
Vio turun pergi ke meja makan ikut bergabung dengan Abigail, Milka, Raiden, dan Haeun dalam pangkuan Milka. Vio menghampiri Milka untuk mengambil alih Haeun tanpa menatap Abigail. Abigail yang sejak tadi menatap hanya mengangkat alis sebelah kanan. Setelah mengambil alih Haeun, Vio mencari tempat duduk di sebelah Raiden sebab hari ini Vio begitu kesal dengan Abigail. Tetapi saat akan melangkah Abigail mencekal lengan Vio dengan tatapan dingin.
"Kamu mau kemana?", tanya Abigail.
"Aku mau duduk di dekat Raiden", ucap Vio.
"Duduklah!", ucap Abigail dengan nada dingin sambil menunjukan tempat duduk di sampingnya.
"Nggak ma.u", ucap Vio dengan kata penekanan di akhir kata.
"Du.duk", ucap Abigail dengan nada dingin.
Milka dan Raiden yang ditengah pertengkaran saat ini merasa suasana begitu mencengkam. Lalu Milka sebagai seorang adik sekaligus sahabat dari Vio mulai menengahi persengitan diantara mereka dengan beranjak dari tempat duduk.
"Sudahlah kalian, kita pagi ini perlu sarapan dengan tenang. Jangan seperti ini. Kita lupakan masalah pagi tadi. Ok", ucap Milka sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Vio dengan membisiskan, "Vi, tolong mengalah dulu, setelah selesai sarapan kalian bertengkar lagi. Ingat Haeun dalam gendongan kamu". Vio mendengus kasar lalu duduk di samping Abigail yang tersenyum miring.
Vio masih memiliki unek-unek dendam kesumat.
Awas aja, aku tidak akan mau bertemu dengan kamu lagi. Aku lebih baik pulang dari sini. Ahhh.
Vio mengambil roti tawar tanpa di beri selai. Sedangkan Raiden di samping Milka berbisik, "sepertinya urusan kakak kamu tidak sampai di sini", dengan melirik dua sejoli yang sedang kesal.
"Benar kata kamu honey", bisik Milka dengan memberikan kecupan dibibir Raiden dan tubuh Raiden menegang setelah mendapatkan kecupan dari Milka dengan untungnya Abigail tidak melihat. Dia hanya fokus memandang Vio di sampingnya yang sedang memberikan roti tawar untuknya.
Kemudian Vio membuka suara persoalan akan kembali ke Indonesia esok hari.
"Milka!", panggil Vio tanpa mengalihkan pandangan dari Haeun.
"Ada apa Vi?", tanya Milka.
"Aku hari ini terakhir untuk tinggal di sini. Kami harus kembali ke Indonesia. Jika aku berada di sini terus juga tak akan nyaman secara aku memiliki pekerjaan part time untuk menghidupi Haeun. Jika lama-lama aku bisa di pecat", ucap Vio yang sudah tinggal hampir satu bulan penuh.
Milka yang akan melontarkan kalimat memandang wajah Abigail yang mulai akan kesal dan rahangnya mengetat. Milka lalu pelan-pelan berbicara dengan Vio.
"Vi, apa kamu tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi?", tanya Milka dengan sedikit gugup saat mengarah pandangan ke Abigail.
"Aku tidak bisa menunda, sebab pasport aku akan kadaluwarsa beberapa hari lagi dan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan part time di sana dan aku tidak mau kembali dari nol", ucap Vio dengan mantap.
"Wah, hehe, kita bisa memperpanjang tanggal passportnya", ucap Milka yang sedang berusaha membujuk Vio untuk kakaknya yang menakutkan.
"Aku tidak bisa, beneran. Soalnya aku dan dia begitu saling merindukan", ucap Vio tanpa tahu akan ada pria yang meledak untuk menghukumnya.
"Siapa dia?", tanya Abigail ikut menimbrung dengan nada ketus.
Vio menoleh dengan berdecak, "ck", sambil tersenyuman sinis dan menjawab pertanyaan dari Abigail.
"Dia, oppa Jimmy", tandas Vio yang membuat Abigail merasa marah dan api kecemburuan mulai meledak di ubun-ubunnya.
Milka dan Raiden yang merasakan hawa panas, dingin dan mencengkam, mereka mulai mengkode untuk berinisiatif pergi dengan mengambil Haeun yang tertidur di pangkuan Vio dengan beranjak dari duduk.
Tangan Milka tiba-tiba menyelonong mengambil Haeun yang membuat Vio kaget dan bertanya.
"Milka, kamu mau ngapain?", tanya Vio dengan menoleh ke Milka
__ADS_1
"Aku mau ambil Haeun untuk beristirahat. Sepertinya dia tertidur di pangkuan kamu", ucap Milka yang langsung mengambil Haeun dan menarik tangan Raiden untuk pergi meski dia nantinya akan menangis. Namun saat ini Milka pikirkan nanti yang terpenting lari dari situasi yang akan meledak meski Vio terus berteriak. Saat Vio akan beranjak, Abigail mencekal lengan Vio dengan suara nada dingin.
