Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 29


__ADS_3

Alika dan Raina berjalan menyusuri lorong sekolah menuju ke kantin tiba-tiba Anisa bersama dua kruculnya bertemu dan mencegat mereka.


“Tunggu-tunggu, ngomong-ngomong gimana kabar teman kalian yang bersuara cempreng itu, belum dijemput sama malaikat kan?”, tanya Anisa


“Itu bukan urusan kamu”, ucap Alika.


“Kami kan cuman nanya, jangan sewot dong”, ucap Anisa sambil mengibas kipas.


“Kamu kangen ya, sama Aminah”, ucap Raina yang tidak tersulut emosi.


“Iuhhh, ngapain kangen ama suara cempreng. Aku kan nanya saja, jika dia belum bangun yah gak apa-apa, tetapi jangan sampai dijemput malaikat”, ucap Anisa dengan tertawa yang diikuti dua kruculnya sambil berjalan. Ketika Raina tersulut emosi, Anisa sudah duluan pergi meninggalkan mereka.


“Dasar set*n, aku yang akan sumpahin kamu dijemput malaikat”, teriak Raina sampai para siswa terdekatnya mendengar.


Alika menenangkan, sudahlah Rain, jangan emosi. Tadi kamu yang bilang jangan tersulut emosi”, ucap Alika sambil mengusap pundak Raina


“Rasanya aku itu ingin bibir itu aku potong, gimana gak emosi bibirnya terlalu lemes”, ucap Raina yang masih kesal.


“Sudah, nanti kamu malah keriput. Lebih baik kita ke kantin dan makan yuk”, ajak Alika dengan merangkul lengan Raina.


Sesampainya di kantin Raina dan Alika langsung pesan bakso dan teh manis lalu mrngobrol bersama hingga Gilang, Axel bersama Noval ikut bergabung.


“Rain, aku merasa sepi nih. Tidak ada Aminah”, ucap Alika.


“Iya, tidak ada bahan untuk ngobrol candaan yang tidak berfaedah. Kapan dia buka mata?”, ucap sedih Raina dengan pundak lemas.


“Oh ya, Rain nanti pulang sekolah gimana kita menjenguknya sudah hampir satu minggu kita tidak bertemu dengannya. Paling tidak kita melepas rindu dengan melihat orangnya”, ucap Alika.


“Itu ide bagus”, ucap Raina sambil memakan bakso yang telah diantar.


Ketika mereka sedang asyik menikmati santapan bakso tanpa obrolan munculah Gilang, Axel, dan Noval.


“Hallo gaes, kayaknya kalian nikmat sekali makan baksonya. Jadi ngiler nih”, ucap Noval dengan duduk di depan Alika.


“Pesanlah jika ingin”, ucap Raina


“Wah asyik, dapat traktiran”, ucap Noval.


“Siapa yang mau mentraktir?”, tanya Raina sambil minum es tehnya.


“Tadi kamu bilang, jika ingin disuruh mesan”, ucap Noval belagak bodoh.


“Iya, aku suruh pesan tapi bukan berarti aku mentraktir makanan untukmu dan kamu bayar sendirilah”, ucap Raina dengan wajah yang memerah. Gilang yang melihat keringat Raina menetes, ia membantu mengelap keringat dengan tisu. Lalu teman-teman di dekatnya menggoda dengan kata, “cieee”, secara bersamaan.


“Apaan sih kalian”, ucap Raina dengan wajah malunya.

__ADS_1


“Abang jadi iri liat kalian mesraan gini. Jadi ingin punya gebetan buat aku perhatiin”, ucap Axel.


“Carilah Xel”, ucap Noval.


Sedangkan Raina dan Alika baru pertama kali mendengarkan Axel melontarkan kalimat yang tak biasanya.


“Tu..tunggu, Xel jangan -jangan arwah Aminah memasuki jiwa kamu ya”, tanya Raina


“Enggaklah!”, bantah Axel


“Terus tadi kata-kata itu samaan dengan Aminah yang sering ia lontarkan lho”, ucap Raina yang diangguki Alika.


“Masa sih, menurutku bukan dimasuki arwah Aminah, namun tertular oleh tingkah Noval. Karena mereka akhir-akhir ini sering bermain bersama. Jadi Axel dapat banyak pengaruh dari Noval”, ucap Gilang.


Raina dan Alika bersamaan bilang, “oh gitu rupanya”, dengan tertawa bersama dan Axel menggaruk tengkuk tidak gatal.


Sementara Tasya sedang membujuk Denis untuk menemani menjenguk Aminah.


“Bab, antar aku ke rumah sakit jenguk Aminah yuk”, ucap Tasya yang sedang merangkul lengan Denis.


“Siapa bab, bab, bab”, kesal Denis yang tengah mengetik proposal akuntansi.


“Ya kamulah, siapa lagi coba? Masa pak Tono”, ucap Tasya


“Bisa jadi, kamu suka dengan pak Tono”, ucap Denis yang masih fokus mengetik dan merapikan proposal tugas.


“Ayolah”, bujuk Tasya sambil dua matanya berkedip-kedip.


Denis menghela nafas, “haah”, lalu menghentikan aktivitas mengetiknya dan mengatakan, “baiklah, aku akan temani kamu. Tapi kamu tidak perlu kegeeran. Ingat itu”, ucap Denis sambil mematikan laptop.


