Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 98


__ADS_3

Di dalam ruang kerja milik Wily, dua pria paruh baya tengah bersengkokol untuk membuat rencana licik memanfaatkan pria bertopeng itu yang sering wara wiri bersamanya.


“Wily, kamu memiliki anak buah yang kuat”, ucap salah satu pria berkacamata itu.


“Anak buahku semuanya kuat. Siapa yang kamu maksud anak buah yang kuat?”, ucap Wily.


“Pria yang sering berwara wiri denganmu”, ucap profes itu.


“Maksudmu pria bertopeng itu”, kata Willy. Mereka pun membenarkan perkataan Willy.


“Bagaimana Will?”, tanya profesor itu.


Willy menimang ajakan dari profesor itu.


“Kamu hanya meminta dia membujuk para pengusaha untuk memperkuat pemilu kamu. Kamu bisa menyingkirkan musuh-musuhmu dengan kekuatan politikmu. Kamu juga mendapatkan keuntungan besar untuk bisa naik lebih tinggi lagi”, bujuk pria berkaca mata tersebut.


“Tak hanya kancah politikmu saja, kamu bisa menurunkan harga saham perusahaan milik musuhmu yang selama ini kamu incar. Kamu bisa membeli saham itu ketika perusahaan mereka banyak mengalami kerugian. Meski kita tetap harus waspada”, ucap profesor.


“Kita buat mereka mencium kaki kamu seperti yang mereka pernah lakukan kepadamu”, ucap pria berkacamata.


“Baiklah, kita harus menyusun rencana politik kita. Aku akan minta ide dari pria bertopeng itu untuk menyelesaikan rencana kita”, ucap Willy dengan tangan mengetuk tangan kursi tersebut.


Dua pria paruh baya itu saling memandang dengan senyuman licik.


Alika melangkah keluar untuk membukakan pintu untuk ketiga wanita yang sedang menunggu di depan pintu rumahnya. Alika menarik pintu lalu menyapa dan mengajak mereka masuk.


“Hallo guys”.


“Yuk masuk”.


Ketiga wanita masuk dengan memberikan cepika cepiki kepada Alika. Lalu mereka melangkah ke ruang tengah dengan menyapa dua bayi mungil yang sedang bermain.


“Hai Sean, Olive”, sapa Milka dengan menurunkan ketiga bayi mungil itu untuk bermain bersama. Begitu juga dilakukan oleh Aminah dan Charlotte.


“Wah! bayi-bayi mungil kita asyik bermain dan berkumpul. Momy harus membuat kenangan untuk kalian. Bagaimana aunty Charlotte dan aunty Milka?” Alika mengajak mereka membuat kenangan dengan meminta bantuan Mrs. Magareth agar hasil jepretan terlihat bagus. Lalu mereka mengirimkan kepada orang-orang terdekat. Lucas yang tengah membahas prospek kepolitikan Wily bersama sahabat-sahabatnya tiba-tiba mendapatkan kiriman foto dari Alika. Lucas membuka foto yang dikirim Alika dengan senyum begitu juga yang di dapat dua rekannya yaitu Adam dan Raiden.


“Lucas, apakah kamu mendapatkan notif pesan berupa foto dari istrimu?”, tanya Adam dipojokan. Lucas menjawab dengan anggukan.


“Wah! Mereka memmembuatku iri. Aku juga mau membuat kenangan ini”, ucap Adam.


“Apa yang kalian bicarakan?”, tanya Chalvien.

__ADS_1


“Sesuatu yang indah”, sela Adam.


“Ck”, decak Chalvien.


“Kamu sepertinya iri”, ejek Adam.


“Kamu sudah sepantasnya menjalani hidup baru bersama pasangan kamu”, ucap Adam.


“Ya, ya, ya”, ucap Chalvien yang malas menggubris.


Di malam yang penuh hangat di pelataran belakang halaman penthouse, Abigail dan Vio sedang asyik beromansa dengan membakar jagung, ikan dan daging panggang. Abigail juga memperlihatkan foto putranya.


“Vi”, panggil Abigail.


“Apakah kamu mau melihat foto putra kita?”, tanya Abigail.


“Milka juga baru saja mengirimkan foto bayi-bayi mungil”, ucap Abigail dengan membuka ponsel miliknya.


“Perlihatkanlah”, ucap Vio sambil menyantap jagung bakar.


“Kemarilah mendekat”,ucap Abigail.


“Tidak perlu mendekat juga kan uncle. Kamu bisa meminjamkan ponselmu dan aku dapat melihat anak-anakku”, ucap Vio.


“Uncle kan sering lihat mereka. Sekarang bergantian dan mengalahlah padaku”.


“Lebih enak kita lihat sama-sama sweety”, ucap Abigail tidak mau terbantahkan.


“Kalau begitu uncle dahulu yang lihat. Aku juga pernah lihat mereka walaupun jauh namun aku cukup puas”, ucap Vio.


Abigail merasa amarah dan dia beranjak dari tempat duduknya lalu mengangkat tubuh Vio secara tiba-tiba dan membuat Vio terkejut sampai jagung bakarnya jatuh. Abigail membawa tubuh mungil itu ke kamar lalu tubuh itu ia letakkadi ranjang dengan mengurungkan di bawah tubuhnya yang kekar kemudian memberikan nafas hangat yang menderu. Vio tidak dapat berbuat apa-apa. Ia menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya sampai mereka melakukan hubungan lebih dari sekedar ciuman. Vio menikmati sampai Abigail merasa cukup. Lalu mereka melihat pemandangan foto yang mereka rindukan di atas ranjang.


“Apa kamu sangat merindukan mereka?”, tanya Abigail.