"Kamu mau kemana?", tanya Abigail.
"Aku mau menyusul Milka", ucap Vio.
"Tidak perlu", ketus Abigail dengan menarik tangan Vio dengan jarak sangat dekat.
"Kamu..", geram Vio dengan wajah kesal.
"Apakah kamu begitu tergila-gila dengan Jimmy igu?", tanya Abigail yang tidak peduli dengan suara marah Vio dan wajah kesalnya.
"Iya", ketua Vio.
"Apakah sebegitu cintanya dengan dia?", tanya Abigail dengan rahang mengetat sambil menyentuh bibirnya yang lembut dengan ibu jari.
"I.ya", tandas Vio yang membuat Abigail marah besar dan tanpa kata dia langsung menciumnya tanpa peduli rontaan Vio yang memukul dadanya dan mendorong. Abigail menarik tengkuk Vio dengan menekan sangat dalam sampai Vio hampir kehilangan oksigen.
"Aku akan mengubah pandangan cintamu hanya untukku", ucap Abigail di sela-sela ciuman. Vio hanya mampu diam dan mengatakan dalam hati dengan umpatan kasar, "dasar gila!".
Abigail tidak memberikan sedikit celah apa pun dan terus menyerang. Abigail mengangkat tubuh Vio dalam gendongannya seperti anak koala dan ciumannya tidak terlepas meski Vio sudah hampir kehilangan napas.
Abigail membawanya pergi ke kamar dengan aksinya. Sedangkan Lucas sedang berkutat informasi dari anak buahnya dari Mahattam dan mata-mata darinya di CIA untuk menyerang mereka.
"Bagaimana dengan Ozzie dan Christoper di sana?", tanya Lucas.
"Saya menangkap salah satu anak buah mereka dan aku mendapatkan informasi bahwa dia akan menghancurkan keluarga kalian. Tidak hanya itu, dia sedang melacak data milik kalian mengenai bisnis kalian untuk menurunkan harga saham. Dia juga mengatakan bahwa ada mata-mata di perusahaan kalian terutama diantara kalian ada yang mengkhianati. Dia seorang perempuan begitu katanya", jelas Rayyan di seberang sana dengan membawa pistol untuk meledakkan kepala anak buah Ozzie dengan dua kali tembakan yang menggelegar.
"Baiklah", ucap Lucas yang mendengarkan suara tembakan
"Thank you", ucap Lucas.
Rayyan yang berada di seberang sana melemparkan pistol ke anak buahnya dan pergi mencuci tangan untuk menghilangkan noda darah di tangannya. Lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah menuju ke monitor tempat ia melacak musuh dan mencari informasi musuh.
Sementara wanita yang disebut oleh Rayyan saat ini sedang bekerja dan memanfaat gadis polos tersebut masuk di kehidupan seorang anggota CIA.
Abigail yang sedang tidur di samping Vio menatapnya dengan lembut sambil menghilangkan anak rambut di wajahnya dan mengecup dahinya begitu lama.
Lalu tiba-tiba ada suara nada dering dari ponselnya di atas meja nakas. Kemudian Abigail langsung mengangkat sambungan telepon di ponselnya tersebut.
"Hallo Lucas, ada apa?", tanya Abigail.
"Ada yang mau aku berikan informasi kepada kamu terlebih dahulu soal mata-mata di bisnis kita dan disekitar kita", ucap Lucas di dalam ruang kerjanya dengan menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
"Apakah kamu sudah mengetahui mata-mata dari Ozzie tersebut?", tanya Abigail yang beranjak dari ranjang setelah memakai kain bawahnya.
"Belum tahu. Aku hanya dapat informasi bahwa mata-mata itu seorang wanita yang ditelusupkan oleh Ozzie dari negara asia", ucap Lucas dengan memijit keningnya.
"Kalau seorang wanita aku sudah mengetahui sejak dia akan tinggal di mansionku..", ucap Abigail.
"Apa aku mengenalnya?", tanya Lucas.
"Ya, tentu", ucap Abigail yang membuat Lucas penasaran dan mencoba menebak.
__ADS_1
"Apakah dia teman dari adik kamu?", tanya Lucas dengan menebak.
"Ya, kamu benar seratus persen. Dia sekarang sedang terlelap diatas ranjang setelah aku memberikan hukuman", ucap Abigail yang duduk di sofa coklat maroon dengan menyeringai sambil menatap Vio yang terlelap.
"Wah kamu gila juga Abigail", umpat Lucas diseberang sana dengan tersenyum menyeringai sambil mengetuk meja dengan jari telunjuk.
"Itulah seorang pria", dengan menyesap whisky.
"Kamu mengetahui sejak kapan?", tanya Lucas.
"Aku mengetahui saat Ozzie menyerang di mansionku. Itu yang curiga terlebih dahulu Raiden. Ketika kita sedang beradu jotos para anak buah Ozzie melewatinya saat Milka berteriak dan tertolong oleh Raiden dari tembakan yang dilayangkan oleh salah satu anak buah dari Ozzie. Saat Raiden maju dan anehnya saat terjadi poranda Raiden melihat Vio tertidur di ruang aman saat kita terluka. Menurutku Vio hanya dimanfaatkan oleh orang yang memberikan hutang untuknya", ucap Abigail dengan menyesap whisky.
