Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 48


__ADS_3

Sinar matahari menelisik lewat jendela membuat seorang pria terbangun. Pria itu Abigail, dia beristirahat berjam-jam setelah dua hari disibukan dengan berbagai masalah tersangka yang kejahatannya tingkat tinggi sebab telah membunuh dua keluarga untuk menguasai hak warisan milik mendiang ayahnya dan bertempur dengan Ozzie setelah mendapatkan informasi dari anak buah Christoper lewat bujukan Raiden.


Tetapi mereka gagal menangkap Ozzie dan Christoper meski tubuhnya terluka akibat serangan dadakan dari Ozzie di malam pesta ulang tahun adiknya.


Kegagalan penangkapan tersebut merupakan hal yang begitu merugikan namun sedikit menguntungkan sebab anggota CIA memblokir markas tempat persembunyian Ozzie dan Christoper.


Ozzie saat ini bersembunyi di gedung antah barantah sebab gedung yang dia tempati bersama anak buahnya yang tersisa adalah gedung sekolah yang terbengkalai.


Ozzie kali ini mengaku kalah tetapi otak liciknya tetap berjalan untuk membunuh seluruh team dari Lucas. Akan ada saatnya serangan besar yang akan Ozzie balaskan.


Abigail keluar dari kamar untuk mengisi perut keroncongnya dengan pergi ke dapur. Saat akan melangkah ke dapur Abigail mendengar suara tangisan anak kecil lalu Abigail melangkah ke ruang tengah. Di sana melihat Vio duduk di lantai dengan kaki bersilang sedang menenangkan anaknya dengan memberikan susu di dalam botol.


Abigail mencoba bersuara.


"Hei kamu!"


Vio menoleh ke sumber suara.


"Ada apa?"


"Kenapa kamu hanya memberikan susu saja setiap hari?", tanya balik Abigail.


"Aku memberikan dia cookie dan bubur untuknya juga"


"Berilah dia makanan bergizi dan menyegarkan. Aku akan bawakan untuk kalian"


Abigail pergi meninggalkan mereka ke dapur dan memanggil pelayannya untuk membantu mengupas berbagai macam buah dan membuatkan jus untuk gadis tersebut dengan anaknya.


Beberapa lama kemudian setelah berkutat di dapur Abigail yang dibantu pelayannya untuk membawakan makanan yang sudah selesai dibuat ke ruang tengah. Setelah meletakkan nampan sang pelayan mengundurkan diri.


"Hei nak, makanlah, sudah aku kupaskan buah-buahannya", ucap Abigail dengan mengusap kepala Haeun. Lalu Haeun beranjak dari pangkuan Vio dan melepaskan dot botol susu kemudian menghampiri makanan buah-buahan dengan mengoceh maem, maem, maem.


Vio membantu Haeun mengambilkan buah pisang lalu di genggam Haeun dan terjatuh di lantai. Vio berinisiatif mengambilkan dengan menggunakan tisu dan mengajarkan anaknya untuk tidak menjatuhkan makanan.


Abigail yang melihat momen ibu dan anak tersenyum sambil menggeleng kepala.


"Vi, biarkan makanan di lantai tidak perlu langsung kau bersihkan. Biarkan pembantu di sini nanti yang membersihkan kotoran di lantai"


Vio mulai terheran dengan perhatian dari Abigail.


om om ini tumben baik, biasanya ekspresi wajahnya dingin tidak berbicara. Aishh.


"Tumben anda berbicara, biasanya tidak begini?"


Abigail tidak menanggapi dan menyuruh Vio ikut makan.


"Makanlah"


Aish, pria ini benar-benar membuatku bingung.


"Milka kemana?"


"Tidak tahu, dia hanya meninggalkan memo dan pesan saja"


Abigail hanya mengangguk dan beroh ria.


Sementara Milka yang sedang dibicarakan sedang memaksa Raiden untuk berkencan setelah membujuk dengan berbagai alibi.


"Raiden, kita pergi ke restoran dulu, aku lapar", ucap Milka dengan memegang perutnya dan diangguki Raiden.


