
Di penthouse area wilayah terpencil tanpa adanya satu penduduk berpenghuni, Abigail tengah menghukum Vio tanpa rasa kasihan. Abigail menghukumnya dengan bengis sampai Vio terus merintih sakit sampai dirinya kelelahan akibat perbuatan Abigail.
Siang pukul 11.00 Vio terbangun dengan tubuh penuh bercak luka akibat perlakuan Abigail. Vio merasa sakit di sekujur tubuh tanpa henti menangis. Ketika akan melangkah turun, Vio merasakan sakit diantar dua kakinya sampai dirinya jatuh ke lantai. Vio menangis dengan keras memanggil ibu dan neneknya.
Abigail yang berada di bawah menyiapkan makanan untuk Vio. Abigail membawa makanan tersebut ke kamar. Abigail memberikan makanan itu kepada Vio dengan tatapan bengis.
“Makanlah!”
“Hentikan tangisanmu!”
“Aku tak akan merasa kasihan melihat kamu menangis!”
“Jika kamu tidak memakannya, akan aku buang!”, dengan pergi berlalu.
Vio hanya dapat menangis dalam diam.
Di lantai bawah, Abigail meminta pelayannya untuk membantu Vio membersihkan diri. Lalu ke dua pelayan itu melaksanakan perintah dari Abigail. Abigail pergi meninggalkan penthouse tersebut untuk kembali ke mansion.
Sementara Vio membersihkan diri setelah dibantu dua pelayan itu.
Di mansion nan megah, Scarlet tengah bermain dengan bayi-bayi mungil bersama Milka. Mereka menikmati menggoda bayi-bayi mungil itu. Pada saat mereka sedang berguaru, Abigail datang menghampiri mereka dengan wajah dingin.
“Apakah kalian menikmati keseruan bersam bayi-bayi mungil ini?”, tanya Abigail dengan menetralkan ekspresi berwajah dingin menjadi menghangat.
“Tentu Abigail, mereka sangat menggemaskan apalagi sejak tadi Haeun ikut merawat adik-adiknya”, ucap Scarlet dengan senyum.
“Bagusla”, ucap Abigail dengan mencoba menggendong putranya sambil memberikan kecupan sebagai tanda sayang. Begitu juga untuk Haeun.
“Apakah kamu senanga Haeun?”, tanya Abigail.
“Ya”, ucap Haeun.
“Apakah kamu mau pergi keluar dengan daddy dan aunty di sini?”, tanya Abigail.
“Ya”, ucap Haeun.
“Sekarang berdirilah dan kita siap-siap pergi ke taman”, ucap Abigail.
“ Bagaimana menunjukkan rasa senang? “, tanya Scarlet.
“Ye ye ye”, ucap Haeun dengan memutar tububnya.
Saat mereka tengah asyik bermain bersama dengan buah hati. Vio di penthouse hanya menangis karena dirinya tidak bisa keluar ataupun melarikan diri. Abigail telah membuat perhitungan dengan ruangan yang ada di penthouse. Vio terus mencari cara untuk bisa terlepas dari penjaga. Vio membuat keributan dengan terus berusaha memecahkan kaca tebal tersebut hingga akhirnya Vio bisa terlepas dan dapat pergi dari penthouse itu dengan membawa ponsel dan flashdish miliknya. Para penjaga pun mencoba menangkapnya sampai kewalahan sampai Abigail pun datang kembali. Vio tertangkap dalam gendongan Abigail sambil menampar bokongnya dengan keras.
Vio terus meronta namun dirinya hanya kelelahan saja. Abigail membawa ke kamar lainnya dan melemparkan tubub Vio sampai flashdish dan ponselnya jatuh. Abigail tersenyum sinis.
“Apakah kamu suka kabur-kaburan atau meninggalkan kami?”, tanya Abigail dengan mengerat dua pipi Vio dengan satu tangan kokoh miliknya.
“Jawab!”, bentak Abigail.
Vio sudah merasa sabar pun meluapkan isi hatinya sambil menghempaskan tangan Abigail.
“Ya! Aku lebih suka pergi dari pada denganmu yang terus saja seenaknya! Aku sangat membencimu! Aku melakukan sesuatu yang harus aku tebus dosaku terhadap ibuku dan nenek! Aku gak peduli lagi dengan ancaman apapun! Aku benci kamu!!!”, teriak Vio dengan mengusap air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
“Sh*t”, umpat Abigail dengan mengusap kasar wajahnya.
