
Pada saat ini Alika sedang bermain bersama putranya yang telah lama berpisah karena suatu hal. Namun rasa kerinduan itu tersampaikan. Alika bisa mencium putranya dengan gemas dan menyanyikan lagu untuk putranya sambil menggoyangkan.
Sean terus tersenyum dan tertawa saat Alika menciumi pipinya sampai Sea di sampingnya ikut merasakan rasa senang itu.
Ketika Alika sedang asyik bersama putranya. Lucas datang menghampiri dan ikut bermain dengan putranya.
“Boy, kamu harus menghibur momy kamu agar rasa sakitnya hilang”, ucap Lucas dengan mengusap kepala Sean dan mencium kening Alika.
“Aku sudah menghibur momy daddy”, ucap Alika dengan suara anak-anak.
“Nanti kalau sudah besar jangan merebut momy dari daddy ya boy”, ucap Lucas.
“Honey, kamu apaan sih”, ucap Alika dengan nada marah.
“Kamu tidak boleh marah dong, aku hanya mengatakan saja. Aku tidak mau kamu berhubungan dengan pria lain”, ucap Lucas.
“Termasuk putra kamu sendiri”, kesal Alika.
“Mungkin”, ucap Lucas dengan mengedikan bahunya.
“Kamu itu terlalu posesif nak”, ucap Sea di samping mereka.
“Tuh dengarkan perkataan momy”, ucap Alika.
“Iya sweety, aku dengarkan perkataan momy kok. Namun tetap saja Sean itu pria”, ucap Lucas tidak mau mengalah.
“Kamu benar-benar pria tak tahu malu. Sampai anak pun kamu cemburuan”, ucap Alika.
“Sudah, sudah, jika kalian ingin bermesraan biarkan momy membawa Sean keluar dari kamar”, ucap Sea beranjak dari pinggir ranjang.
Sea mengambil Sean dari gendongan Alika dan membawa keluar dari kamar. Usai Sea keluar dari kamar, Lucas mendekati Alika dan memindahkan tubuhnya ke pangkuan dengan menatap intens mata milik Alika. Membuat Alika merasa tersipu dengan tatapan intens dari Lucas.
Lucas tersenyum menyeringai dan menarik tengkuk Alika dan menciumnya begitu dalam sampai Alika meronta untuk minta di lepas. Lalu Lucas melepaskan dan mengusap pipinya yang merona akibat menahan nafas.
“Kamu benar-benar pria brens*k”, ucap Alika.
“Tapi kamu menyukainya kan dengan pria brens*k seperti ku”, senyum Lucas dengan percaya diri.
“Tahu ah”, kesal Alika dengan beranjak dari pangkuan Lucas.
Alika turun dari ranjang dan pergi keluar meninggalkan Lucas yang mengusap bibirnya sambil tersenyum dibalik jari telunjuknya.
Alika keluar menyapa Abigail, Mark, dan lainnya yang sedang berkumpul di ruang tengah.
“Hai semuanya”, sapa Alika dengan ikut bergabung berkumpul di ruang tengah.
“Hai Lik, kamu sudah sembuh dari rasa sakitmu?”, sapa Abigail dengan bertanya.
“Iya, aku sudah cukup sehat. Berkat doa dari kalian dan anakku ini”, ucap Alika mengusap kepala Sean.
“Syukurlah”, ucap Abigail.
“Karena ini sudah malam, kami mau pamit pulang dahulu”, ucap Abigail.
__ADS_1
“Baiklah, hati-hati ya nak”, ucap Sea
“Baik nyonya”, ucap Abigail.
Setelah kepergian Abigail, Sea pamit pergi ke dapur untuk membersihkan cangkir yang kotor sedangkan Alika pergi membawa Sean ke kamar untuk menaruhnya ke boks.
Sementara Lucas, Mark, dan Saddam membahas untuk meluncurkan serangan kepada Leon yang sudah banyak orang yang kena korban.
“Bagaimana untuk melancarkan serangan untuk Leon? Dia terlalu licik dibandingkan dengan kita”, ucap Lucas dengan mengambil cerutu.
“Kita harus diskusi dengan Joni. Dia yang lebih tahu seluk beluknya keluarga Courvin. Karena dia pernah menjadi bagian keluarga Courvin”, ucap Saddam.
“Kalau begitu, aku akan mengurus masalah racun yang terdapat di tubuh Alika maupun Vio”, ucap Mark.
Sedangkan Aminah dan Daniel sedang berliburan setelah sekian lama tidak menikmati hiburan setelah kaki Aminah mengalami kelumpuhan.
Aminah mengajak Daniel untuk naik ke puncak dan ke gunung untuk menikmati sunrise di pegunungan sambil meminum kopi hangat.
“Bagaimana perasaan kamu Aminah setelah sekian lama kamu tidak menikmati pergi berlibur?”, tanya Arletta.
“Aku begitu senang dan terbebas dari rasa suntuk”, ucap Aminah dengan menyesap kopi hitamnya.
“Syukurlah sweety, jika kamu senang”, ucap Daniel.
“Menurutmu pemandangan yang kamu lihat dari sini apakah sangat cantik?”, tanya Aminah.
“Tentu, ini sangat indah apalagi kita di temani oleh kunang-kunang”, ucap Arletta.
“Benar yang kamu katakan Min”, ucap Damien.
“Kalau begitu bagaimana kita menikmati sambil bermain musik?’, tawar Damien.
“Ja...”, perkataan Daniel terpotong dengan teriakan Aminah.
“Let’s go!”, teriaknya.
