
“Bagaimana perasaan kamu Lucas, setelah melihat istrimu terbangun dari tidur panjangnya?”, tanya Mark sambil mengunyah steak.
“Aku sangat senang dan setelah ini aku akan memulai untuk menghancurkan dia”, ucap Lucas.
“Tentu kamu harus melakukannya”, ucap Mark.
Ketika sedang berbincang, tiba-tiba ponsel milik Mark berbunyi dan Mark mengangkatnya.
“Hallo Abigail”, sapa Mark.
“Apakah kita bisa bertemu di restoran biasanya?”, tanya Abigail.
“Ada apa?”, tanya Mark.
“Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu”, ucap Abigail.
“Masalah apa?”, tanya Mark.
“Ini sangat penting”, ucap Abigail.
“Jika penting sekali lebih baik kamu datang ke mansion ku. Di sini ada Lucas”, ucap Mark.
“Baiklah, aku akan ke sana”, ucap Abigail.
Setelah berbicara lewat ponsel, Mark meletakkan ponselnya di atas meja makan dan melanjutkan makannya.
Lucas yang sejak tadi mendengar pembicaraan terus bertanya, “apa ada masalah dengan Abigail?”
“Entahlah, dia hanya mengatakan ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganku”, ucap Mark.
“Kapan dia akan datang ke sini?”, tanya Alika.
“Katanya sebentar lagi”, ucap Mark.
Sementara Abigail sedang berdiskusi dengan Edward mengenai racun di dalam tubuh Vio.
“Apakah racun itu akan mempengaruhi janin?”, tanya Abigail.
“Entahlah, aku hanya tahu bahwa racun itu mempengaruhi tubuh Vio saja apabila dia tidak meneruskan minum obat yang aku berikan”, ucap Edward.
“Apakah kamu bisa pergi denganku menemui Mark. Siapa tahu dengan bekerja sama kita dapat jalan keluar”, ucap Abigail.
“Baiklah, aku akan menelepon asistenku dahulu”, ucap Edward.
“Kalau begitu aku akan menemui Vio dulu”, ucap Abigail beranjak dari sofa.
Abigail pergi ke kamar Vio. Dia membuka pintu kamar Vio dengan pelan. Abigail melihat Vio sedang bersandar membaca komik yang dipinjam dari Alam dan tersenyum sendiri.
Abigail mencoba mendekati Vio di sampingnya di pinggir ranjang.
“Sweety, apa yang membuatmu tersenyum?”, tanya Abigail.
__ADS_1
“Aku sedang membaca kisah romantis namun bikin orang senyum-senyum sendiri”, ucap Vio.
“Bukankah kamu selama ini mendapatkan kisah romantis dariku”, ucap Abigail.
“Kalau mister itu bukan perlakuan romantis namun sikap yang diberikan olehmu itu merupakan sikap mes*m”, ucap Vio.
“Ok, ok, sekarang kamu membacanya hentikan dulu”, ucap Abigail dengan mengambil buku komik yang di pegang Vio.
“Ada apa?”, tanya Vio.
Abigail mendekati dengan lebih dekat dan menarik kepala Vio untuk saling menempelkan dahi.
“Apakah kamu tidak akan menyesal apabila tubuhmu semakin melemah karena berhenti mengkonsumsi obat yang seharusnya kau minum untuk menatralisirkan racun?”, tanya Abigail.
“Tentu tidak, aku bahkan berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan karunia di dalam perutku. Dia bisa menjadi temanku dan Haeun”, ucap Vio.
“Baiklah, jika itu keputusan kamu sweety. Aku akan menjaga kamu dan anak kita semaksimal. Aku akan mengerahkan jiwa dan ragaku untuk menjaga kalian”, ucap Abigail mencium kening Vio dan melepaskan.
“Kamu juga harus berjanji untuk tidak melakukan aksi berbahaya itu. Kamu tidak boleh keluar terlalu jauh dari kediaman Joni. Kamu harus makan lebih banyak dan minum susu. Aku tidak ingin mendengarkan alasan kamu”, sambung Abigail.
“Iya, baiklah. Tapi... aku gak suka dengan susunya Abigail. Aku akan makan teratur dan membuat jus saja untuk pengganti susu. Apakah boleh?”, ucap Vio.
“Aku akan carikan susu yang tidak dari sapi. Kamu harus minum itu untuk menjaga kamu dan janin dalam perutmu”, ucap Abigail dengan menusap perut yang masih rata.
“Ok, aku akan turuti semua kemauan kamu”, ucap Vio dengan insiatif memberikan kecupan sejenak kepada Abigail. Lalu Abigail menahan kepala Vio untuk memperdalam ciuman itu dan melepaskan sambil mengatakan, “I love you”.
