
Vio, Abigail, Raiden, dan Alam telah tiba dan di susul beberapa menit kemudian oleh Abraham, Denis, dan Adam. Mereka memasuki markas beriringan.
Ketika telah tiba memasuki markas mereka dikejutkan sebuah raut wajah sedih sehingga salah satu dari mereka bertanya.
“Kenapa raut wajah kalian itu?”, tanya Abraham.
“Uhmm..”. Chalvien menggaruk tengkuk tidak gatal dengan otaknya tiba-tiba membeku setelah melihat apa yang terjadi di markas Ellios.
“Katakanlah!”, seru Adam.
“Se.. sebenarnya..”
“Lucas, Daniel dan Leon terkena ledakan di markas Ellios. Mereka meninggal bersama jasad Ellios. Aku harus berkata apa.. aaaaaaa!!”. Saddam sangat frustrasi sampai dirinya menarik rambut pirangnya dengan kuat sampai menitikan air mata.
Abraham, Abigail, dan lainnya tidak percaya dengan apa yang di dengar dan diucapkan oleh Saddam yang saat ini duduk di lantai bawah.
“Ini tidak mungkin terjadi uncle”, seruan Abigail dengan nada bergetar dengan mengusap wajah kasarnya. Begitu juga yang di rasakan oleh orang-orang di sekitar.
Vio yang berada di dekat Abigail mengusap punggungnya lalu menarik tubuh besar Abigail dan di bawa ke dekapannya dengan penuh cinta.
“Aku harus katakan apa kepada mereka yang di tinggalkan. Apalagi istri dan menantuku. Aku tidak berani menatap mereka. Seharusnya aku yang menemui musuhku sendiri. Bukan putraku dan teman-temannya..” Saddam menyalahkan diri sendiri sambil menepuk dada bidangnya dengan keras. Abraham yang berada di dekatnya memeluk sahabatnya.
Kesedihan itu menyeruak dalam ruangan yang bergema. Ketika mereka tengah dalam kesedihan dan penuh duka tiba-tiba ada suara langkah kaki dan suara yang tengah di tangisi oleh mereka.
“Kenapa kalian menangis?”, tanya Lucas.
Mereka menoleh ke arah sumber suara. Mereka membeku melihat ketiga pria yang tengah mereka tangisi berada di depannya. Lalu Saddam beranjak dari posisi tersungkur dan berjalan melangkah lebar kemudian memeluk tubuh kekar putranya.
“Makasih Tuhan”. Seruan yang terlontar dari bibir Saddam dengan menepuk punggung putranya lalu ia melepaskan pelukkannya sambil berkata, “aku tak akan bisa menunjukkan diri pada ibumu dan Alika apalagi cucuku kalau kamu tidak selamat. Aku gak akan bisa mengatakan kepada mereka apabila kamu terkubur hidup-hidup bersama baj*ngan itu”.
“Pokoknya daddy amat bersyukur kalau kamu beserta teman-temanmu selamat”, ucap Saddam.
“Iya Dam, aku juga turut merasakan lega mereka kembali dalam keadaan baik-baik saja”, ungkap Abraham dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Rasa bahagia di rasakan dalam seluruh ruangan tersebut dengan nafas lega.
“Bagaimana kita menjemput pasangan kalian?”, seru Chalvien di sela-sela suasana haru nan bahagia.
“Tentu...itu ide bagus. Aku sudah merindukan Aminah dan kedua putraku”, seru Daniel dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Steve dan anggotanya?”, tanya Lucas.
Ketika Saddam akan menjawab pertanyaan putranya tiba-tiba nada suara ponsel milik Chalvien berbunyi. Chalvien melihat nama di layar depan ponsel miliknya dengan berkata, “dia sangat panjang umur. Baru saja akan di bahas”, sambil memperlihatkan nama pemanggilnya ke depan semua orang.
“Hallo Steve”, sapa Chalvien dengan tangan kirinya masukkan ke dalam saku celananya.
“Kami sudah menangkap semua komplotan dan kami tinggal membawa mereka ke penjara. Semua barang-barang ilegal kami bawa untuk di jadikan bukti kuat untuk mengurung mereka seumur hidup di ruang tahanan sempit itu. Jika kalian ingin menemui mereka, datanglah ke sana. Semoga hari-hari kalian di terangi oleh sinar setelah semua kejadian yang kalian lalui”, jelas Steve.
“Thanks informasinya. Akan aku sampaikan ke mereka. Semoga hari-hari kalian pun juga menyenangkan”, ucap Chalvien.
Setelah menutup sambungan telepon, Chalvien mengutarakan kabar baik dari Steve.
“Mereka telah berhasil menangkap semua komplotan di pelabuhan dan sekarang Steve membawa mereka ke kantor CIA untuk di tindak lanjuti”, ucap Chalvien.
“Syukurlah, semuanya telah berhasil dengan baik”, ucap Saddam dengan perasaan lega.
“Oh ya, ngomong-ngomong pria di belakang kalian itu siapa? Maaf saya baru tersadar setelah kekalutan yang kita alami”, ucap Abraham dengan ramah. Semua mata tertuju kepada pria dengan bermata biru dan berambut pirang.
