Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 75


__ADS_3

“Tolong mesranya jangan terlalu intim di kediaman orang lain. Membuat pemiliknya merasa cemburu”, kekeh Joni dengan menjatuhkan bokongnya di sofa.


Vio dan Abigail melepaskan pelukan erat itu. Abigail ikut duduk begitu juga dengan Vio.


“Bagaimana perkembangan kamu dalam menangani kasus di CIA?”, tanya Joni.


“Cukup menyulitkan”, senyum Abigail.


“Tuan, sebenarnya aku kesini bukan hanya untuk menemui Vio namun aku ingin berbicara dengan anda empat mata”, ucap Abigail dengan ekspresi serius.


“Baiklah, kita bisa ke ruang kerja”, ucap Joni beranjak dari kursi dengan diikuti Abigail. Tetapi sebelum meninggalkan Vio, Abigail memberikan kecupan untuknya sambil berbisik, “tunggulah aku. Aku merindukan kamu”, dengan mengusap kepala Vio seperti anjing.


Sampai di ruang kerja, Abigail duduk di sofa ruang kerja milik Joni. Sedangkan Joni mengambil wine di rak sebagai teman untuk mengobrol.


“Ada apa? Sepertinya kamu serius sekali?”, yang Joni dengan menuangkan wine di gelas.


“Saya ingin meminta bantuan dengan anda”, ucap Abigail mengambil wine yang sudah disediakan oleh Joni.


“Bantuan?”, tanya Joni.


“Ya, kami terlibat kembali masalah keluarga Courvin. Sejarah akan terulang kembali seperti insiden abad lalu”, ucap Abigail.


“Bukankah mereka sudah binasa dengan api yang berkobaran?”


“Iya, mereka sudah di lahap si api jago merah dengan membawa kebodohan mereka yang begitu mudah terhasut oleh musuh”, ucap Abigail.


“Kamu memang benar, namun setelah aku selidiki ada anak dari Courvin yang masih hidup. Tapi aku tidak tahu siapa dia?”, ucap Joni.


“Haahhh___, anak keluarga Courvin?”, ucap Abigail dengan bertanya-tanya dalam benaknya sambil mengingat akan masa lalu dengan mengetuk jarinya di tangan sofa.


Siapa keluarga Courvin masih hidup. Aku harus cari tahu. Mungkin Steve mengetahui sesuatu. Aku akan menghubungi Steve besok.


“Sepertinya aku pernah melihat di layar monitor yang Vio pernah cari tahu dan meretas program komputer dari pria misterius itu”, ucap Joni. Abigail mendengarkan ucapan Joni mengangkat alis sebelah meminta mengulangi ucapan yang keluar dari mulutnya.


“Maksudku, aku pernah melihat sebuah foto pria di layar monitor dan tertulis anak Courvin”, ucap Joni kembali.


“Kamu melihatnya di monitor siapa?”, tanya Abigail.


“Di komputerku tapi aku berikan kepada Vio. Komputer itu ada di ruang bawah”, ucap joni.


“Kalau begitu kita ke ruang bawah dan melihat siapa pria itu untuk memastikan”, ajak Joni dengan beranjak dari sofa dan keluar menuju ruang bawah dengan diikuti oleh Abigail.


Sementara Vio dan Alam juga berada di ruang bawah yang akan di tuju oleh Joni dan Abigail.


Saat memasuki ruangan tersebut, Abigail melihat senyuman Vio dengan pria lain yang membuatnya cemburu. Abigail mengagetkan Vio.


“Ternyata senyuman dan tawamu sering diperlihatkan oleh pria lain”.


Vio yang sedang tertawa berubah ekspresi menjadi biasa saja dan menoleh ke sumber suara yang dikenal olehnya. Vio terkejut dengan menyebut nama Abigail.


“Sweety, kamu ternyata lebih suka ketawa merekah dengan pria lain. Aku sungguh cemburu lho”, ucap Abigail.


“Sudahlah, kecemburuan kamu simpan dahulu jika ingin membahas musuh”, ucap Joni.


“Alam bisakah saya ambil tempat dudukmu dulu?”, tanya Joni.


“Tentu tuan”, ucap Alam.


“Vio, Alam, kalian simpan data itu dimana?”, tanya Joni.


“Data apa ya grandpa?”, tanya Vio.


“Data tadi yang saya lihat”, ucap Joni.


“Ouwh data tentang pria misterius itu ya”, ucap Vio.


“Bingo!”, ucap Joni.

__ADS_1


“Ini datanya grandpa”, ucap Vio.


“Kalau begitu kami akan keluar jika kalian ingin membahas empat mata”, ucap Vio kembali.