“Apa kamu juga tidak peduli dengan putrimu dan putramu yang baru lahir”, ucap Abigail dengan gigi mengetat.
“Aku peduli dengan mereka... maka dari itu aku harus membereskan semuanya... agar aku bisa bahagia hidup bersama mereka”, jerit Vio.
“Apakah kamu menganggap suamimu tidak bisa membantu dan membahagiakan kalian?”, tanya Abigail.
“Iya, kamu tidak bisa membantu. Aku benci kamu!”, ucap Vio.
“Apakah sebenci itu kamu terhadapku?”, tanya Abigail.
Vio tidak menjawa dan ia beranjak pergi keluar namun Abigail mencegahnya dengan memeluk Vio dari belakang sambil membisikan kata permohonan untuk tidak meninggalkan dirinya. Vio berada dalam dekapannya tak bisa menahan air mata. Vio tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menangis lalu Vio jatuh pingsan dalam pelukkannya. Abigail menggendong Vio ke ranjang dan memanggi Mark untuk memeriksa keadaannya.
“Hallo Mark, apakah kamu bisa datang ke lokasi penthouse ku?”, tanya Abigail.
“Kenapa kamu menempatkan aku pergi terlalu jauh?”, tanya Mark sambil memeriksa hasil kondisi pasiennya.
“Dia pingsan dan aku tidak mau terjadi kenapa-napa dengannya”, ungkap Abigail dengan frustrasi.
“Apakah kamu sudah menemukannya?”, tanya Mark.
“Ya, sekarang cepatlah datang”, ucap Abigail.
“Baiklah, aku akan segera datang”, ucap Mark.
Abigail menunggu Mark sambil memberikan pengobatan pertama dengan memberikan kompres di dahinya karena suhu badannya teramat panas.
Abigail terus menunggu sambil menggenggam tangan Vio dan mengungkapkan isi hatinya.
“Vi, jangan tinggalkan aku sendiri. Maafkan aku yang mungkin membuatmu membenciku. Aku tidak ingin melepaskan kamu karena pria itu juga telah memainkan perasaanmu dibelakang. Aku tidak mau kamu sakit hati hanya karena dia. Aku sangat menyayangi kamu. Aku tak ingin kehilangan kamu. Ketika kamu pergi, rasanya aku frustrasi. Tolong jangan membuatku merasakan kehilangan kamu kesekian kalinya”, ucap Abigail dengan mencium tangan Vio.
Ketika Abigail tengah mengungkapkan isi hatinya, Mark datang.
“Abigail!”, panggil Mark.
__ADS_1
Abigail menoleh ke arah sumber suara dan beranjak dari kursi.
“Mark tolong sembuhkan dia”, uc Abigail.
“Tolong kamu minggir dahulu. Biar aku periksa keadaannya”, ucap Mar
Setelah memeriksa keadaan Vio mulai dari pemeriksaan denyut nadi, jantung, dan lainnya. Mark memberitahu keadaan Vio.
“Abigail, dia jatuh sakit karena mengalami syok. Mentalnya tengah lelah menghadapi masalah yang ia pendam. Dia butuh istirahat dan hiburan. Lebih baik kamu hilangkan egoismu demi dia. Ajaklah dia pergi ke suatu tempat dimana bisa mengembalikan jiwanya yang lelah itu. Jangan sampai kamu kehilangan dia”, ucap Mark yang mengerti keadaan sahabatnya dengan Vio. Mark hanya ingin membantu hubungan mereka agar tidak terjadi keretakan hubungan cinta mereka.
“Thank you Mark”, ucap Abigail.
“Tenangkan egomu, buatlah dia bahagia dan kalian harus membicarakan baik-baik masalah kalian”, ucap Mark.
Mark pergi melangkah ke pintu keluar namun langkah itu terhenti karena ada pesan yang harus di sampaikan kepada Abigail.
“Oh ya Abigail..”, Mark menoleh ke arah Abigail.
