.


“Iya Li”, ucap Saddam.


“Hallo uncle”, sapa Alika dengan sedikit gugup namun masih bisa menampakkan senyuman sapa dengan hangat.


Saddam tidak menjawab hanya memandang wajah mantunya yang tengah menggendong Sean cucunya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Saddam terus melangkah maju mendekati mantu dan cucunya lalu mengusap pipi gembulnya dengan menampakkan senyuman hangat. Alika yang tadinya gugup dengan ekspresi Saddam yang menakutkan setelah melihatnya tersenyum membuat hatinya lega. Saddam tiba-tiba memindahkan tubuh cucunya dalam gendongan tanpa meminta izin dan mengatakan, “oh cucuku, kamu tampan sekali”, sambil meninggikan tubuh Sean. Membuat orang-orang disekitarnya pun tersenyum.


Lalu Saddam menyuruh mereka untuk duduk dan mulai bersuara memuja mantunya.


“Nak, kamu sungguh cantik. Mata jeli Lucas sepertiku tidak pernah melesat memilih gadisnya”, puji Saddam.


“Iya sama-sama jelih, tapi tingkat keras kepalanya yang buruk”, kekeh Sea dan membuat dua wanita di sekitarnya pun ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2