“Tidak perlu, lebih baik kamu berda di sini daripada berduaan dengan pria lain”, ucap Abigail.


“Ya nak, kamu tetap di sini juga tidak apa-apa”, ucap Joni.


Joni membuka file yang diberikan oleh Vio dan di sana terpampang wajah milik Leon. Membuat Abigail kaget. Leon yang selama ini dianggap sahabat bagi kami ternyata dia putra dari Courvin. Abigail tidak menyangka selama ini pria misterius itu Leon.


Abigail masih tidak percaya. Lalu Abigail menghibungi Lucas tetapi tidak diangkat. Abigail mencoba kembali dan akhirnya terangkat.


“Hallo Abigail”, sapa Lucas.


“Hallo Lucas, kamu sekarang ada di mana?”, tanya Abigail.


“Ada apa Abigail?”, tanya balik Lucas yang mendengar suara Abigail di seberang sana terlihat gusar.


“A..aku baru menemukan pria misterius itu. Namun aku tidak bisa memberitahu kamu lewat ponsel”, ucap Abigail.


“Baiklah, kita bertemu di kantorku”, ucap Lucas.


“Jangan di kantor, itu sangat berbahaya”, ucap Abigail.


“Kita bertemu di markas tempat palinv jauh dan aman untuk kita bicarakan”, ucap Abigail.


“Inikan sudah malam, kita ketemuannya besok pukul 08.00 pagi di markas biasa kita lakukan dengan Steve juga Chalvin”, ucap Lucas.


“Baiklah, tapi kamu jangan membawa sopir atau siapapun. Nyawa kamu bisa berbahaya. Bawalah Chalvin. Dia pasti berada di negara ini”, ucap Abigail.


“Ok, besok aku hubungi kamu kembali jika sudah sampai si markas itu”, ucap Lucas.


Usai berbicara dengan Lucas, Abigail bertanya dengan Joni.


“Siapa yang menemukan semua data konkrit itu?”


“Vio!”, terkejut Abigail.


“Iya, aku. Kenapa kamu begitu terkejut. Pasti tidak percaya kan? Akupun begitu”, ucap Vio.


Abigail mengumpat dalam batin, “sh*t! Gadis ini benar-benar berani sekali. Aku tidak bisa membawa dia dalam bahaya semenjak di culik dari suruhan orang. Aku harus beri dia hukuman”.


“Vio, bisakah kita bicara empat mata di kamar kamu?”, tanya Abigail.


“Ngapain?”, tanya Vio.


Rahang Abigail semakin mengeras saat Vio bertanya.


Joni yang melihat ekspresi Abigail dengan dingin dan datar menandakan kalau dia tidak mentolerir Vio entah atas pertanyaan atau karena tindakan yang bahaya. Lalu Joni menyuruh Vio untuk mengabulkan permintaan Abigail.


“Vio ikuti kemauan Abigail dahulu. Siapa tahu dia memberikan sesuatu untukmu”, ucap Joni.


“Tapi..”


“Sudah, tidak usah pakai tapi”, ucap Joni.


“Baiklah”, ucap Vio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan duluan dengan diikuti oleh Abigail.


Sementara Alam merasakan bahwa Abigail akan ngapa-ngapain Vio. Lalu Alam ikut menyusul namun dicegah oleh Joni.


“Biarkan mereka menyelesaikan”, ucap Joni.


Langkah Alam pun terhenti dan mengurungkan diri.


Sampainya di dalam kamar yang kini ditempati oleh Vio. Abigail langsung mengunci pintunya dan mengantongi kunci itu. Vio merasakan hawa dingin dan sorot tatapan Abigail yang tajam membuat Vio sedikit takut namun tak ingin goyah ekspresi ketakutan namun apa daya.


“A..abigail, ka..kau mau berbicara apa? Ke..kenapa pintunya dikunci?”

__ADS_1


Abigail melangkah mendakit Vio dalam diam dan Vio terus memundurkan tubuhnya yang akhirnya Vio terjatuh menabrak dada bidangnya akibat tarikan dari Abigail lalu Abigail membisikkan sesuatu di telinga Vio.


“Kenapa kamu suka sekali membahayakan diri?”


“Aku harus membalaskan perbuatan mereka yang membuatku begini. Aku tidak mau duduk saja. Aku juga memiliki kemampuan bela diri”, ucap Vio.


“Oh ya, seberapa tinggi ilmu bela diri kamu?”, tanya Abigail.


“Lumayan, aku juga bisa menyentuh pistol dan diajari oleh Alam”, ucap Vio membuat Abigail terkejut, “pistol!”