“Aku mau menyampaikan pesan dari Milka saja. Dia berkata jangan tinggalkan orang yang kamu cintai. Dia pasangan lebih baik dibanding Scarlet. Apa yang kau lihat dari Scarlet, tidak sebaik Vio istrimu. Scarlet baik karena dia menginginkan sesuatu bukan karena cinta. Dia pernah membuat Haeun terluka”, ucap Mark sambil memberikan flashdishk yang berisi perilaku Scarlet untuk ke dua anaknya.
“Thank you”, ucap Abigail dengan menunduk memandangi flashdishk yang diberikan oleh Mark.
Mark melangkahkan kakinya pergi keluar dengan perasaan lega karena sudah membantu sahabatnya untuk membuka matanya.
Abigail membuka isi flashdishk yang diberikan oleh Mark. Abigail membuka video perbuatan Scarlate untuk kedua anaknya.
Isi Video
Haeun kamu harus menurut denganku, jangan sampai aku memukulmu. Mengerti!
Haeun! Aunty sh bilang jangan menangis! Kalau kamu perlu minum mintalah kepada pelayan di sini!
Hei bayi, mintalah kepada ayahmu untuk segera berpisah agar aku dapat bersama daddy kalian.
Ketika Milka datang, Scarlate berpura-pura menggendong Alex.
“Alex, cup-cup. Aunty akan berikan kamu susu”, ucap Scarlate.
“Scarlet, biarkan aku membantumu untuk menggendong keponakan aku”, ucap Milka.
Scarlate memberikan Alex kepada Milka sambil memberikan puk puk di bokongnya.
Senin pukul 14.00
Haeun! Aunty membawa sesuatu untukmu! Cobalah lihat sini!”, dengan tangan melambai.
Haeun datang menghampiri dan mengambil biskuit yang dibawa Scarlate. Haeun meminta Milka untuk membukakan cookiesnya.
Setelah kepergian Milka, Scarlet mulai berbicara dengan Haeun dengan berkata, “kamu dan momy mu sama-sama anak terbuang. Aku berharap dia tidak ditemukan dan Abigail bisa menjadi milikku selamanya. Kamu dan Alex aku akan membuang kalian setelah mendapatkan daddy kalian”, sambil menggenggam ke dua lengan Haeun.
Abigail menyudahi menonton video tersebut dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Abigail tidak sanggup melanjutkan melihat video tersebut. Abigail menghubungi salah satu anak buahnya untuk membawa Scarlate ke tempat markasnya. Lalu Abigail menghembuskan nafas kasarnya.
“Ternyata aku dipermainkan wanita picik itu. Kenapa aku tidak pernah percaya dengan Milka? Aishhh!”, monolog Abigail dengan perasaan kesal.
Pada saat Abigail tengah frustrasi dengan menyalahkan dirinya sendiri, Vio telah sadar dengan merintih sakit di kepalanya. Abigail bertanya keadaannya.
“Are you ok?”, tanya Abigail.
“Kepalaku sakit”, jawab Vio.
“Tidurlah kembali. Aku akan menemani kamu”, ucap Abigail berbaring di samping Vio dengan memberikan kecupan dikeningnya.
Vio memeluk Abigail dengan membawa kepalanya di dada bidangnya. Abigail tersenyum dan mengusap kepala istrinya dengan kecupan di kepala Vio. Mereka terlelap dengan saling memberikan rasa hangat, nyaman, dan kasih sayang.
Di kediaman milik Saddam tengah menikmati suasana pagi bersama dua cucu, menantu dan Lucas. Mereka begitu antusias dengan dua bayi mungil yang sudah lama tidak mengisi kekosongan dalam mansion milik Saddam. Suara tangisan bayi membuat mereka terhibur.
“Sayang, nenek akan menggendongmu”, ucap Sea.
“Mom, biar Alika saja”, ucap Alika.
“No honey, momy ingin mengembalikan kenangan masa lalu yang sudah terlewatkan”, ucap Sea.
“sweety, ingat punggungmu ya”, ucap Saddam.
“Iya. Momy keluar dulu mau menenangkan princess cantik ini”, ucap Sea.
“Lucas, aku mau menemani momy dahulu”, ucap Alika.
“Baiklah”, ucap Lucas.
“Dad, Alika ke ruang tengah dulu”, pamit Alika. Saddam memberikan anggukan kepala. Alika melangkah berjalan ke ruang tengah sambil mendorong troli milik putranya untuk menghampiri Sea.
