
Tap!
Tap!
Tap!
Vio dan Alam mengendap ke mansion milik pria misterius itu lewat atas atap setelah melewati pagar tinggi.
Mereka mencoba mencari informasi di ruangan milik pria itu. Vio mencoba turun dari atap namun di ruangan tersebut sedang dipakai untuk membuat skenario menghancurkan usaha milik keluarga Saddam.
Vio mengurungkan niatnya untuk turun. Vio dan Alam mencoba menyadap ruangan pria itu dengan menempelkan penyadap tanpa ketahuan oleh mereka. Alam mencoba membuka laptop untuk meretas CCTV agar dapat menyadap pembicaraan mereka.
Tak!
Tak!
Tak!
Sepuluh menit berlalu akhirnya Alam bisa meretas CCTV dan Vio beraksi turun sedikit untuk menempelkan penyadap itu ke sisi tembok yang tidak terpantul bayangan di cermin.
Dug!
Dug!
Dug!
Lima menit berlalu akhirnya Vio dapat memasang penyadap itu meski kurang sempurna namun dapat di dengar pembicaraan mereka. Alam dan Vio memasang aerphone diatas atap dengan nafas lega.
“Kita harus menghancurkan mereka berkeping-keping untuk pembalasan atas kematian keluarga Courvin”, ucap pria itu.
“Courvin?”, tanya Vio setelah mendengarkan kata Courvin.
Alam menyuruh Vio untuk tidak berbisik. Alam menyuruh Vio untuk mendengarkan sampai habis kalimat yang mereka lontarkan.
Vio pun mengerti maksud Alam dan Vio kembali mendengar dengan saksama.
“Sekarang istri Lucas sedang mengadu nasib antara kematian dan untuk hidup itu sudah membuat pukulan telak untuknya bukan”, ucap Raymon.
“Benar yang dikatakan bos Raymon”, ucap Beni.
“Kalau begitu kita menghubungi mata-mata kita di perusahaan Lucas dan menyuruhnya mengirimkan proyek besar yang sedang digeluti oleh mereka dan hasil desain itu kita bisa lelang untuk meningkatkan harga saham milik kita”, ucap pria itu.
“Terus Ozzie bagaimana?” tanya Beni.
“Kamu tidak perlu memikirkan itu. Biarkan dia membusuk dalam tahanan..”, ucap Raymon.
“Jangan lakukan itu, kita masih membutuhkannya. Otak liciknya lebih baik dari pada kamu Raymon”, ucap pria itu.
Raymon mendengar perkataan pria itu merasa tidak senang dengan mengepal tangannya dengan erat.
__ADS_1
Kamu tidak usah sombong dengan kepemimpinan kamu. Sebentar lagi kamu akan terhempas dari kursi itu setelah usaha kamu berhasil dan aku bisa merebut kekuasaan itu untuk naik tahtah.
“Ok, aku mengerti”, ucap Raymon dengan senyum terpaksa.
Sementara Lucas sedang berkutat di dalam ruang kerjanya dengan memanggil Chalvin seperti Saddam katakan.
“Chalvin!”, panggil Lucas.
“Ya, tuan”, ucap Chalvin.
“Jika kamu menelisik dari layar monitor siapa yang mengkhianati kita?”, tanya Lucas sambil fokus melihat video CCTV dalam monitornya secara diam-diam agar tidak diketahui oleh musuh.
“Menurut saya ada yang terlihat aneh dari sosok pria berambut hitam dengan tinggi sekitar 165 cm dengan proposional dan wanita berkacamata berambut blound yang sedang lirik ke arah CCTV dengan senyum menyeringai”,ungkap Chalvin menunjukkan orangnya.
“Wow, ternyata mata kamu begith jeli”, puji Lucas.
“Terus siapa lagi?”, tanya Lucas.
“Belum ada”, ucap Chalvin.
“Kita membutuhkan waktu paling tidak tiga hari untuk melihat orang-orang wara wiri di kantor anda. Itu pun kita harus meminta bantuan orang lain juga”, ucap Chalvin.
“Bagaimana kalau kita meminta bantuan tuan Steve dan Abigail?”, tanya Chalvin.
“Kalau saya lebih percaya dengan Abigail. Jika Steve, saya takut ..”, ucapan Lucas terpotong.
Usai mendengarkan seksama ucapan demi ucapan Lucas lalu mempertimbangkan untuk mengajak Steve.
Ketika Lucas sedang mempertimbangkan Chalvin mencoba meyakinkan insiden yang telah lama terjadi.
