
Sinar mentari menyelusup di sela-sela jendela berkorden putih. Saat ini Vio sedang memandikan Haeun yang telah bangun kemudian turun ke bawah menuju dapur membuat susu hanya satu botol karena susunya sudah habis.
Ketika Vio sedang menyeduh susu, Abigail datang mengambil kopi instan untuk ia nikmati.
"Hai little girl", sapa Abigail di samping Vio untuk Haeun sambil mengusap kepalanya di gendongan Vio.
"Apakah kamu haus?", tanya Abigail. Lalu Haeun menjawab dengan suara gumaman yang bahkan tidak dimengerti oleh orang-orang dewasa.
"Tumben kamu hanya buat satu botol, biasanya kan tiga botol", ucap Abigail yang sudah selesai menyeduh kopi latte instannya.
"Iya, aku buat satu botol, soalnya susunya telah habis. Mungkin nanti aku minta Milka buat nganterin aku ke supermarket sekalian jalan-jalan", ucap Vio sambil meneteskan air susunya ke pergelangan tangan untuk mengetahui suhu susu yang dibuat tidak panas.
Milka yang berada di belakang setelah mendengarkan Vio berucap untuk minta diantar olehnya tiba-tiba Milka mengagetkan dengan suaranya dan merangkul pundak temannya.
"Abigail bolehkah aku minta bantuan kamu untuk mengantarkan Vio ke supermarket, karena aku hari ini ada jam perkuliahan yang padat dan kemungkinan aku pulang sore", ucap Milka.
Milka menatap wajah kakaknya yang sedang menyesap kopi dengan tangan kiri di sembunyikan dalam saku celana panjang.
Please Abigail, kamu harus mau, ini kesempatan bagimu untuk menaruh perasaan ke dalam hatinya.
Sedangkan Abigail berpikir matang dan mengiyakan.
"Oke, aku akan mengantarnya tetapi siang nanti sekalian aku mencari kado untuk Aminah", ucap Abigail.
"Emangnya dia hari ini ulang tahun?", tanya Milka.
"Bukan perayaan ulang tahun...," jeda Abigail dengan menyesap kopinya dahulu lalu melanjutkan percakapan, "dia merayakan syukuran atas kehamilan keduanya setelah dulu mengalami keguguran".
Milka lalu beroh ria dengan melangkah ke meja makan yang sudah ada hidangan menu roti dan selai. Dengan disusul Vio ke meja makan bersama Abigail.
"Vi.. nanti kamu mau kan diantar Abigail?", tanya Milka dengan menguyah makanan.
"Yah mau gimana lagi, karena kamu sibuk, aku tidak mungkin memaksa kamu", ucap santai Vio sambil meletakkan Haeun ke dalam kursi bayi namun tidak mau dan akhirnya Haeun dalam pangkuan dengan meminta roti tawar.
Vio memberikan separoh roti tawar kepadanya dengan terus mengoceh.
Sementara Daniel sedang memantau pekerjanya untuk mendekorasi area belakang rumah untuk pesta barbequenya. Kesibukan Daniel saat ini sangat luar biasa sampai mengadakan rapat di mansionnya. Dia tidak ingin meninggalkan Aminah satu langkah pun beranjak keluar kecuali pergi bersama Aminah. Sikap overprotectivenya dan paranoidnya membuat Aminah antara sedikit jengkel dan senang.
Ketika sedang disibukkan ini itu tiba-tiba ada suara bel, "ting tong_", kemudian Maria membukakan pintu saat sedang menemani Aminah.
__ADS_1
Saat membuka pintu dari dalam menampakkan tamu dekat dari tuannya. Lalu Maria langsung menyuruh mereka masuk.
"Silahkan masuk nona, tuan. Nona Aminah ada di dalam", ucap Maria dengan sopan.
"Thank you", senyum Arletta. Lalu mereka masuk menemui Aminah. Alika berteriak, "Aminah!", dan dia terkejut saat sedang fokus menonton film action drakor dengan camilan.
"Alika kamu kok datang lebih awal, bukankah pestanya dimulai nanti malam. Tapi syukurlah kamu datang lebih cepat daripada nanti, soalnya aku lagi bosen nih hanya duduk di mansion terus lama-lama aku jadi penghuni mansion dengan gentayangan", oceh Aminah.
"Jangan dong beb", ucap Arletta duduk di samping Aminah.
"Selamat ya sayangku", gemas Alika kepada Aminah dengan memeluk erat.
Sedangkan Abigail saat ini sedang berjalan beriringan dengan Vio setelah menyelesaikan semua pekerjaan di kantornya. Para pengunjung di supermarket begitu padat meski di jam kerja. Abigail yang berada di samping Vio tiba-tiba mencekal tangannya dan Vio terkejut dengan menatap Abigail yang tiba-tiba menggandeng tangan dengan memaksa meski Vio sudah mengatakan dia tidak akan hilang. Tapi Abigail tetap bersikukuh untuk menggandeng tangannya. Vio yang berada di sampingnya membola dan mengalah.
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu untuk keperluan Haeun dan tangannya masih bertengger di tangan milik Vio. Lalu Vio membuka suara dengan nada gemas.
"Tuan Abigail! bisakah kamu melepaskan tangan kamu dari tanganku", dengan gigi mengetat.
"No", tolak Abigail.
"Kamu mau ambil barang yang mana untuk kamu beli, biar aku ambilkan", tawar Abigail.
"Vi, ambil yang mana?', tanya Abigail yang tidak mengindahkan pembicaraan Vio dan itu membuat Vio sampai mau gila.
