Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 107


__ADS_3

Dua jam lebih perjalanan Vio dan Abigail kembali ke masion. Sampai di mansion Vio dikejutkan melihat Milka dan Raiden tengah berciuman di ruang tv begitu dengan Abigail yang baru masuk.


“Mereka tidak tahu tempat”, gumam Abigail dengan kesal.


“Yah mereka itu sepertimu”, sahut Vio berjalan pergi melewati mereka tengah asik berciuman dengan pelan agar mereka tidak terganggu. Abigail pun menyusul istri kecilnya.


Vio masuk ke dalam kamar di mana dua malaikat kecil terlelap. Vio mendekati Haeun dan Alex. Vio menatap dengan senyum tipis sambil mengusap pipi-pipi gembul mereka. Ketika Vio sedang memperhatikan kedua malaikat kecilnya terlelap Abigail tiba-tiba merangkul pundaknya sambil berkata, “mereka malaikat kecil yang menggemaskan. Suatu saat nanti mereka akan menjadi sosok yang luar biasa seperti daddy-nya. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memberikan mereka kebahagiaan seperti...kita membuat baby lagi atau..” Vio langsung mencubit perut Abigail lalu ia meringis mengadu sakit akibat cubitan istri kecilnya. Vio malah menyukuri Abigail. Vio pergi meninggalkan Abigail yang ke sakitan.


Abigail mengejar, “sweety! sweety! sweety!”, dengan suara kecil agar tidak membangunkan bayi-bayi mereka.


Vio mengabaikan panggilan dari Abigail. Ia terus berjalan sampai ke kamar mandi. Abigail yang mengikuti Vio pun tak dapat masuk untuk mandi bersama. Vio langsung mengunci pintu kamar mandinya. Abigail menghela nafas panjang dan pergi menjauh dari pintu kamar mandi. Dia melepaskan kemeja putihnya lalu duduk bersandar ke kepala ranjang kemudian mengambil tab di atas nakas. Abigail membuka berbagai laman dan laporan dari karyawan di perusahaannya.


Sementara Lucas tengah menikmati berhubungan bersama istri kecilnya untuk melepaskan kerinduannya yang cukup lama untuknya.


Lucas terus memberikan kecupan berkali-kali di area wajah cantiknya. Alika membalas perlakuan yang diberikan oleh Lucas.


Di tengah bermadu kasih Lucas menyatakan perasaannya dengan mengatakan I Love You berkali-kali. Alika pun membalas dengan berkali-kali.


Mereka telah mencapai puncak dan akhirnya tertidur sambil berpelukan juga tak lupa memberikan kecupan sebagai ucapan selamat malam.


Pagi hari, di kamar yang di sinari matahari lewat celah korden, terdapat dua insan yang saling berpelukan di bawah selimut tebal tanpa helaian kain.


Tiba-tiba ada sebuah ketukan pintu dari luar kamar yang membuat sang pemilik terganggu. Lucas mengerjabkan matanya perlahan, menyesuaikan sinar matahari yang masuk lewat celah korden, pertama kali ia lihat saat bangun dari tidurnya adalah wajah istri kecilnya. Ia mencoba menyingkirkan anak rambut dari wajahnya ke belakang. Lalu dia mengusap, mengecup kening dan bibirnya, lalu ia turun dari ranjang memakai pakaian yang ia ambil dari lemari. Kemudian membuka pintu kamarnya setelah menyingkirkan semua kain yang terkoyak. Lucas membuka pintu, dan pertama kali ia lihat adalah wajah ibunya yang kesal.


“Kenapa kamu bukanya lama sekali?!” tanya Sea.


“Ada apa mom?” tanya Lucas.


“Putra dan putrimu menangis tidak berhenti-berhenti. Momy mau menyuruh Alika untuk menenangkan mereka. Segeralah turun. Kedua bayimu mungkin lapar”, ucap Sea dengan berlalu pergi tanpa ingin mendengar alasan dari bibir putranya.


Lucas menutup pintu setelah Sea menjauh darinya. Ia kembali ke ranjang membangunkan Alika yang tengah terlelap dengan nyaman. Sebenarnya Lucas tidak ingin mengganggu istrinya namun bagaimana lagi. Ia harus mengingat ke dua anaknya yang meraung membutuhkan Alika.


“Sweety, sweety, sweety”, sambil mengusap pipi miliknya.


Alika melenguh karena Lucas membangunkannya. Alika membuka kedua mata dengan perlahan menyesuaikan cahaya. Lalu duduk dengan bersandar di kepala ranjang sambil mengusap kedua matanya yang sedikit perih.


“Ada apa uncle?”


“Segeralah mandi, kedua malaikat kecil kita membutuhkanmu.”


“Mereka menangis amat keras.”


Alika langsung beranjak tanpa malunya langsung berlari ke kamar mandi. Alika tidak peduli dengan tubuhnya yang tanpa sehelai kain, mengingat kedua anaknya.


Lucas melihat kejadian tersebut sampai matanya melotot tanpa henti melihat tubuh molek istrinya meskipun sering kali melihat tubuh tersebut. Bagi Lucas tubuh istrinya itu luar biasa. Ia tak pernah henti mengagumi betapa indahnya tubuh itu.


Lucas kemudian bergegas pergi untuk mencairkan otaknya yang kotor. Ia pergi ke kamar mandi lain.

__ADS_1


Beberapa lama kemudian Alika turun dari kamar usai melakukan ritual yang super singkat. Biasanya Alika tidak pernah melakukan ritual mandi dengan cepat. Ia selalu menyukai berendam di bak mandi. Karena mengingat kedua anaknya tengah meraung maka Alika harus langsung bergegas tanpa memperdulikan riasan wajahnya.


