
Tiga bulan telah berlalu setelah kepergian Vio. Abigail berubah menjadi pria berhati es. Abigail tidak pernah pandang bulu untuk memperingati setiap karyawan yang tidak bekerja dengan baik. Abigail juga pernah menyeret seorang wanita dengan kasar yang beranu menggoda dan menyentuh dirinya. Abigail tidak pernah segan untuk menembakkan peluru di dada dekat jantung kepada musuh maupun wanita yang lancang menyentuh tanpa izin.
Tatapan Abigail akan menghangat ketika bersama anak-anaknya.
Semenjak Vio menghilang, Abigail selalu menyibukkan diri untuk bekerja keras dan sering kali menyempatkan diri untuk bermain bersama Haeun dan Alex untuk beberapa waktu saja lalu selebihnya bekerja.
Sementara Sea bersama Alika pergi ke pusat perbelanjaan untuk menghilangkan rasa penat di rumah sembari membeli persediaan untuk bulanan. Mereka berjalan sembari berbincang-bincang.
“Alika, kamu mau beli persediaan untuk Sean dahulu atau mau melihat-lihat baju di lantai atas?”, tanya Sea.
“Alika bingung mom. Aku ikut momy aja”, jawab Alika dengan menggaruk tengkuk tidak gatal.
“Uhmm, momy juga bingung nak”, ucap Sea.
“Coba kita ke lantai atas dahulu baru nanti kembali ke lantai bawah untuk membeli persediaan bulanan”, ucap Alika setelah beberapa menit sejenak berpikir.
Alika dan Sea mencari bersama gaun untuk dibeli dan beberapa barang lainnya sampai menemukan sesuatu yang cocok sampai perut berbunyi karena rasa lapar.
Alika dan Sea pergi ke salah satu outlet warung makan untuk mengisi perutnya.
“Alika, nanti kita langsung membeli persediaan bulanan untuk di rumah saja karena semua belanjaan tidak akan cukup untuk kita bawa. Apalagi kamu tengah hamil tua nak”, kekeh Sea dengan menyantap beef yang dipesannya.
“Iya dong mom, Alika juga sudah lelah berjalan kesana kemari”, ucap Alika sambil mengusap perut buncitnya.
Alika dan Sea berjalan menuju lantai bawah setelah berjam-jam merasakan hidangan makanan dengan diikuti dua preman pria dari belakang yang sejak lama mengikuti mereka. Sampai pada akhirnya mereka menculik dua wanita sekaligus yang berpengaruh dalam kehidupan Saddam.
Dua preman bertubuh kekar itu membawa mereka ke markas dan mempertemukan mereka dengan bosnya.
“Hallo bos, kami sudah menangkap orangnya. Sekali dayung dua terlampaui bos”, ucap salah satu preman yang tengah menyetir.
“Bagus, segeralah bawa mereka masuk ke dalam markas”, ucap pria setengah bertopeng.
“Baik bos, segera saya laksanakan”, ucap pria preman tersebut.
Mereka membawa dua wanita itu ke markas.
Pria yang memakai setengah bertopeng itu tertawa keras sampai anak buahnya mendengar yang berjaga di pintu luar ruangan kerjanya.
“Bagus, aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menculik dan mengancam Saddam untuk mendapatkan sesuatu berharga yang selama ini aku incar sejak dahulu untuk menjadi penguasa sekaligus pembalasan dendam atas apa yang harusnya jadi milikku selama berabad abad”, batin pria setengah bertopeng itu.
Ketika tengah menikmati kesenangan tiba-tiba ada ketukan keras dari luar dan pria setengah bertopeng menyuruhnya masuk.
__ADS_1
“Masuk!’, dengan nada dingin.
Dua preman kekar suruhannya tadi masuk ke ruang kerja bosnya dengan rasa hormat.
“Permisi bos, mohon maaf mengganggu”, ucap preman itu.
“Tidak apa-apa”, ucap pria setengah bertopeng itu.
“Bagaimana hasil tangkapan kalian? Apakah sudah kamu sekap di ruang bawah tanah itu?”, tanya pria setengah bertopeng.
“Sudah tuan, sebentar lagi mereka akan bangun dari obat biusnya”, ucap preman kekar itu.
“Bagus. Mereka akan mencari lewat CCTV di sekitaran supermarket besar. Apakah kalian sudah menghilangkan jejak?’, ucap pria setengah bertopeng.