"Apakah kamu sudah mencari informasi?", tanya Lucas dengan memutarkan kursi untuk mengarah ke pandangan luar.
"Sudah aku dapatkan informasi saat dia tinggal tiga hari yang lalu. Informasi yang di dapat dari anak buahku yaitu dia terlilit hutang akibat perbuatan ayahnya mencuri identitas putrinya untuk menyenangkan hati istri barunya dan anak tirinya. Dia di jual oleh para preman ke Rangga pemilik klub terbesar di sana. Saat dia memohon, ada seorang wanita membelinya atas izin dari bosnya yaitu Ozzie dan dia memanfaatkan kepolosannya untuk mencuri setiap informasi yang ia dapatkan selama satu bulan. Dia akan kembali esok hari dengan berbagai alibi. Aku tidak bisa melepaskan begitu saja setelah menggeledah isi koper saat dia tertidur pulas di kamar Milka. Ada sebuah foto identitas dengan nama Raina", jeda Abigail.
"Raina?", tanya Lucas.
"Ya", ucap Abigail berjalan ke ranjangnya dan duduk di samping Vio yang terlelap mengusap ubun-ubun dikepalanya.
Lucas yang berada diseberang sana mulai menerka-nerka tentang nama yang sama dengan sahabat istrinya waktu SMA. Lalu Lucas menanyakan kembali untuk memastikan lagi.
"Apakah Raina berasal dari Indonesia?", tanya Lucas.
"Mungkin ia atau malah bukan. Soalnya wajah dia tidak teridentifikasi pasca menutup wajahnya dengan topeng kilit, "ucap Abigail.
"Seperti ada yang menutup wajah keaslian mengenai wanita tersebut", ucap Lucas.
"Kamu ada benarnya", ucap Abigail.
"Jadi kamu akan apain dia?", tanya Lucas.
"Mengembalikan jalan yang seharusnya bukan mengikuti mereka. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengikuti rencana dengan membawa Haeun. Dia tidak bisa meninggalkan gadis kecil itu yang sudah ditelantarkan. Aku tidak ingin dia terlibat masalah rumit ini. Aku akan menjamin bahwa dia tidak kembali ke sana dan akan aku belenggung tubuhnya", ucap Abigail berbaring di samping Vio yang mulai terbangun.
"Kalau begitu besok kita kembali ke markas dan mengamankan para wanita ke tempat aman. Kita besok mengepung mata-mata itu dahulu dari Ozzie. Soalnya mata-mata itu sulit kita dapatkan karena dia menutupi wajahnya dengan topeng kulit", ucap Lucas.
"Baiklah sampai bertemu besok di markas", ucap Abigail.
"Selamat bersenang-senang", ucap Lucas.
Lalu Abigail meletakkan ponsel diatas nakas dan mengecup kening Vio yang sedang mengusap matanya.
"Sweety, bagaimana tidur kamu? Apakah kurang nyaman?", ucap Abigail.
Vio tidak mengindahkan ucapan Abigail. Vio beranjak dari tidurnya dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman dan membuka selimut dengan rasa marah saat dirinya tanpa sehelai kain dengan suara teriakan, "arghhhh", dengan wajah memerah sambil menatap Abigail dengan sengit.
Abigail malah dengan santai bertanya, "ada apa?", dengan senyum tipis.
Vio menjawab dengan mendengus, "tidak ada apa-apa", lalu pergi membawa selimut untuk menutupi tubuhnya tetapi selimut itu oleh Abigail dicekal sampai Vio menoleh dengan suara membentak, "lepaskan!", tapi Abigail tidak menggubris dan dengan tenang menginjak selimut tersebut.
Vio begitu kesal dengan perbuatan Abigail sampai Vio mengatakan dengan kata kasar, "kamu layak di sebut *nj*ng yang seenaknya melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap seorang perempuan. Dasar *nj*ng".
Abigail yang mendengar perkataan kasar dari bibir mungilnya beranjak dengan mata menyalang lewat atas ranjang dengan mengusap kasar bibir tersebut dengan ibu jari dan mengikis jarak sambil membuang selimut tersebut dengan kasar. Sambil berkata lirih, "akan aku ajarkan bibir kamu agar bisa berkata lebih baik terhadap orang dewasa dan aku berikan contoh seperti apa yang kamu ucapkan, " seringai Abigail dengan sorot mata tajam kemudian ia langsung mencium dengan kasar dan melakukan aksinya yang mulai melewati batas sampai Vio menangis. Tapi Abigail tidak perduli karena tubuhnya sudah dirasuki oleh binatang buas yang kapan saja bisa menerkam mangsanya tanpa ampun sampai mereka kewalahan dan tertidur kembali.
__ADS_1
Sementara Milka sedang asyik bermain dengan Raiden dan Haeun di apartemen miliknya dengan canda tawa tatkala Vio sedang dalam dekapan Abigail yang begitu ganas memperlakukan dirinya.