Orang ini benar-benar gila atau bagaimana sih. Dasar pria br*ns*k.
"Dia menyukai merk apa saja yang penting bukan rasa kedelai. Dia tidak menyukainya", ucap Vio.
Lalu Abigail menyuruh salah satu pelayan mall untuk mengambilkan beberapa susu formula bayi apa saja kecuali terbuat dari kedelai. Abigail juga menyuruh mengambilkan popok bayi untuk ukuran Haeun apa saja dan seorang pelayan mengangguk. Setelah memerintahkan, Abigail menarik Vio untuk melanjutkan jalan dan Vio yang berada di sampingnya masih terpaku dan heran yang tidak bisa dinalar olehnya.
"Mis...mister tunggu, tadi kamu memerintahkan pelayan tadi untuk mengambilkan barang yang kamu perintahkan tadi bukankah itu keterlaluan dan kita harus membayarnya bagaimana? tidak semua harus di beli, aku tidak miliki banyak uang", ucap Vio yang masih ragu dan heran terhadap sikap Abigail tadi yang memerintahkan karyawan mengambil barang asal-asalan
Abigail tidak membalas ucapan Vio, dia hanya menampilkan senyuman tipis namun Vio malah merinding dengan senyuman yang diberikan Abigail.
Apa-apaan pria ini dengan senyuman tipis itu membuatku malah merinding.
Sementara Alika, Arletta, dan Aminah sedang bergurau menonton TV dengan di temani para suami. Mereka mengobrol berbagai hal dari masa kehamilan sampai kata-kata ejekan.
"Lik kehamilan kamu kan sudah memasuki hamil tua, berat tidak dengan perut kamu semakin membesar?", ucap Aminah yang penasaran.
__ADS_1
"Pertama hamil aku tidak begitu berat namun paling terberat itu Lucas sebab dia harus memenuhi permintaan aku masa ngidam yang tiap kali aku minta entah makanan yang aneh ataupun lainnya. Terus setelah menginjak hamil tua perutku semakin lumayan berat tapi aku bersyukur sebab aku tidak tahan lagi ingin dia cepat keluar dan bisa melihat wajahnya", ungkap Alika dengan mata berbinar.
"Iya, aku setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Alika. Aku aja selalu berdoa biar bisa di karuniai seorang anak seperti kalian. Usia pernikahanku akan memasuki dua tahun, aku jadi iri melihat kalian bisa hamil begitu cepat", ucap Arletta dengan sedih.
"Sweety, I'm sorry, aku belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu", ucap Damien memeluk Arletta. Aminah dan lainnya merasa sedih melihat temannya yang satu ini belum diberikan rezeki dari Tuhan. Mereka berharap semoga Arletta dapat diberikan momongan dengan segera.
Alika menenangkan dengan mengalihkan pembicaraan lain. Alika bertanya kepada Aminah bagimana sikap Daniel selama dirinya hamil? Aminah menjawab, "dia sangat overprotective dan kayak paranoid karena sedikit-sedikit tidak boleh ini itu sampai karyawan laki-laki sedang mengajak ngobrol denganku, dia cemburu tanpa batas sehingga dia menyuruh karyawan tersebut untuk push up sepuluh kali dan menyuruhnya mengatakan bahwa ia tidak berani mengganggu istri CEO. Itu sangat lebay bagiku Lik", dengan makan kripik dan nada kesal.
"Wah, gila kamu, Daniel, sampai segitunya", tawa Damien.
"Diamlah kamu", tegur Daniel.
Malam harinya mereka bersiap-siap mengadakan pesta barbeque dengan kemeriahan canda dan tawa para pasangan maupun dengan teman-temannya.
Aminah masih memakai kursi roda sebab ototnya masih agak kaku.
Abigail pergi dengan Vio, Milka, dan Raiden ke pesta syukuran Aminah. Mereka berjalan dengan beriringan bersama. Milka menggandeng lengan Raiden sedangkan Vio menggendong Haeun dan Abigail berjalan dengan kedua tangan di sembunyikan di saku celana.
Mereka memberikan selamat kepada Aminah.
"Hai Min, selamat atas kehamilan kamu", ucap Abigail dengan menyodorkan tangan dan dibalas baik oleh Aminah dengan senyuman dengan diikuti lainnya.
Vio sangat canggung mengucapkan selamat kepada Aminah yang belum ia kenal dan Abigail mengetahui sikap kecanggungan Vio, Abigail merangkul pundaknya dengan memperkenalkan kepada Aminah.
"Oh ya, kenalkan dia Vio yang sudah kalian saling melihat namun hanya sekedar mengobrol sebentar dan sampai tidak terlalu akrab", kata Abigail.
"Hai Vio", ucap Aminah dengan senyum
"Hai, selamat atas kehamilan kamu", ucap Vio dengan senyum.
"Terima kasih", ucap Aminah menggunakan bahasa Indonesia.
"Oh ya, dimana Daniel?", tanya Abigail.
"Dia ada di dekat meja minum dengan teman-temannya tuh", tunjuk Aminah dengan telunjuk mengarah ke tempat dimana Daniel bersama temannya berada.
"Thank you, aku akan kesana dengan Raiden. Kalian ngobrol saja urusan wanita", senyum Abigail dengan berlalu bersama Raiden menghampiri Daniel dan lainnya.
Di penghujung acara mereka berfoto setelah asyik menikmati hidangan dan menyanyikan lagu. Pesta yang diadakan oleh Daniel dan Aminah hanya orang terdekat dan pestanya juga sangat di sayangkan sebab orang tua Aminah tidak dapat datang karena Wulan ibunya Aminah sakit.
__ADS_1