Milka saat ini sedang merencanakan untuk mendekatkan Abigai dengan Vio dan dirinya juga ingin berdekatan dengan Raiden seperti pepatah sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui dengan tersenyum yang tidak terlihat.


Saat ini Vio sedang menidurkan Haeun setelah selesai makan buah dengan belepotan dengan menepuk-nepuk bokongnya. Abigail yang sedang duduk di sofa singel melihat gadis itu yang keibuan begitu kagum.


Setelah Haeun benar-benar tertidur, Vio pamit dengan Abigail.


"Uncle, aku ke kamar dulu, terimakasih kupasan buah tadi dan hidangan yang kamu buat"


Abigail membalas dengan anggukan.


Setelah kepergian Vio, Abigail terbaring di atas sofa usai seharian bermain dengan Haeun bersama Vio.

__ADS_1


Di dalam kamar Vio juga ikut terlelap dengan memeluk tubuh mungil Haeun yang tertidur sehabis seharian bermain dengannya dan mengoceh terus dengan Haeun.


Sementara Alika dan Lucas menikmati waktu weekend dengan menonton TV sambil menikmati camilan dan terus mengusap perut buncitnya.


Ketika sedang menikmati berdua tiba-tiba ada suara bel, "ting ton__", sang pelayan wanita keluar melewati dua sejoli yang sedang bermesraan. Setelah melihat tamu yang datang, Mrs. Samantha akan memberitahukan namun suaranya tenggelam suara sapaan yang keras dari Adam, "hallo bro!", dengan tangan mengangkat.


Mrs. Samantha lalu pergi meninggalkan tuannya bersama teman-temannya yang datang.


"Kalian ngapain ke sini? mengganggu keromantisan kami", kesal Lucas dan mendapatkan cubitan diperut dari Alika.


Lalu Alika menawari mereka untuk duduk.


"Mari duduk dulu", dengan senyum hangat.


"Thank you", ucap Charlotte dengan mendorong troli bayi yang sedang tertidur pulas.


"Aku ke dapur, akan aku ambilkan minuman dahulu", pamit Alika.


"Tunggu Alika! biar ku bantu", ucap Charlotte menawarkan diri dengan mendorong troli dengan meminta izin meminjam kamar kosong untuk bayi mungilnya.


Alika menunjukan jalan ke kamar setelah meletakkan bayi mungilnya, Charlotte dan Alika pergi ke dapur membuat minuman.


Sedangkan Daniel, Aminah, Adam, dan Lucas sedang bercanda ria dengan membicarakan memgenai hal tentang Ozzie ataupun Wily.


"Bagaimana kita akan menangkap Ozzie?", tanya Daniel


"Kita mencari tahu keberadaannya dulu", ucap Lucas


"Benar, semua akses untuknya sudah diblokir oleh kepolisian dan CIA, kecuali dia menyamar", ucap Adam yang membuat Daniel dan Lucas baru sadar jika otak liciknya dapat bebas pergi dengan melakukan penyamaran seperti sepuluh tahun lalu ketika ia membakar pabrik miliknya dan teman-temannya di Bangladesh.


"****", umpat Lucas dengan mengagetkan dua pria.


"Kamu terpikirkan apa yang aku pikirkan?", tanya Daniel.


Adam dan Lucas saling pandang dengan mengangguk.


Di tengah keseriusan mereka Charlotte dan Alika membawakan minuman dan camilan.


"Gaes, minuman dan camilan kita sudah datang", ucap Charllote dan bergabung di tengah ruang keluarga begitupun Alika.


"Ya, masih lama, padahal jika cepat aku tidak akan sebosan ini. Aku kalau mau main harus nungguin Daniel, itu yang membuatku bosan", ucap Aminah.


"Sweety, kaki kamu akan segera sembuh, sekarang minumlah orange juicenya", ucap Daniel dan juga mengambilkan keripik untuk istrinya.


Tatkala teman-teman Abigail sedang berkumpul di rumah Lucas, saat ini ia sedang berkutat dengan dokumen-dokumen tersangka kasus dugaan pembunuhan, ilegal dan sebagianya.


