
Daniel berjalan kembali menuju ruang rawat inap Aminah. Ketika akan sampai di ruang inap Aminah, Daniel melihat banyak orang berseragam putih abu teman dari Aminah. Lalu dia menghampiri teman-teman Aminah yang menjenguk dan menyapanya.
“Maaf, apakah kalian sedang menjenguk Aminah?”, tanya Daniel.
“Ya, kami teman Aminah dari sekolah SMU Negeri Nusa 45”, ucap Azril.
“Thank you sudah menjenguknya”, ucap Daniel.
“Iya kak, Aminah kan teman kami meski nyebelin dia tetap teman kami. Anda pasti abangnya Aminah ya, perkenalkan aku Stevia”, ucap Stevia dengan menyodorkan tangan sambil menatap seperti kelaparan.
“Saya Daniel”, ucapnya membalas dengan senyuman dan berjabat tangan.
“Lihatlah Lik, Stevia itu mirip dengan bayangan Aminah yang suka goda banyak cogan”,bisik Raina
“Iya Rain, aku juga berpikir seperti itu. Jadi kangen dengan bibir nyerocos Aminah”, bisik Alika dengan ekspresi sedih ketika mengingat sikap gilanya Aminah.
“Maaf kalian belum boleh mendekat masuk”, ucap Daniel
“Oh tidak apa-apa, yang penting abang bule ini jangan terus sedih pasti Aminah kuat. Waktu di sekolah saja dia sekuat baja apalagi sedang tidur”, sahut Stevia terus menyerocos saat Azril akan melontarkan kalimat. Orang-orang yang berada didekat Stevia terkekeh.
“Maaf kak, kami hanya membawa sedikit bingkisan untuk Aminah, meski tidak seberapa semoga bermanfaat dan do’a kami selalu menyertainya untuk kesembuhan Aminah”, ucap Azril sebagai ketua OSIS. Daniel menerimanya dengan senyuman hangat dan mengucapkan kata terima kasih.
“Kalau begitu saya dan teman-teman pamit dahulu”, ucap kembali Azril.
__ADS_1
“Mari Rain, Lik, kami duluan”, ucap Azril.
“Ya, hati-hati”, ucap Alika
Sedangkan Stevia masih menatap Daniel lalu pamit.
“Abang jangan sedih, Aminah pasti membuka mata. Aku pamit dulu, semoga Aminah cepat melebarkan matanya. Amin”, ucap Stevia dengan pamit dan melambaikan tangan terus menyusul Azril beserta teman-temannya dengan berlari.”Azril tunggu!”, teriak Stevia.
Pada saat Lucas kembali, Axel pamit dengan Alika dan Raina.
“Lik, Rain, aku pamit pulang dulu”, ucap Axel.
“Xel, kok pulang sih. Aku masih nungguin Raina disini. Aku tidak tega dia sedih”, ucap Gilang.
“Hati-hati ya Xel!”, teriak Alika saat Axel telah menjauh namun masih terdengar oleh telinga Axel.
Lucas menghampiri Alika dan memberi kecupan pada keningnya, “cup”, lalu Lucas bertanya dengan ekspresi wajah cemburu, “Sweety, apa kamu menyukainya, sehingga kamu berteriak untuk pria itu”, bisik Lucas.
“Uncle apaan sih, jangan cemburu gitu. Aku dan Axel hanya berteman. Aku juga hanya mengatakan untuk hati-hati, masa cemburu banget”, kesal Alika melihat tingkah posesive suaminya.
“Iya, maaf. Jangan marah”,ucap Lucas mengecup pipi kirinya.
Kini Daniel sedang kusut dengan pikirannya dan tatapan kosong di matanya.
__ADS_1
“Aminah bangunlah, aku begitu takut melihatmu terbaring tanpa membuka mata. Aku merindukan bibirmu yang selalu bergerak dengan mengoceh, makan, dan semua yang kamu miliki. Ku mohon bangunlah”, gumam Daniel dari bilik jendela kaca.
Lucas menghampiri Daniel yang sedang sedih.
“Bro, kamu harus kuat. Aku juga sedang menyelidiki semua kasus dari tabrak lari sampai ke musuh kita yang berani mengusik. Aku akan bantu kamu membunuhnya”, ucap Lucas dengan mata elang menyalang.
“Tidak perlu, biarkan aku yang membunuh wanita j*l*ng itu dengan tanganku sendiri”, dedam Daniel dengan kemarahan tingkat dewa sambil mengepalkan erat dua tangan dan menatap Aminah yang terbaring di ranjang sana dengan penuh alat medis di tubuhnya dan monitor jantung.
“Baiklah, aku dan Dante hanya menangkapnya saja”, ucap Lucas.
Waktu terus berjalan dan berlalu, orang-orang yang silih berganti menjenguk Aminah satu persatu meninggalkan tempat terutama Lucas, Raina, Alika, dan Gilang berpamit undur diri. Sekarang ia sendirian dan mencoba masuk mendekati Aminah yang terbaring di ranjang layaknya seperti orang mati tanpa ada pergerakan hanya terdengar suara monitor jantung yang terus menggema. Daniel lalu menyentuh tangan kanannya yang terinfus dan mencium dengan air mata terus menetes dari pelupuk mata. Dia terus bergumam dengan mengucapkan mantra dan doa tiada henti hingga ia tertidur dipinggir ranjang Aminah sambil menggenggam tangannya.
“Aminah maafkan aku yang telah membuatmu sampai begini. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sungguh mencintaimu..,” dengan mengusap air mata yang terus mengalir dan menciumi tangan kanan Aminah.
“Tuhan tolonglah istriku, aku tidak bisa hidup dengannya, aku berjanji apapun yang terjadi ketika ia bangun aku akan selalu bersamanya. Aminah, tolong bangun”, ucap Daniel berkali-kali tanpa hentinya ia mengucapkan agar terdengar oleh Aminah dan Tuhannya.
Ketika Daniel berada di ruang inap Aminah, dia tidak menyadari jika Wulan bersama suaminya berada di balik jendela. Kedua orang tua Aminah juga menatap dengan kesedihan meski masih berbalut kesal dan jengkel dengan Daniel namun semua itu telah telanjur terjadi. Mereka hanya mengharapkan kesembuhan Aminah dan bangun dari koma.
"Semua kesalahan aku Wulan, aku telah melibatkan dia dalam terbelitnya hutang yang aku buat. Sampai-sampai tanggungan itu aku beratkan di pundaknya", sesal ayah Aminah
"Sudahlah honey, semua nasi sudah jadi bubur. Kita doakan saja yang terbaik dan kesembuhan Aminah. Sepertinya Daniel juga mencintai Aminah. Dia menunggu satu hari penuh di rumah sakit. Kita pulang terus kirimkan dia baju ganti", saran Wulan yang mengusap punggung suaminya.
"Maafkan papah Aminah", lirih ayah Aminah lalu pergi meninggalkan tempat bangsal dimana Aminah terbaring di ruang rawat inap.
__ADS_1
Sementara simbah Aminah masih termangu di kamar, mengingat akan perilaku cucunya yang saat ini masih terbaring di rumah sakit. Ia juga ikut sakit dan sekarang hanya terbaring di kamar. Semua kesedihan banyak dirasakan oleh orang terdekat.