“Sudah tuan, sesuai dengan perintah anda”, ucap preman itu.
“Bagus. Ha...Ha.. Ha..”, ucap pria setengah bertopeng dengan tawa yang amat keras.
Di sebuah gedung nan megah dan banyak karyawan yang tengah wara wiri, di sana Lucas dalam ruang kerja mendapatkan kabar dari anak buahnya yang mendampingi istrinya telah di serang dan momy serta istrinya diculik oleh dua preman bertubuh kekar dengan mobil sedan hitam. Membuat ubun-ubun Lucas mendidih setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya yang mengawal istri dan momy-nya. Apalagi Lucas sangat khawatir keadaan Alika di tengah hamil tua.
Setelah mematikan telepon, Lucas menggebrak meja dengan keras sambil mengumpat, “sh*t!”, dengan lirih.
“Aku harus cari pak tua itu untuk mencari markas musuh yang berani menculik istriku dan momy-ku”,monolog Lucas dengan langsung bergegas pergi membawa jas dengan mata menyalang menuju kediaman Saddam.
Di ruang kerjanya Saddam mendengar suara gaduh di luar dengan teriakan khas putranya.
“Pak tua!”
“Pak tua!”
“Pak tua!”
Saddam langsung keluar dari ruang kerja dengan mata menyalang dan hati kesal.
“Ada apa?”, tanya Saddam dengan nada dingin.
“Aku mau berbicara denganmu”, ucap Lucas tak kalah ketus.
“Masuklah”, ucap Saddam.
“Apa kau sudah mendengar bahwa momy dan Alika diculik?”, tanya Lucas.
__ADS_1
“Ya”, jawab Saddam.
“Siapa musuh kali ini yang mengganggu keluarga kita kembali? Apakah itu musuhmu atau musuhku lainnya?”, tanya Lucas.
“Entahlah, daddy sudah mengerahkan seluruh anak buahku untuk menyelidiki penculiknya beserta markas dimana Sea dan Alika disekap”, ucap Saddam.
“Sh*t”, umpat Lucas dengan ekspresi menakutkan dan mata membara.
Saat mereka tengah amarah tiba-tiba ada suara nada dering dari ponsel milik Saddam dengan nomor tidak diketahui.
“Siapa yang menghubungiku tanpa nomor tertera”, monolog Saddam yang bisa di dengar oleh Lucas.
Saddam mengangkat telepon dari orang misterius.
“Halo, ini siapa?”, tanya Saddam dengan nada ketus.
“Halo tuan, sudah lama tidak bertemu”, ucap orang diseberang sana.
“Kamu siapa?!”
“Anda tidak perlu tahu siapa aku”.
“Yang perlu kau ketahui istri dan menantumu. Oh, ups, apalagi cucu yang ada di perut menantumu itu juga. Bagaimana kalau terjadi padamenant pada menantumu dimasa kehamilan tua?”, ucap pria itu.
“Dimana istri dan menantuku kau sekap?!”
“Itu rahasia”.
“Bangs*t!”, umpat Lucas langsung merebut ponsel milik Saddam.
“Kamu mau apa?! Jangan sakiti mereka apalagi istriku. Kamu akan tahu akibatnya jika berani menyentuh rambutnya sejengkal pun! ”, geram Lucas.
“Aku hanya mau dua dokumen yang dimiliki oleh keluargamu yaitu aset”, ucap orang diseberang sana.
“Aset?”, tanya Lucas dengan kening mengernyit.
“Tentu, aset yang bisa membuatku bisa berkuasa yang telah lama aku incar berabad-abad”, ucapnya dengan tawa terbahak-bahak lalu mrngubah tawa itu dengan suara serius nan dingin.
“Jika mau istri dan momy kamu selamat”, ancamnya.
“Kamu beritahu lokasinya terlebih dulu baru aku berikan aset set*n itu selama kau tidak menyakiti dua wanita itu”, ucap Lucas dengan geram.
__ADS_1
“Ha..!Ha..!Ha..!”, tawa yang menggelegar di ruang bawah tanah yang di dengar oleh dua wanita yang di sekap olehnya.
“Baiklah, sampai ketemu setelah satu minggu penyelidikan”, ucap pria setengah bertopeng itu dengan sinis.