Saat pria itu akan membuka suara terlebih dahulu Vio menyela menyebut nama pria itu dengan sebutan William. Seruan itu tidak disukai Abigail. Menurut Abigail seruang di lontarkan istrinya terdengar mesra. Saat Vio akan berlari menghampiri William, tangan Abigail sudah terlebih dulu mencegah membuat kepalanya terbentur dengan dada bidangnya.
William memperkenalkan diri kepada mereka.
“Perkenalkan nama saya William Alexander Pierta”.
“Nama belakang mirip dengan sahabat kami”, ucap Saddam menelisik wajah pria tersebut.
“Dilihat dari mata, rambut, dan wajahnya sepertinya aku mengenal dia. Tapi siapa?”, batin Saddam.
“Kamu mirip dengan Jony”, seru Abraham.
“Oh ya, kamu benar-benar mirip dengan sahabat kami yaitu Jony”, ucap Saddam.
“Benar ucap uncle, ia merupakan putra dari alm. uncle Jony”,nimbrung Vio.
“Oh my god!”, terkejut Saddam.
“Bukankah Jony belum memiliki istri?”, tanya Saddam.
__ADS_1
“Dan kamu sepertinya seumuran dengan Alam”, sambung Saddam.
“Aku lebih tua dua tahun dengannya”, ucap William.
“Bagaimana kamu bisa di tahu kalau kau dengan Alam beda dua tahun?”, tanya Leon.
“Aku mencari identitas kalian setelah aku mengetahui kalau daddy meninggal setelah seminggu ia di kebumikan”, jawab William.
“Ceritakanlah mengenai daddy kamu yang selama ini menyembunyikan kamu dari kami”, ucap Abraham.
“Akan aku ceritakan, tapi aku selalu bingung harus aku ceritakan darimana”, ucap William.
“Terserah kamu nak”,ucap Saddam.
“Akan aku ceritakan awal pertemuan momy dan daddy sampai aku ada secara singkat saja”, ucap William.
“Bagaimana kita mendengar cerita William sambil duduk di ruang sebelah sana?”, saran Chalvien.
“Ya, itu lebih baik. Kami juga lelah setelah bertempur”, ucap Lucas.
Mereka berjalan menuju ruang sebelah dengan kursi berentetan dengan meja besar seperti meja makan namun tempat itu lebih besar dari meja makan dan terdapat sebuah senjata api dan kertas-kertas yang berserakan. Mereka menggeser kursi lalu mendengar cerita dari William sebelum menjemput para wanita yang mereka rindukan.
“Mulailah Will”, ucap Abraham mempersilakannya.
William menarik nafas dan menatap orang-orang di sekitarnya satu persatu.
“Momy bertemu daddy saat menjadi pelayan di keluarga Courvien. Momy diam-diam mengagumi daddy tanpa sepengetahuannya. Lalu lama-lama daddy menyadari dan mereka mulai berkomunikasi. Kemudian suatu ketika mereka jatuh cinta secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga besar Courvien. Waktu terus berjalan dan mereka mulai hubungan serius. Akhirnya momy mengandungku. Ia memberitahu perihal itu ketika keluarga Courvien tengah kacau. Kekacauan yang di ciptakan oleh Ellios membuat daddy kalut dan ia membawa momy pergi ke pengasingan dimana para musuh tidak mengetahui keberadaan kami sampai merasa aman dan daddy kembali lagi ke keluarga Courvien. Saat momy melahirkan aku, keluarga Courvien dan keluarga Saddam mulai mengadu sengit sampai terjadi sesuatu yang mengerikan hingga kami harus kabur yang lebih ama dan momy membuang ponsel setelah mendapatkan kabar darurat demi menyelamatkan aku hingga kami kehilangan kontak daddy. Dua puluh tahun kemudian setelah momy mulai sakit-sakitan aku mencari keberadaannya sampai pada akhirnya aku menemukan daddy dengan waktu lama sampai aku belum bisa mempertemukan momy yang sudah meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Aku mulai mengetahui keberadaan daddy setelah seminggu daddy dikubur dan terbunuh di tangan mereka. Lalu aku mengenal Vio saat ia diam-diam memasuki markas milik Ellios. Kami mulai berkenalan dan memiliki misi yang sama untuk menghancurkan semua sekutu Ellios juga pemimpinnya. Akhirnya kita bertemu di sini”, jelas William.
“Syukurlah nak, kamu tidak membenci kami apa yang telah terjadi selama bertahun-tahun ini”, ucap Saddam dengan raut wajah sedih ketika mengingat akan hal kerja keras Jhony selama membantu dirinya.
“Dia sudah bahagia bertemu dengan momy kamu di surga. Ia menatap putranya dari jauh sana pasti penuh dengan senyuman bahagia. Kamu bisa kapan saja meminta bantuan kami. Kami saudara kamu dan sahabat dari ayahmu”,ucap Saddam.
“Makasih”. William mengulum senyum.
“Bagaimana kalau kita sekarang beristirahat dan besok pagi menjemput para ratu kita”, ucap Chalvien dan diangguki oleh Lucas dan lainnya.
Mereka pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1