“Sweety, kamu sudah terlalu jauh. Aku akan menghukum kamu”, ucap Abigail dengan membelai pipi milik Vio dan membawanya ke atas ranjang. Abigail mulai memberikan hukuman membuat Vio tidak bisa untuk menghindar. Abigail tersenyum melihat Vio di sana yang ingin terus menghindar. Abigail mulai mempermainkan Vio. Abigail merasa senang melihat ekspresi Vio yang membuat pertahanan Abigail lepas sehingga Abigail mulai untuk melakukan hubungan bercinta.


Beberapa lama kemudian Vio lelah dan tertidur. Sedangkan Abigail mengusap luka yang ada di bahu Vio dan kecupan. Abigail merasa miris melihat luka Vio begitu banyak apalagi dibagian perut tapi untungnya tidak dalam.


Lalu Abigail ikut terlelap dengan memeluk Vio dan membawa tubuh Vio di dalam pelukannya.


Pagi hari pukul 06.30 Abigail pergi dari kediaman Joni setelah memberikan peringatan untuk Vio.


Abigail melakukan perjalanan menuju ke markas setelah menghubungi Steve.


Beberapa lama kemudian Abigail telah sampai di markas dengan disusul oleh Lucas yang baru saja tiba ke markas bersama Chalvien.


“Hai, Lucas”, sapa Abigail.


“Kamu baru tiba, Abigail”, ucap Chalvien.


“Iya, aku baru saja tiba. Kita tinggal menunggu Steve”, ucap Abigail.


“Kalau begitu kita tunggu dia di dalam”, ucap Lucas.


“Sembari menunggu kita sarapan pagi dahulu. Kalian pasti belum sarapan begitu juga denganku”, ucap Chalvien.


“Bisa saja kamu, Chalvien”, ucap Abigail.


“Kalau begitu aku akan masakan untuk kalian. Pasti di sini ada bahan pokok untuk kita makan”, ucap Chalvien.


Chalvien pergi ke dapur untuk melihat bahan pokok di dalam kulkas. Chalvien terkejut melihat bahan pokoknya terisi penuh.


“Wow, bahan pokoknya ternyata sering diganti dan terisi penuh juga. Sudah lama aku tidak menyambangi mansion ini”, ucap Chalvien. Abigail mendengarkan ucapan Chalvien menghampiri.


“Syukurlah apabila bahan pokok di lemari es penuh. Aku jadi tidak kelaparan karena ada kamu juga yang hobi masak”, kekeh Abigail.


Lalu Abigail meninggalkan Chalvien fokus memasak dan Abigail pergi menghampiri Lucas seraya menunggu masakan Chalvien selesai dan Steve datang.


“Lucas, apa yang sedang kau pikirkan?”, tanya Abigail sambil menuangkan anggur.


“Entahlah, rasanya aku sedang tidak bersemangat”, ucap Lucas.


“Bersemangatlah, meski Alika sedang dalam keadaan koma. Kamu harus bertanggung jawab menumpas kelicikan mereka agar segera berkumpul dengan keluarga kecilmu”, ucap Abigail.


“Kamu bisa tahu darimana jika Alika sakit?”, tanya Lucas dengan meneguk anggur sekali hingga tandas.


“Aku dapat dari Mark. Kamu jangan marah dengan Mark dan aku sudah memaafkan kamu. Aku tahu apabila kamu kini semakin was-was demi kebaikan keluarga kamu. Aku tidak tersinggung. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan saat Vio menghilang karena diculik”, ucap Abigail.


“Apa kamu sudah tahu keberadaan Vio saat ini?”, tanya Lucas.


“Ya, aku tahu. Dia berada di tempat sahabatku dan sudah ku anggap seperti pamanku sendiri sejak dahulu mengikuti Saddam yaitu ayah kamu. Dia ditemukan olehnya dalam keadaan luka parah. Syukurnya luka itu sudah cepat sembuh”, ucap Abigail.


“Namun dia juga hampir nyawanya melayang saat pamanku menceritakan bahwa Vio dibius obat yang mematika seperti yang dialaminya”,tungkas Abigail.


“Aku dan Steve juga ikut andil bekerja sama dengan Saddam untuk membalaskan dendam ini meski berat untuk kita”, ucap Abigail.


Di tengah obrolan mereka Steve datang dN bersamaan dengan hidangan yang dibuat Chalvien telah selesai.


“Gaes kita makan dahulu sebelum memulai aktivitas kita agar cacing diperut kita tidak meronta”, ajak Chalvien.


“Kalau begitu kita makan dahulu”, ucap Lucas.

__ADS_1


“Steve, mari kita makan dahulu”, ajak Chalvien saat melihat Steve baru datang.


__ADS_2