Abigail berkutat begitu lama sampai melewatkan makan malam hingga tengah malam. Abigail menghentikan aktivitas dengan melepaskan kaca matanya dan mengusap matanya lalu menyandarkan punggungnya sebentar kemudian beranjak dari ruang kerja. Abigail pergi mencari minum di dapur setelah itu ia pergi ke kamar melewati pintu kamar Milka. Abigail begitu ragu saat akan membuka pintu kamar Milka, tapi setan dari mana Abigail mencoba memberanikan diri membuka pintu yang untungnya tidak terkunci dari dalam. Abigail masuk melangkah dengan pelan-pelan, entah apa yang ingin dia perhatikan sebab selama ini Abigail tidak pernah mengontrol masuk saat adiknya tertidur.


Abigail mendekat mencium pelipis Milka lalu melihat wajah tidurnya Vio yang nyenyak lalu pergi meninggalkan kamar.


Milka yang sejak dari tadi pura-pura tertidur membuka matanya setelah memastikan Abigail pergi dengan mengulas senyum.


Aku akan bantu kamu melupakan Olivia dengan menjodohkan kamu dengan Viola Renata Hapsari.


Milka tidur kembali dengan memeluk Haeun sambil memberikan kecupan pada keningnya.


Di pagi buta Milka mengendap-endap pergi setelah selesai mandi, ia melangkah pergi ke kamar Raiden yang berada di belakang dan ternyata Raiden sudah keluar dari kamarnya. Lalu Milka menyapa, "Hai", dengan tangan melambai dan berlari memeluk lengan Raiden.


"Kita mau pergi kemana?", tanya Raiden.


"Pagi buta gini tidak mungkin pergi ke taman bermain, kita pergi ke apartemenku saja. Aku masih ngantuk juga", ucap Milka dengan memeperlihatkan rasa kantuk dengan menguap.


"Baiklah", ucap Raiden.


Matahari mulai meninggi dan menelisik di sela-sela jendela, Vio selesai berberes membersihkan diri dan memandikan Haeun. Lalu Vio membaca chat dari Milka.


**Milka:


Vi aku tiba-tiba ada urusan di pagi hari di kampus. Lain kali saja kita perginya mengelilingi kota Berlin dan mengunjungi pusat perbelanjaan sebab aku hari kerja kelompok dengan teman-temanku**.


Vio berdecak, "ck", setelah membaca pesan dari Milka.

__ADS_1


Vio keluar dari kamar dan turun menuju ke dapur untuk membuatkan susu buat anaknya. Saat akan melewati meja makan, Vio melihat Abigail yang sedang menyesap kopi dengan pakaian style kasual.


Ketika Vio melangkah, Abigail mencegah dengan montarkan pertanyaan, "Kamu mau kemana?", dengan melipat koran yang dia baca.


"Aku mau ke dapur membuat susu", jawab Vio dengan berlalu tetapi tiba-tiba Abigail mencekal lengannya.


"Biarkan pelayan yang membuatkan, duduklah dan sarapan pagi dulu", ucap Abigail.


"Makasi, "dengan senyum dan melanjutkan kalimatnya, "biar aku saja yang buat susunya sebab jika racikan beda, Haeun tidak mau meminumnya", dengan mencoba melepaskan tangan Abigail yang bertengger di lengannya.


"Kalau begitu, biarkan aku yang mengambil alih Haeun, takutnya dia terkena air panas", ucap Abigail menawarkan diri.


"Baiklah", ucap Vio menerima tawaran dari Abigail.


Vio memberika Haeun ke gendongan Abigail lalu Vio pergi ke dapur membuatkan susu untuk anaknya.


Sementara Abigail bermain dengan Haeun dengan menyuapi roti tawar dan dia menyukai dengan mengoceh dan Abigail memangkunya sambil menggerakkan kaki di bawah meja.


Tidak butuh waktu lama, Vio kembali membawa susu dengan mengocoknya dan dua botol ia tinggalkan untuk didinginkan di atas baskom yang berisi air biasa.