Damien mengambil gitar sedangkan Daniel menepuk jidat sebab Daniel takut mereka terkejut dengan suara sumbangnya. Namun yang dibayangkan Daniel salah. Aminah malah menikmati dengan bersenandung saja.
Beberapa lama kemudian mereka masuk ke tenda untuk beristirahat sambil menunggu sunrise datang. Aminah menghidupkan alarm sebab dirinya tidak ingin melewatkan sunrise yang akan tiba esok pagi.
Pagi harinya Aminah kecewa jika dirinya terlalu terlelap dalam tidur sehingga tidak bisa melihat sunrise yang diimpikannya.
“Yahhh, aku bangunnya siang. Padahal ponselku sudah aku setel alarmnya”, ucap Aminah dengan raut wajah kecewa.
“Daniel! kenapa kamu tidak membangunkan aku? Padahal itu kan impian aku untuk melihat sunrise saat di pagi buta”, ucap Aminah dengan cemberut.
“Sudah aku bangunkan sweety, tapi kamu tidurnya kayak kebo tahu tidak”, ucap Daniel.
“Tapi lebih usaha lagi dong”, ucap Aminah yang terus menyalahkan suaminya.
“Ok, aku minta maaf atas kesalahan aku yang tidak berusaha membangunkan kamu. Aku berjanji akan membawamu untuk melihat sunrise kembali”, ucap Daniel.
Aminah langsung memeluk tubuh Daniel dan memberikan kecupan singkat yang membuat Daniel tersenyum. Lalu Daniel meminta kecupan lagi sampai Daniel menekan tengkuk Aminah untuk mengajaknya berkelana menikmati ciuman yang intim.
__ADS_1
Saat mereka sedang berciuman Arletta memanggilnya, “Aminah! Daniel!”.
Lalu mereka berdua keluar dari tenda untuk sarapan pagi bersama sambil menikmati sejuk dipagi hari.
Tatkala mereka sedang asyik menikmati pemandangan di puncak, kini Vio sedang berdebat dengan Abigail saat Abigail mengetahui Vio memaksa Alam untuk mengajaknya pergi menyelidiki musuh.
“Vio, jika kamu ingin mempertahankan janin dalam kandungan. Kamu harus mengikuti segala saran yang ku berikan”, ucap Abigail dengan nada dingin.
“Aku itu hanya menyelinap sebentar saja. Aku tidak bisa berdiam diri setelah aku mengetahui siapa pembuat obat mematikan itu”, ucap Vio.
“Itu sangatlah berbahaya Vio”, ucap Abigail dengan gigi mengetat.
“Aku tahu, tapi aku hanya ingin menghancurkan kejahatan mereka. Aku tidak ingin diinjak dan mudah dihancurka. Oleh mereka”, ucap Vio.
“Aku mengerti perasaan kamu setelah mengalami penculikan. Biarkan aku saja yang menangani mereka. Ok”, ucap Abigail.
“Kamu saja belum bisa menghalau musuh. Dan aku bisa mencari informasi detail. Itu juga berkat aku kan”, ucap Vio.
“Jika kamu begini terus. Aku akan membawa kamj ke rumah sakit untuk menggugurkan janin dalam perut kamu apabila kamu tidak mau mengikuti saran dariku”, geram Abigail.
“Aku bisa mengurus sendiri”, ucap Vio dengan nada tinggi.
“Ahhh”, suara nafas dari bibir Abigail yanv menandakan kesal.
Lalu dari belakang Joni memukul tengkuk milik Vio sampai dirinya jatuh pingsan. Abigail menggendong tubuh Vio yang akan semakin renta.
Joni meminta maaf kepada Abigail.
“Sorry, aku terpaksa melakukan itu agar dia tidak berbuat terlalu jauh”, ucap Joni.
“It’s ok”, ucap Abigail.
“Kalau begitu, aku tinggal dahulu. Mari Alam ikut saya”, ucap Joni.
Abigail duduk di sisi ranjang samping Vio dengan memberikan kecupan kening sambil mengatakan, “jika kamu tidak menuruti, aku terpaksa untuk mengurungmu demi kebaikan kamu, sweety”.
“Maafkan aku harus bertindak kejam kepada kamu”, ucap Abigail mencium bibirnya lalu meninggalkan Vio terbaring di ranjang.
Abigail menemui Joni di kantornya dan duduk di sofa.
“Saya ke sini tidak hanya sekedar menengok keadaan Vio. Namun aku ingin kamu ikut bergabung kembali untuk menyelesaikan segala permasalahan di masa lalu yang kini terulang kembali”, ucap Abigail.
“Aku akan turun tangan dan menyadarkan Leon bahwa Raymon hanya ingin memanfaatkan dirinya saja”, ucap Joni.
“Baiklah, kita bisa melancarkan siasat kita dan bertemu kembali di kediaman Mark”, ucap Abigail.
“Tentu, aku akan mengerahkan segala kemampuan dan menebus dosaku terhadap Courvien”, ucap Joni.
“Terus masalah Vio, apa yang ingin kamu lakukan”, tanya Joni.
“Untuk sementara aku akan mengurungnya di dalam kamar jika dirinya tidak menuruti kemauan aku. Aku mohon bantuanmu. Di sini tempat yang aman baginya”, ucap Abigail.
“Tentu, aku akan membatumu bocah ingusan”, senyum Joni mengingat dahulu pernah bertengkar dengan Abigail masalah sepele yang membuatnya sangatlah konyol. Abigail tersenyum menyeringai dengan mengatakan, “kamu ingat saja pak tua”. Kemudian dua-duanya tertawa.
__ADS_1