Posesive Uncle Mafia

Posesive Uncle Mafia
Episode 89


__ADS_3

“Sreng, sreng, sreng!”, suara osengan masakan. Lucas yang baru terbangun menghampiri suara itu di dapur. Lucas melihat Alika tengah memasak. Lalu Lucas memeluk dan mencium ceruk Alika sambil mengucapkan, “good morning sweet hearr”.


“Morning honey”, ucap Alika.


“Sweety, aku senang kamu menyebutku kata sayang semenjak kau terbangun dari koma”, ucap Lucas dengan mencium pundak.


“Tapi, tolong lepaskan pelukannya ya honey”, ucap Alika.


“It’s ok, tapi kamu harus memberiku morning kiss dahulu”, ucap Lucas.


Alika menghela nafas dengan mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya ke arah Lucas lalu berjinjit memberikan kecupan singkat namun Lucas tidak puas dengan ciuman singkat itu sehingga Lucas menahan kepala Alika dengan meminta lebih. Kemudian Lucas melepaskan ciuman itu dan berjalan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian Lucas datang kembali dengan mengenakan pakaian ganti dan mencium kening Sean. Lalu menyapa Sea.


“Morning mom!”


“Morning!”


“Yuk kita makan sebelum berangkat kerja atau kamu masih ambil cuti Lucas”, ucap Sea.


“Aku masih cuti mom, aku hari ini ingin mengajak mereka ke taman mom. Sudah lama tidak pergi main bersama”, ucap Lucas.


“Bagus tuh, momy ikut ya. Buat jagain cucuku kalau kalian ingin berduaan”, ucap Sea.


“Momy boleh ikut kok, sekalian kita mengambil gambar bersama di taman. Ajak daddy sekalian agar komplit”, ucap Alika.


“Daddy setuju dengamu menantuku”, ucap Saddam yang baru datang.


“Bagaimana Lucas, daddy boleh ikut gak?”, tanya Sea.


“Boleh”, ucap Lucas.


Usai sarapan mereka bersiap-siap pergi ke taman Egapark Erfurt. Alika tengah menata beberapa barang milik Sean mulai dari popok bayi hingga baju ganti untuk berjaga-jaga. Setelah selesai menata, Alika membawa barang itu ke bawah dan diberikan kepada baby sister. Lalu mereka berangkat dalam satu mobil meski tadinya Lucas kekeh dua mobil.


Lucas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di perjalanan Sea terus mengajak ngobrol untuk mencairkan suasana.


“Alika saat pertama kali kamu datang ke Jerman apakah Lucas sudah mengajak kamu keliling sayang?”, tanya Sea.


“Iya mom, aku sudah diajak keliling sampai ke alun-alun dan menonton karnaval saat perayaan ulang tahun kota”, jawab Alika.


“Tempat mana yang terkesan untukmu?”, tanya Sea.


“Di perayaan, restoran dan taman bunga yang kini kita tuju mom”, jawab Alika.


“Syukurlah, anak brengs*k ini mengajak kamu sampai keliling menikmati kota Berlin. Bukan hanya tahunya memaksa menikah saja”, sela Saddam.


“Itu juga pernah dilakukan oleh daddy”, ucap Lucas tidak ingin terbantahkan.

__ADS_1


“Tetapi saat daddy menikahi momy kamu itu berbeda. Momy kamu sudah jatuh cinta dengan daddy. Hanya saja momy kamu terlalu polos dan naif”, bela Saddam untuk dirinya sendiri.


“Oh ya, bukankah daddy memaksa momy dulu baru momy menerima daddy”, ucap Lucas tak mau kalah.


Sea dan Alika mulai jengah dengan perdebatan ayah dan anak sehingga Sea menghentikan pertengkaran itu.


“Stop!!!”, teriak Sea membuat Lucas kaget hingga mengerem mendadak.


“Sekarang jalankan mobilnya Lucas. Momy teriak berhenti bukan berarti menghentikan mobilnya. Tapi hentikan pertengkaran kalian”, marah Sea.


Lalu Lucas melajukan mobilnya kembali. Di tengah kekesalan Sea, Sean menangis dan terbangun dari tidurnya. Kemudian Alika mengambil botol susu dan diberikan kepada putranya yang sedang menangis.


Alika menenangkan dengan menepuk punggung Sean. Sea ikut membantu menenangkan Sean dari tempat duduk belakang.


“Cup, cup, cup, sayang. Cucuku yang malang. Ini semua gara-gara dua orang dewasa yang kekanakan”, ucap Sea dengan melirik Lucas dan Saddam.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai ke taman bunga. Mereka turun dari mobil dengan berjalan beriringan seperti keluarga yang tengah berbahagia.


Mereka berjalan menikmati keindahan bunga yang disuguhkan. Alika merentangkan kedua tangan dengan menggendong Sean di gendongan soft structure carrier sambil menghirup udara segar.


Lucas melihat Alika tengah merentangkan kedua tangan, Lucas menghampiri dan memeluk dari belakang.


“Sweety, apa kau menyukai suasana asri di taman bunga ini?”, tanya Lucas. Alika menjawab dengan menganggukan kepala dan memberikan alasan, “aku menyukainya Lucas. Apalagi suasana di sini begitu menenangkan dan udaranya terasa segar. Ditambah lagi kita berjalan tidak hanya berdua tapi bersama keluarga yang lengkap dan tentunya buah hati kita”.