"Haeun coba lihat mama bawa apa?", tanya Vio untuk Haeun dengan mengambil alih Haeun dalam pangkuannya dan memberikan susunya.


Abigail membuka obrolan agar suasan tidak canggung.


"Vi, apa kamu seharian mengurus Haeun sendirian?"


"Tidak, jika aku kerja, aku titipkan kepada temanku"


"Kamu bekerja apa?"


"Aku kerja part time, jadi banyak waktu aku mengurusi Haeun"


"Apa kamu tidak merasa lelah?"


"Lelah sih, tapi ketika bermain dengannya, rasa lelah pun hilang"


"Sekarang makanlah dulu, sepertinya Haeun sudah tidak haus"


"Benar, aku akan makan", senyum Vio.


Abigail masih betah memperhatikan Vio saat makan dengan sembari memangku Haeun yang terlihat tenang.


Usai sarapan, Abigail mengajak Vio pergi ke belakang halaman yang disana ada sebuah rumah mungil yang dahulu pernah dipakai Milka saat kecil.


"Vi, ikut saya", ucap Abigail.


"Kemana?", tanya Vio yang menggendong Haeun.


"Nanti kamu akan tahu", ucap Abigail tetapi Vio ragu untuk mengikutinya. Abigail melihat sikap keraguan Vio menarik lengannya dan Vio mengikuti langkah Abigail ke belakang halaman.


Sesampainya di rumah kecil itu, Abigail meminta kunci pada pelayannya yang sering membersihkan rumah mungil di belakang mansion.


Setelah mendapatkan, Abigail membuka pintu, "cklek", dan Vio terperangah melihat begitu banyak mainan dan hiasan di rumah kecil itu seperti miliknya di Jakarta.


"Uncle, rumah ini mirip rumahku tapi tidak sebagus ini", tutur Vio.


"Apa kamu menyukai hiasan yang aku desain?"


Vio mengangguk kepala dengan ekspresi kagum.


"Pakailah, saat Haeun ingin main. Kamu bisa minta kunci ke Ellia"


"Makasih, Mr."


Abigail tersenyum melihat ekspresi terpancar di wajahnya. Abigail mulai menunjukkan beberapa mainan mini jump shoot sampai perosotan yang dibuat.


Hari ini Abigail ikut mengurusi Haeun di masa cutinya. Seharian Abigail tanpa henti menggoda Haeun yang terus tertawa karena bulu tipis di sekitar mulutnya. Vio yang melihat itu merasa senang melihat Haeun tertawa bersama seorang pria meskipun hanya sebentar. Bagi Vio, Haeun segalanya sebab kebidupannya hampir sama yang sudah tidak diakui oleh keluarganya terutama ayahnya sendiri yang sudah menikah dengan wanita lain dan memintaku untuk keluar dari rumahnya dengan alibi sudah memasuki dewasa. Padahal anak tirinya yang berumur 21 tahun lebih tua dua tahun darinya masih dimanja dengan uang hasil kerja keras dia.


Vio menjadi kangen neneknya dan mamanya yang sudah tiada. Saat memikirkan kekejaman ayahnya.


Vio menghempaskan pikiran itu dengan ikut bergabung bermain bola sampai mereka kelelahan dan tertidur bersama di pekarangan rumah di belakan mansion.

__ADS_1


Abigail terbangun mendengarkan suara germisik air dengan membuka mata yang disuguhkan dua perempuan di sampingnya yang terlelap tidur. Abigail memiringkan badannya ke kanan menatap dua gadis tertidur dengan senyuman hangat. Abigail mencium kening Haeun lalu akan mencium Vio dengan sedikit ragu namun ada suatu dorongan untuk memberikan kecupan juga kepada Vio. Akhirnya Abigail memberanikan diri mengecup keningnya dan bibir tanpa ragu seperti terbujuk oleh setan.


Lalu melepaskan kecupan yang seperkian detik saat Vio mengeluh. Abigail tersenyum sambil bergumam, "bibirnya lembut", lalu tidur kembali dengan menepuk tubuh Haeun.


__ADS_2