Setelah kepergian Alika dan Sea, Saddam mulai membahas mengenai pria bertopeng itu dengan ekspresi serius.
“Bagaimana perkembangan masalah mengenai politik Wily dan partnernya?”, tanya Saddam.
“Dia mendapatkan dana gelap dari beberapa mafia kecil dan pejabat lainnya. Kami masih butuh informasi mendetail”, ucap Lucas.
“Waktu itu aku pernah berpapasan dengan pria bertopeng itu dan aku merasa bau harum yang dimilikinya hampir sama dengan seseorang yang pernah aku kenal dahulu”, ucap Saddam.
__ADS_1
“Anda harus menyelidikinya”, ucap Lucas.
Saddam masih tidak nyaman dengan panggilan yang sering diucapkan oleh putranya. Perasaan Saddam sangat sedih. Saddam terus berharap agar putranya bisa memanggil dirinya dengan sebutan daddy.
Kembali di penthouse milik Abigail. Di sana Abigail tengah berbicara dengan Vio diatas ranjang.
“Vi, apa badanmu sudah enakan? “, tanya Abigail.
“Ya”, ucap Vio dengan menganggukan kepala.
“Apakah sekarang kita bisa berbicara mengenai kamu yang sering kali pergi tanpa pamit?”,tanya Abigail.
“Aku bisa menjelaskan setelah aku sarapan pagi”, ucap Vio.
“Baiklah, kalau begitu aku bersihkan diri dulu”, ucap Abigail dengan melangkah pergi ke kamar mandi.
Vio menghela nafas kasar setelah Abigail pergi ke kamar mandi. Lalu Vio beranjak pergi keluar hanya mengenakan kemeja putih milik Abigail. Vio melangkah kakinya ke dapur untuk membasahi tenggorokan dan membuat sarapan untuk dirinya yang perutnya sudah keroncongan. Vio menyiapkan bahan makanan untuk membuat soup ayam untuk menghangatkan badannya. Ketika Vio tengah berkutat, Abigail menghampiri dengan memeluk pinggangnya dari belakang sambil memberikan kecupan di kepalanya.
“Sweety, kamu terlihat sexy pagi ini”, ucap Abigail.
“Kamu harusnya meminta bantuan pelayan untuk memasak semua ini”, ucap Abigail kembali.
“Aku masih bisa memasak”, ucap Vio dengan mematikan api kompor. Lalu meminta Abigail untuk melepaskan pelukannya.
“Uncle tolong lepaskan tangan kamu”, ucap Vio dengan berusaha menyingkirkan tangan Abigail yang erat.
“Aku masih ingin memelukmu sweety”, ucap Abigail.
“Please uncle”.
“Aku akan melepaskan kamu tapi berikan aku morning kiss”, bisik Abigail dengan meniupkan telinganya membuat Vio geli.
“Abigail! Bisa gak sih lepasin aku dulu. Aku sangat lapar”, ucap Vio dengan nada kesal.
Abigail kemudian melepaskan pelukan itu dan Vio akhirnya terbebas dari pelukan Abigail. Vio bisa mengambil mangkok untuk menghidangkan soup ayam yang ia buat. Abigail yang berada di sisi dapur terus memperhatikan Vio yang mondar mandir menata masakannya di meja makan sampai selesai. Setelah selesai menghidangkan masakan miliknya. Vio mencuci tangan dan melangkah ke meja makan namun tiba-tiba langkahnya terhuyung ke belakang akibat tarikan di lengannya. Abigail menangkap tubuh Vio lalu mengangkut tubuh itu dan memaksanya untuk berciuman. Abigail menekan tengkuk Vio agar ciuman itu mendalam. Tetapi Vio enggan untuk berciuman sehingga Vio meronta dengan memukul dada bidang Abigail hingga ciuman itu lepas sampai nafasnya terengah-engah.
Vio meminta Abigail untuk menurunkan tubuhnya namun Abigail tidak mengindahkan. Abigail malah membawa Vio ke meja makan dan memangkunya sambil berkata, “kamu sangat cantik dan manis”, dengan mengusap bibir Vio yang lembut itu.
“Tolong turunkan aku tuan Abigail”, ucap Vio.
