
Abigail tengah sibuk bekerja meneliti lembaran kertas yang tertumpuk diatas mejanya. Abigail juga menyiapkan bahan untuk perencanaan pembangunan restoran di area resort.
Di saat Abigail tengah sibuk mengoreksi dokumen-dokumen, Daniel datang bersama dengan Scarlet, Adam dan Alam.
“Hallo bro!”, sapa Daniel dengan langsung duduk di sofa ruang kerja milik Abigail.
“Ada apa ini?”, tanya Abigail dengan ekspresi dingin.
“Kami ke sini untuk membahas soal nanti malam”, jawab Daniel.
“Kalau Scarlet aku tidak tahu. Kami bertemu dengannya di lobi”, ucap Adam.
“A..aku ke sini sebenarnya mau memberikan makan siang untukmu”, ucap Scarlet.
“Aku juga mau minta izin mengajak mereka pergi bermain”,sambung Scarlet.
“Baiklah, aku ijinkan. Kamu membawa mereka juga harus minta persetujuan Milka. Aku tidak mau Milka memukulku karena tanpa persetujuannya”, ucap Abigail.
“Thank’s Abigail”, ucap Scarlet.
“Kalau begitu aku pergi dulu”, pamit Scarlet.
Scarlet pergi meninggalkan kantor milik Abigail menuju mansion milik Abigail dimana putra dan putri Abigail berada.
Sedangkan Abigail mendengarkan ocehan para sahabatnya mengenai rencana untuk malam dan membahas mengenai Scarlet.
“Bro, apakah kamu tidak memiliki pemikiran untuk menyukainya setelah apa yang ia lakukan kepada Alex dan Haeun setiap harinya?”, tanya Adam.
Adam mendapatkan pelototan mata dari para sahabatnya setelah mengajukan pertanyaan di hal luar pembahasan. Adam meringis dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Sudahlah, kita tidak perlu membahas soal pribadi. Lebih baik membahas bagaimana kita mendapatkan bukti bahwa pria bertopeng itu adalah Christoper”, ucap Alam yang merasa geram atas pertanyaan yang diajukan oleh Adam.
“Benar kata Alam, kita bahas masalah musuh kita agar segera cepat selesai drama-drama masa lalu”, ucap Daniel.
“Nanti malam Wily dan pria itu akan mengikuti pesta pertemuan antar pejabat dan pengusaha bersama orang asia untuk memperkuat politik dan dukungan di sana”, ucap Alam.
“Kalian pasti sudah memiliki undangan masing-masing dari perusahaan terkenal yang menduduki posisi ke lima di Eropa”, sambung Alam.
“Ya, kami mendapatkan”, ucap Abigail.
“Jadi, kalian harus bisa mengambil ponsel milik Willy dari kantong celana miliknya dan kita bisa mencuri data mengenai informasi entah pria itu maupun dana kampanye miliknya”, ucap Alam.
“Yah siapa tahu data itu ada di sana”, ucap Alam kembali.
“Kita juga harus mengawasi gerak gerik pria bertopeng itu “, ucap Daniel.
“Masalah Christoper sudah ditangani oleh Lucas dan Denis”, ucap Alam.
“Baiklah, nanti malam kita memulai rencananya sesuai peran yang kita dapatkan”, ucap Abigail.
Di cafe Scarlet, Milka dan ketiga bayi mungil tengah asyik menikmati makanan manis. Mereka terlihat sangat bahagia. Sementara di sudut luar parkiran di cafe itu, ada seorang wanita yang mengintip kebahagiaan dua wanita dalam cafe. Ia terlihat sedih melihat putrinya bersama wanita lain. Dia hanya bisa memandang dari jauh dengan tatapan nanar.
Apalagi ada dua pria yang datang menghampiri mereka. Salah satunya Abigail.
__ADS_1
“Kak, ternyata kamu datang juga”, ucap Milka.
“Ya, aku menyempatkan untuk putriku dan putraku”, ucap Abigail.
“Kalian mau pesan apa?”, tanya Milka.
“Kami samakan saja sweety”, jawab Raiden.
“Bagaimana pekerjaan kamu, Abigail?”, tanya Scarlet.
“Ya, begitulah”, jawab Abigail.
Vio yang berada di luar cafe dibalik persembunyian dalam mobil merasa hatinya tersayat saat melihat kedekatan Abigail bersama wanita lain. Lalu Vio pergi meninggalkan pelataran cafe setelah Abigail dan lainnya keluar. Vio mengumpat pada dirinya dengan berkata bodoh sambil menancapkan gas dengan kecepatan tinggi.
Vio menghentikan mobilnya di area taman. Vio mengusap air mata dengan kasar sambil bermonolog, “apakah aku masih bisa bertemu dengan mereka setelah aku meninggalkan mereka tanpa pamit”.