Saddam dan Sea di belakang melihat kemesraan mereka ikut senang.


“Iya sweety, kita sudah lama tidak merasakan kebahagiaan ini dengan keluarga yang lengkap semenjak kejadian di beberapa dekade masa lalu kita”, ucap Saddam.


“Iya honey, semoga kita tetap bahagia dan dalam lindungan Tuhan”, ucap Sea.


“Amin”, ucap Saddam.


“Sweety, coba kamu merentangkan kedua tangan kamu seperti menantu kita. Biar aku memelukmu dari belakang seperti film titanic”, ucap Saddam dengan rayuan.


Ketika Sea akan termakan rayuan dari Saddam, tiba-tiba babby sister itu menghampiri untuk memberitahukan bahwa tempat yang ditatanya sudah siap. Lalu Sea mengangguk dan berjalan dahulu ke lokasi yang telah disiapkan. Sedangkan Saddam amat kesal karena tidak jadi untuk bermesraan dengan istrinya.


Di tengah kebahagiaan mereka ada sosok pria yang sedang mengintai mereka dengan senyuman sinis sambil mengusap bibirnya dengan jari telunjuknya lewat monitor pengintaian yang tidak di sadari oleh keluarga Saddam yang tengah penuh gelak tawa bersama bayi mungil di tengah kebahagiaan mereka.


Berbahagialah kalian setelah itu kalian akan merasakan namanya tangisan darah.


Pria itu tersenyum menyeringai dengan menyesap whisky.


Sementara Abraham, Abigail, dan Steve tengah berdiskusi mengenai Christhoper yang meloloskan diri saat serangan di markas Raymond. Mereka mencurigai kalau Wily bekerja sama dengan Christhoper.


“Kecurigaan yang kita kali ini tidak akan melesat. Kelicikan Cristhoper dengan Wily digabungkan akan jadi kuat di politik”, ucap Steve.


“Tapi, bagaimana caranya untuk mendapatkan bukti itu?”, tanya Abigail.

__ADS_1


“Benar juga, kami yang selalu berada di ranah yang sama dengan Wily tidak menemukan bukti apalagi informasi sampai sekarang”, ucap Abraham.


“Mereka pasti di dukung oleh petinggi”, ucap Abigail dengan alasan yang tepat.


“Kita lebih baik mulai selidiki dari ranah kita. Aku akan meminta bantuan dengan Salim dan Rayya untuk mengintai markas ini”, ucap Steve.


“Selebihnya kita harus cari tahu secepatnya agar tidak terjadi seperti tahun-tahun lalu”, ucap Abigail dengan menghabiskan wine dalam gelasnya.


Lalu mereka mengobrol di luar konten.


“Bagaimana keadaan Vio beberapa bulan ini?”, tanya Abraham.


Abigail menjawab dengan menghela nafas kasar, “ahh, semakin hari tubuhnya melemah. Dia terkadang merasa pusing dan berkeringat berlebihan. Aku ingin rasanya untuk memikul rasa sakit yang dialami olehnya”.


“Jika kamu memikul sakit yang di deritanya, dia yang akan merasa sedih apalagi adik kamu”, ucap Steve.


“Kamu yang sabar”, ucap Abraham menepuk pundak Abigail.


“Apa kamu tidak mempunyai rencana untuk keluar dari pekerjaan ini dan lebih mengutamakan Vio dan perusahaan yang kamu handel saat ini?”, tanya Abraham.


“Entahlah”, ucap Abigail.


“Menurutku kamu lebih baik mengundurkan diri dan fokus merawat Vio sembari menghandel perusahaanmu itu”, saran Steve.


“Nanti aku akan pikirkan”, ucap Abigail.


Di tengah malam, Abigail kembali setelah menyelesaikan kasus dugaan pembunuhan. Abigail berjalan menaiki tangga di ruang yang gelap. Abigail membuka pintu dengan pelan-pelan agar tidak mengganggu Vio yang tengah tidur di dalam kamar. Tetapi Vio di dalam kamar tengah duduk bersandar di ranjang dengan mata masih terbuka. Abigail menghampiri Vio dengan menyalakan lampu kamar.


“Sweety, kamu kok belun tidur”, tanya Abigail dengan mengecup dahinya.


“Aku tidak bisa tidur uncle”, jawab Vio.


“Apakah tidurmu tidak nyenyak?”, tanya Abigail dengan diangguki oleh Vio.


“Apa ada keluhan tidak enak di badan kamu?”, tanya Abigail.


“Iya, aku merasa tidak nyama dengan punggungku yang terasa pegal”, jawab Vio.


“Baiklah, biar aku pijitin punggungmu. Tapi aku cucu muka dulu”, ucap Abigail dengan beranjak dari ranjang namun dicekal tangannya.


“Ada apa sweety?”, tanya Abigail.


“Bisakah kamu tidak usah mencuci wajah. Aku ingin segera tidur. Aku merindukan kamu uncle”, ucap Vio.


Abigail tersenyum setelah mendengar kata rindu dari bibir istri kecilnya.


Abigail naik ke ranjang dan tidur disamping Vio dengan mencium keningnya begitu lama dan membawa kepala Vio ke dalam dada bidangnya. Tak butuh waktu lama Vio terlelap tidur dalam pelukan hangat Abigail.

__ADS_1


__ADS_2