“Aku masih ingin memandangmu”, ucap Abigail.
“Tapi aku lapar”, kesal Vio.
“Aku bisa menyuapi kamu”, dengan sorotan mata yang hangat.
“Aku bisa makan sendiri”, ucap Vio.
“Baiklah, kamu bisa menikmati makanan kamu. Setelah itu kita lakukan olahraga”, senyum smirk Abigail.
“You crazy”, umpat Vio.
Vio akhirnya dapat menikmati makanan yang di buatnya setelah Abigail terus memaksanya untuk berciuman ke sekian kalinya dan membuat Vio merasa kesal. Usai menyelesaikan sarapan pagi dengan adegan penuh rasa kesal akibat ulah Abigail namun akhirnya Vio merasakan kenyang.
Saat Vio akan beranjak dari kursi, Abigail sudah terlebih dulu mengangkat tubuhnya dan dibawa ke kamar mandi di bawah shower. Abigail terus memandang lalu menarik tengkuk milik Vio dan terjadilah madu kasih diantara mereka.
Beberapa lama kemudian mereka sudah berganti pakaian dan Vio masih saja hanya memakai kemeja milik Abigail. Vio mengomel dengan meminta Abigail membelikan baju untuknya.
“Uncle, aku mau bajuku”, ucap Vio.
“Akan aku belikan setelah aku puas memandangimu”, ucap Abigail.
“Aku itu perlu baju agar aku bisa pergi jalan-jalan cari angin”, ucap Vio.
“Nanti akan aku belikan untukmu sweety”, ucap Abigail dengan mengusap pipi kiri Vio sambil memberikan sorotan mata hangat dan tajam.
“Ya kapan? Aku perlu refreshing untuk pergi keluar”, ucap Vio.
“Setelah kamu menjelaskan semuanya”, ucap Abigail dengan menarik pinggangnya agar lebih dekat memandanginya sampai hembusan nafas terasa di wajah Vio. Jantung Vio hampir copot dengan tatapan yang diberikan Abigail.
“A..akan aku jelaskan”, ucap Vio.
Abigail tersenyum smirk lalu mengangkat tubuh Vio ke ranjang dan memangkunya di paha dengan menahannya. Vio merasa tidak nyaman apabila menjelaskan dalam keadaan seperti ini.
“A..aku ing..ingin duduk sendiri”, ucap Vio dengan perasaan gugup.
“No sweety, kamu bisa menjelaskan seperti ini. Aku tak akan melepaskan kamu sedetik saja. Kamu jangan terus bergerak jika kamu tidak mau menanggungnya”, ucap Abigail dengan memberikan kecupan di bibirnya.
Vio menelan salvinya dengan susah. Jantungnya terus bertalu.
“Gawat nih, kalau aku seperti ini terus. Lama-lama bisa copot jantungku”, batin Vio.
“Vi, kapan kamu akan menjelaskan”, tanya Abigail.
“Ya akan aku jelaskan”, ucap Vio.
“Cepatlah”, ucap Abigail dengan menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga.
“Waktu itu, satu tahun lalu saat aku sudah berhasil melewati koma di rumah sakit itu.. sebe..sebenarnya aku sudah sadar. A..aku berpura-pura belum sadarkan diri selama tiga hari karena ak..aku harus melanjutkan menyelesaikan masalah dengan ay..ayahku yang pernah mem..membunuh ibu dan nenek. Aku memiliki hutang budi kepada nenekku yang telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan aku. Begitu juga ibuku. A..aku merasa belum berhasil untuk memberikan senyum untuk mereka sehingga aku diam-diam kabur darimu saat sebelum aku mengalami terpuruk di negara ini. Aku sudah jauh-jauh hari untuk menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Ma..makanya a..aku tidak m..mau kalian terlibat...”, ucap Vio dengan meneteskan air mata.
__ADS_1
Abigail memberikan pelukan untuk Vio dengan mengusap punggungnya agar kesedihan itu dapat berkurang.
“Maafkan aku yang selama ini tidak pernah tahu permasalahan hidupmu. Aku hanya tahu kalau kamu bersengkokol dengan para penjahat karena terpaksa. Maafkan aku tidak tahu kesedihanmu”, kata hati Abigail dengan miris dan sedih.