“Tentu”, ucap Vio.


“Namun...”, jeda Vio membuat Abigail mengerutkan dahi menunggu ucapan yang dilontarkan Vio yang bertanda tanya.


“Namun aku tidak bisa bertemu mereka sekarang. Aku tidak mau mereka dalam bahaya. Aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku belum bisa kembali dan memeluk mereka”, ungkap Vio dengan ekspresi sedih. Abigail menghela nafas dengan mendesah dan memberikan kecupan dikening istrinya cukup lama.


“Aku mengerti perasaan kamu. Kita bisa melindungi mereka dengan bersama-sama menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Apabila kamu masih menganggap mereka keluargamu... Kamu harus percaya kepada kepala rumah tangga di sampingmu. Kamu tidak boleh menyembunyikan semua masalah yang tengah kau hadapi. Aku akan bersama kamu untuk menuntaskan permasalahan ini. Jadi, kamu harus tetap menemui mereka. Tidak ada kata membantah. Mengerti!”,jelas Abigail.

__ADS_1


“Ta..tapi Abigail...”, perkataan Vio terhenti dengan telunjuk jari Abigail dan bibir yang membungkamnya.


Setelah kelelahan beradu sengit mereka tidur dengan saling berpelukan.


Pagi pukul 06.00, Abigail terbangun dari alam mimpinya. Lalu memandang wajah Vio di sampingnya sambil menyingkirkan anak rambutnya ke belakang kemudian memberikan kecupan morning. Setelah puas memandang Abigail pergi ke kamar mandi membersihkan diri.


Ketika Abigail masih membersihkan diri, Vio terbangun dari alam mimpi karena sinar matahari yang menelisik dari celah korden. Vio merenggangkan otot-ototnya yang hampir remuk akibat perbuatan dari suaminya. Vio beranjak dari tidurnya lalu mengambil kaos abu-abu milik Abigail kemudian berjalan tertatih untuk mengambil air minum yang ada di meja pojok. Saat Vio sedang minum air Abigail keluar dari kamar mandi dengan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk putih. Abigail melihat istrinya yang tengah minum air dengan tersenyum. Abigail menghampiri istrinya yang fokus minum. Abigail mendekat dari arah belakang dengan membisikan sesuatu di telinganya.


“Apakah tadi malam kamu menikmati sensasi itu?”


Vio mendengar perkataan vulgar dari bibir Abigail membuatnya tersedak air dan wajahnya memerah seperti tomat rebus. Vio membalikkan badannya lalu memukul dada bidang Abigail sambil mengumpat, “dasar mes*m”, Vio berjalan pergi ke kamar mandi dengan perasaan kesal sedangkan Abigail menikmati kekesalan Vio.


Di mansion nan megah milik Abigail, Milka tengah di repotkan dengan ketiga bayi. Raiden yang turut membantu juga kewalahan. Sampai akhirnya Abigail kembali. Lalu Milka menghampiri kakaknya dengan merangkul lengan kokohnya sambil mengeluh, “untung kau cepat data. Lihatlah bayi-bayi mungil ini yang terus merengek. Membuatku dan Raiden kewalahan. Tolong bantuannya”, dengan menampakkan unjuk giginya.


“Baiklah”, ucap Abigail sambil memanggil istrinya untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


“Vio keluarlah! Putrimu dan putramu membutuhkan kamu”.


Vio menutup mata untuk menghilangkan rasa gugup dan rasa bersalahnya terhadap Milka dengan menghembuskan nafas. Vio melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyian dengan rasa waspada saat Milka akan menumpahkan rasa amarahnya kepada dirinya. Namun dalam bayangan itu tidak terjadi. Milka malah menyambutnya dengan senyuman hangat dan pelukan.


“Selamat datang kembali kakak ipar baikku”.


Vio hanya tersenyum kikuk antara senyum senang atau senyum sedih karena telah membuat sahabatnya sekaligus sebagai adik ipar menderita.


Ketika Vio tengah mematung Milka menyadarkan Vio dengan menarik tangannya.


“Vi, kamu harus menenangkan mereka. Kasihan Alex dan Haeun”.


“Haeun momy-mu sudah kembali”, ucap Milka.


Haeun merentangkan kedua tangannya dengan menangis. Dia seolah-olah meminta di gendong oleh Vio. Vio mengangkat tubuh mungil Haeun dengan memberikan tepukan di punggungnya. Abigail melihat pemandangan itu begitu senang. Raiden yang berada di samping Abigail juga ikut merasakan senang.


“Akhirnya kita dapat berkumpul dengan lengkap”, ucap Raiden.


“Lebih baik kita ikut bergabung bersama mereka”, ajak Raiden dengan menepuk bahu Abigail. Abigail dan Raiden melangkah menghampiri istri mereka yang sedang kerepotan menenangkan bayi-bayi mungil.


Abigail mengambil alih Haeun sedangkan Vio menggendong putranya yang juga menangis. Vio memberikan tepukan di punggung putranya dengan terus mencium pundak miliknya.


Kebahagiaan itu juga dirasakan oleh Amanda sebab Leon mendapatkan keringanan masa tahanan. Kini Amanda sedang memperlihatkan putri mereka.


“Sweety, maafkan daddy yang belum bisa menggendongmu dan berkumpul bersama kalian”, uucap Leon dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


“Leon, kita bisa berkumpul bersama beberapa bulan lagi. Kami akan menunggu kehadiranmu. Terpenting kamu harus menjaga kesehatan kamu”, ucap Amanda.


“Baiklah, daddy berjanji akan menjaga kesehatan demi putriku tercinta”, ucap Leon.


__ADS_2