Alika menyapa Sea dan Saddam yang tengah menggendong kedua bayi tersebut.


“Morning mom, dad.”


“Morning sweety”, balas Sea.


“Lihatlah momy mu sudah datang”, ucap Saddam.


“Morning Sean, Olive”, sapa Alika.


“Biar aku gendong mom”, ucap Alika sambil mengambil alih Olive dan membawanya ke ruang tengah bersama Sean dalam gendongan Saddam.


“Dad baringkan Sean di tempat goyang sambil menyusui Olive. Biar aku setelkan musik. Dia menyukai musik.”


Saddam membaringkan Sean lalu Alika menghidupkan musik. Kedua bayi lalu terdiam menikmati alunan yang di setel oleh Alika.


Sea dan Saddam melihat kedua cucunya terdiam membuat mereka terenyuh dengan cara Alika merawat kedua cucunya.


“Sayang, kamu seorang ibu yang luar biasa. Momy tersentuh apa yang kamu lakukan.”


“Lihatlah daddymu hanya terdiam melihat cara perlakuanmu terhadap cucunya”, sambung Sea.


“Mom, bukankah semua ibu begitu”, ucap Alika.


“Tidak semua ibu sepertimu sayang. Momy dahulu merawat Lucas tidak seluarbiasa kamu. Momy sering memberikan Lucas kepada suster. Momy sering ninggalin dia. Momy malahan membuat dia hampir meninggal. Gara-gara momy gak bisa menjaganya. Momy amat menyesal. Momy hanya menyentuh Lucas sebentar. Makanya ia memilih untuk bermusuhan dengan kami”, ucap Sea dengan ekspresi sedih.


Ketika Alika akan membuka suara, Lucas datang memberikan kecupan kepada istrinya dan melihat raut wajah ibunya.


“Kenapa ekspresi momy sedih?” tanya Lucas.


“Dia sedih karena perlakuan uncle yang gak pernah memberikan pelukan. Hati seorang ibu itu membutuhkan kehangatan dari putranya. Bukan begitu?” sahut Alika.


“Emang pak tua sudah gak sanggup memberikan kehangatan”, ucap Lucas dengan nada dingin.


“Dude, apakah kamu akan terus bersikap dengan kami seperti itu?” tanya Saddam.


“Entahlah”, jawab Lucas singkat lalu mengalihkan pandangannya ke putra dan putrinya sambil memberikan kecupan kecil.


“Das..” Sea langsung menghentikan Saddam yang akan mengumpat kepada putranya. Saddam menhela nafas kasar.


“Untung ada momy mu, kalau gak ada anak br*ngs*k ini akan aku kubur hidup-hidup”, batin Saddam.


“Sudahlah, kamu jangan terus memiliki dendam pada putramu. Dia gak bersalah. Kita yang salah karena kita tidak merawatnya dengan baik”, bisik Sea.


Sea beranjak dari tempat duduknya lalu membantu Alika memindahkan cucunya ke kamar.

__ADS_1


“Sayang, kita harus menidurkan mereka ke kamar lalu kita sarapan”, ucap Sea.


“Biarkan Lucas, mom”, ucap Alika sambil menyikut perut suaminya.


“Iya mom, biarkan aku yang mengangkat putraku”, ucap Lucas sambil mengangkat tubuh putranya.


Di dalam kamar Lucas dan Alika membaringkan buah hatinya di ranjang masing-masing. Lalu Lucas tiba-tiba menarik pinggang Alika. “Sweety, aku masih ingin bersamamu.” Lucas memberikan kecupan kecil di punggung istrinya yang terekpos sedikit.


“Uncle, hentikan sekarang. Aku gak mau kedua anakku terbangun. Kita harus segera keluar. Aku gak enak nanti kalau momy dan daddy nungguin kita terlalu lama”, ucap Alika.


“Tapi, aku masih merindukanmu sweety.”


“Lucas lepaskan!”


“Berikan aku kiss terlebih dulu.”


“Nanti setelah kita makan”, ucap Alika dengan mencubit tangan kokoh Lucas dengan cubitan kecil.


“Auws”, adu Lucas sambil melepaskan pelukannya.


“Rasakan, siapa suruh mes*m”, Alika terkekeh melihat Lucas yang kesakitan.


Alika berjalan santai keluar tanpa menghiraukan kerintihan Lucas.


Alika kembali ke ruang makan dan mengambil duduk dekat dengan Sea.


“Alika, mana Lucas?” tanya Sea.


“Dia akan segerah datang mom”, ucap Alika dengan senyum tipis.


Lucas datang dengan ekspresi kesal. Lucas mengambil tempat dekat dengan Saddam. Sea melihat ekspresi Lucas di depannya bertanya.


“Ada apa dengan ekspresimu?”


“Dia tengah merajut mom”, sahut Alika.


“Kenapa merajut?” tanya Saddam.


“Aku tadi mencubit kecil di tangannya. Habis dia selalu berbuat mes*m”, ucap Alika dengan terkikik.


“Hai sweety, apakah kamu suka melihat suami mu kesakitan?” tanya Lucas dengan mengangkat alis kanannya.


“Tentu”, jawab Alika tanpa merasa bersalah.


“Kalau itu momy gak bisa berkata”, ucap Sea dengan mengedikan dua bahunya.


“Itu daddy mendukungmu nak”, ucap Saddam.

__ADS_1


“Sudah, sudah, kita sudahi saja sekarang kita segera sarapan”, ucap Sea.


“Awas ya sweety, aku akan menghukummu”, ucap Lucas dalam batin sambil menatap Alika yang tersenyum tipis seperti meledek Lucas.


__ADS_2