“Aku sebenarnya tidak ingin menjadi seperti ini. Namun jalan takdirku mengharuskan aku untuk menyelesaikan masalah ini untuk menembus rasa sakit yang dialami ibu dan nenekku. Jika suatu saat Abigail bahagia dengan wanita lain. Aku akan mengiklaskan itu semua. Namun aku tidak bisa berpisah dengan putriku dan putraku. Apakah aku memiliki kesempatan untuk bisa merawat mereka juga. Kenapa rasanya sakit seperti ini?”, sambil mmemukul dadanya yang terasa sesak.
Di sebuah markas bawah tanah, pria bertopeng itu merencanakan detail untuk bisa menghancurkan aliansi milik musuhnya. Pria itu tengah memanfaatkan kerja samanya dengan Willy. Dengan begitu dia bisa membuat aliansi milik musuhnya lumpuh. Kekuatan politik tidak sembarangan bagi pria itu.
Pria itu memerintahkan anak buahnya untuk meretas data milik orang-orang yang berkecimpung dalam dunia politik. Dengan begitu dia bisa mendapatkan perlindungan yang kuat untuk menjatuhkan aliansi milik Saddam.
Malam pukul 07.00 para wartawan bersiap untuk mendapatkan wawancara dari para pengusaha maupun pejabat-pejabat yang hadir dalam pesta itu.
Para wartawan tak berhenti bekerja keras untuk mendapatkan foto dan wawancara dari para petinggi.
Vio yang sejak tadi berada di arena prakir terus mengamati para tamu undangan bersama dengan William.
“Will, aku lebih baik turun dan bersembunyi di kerumunan para wartawan agar bisa mengikuti gerak gerik para pejabat dan pengusaha lainnya”, ucap Vio.
“Aku tahu, kita bisa menyusup sebentar diantara mereka kan”, ucap Vio sambil membenarkan wig di kepalanya.
“Yaudah, kita hanya sampai Willy dan pria itu datang”, ucap William.
“Iya”, ucap Vio turun dari mobil dengan gaun sedikit ketat.
Vio melihat para tamu undangan berdatangan sambil bergandengan dengan pasangan mereka. Vio mencoba mengambil gambar para tamu undangan. Vio juga melihat orang-orang yang dikenalnya datang ke pesta itu. Vio mengambil satu persatu hingga Vio melihat adegan dimana Abigail datang bersama dengan wanita lain. Vio merasa sesak di dadanya melihat mereka berpasangan yang terlihat lebih cocok di banding bersama dengannya. Saat tengah melamun William menepuk bahu Vio untuk melihat yang ada di pojokan sana. Vio beralih ke arah Willy bersama para ajudan dan pria yang disebelah Willy. Vio mengambil foto lalu pergi meninggalkan tempat itu lalu ikut masuk bersama William.
“Will, kamu sudah tahu apa tugas kita di sini?”, tanya Vio.
William menjawab dengan anggukan kepala.
“Kamu harus berhati-hati”, ucap William. Vio menjawab dengan anggukan juga.
Vio dan William berpisah untuk merencanakan aksinya. Sementara Adam tengah mengamati pria bertopeng itu dengan mengambil gambar. Mereka mulai aksinya untuk tugas dan peran mereka masing-masing. Sementara para wanita berada di bawah pengawasan Raiden.
Vio mencoba mendekati Danu yang saat ini tengah bergabung bersama Willy untuk mendapatkan bukti-bukti kejahatannya. Vio berpura-pura menabrak punggung pria paruh baya itu. Pria itu mengadu dengan kesal karena minumannya tumpah di atas kemeja Willy. Vio lalu langsung berperan menjadi wanita penggoda.
“Ups, maaf”, ucap Vio dengan ekspresi menyesal sambil membantu membersihkan kotoran di kemeja Willy.
“I’m sorry”, ucap Vio.
“Lain kali anda harus berhati-hati”, ucap Danu.
__ADS_1
“Iya tuan, maaf”, ucap Vio dengan alih-alih tangannya merobek kantong celana milik Danu dengan lihai setelah di rasa cukup aman.
William melihat Vio berhasil mengambil ponsel itu tersenyum senang.
“Ternyata berhasil juga mendapatkan ponsel milik pria itu. Tinggal menunggu ponsel milik pria paruh baya yang ketumpahan air minum milik Danu”, batin William.
Di area sudut lain, Abigail tengah terus memperhatikan gerak gerik wanita yang berani mencuri ponsel milik pejabat dengan senyum miring.
Vio tengah berusaha untuk bisa mendapatkan barang milik Willy.
“Tuan, bagaimana kalau kemejanya saya cucikan di toilet”, ucap Vio dengan mata genit.