Vio membalas, “I love you too”, dengan senyum hangat.
Beberapa lama kemudian mereka telah sampai di kediaman Mark. Abigail menekan tombol mansion.
Mark yang berada di dalam ruang tengah bersama Lucas dan Saddam beranjak dari sofa membukakan pintu. Lalu Mark mempersilakan mereka masuk.
Abigail dan Edward masuk mengikuti Mark sampai di ruang tengah. Abigail menyapa Saddam dan Lucas.
“Hallo tuan Saddam, apa kabar mu”, sapa Abigail.
“Sangat sehat”, ucap Saddam.
“Hai Lucas”, sapa Abigail.
“Hai juga bro”, ucap Lucas.
“Siapa yang ada di sampingmu Abigail? Apakah kau tidak ingin memperkenalkannya?”, tanya Saddam.
“Oh iya, aku lupa tuan. Perkenalkan dia Edward berprofesi sebagai dokter”, ucap Abigail.
“Terus ada hal apa yang ingin kau bicarakan Abigail?”, tanya Mark.
Abigail menghembuskan nafas dalam untuk menceritakan mengenai keadaan Vio.
“Begini Mark, aku ingin kamu menguji racun yang bersarang di tubuh Vio”, ucap Abigail.
__ADS_1
“Racun? Dia terkena racun jenis apa sampai membawa dokter lain juga”, ucap Mark dengan serius.
“Racun yang bersarang di tubuh Vio sama dengan racun yang dahulu bersarang di tubuh Joni”, ucap Abigail terpotong oleh rasa terkejutan Saddam.
“Joni?!”, terkejut Saddam.
“Sekarang dia ada dimana?”, tanya Saddam.
“Dia berada di sebuah pedesaan yang lumayan jauh untuk menempuh jarak dan dekat area pegunungan”, ucap Abigail.
“ Racun yang pernah hampir membunuh Joni itu sejenis cairan putih apabila di hirup dan tidak mendapatkan penanganan dengan tepat hidupnya akan melemah dan meninggal dunia”, ucap Mark.
“Dan obat itu sudah ditemukan bukan?”, sambung Mark.
“Benar, namun Vio tidak bisa minum obat itu di masa kehamilannya”, lirih Abigail.
“Apakah kamu sudah membujuk Vio untuk menggugurkan kandungannya?”, tanya Mark.
“Aku sudah membujuk Vio. Akan tetapi dia tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan janin itu”, ucap Abigail.
“Bukankah, tubuhnya akan semakin melemah apabila berhenti meminum obat”, ucap Mark.
“Iya, yang kau katakan benar tuan. Tetapi dia tidak ingin menggugurkan janin itu. Saya sangat khawatir dengan keadaannya sekarang apabila dia berhenti. Aku juga belum tahu apakah akan mempengaruhi janin yang sedang ia kandung”, sela Edward.
“Hahhh”, suara nafas dari bibir Abigail.
“Apakah kamu membawa sample dara yang diambil dari tubub Vio?”, tanya Mark.
“Sample darah kami membawanya. Sample darah itu ada di dalam tasku”, ucap Edward.
“Apakah kamu bisa melakukannya Mark? Tolong bantu dan carikan alternatif lainnya”, mohon Abigail.
“Aku akan bekerja keras. Apalagi ada Edward yang akan membantuku. Itu akan lebih cepat untuk menemukan cara alternatif menghentikan racun dalam tubuhnya agar tidak mempengaruhi kandungannya walaupun hanya untuk sementara”, ucap Mark.
“Thank you”, ucap Abigail.
“Seperti orang lain saja”, kekeh Mark.
Lalu Saddam kembali bersuara setelah mendengarkan percakapan dari bibir Abigail, Mark dan Edward.
“Dia bisa menghirup racun itu dari mana?”, tanya Saddam.
“Dari penculik”, ucap Abigail.
“Dia pernah di culik saat tidur di tengah malam”, ucap kembali Abigail.
“Pasti Raymon yang membuat siasat ini. Ya, tidak salah lagi”, gumam Saddam namun masih didengar oleh orang disekitarnya.
“Raymon?”,tanya Abigail.
“Iya, Raymon yang memiliki segala obat-obatan mematikan. Dia dahulu seorang forensik sekaligus pencetus obat menetralkan racun dan membuat racun untuk mengkelabuhi musuhnya”, ucap Saddam.
__ADS_1
“Brengs*k”, umpat kasar dari bibir Lucas dan Abigail bersamaan.