“Tuan percayalah, saya yang akan bertanggung jawab. Steve itu juga setia kepada sekutu jika dia tidak dikhianati. Apabila ia, yah dia akan menumpas kita juga. Dia dulu memiliki seorang adik sebagai keluarga satu-satunya seperti Abigail namun sayang, nasib berkata lain jika adiknya terbunuh di tangan kekasihnya atas kerja sama dengan Raymon dan Ozzie”, ungkap Chalvien.
“Baiklah, kita libatkan dia juga”, ucap Lucas.
“Thanks Chalvin”, ucap Lucas dengan menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
Pada saat sedang dalam suasana istirahat sambil memikirkan sesuatu tiba-tiba ada notif email uang masuk.
Lucas membuka email lewat ponsel dan ada pesan yang mengatakan, “cobalah dengarkan ucapan musuh. Kamu akan tahu siapa mata-mata di dalam kantor kamu. Dia memiliki kode ponsel nomor cantik tebaklah siapa dia? 😊😑😑
Lucas membuka file dan menyuruh Chalvien untuk ikut mendengarkan isi suara.
“Kita harus menghancurkan mereka berkeping-keping untuk pembalasan atas kematian keluarga Courvin”, ucap pria itu.
“Sekarang istri Lucas sedang mengadu nasib antara kematian dan untuk hidup itu sudah membuat pukulan telak untuknya bukan”, ucap Raymon.
“Benar yang dikatakan bos Raymon”, ucap Beni.
“Kalau begitu kita menghubungi mata-mata kita di perusahaan Lucas dan menyuruhnya mengirimkan proyek besar yang sedang digeluti oleh mereka dan hasil desain itu kita bisa lelang untuk meningkatkan harga saham milik kita”, ucap pria itu.
__ADS_1
“Terus Ozzie bagaimana?” tanya Beni.
“Kamu tidak perlu memikirkan itu. Biarkan dia membusuk dalam tahanan..”, ucap Raymon.
“Jangan lakukan itu, kita masih membutuhkannya. Otak liciknya lebih baik dari pada kamu Raymon”, ucap pria itu.
Setelah mendengarkan suara itu, Lucas menyuruh Chalvien untuk meretas semua ponsel dengan program virusnya dan Chalvien melaksanakan dengan bantuan Chloe.
Vio yang berada di markas merenggangkan otot-ototnya setelah mengirim pesan kepada pemeran utama.
Joni datang menyuruh mereka untuk pergi ke ruang kerja.
“Vio, Alam, Apakah kalian sudah menyelesaikan pekerjaannya”, tanya Joni.
“Sudah grandpa”, ucap Vio.
“Kalau begitu ikut saya ke ruang kerja”, perintah Joni.
Vio dan Alam mengikuti Joni masuk ke ruang kerjanya.
“Ada apa tuan?”, tanya Alam.
“Kalian hentikan misi untuk menyelusup ke mansion itu. Karena lama-lama dia akan mengetahui kalian. Kalian harus berhati-hati dengan mereka. Musuh akan segera menyadari. Mereka memiliki otak lebih cerdas dan licik. Kalian sementara istirahat selama dua minggu”, ucap Joni.
“Kamu, Vio temui Abigai. Dia sekarang ada di mansion dekat markas”, ucap Joni.
“Abigail?”, tanya Vio.
“Iya, kamu tidak perlu banyak tanya. Temui dia”, ucap Joni.
“Baiklah”, ucap Vio beranjak dari sofa.
Alam merasa cemburu ketika Vio kembali dalam pelukan Abigail. Alam sebenarnya memiliki rasa dengan Vio. Namun perasaan itu tidak mungkin terbalaskan.
Vio sedang berjalan melewati lorong dan gubuk untuk menemui Abigail. Vio melihat Abigail sedang duduk di sofa. Vio menghampirinya.
“Abiagail!”, panggil Vio.
“Hai sweety”, panggil Abigail beranjak memeluk Vio dan mencium bau harum di rambutnya.
“Kamu kok bisa tahu kalau aku berada di sini?”, tanya Vio.
“Aku tahu karena ada ikatan”, ucao Abigail sekenanya dengan memeluk Vio lebih erat.
“Kamu pasti menyuruh anak buah kamu untuk menguntitku kan?’, tanya Vio.
“Siapa bilang kalau aku menyuruh anak buahku untuk menguntit kamu? Aku kan sudah mengatakan kalau kita ada ikatan”, ucap Abigail menambah pelukan lebih erat dengan mencium ceruk leher milik Vio.
Sementara Alam mengintip dari balik dinding dengan rasa cemburu melihat kedekata Vio dan Abigail begitu intim. Joni berada di belakang menghampirinya dengan menepuk bahu Alam sambil membisikkan, “cinta tidak bisa dipaksakan. Kamu harus mengiklaskan kebahagiaan mereka. Hati kamu akan lega”.
__ADS_1