“Wanita ini berani juga ya. Apa boleh buat untuk mendapatkan pelayanan darinya”, batin Willy dengan matanya teeus menelisik bagian tubuhnya yang hot.
“Baiklah, saya akan kabulkan permohonan maaf kamu”, ucap Willy.
Willy dan Vio berjalan beriringan dengan masuk di salah satu kamar. Sampai di dalam kamar Vio menyuruh Willy untuk membersihkan diri sembari dirinya membersihkan pakaian yang ketumpahan air. Willy pun menurut pergi membersihkan diri dengan senyum c*bul.
Vio merasa merinding dan jijik melihat Willy. Vio beraksi mengambil ponsel miliknya dengan meretas semua data dengan flashdishk yang di bawanya.
Beberapa menit kemudian Vio pergi dari kamar itu dengan meninggalkan note kecil di kemeja barunya. Vio berjalan melewati beberapa pintu dan melihat seoran pria bertopeng menuju ke arah jalannya. Vio bergegas pergi menuju ke ruang lain namun terkunci sehingga Vio harus melangkah lebih lebar untuk tidak bertemu atau berpapasan dengan pria bertopeng itu.
Langkah jalan Vio semakin cepat ketika pria bertopeng itu menyadari bahwa dirinya mempermainkan kliennya. Vio sampai melepas hak sepatu sampai ada seseorang yang membekap mulutnya di suatu ruang baca. Vio meronta dalam dekapan pria di belakangnya sampai rambut palsunya terjatuh.
Pria itu menyuruh Vio berdiam dalam suara lirih. Vio berdiam dengan berkeringat di pelipisnya sambil merafalkan mantra agar tidak ditemukan oleh pria bertopeng itu.
Pria bertopeng mencoba mengendap di salah satu ruangan yang pintunya tidak terkunci. Pria bertopeng itu membuka satu persatu area ruangan dan tidak menemukan siapapun. Sedangkan Vio di dalam ruang baca terus merafalkan dengan jantung deg-degan.
Pria bertopeng itu pergi menghampiri Willy. Sementara Vio bernafas lega saat pria di belakangnya mengatakan kalau dirinya telah aman. Vio memberikan omelan kepada pria itu yang telah berani membuatnya hampir tidak bisa bernafas dengan membalikkan tubuhnya sambil mengambil wig yang jatuh di lantai tanpa melihat sorotan tatapan tajam untuknya.
“Tuan lain kali kalau menolong jangan langsung membekap mulut saya. Saya hampir kehilangan nafas dan mau mati. Walaupun tuan sudah menyelamatkan saya tetap saja lain kali tuan menolong dengan cara yang benar”, omel Vio sambil membenahi wignya.
“ Kamu lebih baik kehilangan nafas daripada aku selalu khawatirkan kamu”, ketus Abigail dengan ekspresi dingin.
Vio mendengar perkataan pria itu langsung memandang wajahnya. Lalu Vio terkejut melihat Abigail berada di depan matanya dengan tatapan bengis dan dingin. Vio tidak bisa berkata. Vio terpaku seperti patung.
“Kita akhirnya bertemu”, ucap Abigail dingin.
“Apakah kamu bahagia mempermainkan pria ini?”, tanya Abigail dengan amarah dan nada tinggi sambil membawa Vio menghentakkan punggungnya ke tembok.
“Jawablah!”, ucap Abigail dengan nada tinggi.
Vio menjawab dengan air mata menetes.
“Iya, aku senang mempermainkan pria sepertimu. Karena kamu telah menghancurkan semua rencanaku dengan kekasihku”, bohong Vio dengan nada tinggi.
“Itukah balasan kamu untuk membalas apa yang ku lakukan dengan kekasihmu yang lama!”, ucap Abigail.
“Iya”, ucap Vio.
“Kalau begitu kamu perlu hukuman yang berat karena telah menghancurkan perasaanku”, ucap Abigail dengan menyeret lengan Vio dengan kasar. Ia terus berusaha terlepas dari genggaman Abigail. Abigail tidak memperdulikan orang-orang di sekitar yang memandang dirinya tengah menyeret Vio. William yang sedang mencari Vio di beberapa sudut ruangan tidak menemukan batang hidung sehingga William mencoba menghubungi Vio yang sedang menangis di samping kemudia Abigail.
Abigail menancapkan gas dengan kecepatan penuh. Entah persetan apa yang membisikkan Abigail untuk berbuat keras terhadap Vio.
__ADS_1
Milka yang tidak sengaja melihat Abigail membawa paksa wanita yang dia kenal hanya bisa menatap nanar dan tak bisa membantunya. Di sisi lain Scarlet terus bertanya keberadaan Abigail namun dia hanya mendapatkan dari Milka dengan jawab tidak tahu. Begitu juga dengan lainnya. Adam yang sudah melihatpun juga berpura-pura tidak tahu.