“Makasih Denis”, ucap senang Tasya dan akan mencium Denis namun di cegah oleh telapak tangan milik Denis. Lalu Tasya cemberut dengan mengatakan, “kenapa kamu tidak mau aku beri hadiah, Den. Itu sebagai tanda terima kasih lho”, ucap Tasya.


“Hadiahnya cukup dengan sikap tenang dan tidak agresif, itu lebih baik”, senyum Denis.


“Ya deh, tapi aku tetap senang karena kamu mau bersedia menemaniku”, ucap Tasya.


Denis pergi mengantar Tasya menjenguk Aminah sekalian bertemu dengan Daniel sebagai tanda duka atas kecelakaan yang menimpa istrinya.


Sampainya di pelataran rumah sakit, Tasya dan Denis bertemu dengan Alika bersama teman-temannya yang akan menjenguk Aminah. Lalu Tasya memanggil Alika.


“Alika!”, teriak Tasya. Kemudian Alika menoleh kesumber suara dan menyapanya.


“Kak Tasya, apa kabar?”, ucap Alika.


“Baik, kalian pasti mau menjenguk Aminah ya?”, tanya Tasya.

__ADS_1


“Iya, kami mau menjenguk Aminah, kak”, ucap Raina ikut menimbrung obrolan Alika dan Tasya.


“Kalau begitu kita jenguk bersama-sama”, ajak Denis.


Mereka pergi menjenguk Aminah dengan berjalan beriringan menuju ruang inap Aminah. Ternyata, di sana sudah ada kedua orang tua Aminah, Daniel dengan wajah kusut dan ****** yang tumbuh, dan simbah Aminah yang duduk di kursi roda.


“Hallo aunty”, sapa Tasya. Lalu Wulan menoleh sumber suara kemudian menyapa balik,” hallo Tasya”, ucap Wulan dan beranjak dari tempat duduk lalu memeluk ponakannya di depan.


“Sayang terima kasih”, ucap tulus Wulan sambil menoleh ke arah teman-teman Aminah yang ikut menjenguk dengan memberikan seulas senyum.


“Kalian juga datang, terima kasih sudah menjenguk berkali -kali untuk Aminah”, ucap Wulan.


Kemudian Tasya menyapa pamannya dan simbah Aminah.


“Hallo uncle”, sapa Tasya dengan melambaikan tangan.


“Hallo mbah”, sapa Tasya untuk kesekian kalinya sebagai ajang menyapa melepas kerinduan sambil memeluk simbah Aminah.


“Kalian duduklah atau mau memandang wajah Aminah dahulu untuk melepas kangen kalian”, tawar wulan.


“Kami mau menyapa dahulu dan melepaskan rasa kangen dengannya dahulu, aunty”, ucap Alika.


“Baiklah, silahkan”, ucap Wulan.


“Min, bangunlah. Kakak cantik ini kangen dengan kamu. Nanti setelah bangun aku berikan sekardus susu kotak deh. Makanya buka matamu dan ucapan kata cantik bersama”, ucap Tasya sambil terkekeh.


Saat mereka sedang melepaskan rindu Denis pergi menghampiri Daniel dengan wajah kusut dan penampilan juga berkecamuk hampir mirip orang tua sakit-sakitan.


“Daniel!”, panggil Denis dan menengok ke atas.


“Hai Denis”, sapa balik Daniel.


“Wajah kamu semakin kusut saja, harusnya kamu membuat penampilan keren kembali. Pasti dia akan bangun. Jika penampilan kamu seperti ini. Dia tidak akan bangun Daniel”, ucap Denis dengan memberikan saran pada teman dekatnya.


“Iya juga”, tersenyum kecut, “dia selalu menginginkan cogan yang ia harapkan”, ucap Daniel.


“Makanya dari itu, rubahlah penampilan kamu bro. Biar dia saat bangun tidak kaget melihat penampilan kusutmu”, ucap Denis yang merasa iba pada temannya ini.


“Iya, uncle sudah membujuknya, tapi dia tetap kekeh menunggu Aminah terbangun dari tidurnya. Padahal kita tidak tahu kapan dia terbangun. Dia juga sulit untuk makan Denis. Uncle tahu kesedihannya tapi paling tidak dia harus menerima suapan gizi agar suatu nanti Aminah bangun penampilannya tidak terlalu kusut. Bujuklah dia Denis”, ucap ayahnya Aminah yang ikut menyahut dan menimbrung sambil mengomeli mantunya.


“Ya, uncle Denis sedang membujuk”, ucap Denis.


Pada saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba dokter dan dua suster berlari menuju ruang rawat inap Aminah. Mereka beranjak dengan ekspresi wajah panik dan khawatir. Wulan tidak bisa menahan air mata yang menetes begitu juga dua sahabat Aminah.


“Min, tolong jangan buat kami khawatir”, lirih Raina dalam pelukan Gilang begitu juga Alika.

__ADS_1


Daniel merasakan sakit dan sesak di dada melihat dokter yang sedang berusaha membantu mengembalikan detak jantung Aminah.


Di dalam sana dokter sedang berjuang dan seluruh keluarga dan teman-temannya terdekat berdoa agar Tuhan memberikan kesempatan hidup untuk Aminah. Sedangkan simbahnya pingsan dan menambah panik kedua orang tuanya Aminah. Wulan menepuk pipi simbah, “mbah! mbah! mbah!!!”, suara menggema menjadi suatu suasana mencengkam berbalut menyedihkan dan Daniel tububnya merosot denagan tangisan menggema.


__ADS_2